Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 Idiologi ??? siapa takut..2/6

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Mayansah wiyono
KorLap
avatar

Lokasi : Tepus
Reputation : 6
Join date : 26.08.13

PostSubyek: Idiologi ??? siapa takut..2/6   Mon Jan 20, 2014 10:30 am

diskusi  2
ideologi itu apa sih ?

Tepat pukul 15.00 semua undangan telah hadir di rumah bung Jalal. Selain bung Slamet dan kawan-kawan, ada beberapa nama lain, yakni Magdalena (Lena), Kaimana, Ignatius dan Sugeng.

Seperti kesepakatan, Ucok ditunjuk sebagai pemandu diskusi (moderator). Sementara Silvi ditunjuk menjadi pencatat diskusi (notulis). Setelah memekikkan salam ”Merdeka!,” Ucok pun memulai pembicaraan.

Ucok : Saudara dan saudariku sekalian. Seperti tertera dalam undangan, kita akan mendiskusikan, apa itu ideologi. Rupanya, sebelum diskusi resmi ini dimulai, tadi di rumah saya sudah terjadi diskusi seru. Pertanyaan yang mengganjal adalah, mengapa kita perlu bicara tentang ideologi? Mengapa kita tidak bicara saja tentang nasib kita masing-masing sebagai wong cilik? Hidup kita ini sudah susah....!
Umar : Betul...!
Ucok : Macam-macam barang makin mahal. Mengapa kita malah bicara tentang ideologi? Nah, perta-nyaan seperti ini harus bisa terjawab. Tentunya, pembicaraan kita ini harus runtut, sederhana, dan mudah dipahami. Tapi sekaligus, kita dapat memahami ideologi secara memadai. Nah, siapa memulai berbicara ?
Jalal : Saya tidak akan langsung ke pokok masalah. Tapi saya ingin meminta tanggapan teman-teman terlebih dahulu. Sering saya dengar, banyak kader mengatakan ”kenapa sih, kita diskusi-diskusi melulu?” kenapa kita tidak langsung saja memper-juangkan nasib orang-orang kecil?
Daeng : Betul Bung Jalal! Gak perlulah kita diskusi lagi! Langsung saja bergerak! Itu lebih konkrit! Gak ngomong doang seperti sekarang ini!
Slamet : (sambil tersenyum) Sepertinya Bung Daeng lupa dengan peringatan Bung Karno ya, bahwa sebagai kader kita harus ”banyak bicara, banyak bekerja.” Ada saatnya kita bicara, dan ada saatnya kita bekerja. Kalau kita melulu bekerja, bertindak dan berjuang, bukankah kita bisa kebingungan di tengah jalan? Perjuangan kita bisa kacau!
Ucok : Betul...! Saya setuju..!
Jalal : Yang kita lakukan sekarang adalah mengasah pikiran, agar pikiran kita menjadi benar. Dengan pikiran yang benar, perjuangan akan mendapat-kan arah dan tujuan yang jelas. Karena itu, kita tidak hanya dituntut menjadi ”pejuang” tapi sekaligus juga ”pemikir.”
Ucok : Walaupun apa yang dibicarakan sepertinya tidak terkait dengan ideologi, tapi sebenarnya jelas ber-hubungan. Ideologi berisi seperangkat pikiran, nilai atau prinsip, dan juga harus diikuti tindak-an. Jadi berpikir dan bertindak adalah kandungan dari ideologi itu sendiri.
Asep : Menurut saya, yang penting itu kan tindakan. Kalau hanya bicara-bicara terus kayak gini, kapan perjuangan akan berhasil?
Umar : Gimana, sih! Tadi kan sudah dijelaskan. Kalau kita hanya bergerak terus, bertindak terus, berjuang terus, lama-lama bisa pusing, tahu!
Asep : Tapi kalau ngomong terus kayak gini bikin pusing juga, tahu! (sambil bersungut-sungut tidak terima)
Para peserta tertawa melihat sikap bung Umar dan bung Asep  yang saling berdebat.
Kaimana : Nah, bung Umar dan bung Asep, karena itu harus seimbang antara berpikir dan bertindak. Ideologi mengandung landasan pemikiran yang perlu kita pahami dengan berpikir. Karena itu kita perlu diskusi seperti ini. Tapi ideologi juga memerlukan perjuangan.
Slamet : Makanya sering kita dengar slogan Ideologi tanpa perjuangan adalah mimpi. Tapi perjuangan tanpa ideologi adalah gerakan liar!
Asep : Ooo, begitu ya!
Solossa : Wah, sepertinya bung Asep sudah paham, nih. Saya ingin tanya. Lalu, ideologi itu apa ?
Asep : (agak panik) Lho, kok tanya pada saya lagi sih. Yang lain kan masih banyak.
Beberapa orang tertawa melihat sikap bung Asep.
Silvi : Pertanyaan bung Solossa itu memang penting. Kalau kita ditanya, apa itu ideologi, terus kita akan menjawab bagaimana?
Komang : Tadi bung Ucok sudah mencoba menjelaskan. Bagaimana bung Ucok, apa bisa ditambahi agar pengertiannya lebih jelas.
Ucok : Baik. Tentu bisa ditambah oleh yang lain. Ideologi adalah seperangkat pemikiran, atau suatu faham, yang didalamnya juga terkandung prinsip-prinsip atau nilai-nilai mengenai tatanan masyarakat, atau tatanan negara yang dicita-citakan untuk diper-juangkan realisasinya.
Asep : Terus siapa yang mencita-citakan tatanan masyarakat itu?
Umar : Lho, ya tentu saja orang, masak kambing sih!
Asep : (jengkel dengan bung Umar) Gimana sih! Tadi disuruh menjelaskan ideologi bilangnya tidak bisa. Tapi sekarang, gayanya sok tahu banget...!
Umar : Ha... ha... ha... Jangan marah dong bung Asep. Memang kalau harus menjelaskan sendiri, saya sering pusing. Tapi kalau dibantu orang lain, saya bisa lancar.
Para peserta diskusi tertawa melihat sikap bung Umar.
Ucok : Bung Umar tadi benar. Ideologi memang biasa dirumuskan oleