Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 Idiologi??? siapa takut ! 1/6

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Mayansah wiyono
KorLap


Lokasi : Tepus
Reputation : 6
Join date : 26.08.13

PostSubyek: Idiologi??? siapa takut ! 1/6   Sat Jan 18, 2014 3:33 pm

diskusi 1
hidup makin susah,
masih perlukah bicara ideologi ?

Sekitar pukul 14.30 di sore itu, tampak lima orang sedang berjalan. Mereka adalah kader-kader Gerakan Kader Soekarno.
Masing-masing : Slamet, Umar, Liem, Daeng, dan Komang.

Mereka akan mengikuti acara diskusi pada pukul 15.00 di rumah bung Jalal, yang juga kader Gerakan Kader Soekano. Hari itu, diskusi mengambil tema tentang Ideologi.

Sebelum sampai di rumah bung Jalal, mereka melewati rumah bung Ucok, salah seorang aktivis. Di beranda rumah Ucok ada beberapa orang lelaki dan perempuan tengah duduk-duduk. Mereka adalah kader-kader baru dan simpatisan Gerakan Kader Soekarno, antara lain : Solossa, Silvi, Asep, dan Upik.

Melihat mereka yang tengah duduk, bung Slamet memberikan salam: ”Merdeka !”
”Merdeka !” Semua membalas salam.

Slamet : Wah, kelihatannya sudah siap berangkat diskusi nih.
Ucapan bung Slamet tidak segera ditanggapi. Malah wajah beberapa orang seperti Solossa, Asep dan Upik tampak kurang bersemangat
Upik : Bung Slamet, aku tanya, apa pengurus itu tidak ada bahan omongan lain. Masak, hari gini... yang dibahas malah, apa itu... idee...”(tampak bingung karena lupa).
Slamet : Maksudnya Ideologi ?
Upik : Nah, betul. Ide-o-logi.... Apa pula itu ? Mengapa kita tidak ngomong saja soal nasib pedagang sayur seperti aku ini ?
Asep : Betul atuh..., atau kita ngomong soal nasib buruh pabrik seperti saya ini. Sudah bertahun-tahun saya jadi buruh, tapi upah tak pernah naik. Celakanya, barang-barang yang lain sudah pada naik. Ini ’kan berat...!
Upik : Coba aku tanya, apa yang namanya ideologi itu bisa bantu kita-kita bayar kreditan motor?
Mendengar pertanyaan itu, yang lain tertawa.
Daeng : (tertawa) Ah, macam-macam saja.. kalian!
Solossa : Tapi pertanyaan Upik itu betul. Banyak diantara kita ini kan orang-orang kecil, wong-wong cilik yang hidupnya serba susah. Mengapa kita tidak bicara saja soal nasib kita?
Slamet : Saudara-saudara semua memang benar. Kehidup-an rakyat sekarang ini susah. Para petani mengeluh karena harga pupuk yang mahal, tapi gabah harganya murah....!
Umar : (seperti tak mau ketinggalan) Saya juga, bung. Saya ini cuma penjual sate pinggir jalan. Pendapatan saya sehari-hari cuma pas-pasan. Kalau harga BBM naik, lalu barang-barang lain ikut naik, terus bagaimana nasib keluarga saya ?
Silvi : Biaya pendidikan juga semakin mahal! Jangan harap anak tukang becak bisa kuliah! (menimpali dengan mimik lesu)
Liem : Ya. Kita masing-masing  punya kesulitan hidup. Tapi justru inilah gunanya kita mengikuti gerakan  politik. Coba, kalau Bu Upik, Bung Asep, Bung Umar dan Dik Silvi berjuang sendiri-sendiri untuk mengatasi masalah masing-masing, pasti berat kan?
Komang : Itu betul. Kita menjadi anggota gerakan politik untuk menyatukan kekuatan kita, sehingga mampu mengatasi masalah-masalah kita. Ini bukan hanya masalah bu Upik, bung Umar dan lain-lain, tapi masalah kita semua. Masalah rakyat!
Asep : Lalu apa hubungannya dengan gerakan politik dan ideologi?
Slamet : (sambil tersenyum) ya itu tadi, karena kemiskin-an merupakan masalah kita bersama, bukan masalah orang per orang, maka untuk memper-juangkannya kita juga harus bersama-sama pula.
Lena : Itu makanya kenapa kita bergabung dengan komunitas Gerakan Kader Soekarno. Karena kita tahu dan yakin komunitas Gerakan Kader Soekarno dapat menjadi wadah kita untuk bersama-sama berjuang membebaskan rakyat dari kemiskinan.
Upik : Lalu, apa hubungannya dengan ideologi? (terlihat tidak sabar).
Slamet : Menurut Bu Upik, jika kita bertekad untuk ber-juang, perlu tidak, dalam perjuangan kita memiliki tujuan atau cita-cita yang hendak diperjuangkan?
Upik : Ya tentu saja perlu! Tujuannya yang jelas saya tidak ingin hidup miskin terus-menerus, seluruh rakyat harus hidup sejahtera!
Slamet : Nah jika begitu, berarti kita perlu ideologi!
Upik : Kok bisa begitu? (terlihat penasaran)
Lena : (sambil tersenyum) karena tujuan perjuangan itu merupakan salah satu hal yang terkandung di dalam ideologi.
Asep : Ah saya kok masih bingung?
Slamet : Sederhananya begini, jika kita ingin berjuang mau tidak mau kan kita harus menentukan dulu arah, dasar dan tujuan perjuangan kita. Coba bayang-kan jika kita tidak menentukan dulu arah, dasar dan tujuan perjuangan kita, bisa ngawur dan semrawut kan nantinya? Bu Upik maunya ke sana, Bung Asep maunya ke sini!
Upik : Iya benar, jika tujuannya ke Surabaya ya arahnya harus ke Surabaya, jangan mampir ke mana-mana!
Peserta : (semua peserta tertawa) ha ha ha ha ha
Slamet : Nah teman-teman sudah jelas kan? Semua itu, arah, dasar dan tujuan perjuangan kita semuanya terkandung di dalam ideologi. Oleh karena itu mau tidak mau kalau kita mau berjuang ya harus berideologi.
Lena : Benar teman-teman, itulah kenapa ideologi penting dalam perjuangan, agar kita tidak tersesat dan kebingungan dalam perjuangan kita nantinya.
Slamet : Tidak hanya itu saudara-saudara. Bahkan dengan ideologi, kita dapat mengetahui kekuatan-kekuatan pokok yang harus kita himpun dan gerakkan untuk memenangkan perjuangan kita.
Lena : Dengan ideologi, kita dapat menyusun taktik dan strategi untuk mencapai tujuan perjuangan kita. Dengan ideologi pula, kita dapat menjelaskan cara kita dalam menganalisis keadaan, kekuatan lawan dan kekuatan sendiri.
Upik : Jika kita sudah faham dengan ideologi kita, berarti kita sudah siap berjuang, begitu?
Slamet : Tentu saja Bu Upik!
Daeng : Tapi untuk apa sih kita capek-capek memper-juangkan orang miskin? Bukankah di dunia ini memang sudah semestinya ada yang kaya dan ada yang miskin? Bukankah itu sudah takdir? Kalau takdir kita memang sudah miskin, yah... mau apa lagi? Musti sabar gitu loh (sambil mengangkat bahu sok memberikan petuah kepada Pak Umar yang berprofesi penjual sate keliling).
Yang lain tertawa mendengar ucapan pak Daeng...
Upik : Memangnya pak Daeng sendiri sudah kaya? Kok mengolok-olok Pak Umar gitu, sih..?
Daeng : (tertawa) Lho, Saya ini juga mengolok-olok diri saya sendiri. Semua tahu saya ini nelayan kecil. Tapi saya pikir, ini sudah takdir saya. Sudah nasib saya jadi nelayan. Buat apa terus menerus menyesali nasib?
Umar : Tapi selain takdir, ada juga orang yang jadi miskin karena malas! Tidak mau bekerja! Tidak mau sekolah! Akhirnya ya kere dah!
Komang : Eiiit, ini nih contoh pikiran yang salah...! Pikiran ini sama sekali tidak ideologis dan bertentangan dengan cara berpikir ideologi kita!
Mendengar ucapan Komang, yang lain seketika terdiam.
Komang : Kalau di dalam suatu masyarakat atau bangsa hanya ada satu atau dua orang yang miskin, kita bisa katakan itu sebagai pengecualian. Seperti kata pak Daeng mungkin karena memang nasibnya, atau seperti kata Pak Umar karena dia malas. Tapi saya mau tanya, apakah orang miskin di negeri  kita ini banyak atau sedikit ?
Umar : Lho, ya sudah jelas banyak. Yang saya tahu di TV-TV mendekati seratus juta orang.
Komang : Nah, apa kita percaya jika seratus juta orang Indonesia itu miskin karena nasibnya, karena mereka malas bekerja? Lalu kenapa Mang Asep yang sudah rajin mati-matian siang malam mikul karung beras di pasar tetap saja miskin?
Umar : Eh iya ya, kalau bukan karena nasib atau malas, lalu apa yang membuat mereka miskin?
Semua peserta diam, terlihat bingung dan sebagian berusaha berpikir mencari jawaban.
Komang : Bagaimana? (sambil tersenyum-senyum)
Umar : Oke-oke, lalu apa yang membuat saya tetap miskin? Saya tiap hari juga rajin jualan sate gak pernah absen tapi tetap juga miskin!
Komang : Nah, sebelum saya jawab, saya mau mengajukan beberapa pertanyaan lagi. Siapa sih yang berkuasa atas rakyat atau negara?
Asep : Ya pasti para penguasa itu!
Komang : Baik, saya lanjutkan, kemarin kan harga BBM naik, siapa yang menaikkan?
Daeng : Tentu saja pemerintah! (sambil bersikap ketus tidak sabar)
Liem : Nah, kalau orang rajin bekerja seperti bung Asep, bung Umar, dan bung Solossa, tapi lalu BBM terus naik, disusul naiknya barang-barang, apakah orang-orang kecil seperti anda dan kita ini bisa hidup berkecukupan?
Umar : Wah, ya sampai kiamat tidak akan pernah bisa mbak! (dengan nada mengeluh)
Solossa : Malah kita semakin sengsara (ikut-ikutan mengeluh)
Slamet : Kalau begitu, tidak benar kan jika dikatakan bung Umar hidupnya miskin lantaran dia malas?
Umar : Hah!!! Siapa yang bilang saya las-malasan? Enak saja! Saya dari sore hingga pagi jualan sate gak dur-tidur! (bersungut-sungut dengan logat Madura-nya)
Upik : Kayaknya yang bilang begitu bung Daeng deh tadi? (sambil tersenyum melirik ke bung Daeng)
Yang lain tertawa melihat sikap Upik yang menggoda Bung Daeng. Sementara Bung Daeng terlihat tersenyum malu dan salah tingkah.
Komang : Sampai di sini kita sudah tahu ’kan? Apa yang sebenarnya membuat rakyat kita hidup miskin terus menerus, ada yang mau jawab?
Umar : Saya tahu! Saya tahu! (setengah berteriak buru-buru angkat tangan) Orang menjadi miskin, karena penguasa membuat masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk hidup layak!
Liem : Hebat sekali bung Umar! (bertepuk tangan)
Peserta lain juga bertepuk tangan walaupun beberapa masih tampak bingung.
Daeng : Ooooh, berarti kita ini menjadi miskin karena Pemerintah telah berlaku tidak adil kepada kita ya? Berarti Pemerintah tidak berpihak kepada kita yang miskin ini ya?
Peserta menjawab serempak: Betuuuul....!!! Disertai tepuk tangan sambil berteriak-teriak: merdeka! Merdeka!.
Solossa : Naaah, gitu dong. Kan sekarang makin jelas.
Slamet : Betul. Kalau kita ringkas pemikiran tadi, maka dapat dirumuskan begini. Di dalam setiap negara atau masyarakat selalu memiliki aturan main (sistem) termasuk dalam menentukan harga-harga.
Komang : Nah, pertanyaannya, siapa yang menentukan aturan main itu? Tadi sudah kita pahami bersama, aturan main itu ditentukan oleh penguasa. Begitu juga di dalam suatu negara, aturan main itu ditentukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan, baik kekuasaan politik atau kekuasaan ekonomi atau kedua-duanya. Salah satu wujud kekuasaan itu adalah menentukan kenaikan harga BBM, atau kebijakan lain yang mempengaruhi hajat hidup rakyat banyak.
Daeng : Jadi, kalau aturan main itu tidak adil, nantinya malah merugikan rakyat kecil, ya?
Slamet : Tepat sekali. Aturan main yang timpang, biasanya hanya menguntungkan segelintir orang, dan merugikan sebagian besar rakyat.
Upik : Wah, sekarang saya mulai mengerti. Tapi... apa hubungan semua omongan tadi dengan ideologi?
Liem : Nah, apa yang baru saja kita bicarakan tentang sebab-sebab kemiskinan itu juga merupakan bagian dari  ideologi.
Umar : Duh aduh, kok saya masih bingung juga?
Komang : Di dalam ideologi nantinya kita akan belajar menggunakan metode berpikir atau cara berpikir yang benar dalam melihat dan membedah setiap masalah. Contohnya  masalah kemiskinan itu tadi. Nah, kalau kemiskinan dianggap karena takdir seperti pikiran bung Daeng tadi, apa akibatnya?
Solossa : Ya semua orang bakal pasrah melulu setiap hari.
Komang : Benar. Apakah orang seperti ini akan memper-juangkan nasibnya ?
Umar : Tentu saja tidak...!
Rahayu : Iya ya, coba bayangkan, bagaimana jika dulu, di saat kita dijajah Belanda, lalu rakyat cuma pasrah atas nasibnya?
Asep : Pastinya kita tidak akan pernah merdeka!
Sementara itu, Ucok yang baru keluar dari dalam rumah, mulai mengingatkan.
Ucok : Maaf saya sela teman-teman, perlu saya ingatkan jika acara diskusi yang sebenarnya bukan disini. Sekarang hampir pukul 3 sore, sebaiknya kita berangkat saja sekarang!
Demikianlah akhirnya mereka berangkat bersama menuju rumah bung Jalal. Sambil berjalan, Ucok berbisik pada Solossa.
Ucok : Bang Solossa, ternyata cara berpikir kita banyak yang salah, ya?
Solossa : (Pura-pura berlagak) Ah, itu kan cuma kamu sendiri yang baru sadar! Saya sih sudah dari dulu paham tentang ideologi!
Ucok : Ah! Sok tahu kau bang!
Ucok bersikap seperti mau memukul. Solossa berlari sambil tertawa.
Bersambung .......
http://thesoekarnofoundation.blogspot.com/

_________________
Sewu siji wong beja neng ngalam ndonya iki, Mugo mugo sing siji kuwi Kulo
Dibawah Bendera Revolusi
Kembali Ke Atas Go down
http://www.wonosari.com
 
Idiologi??? siapa takut ! 1/6
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Teras Nongkrong-
Navigasi: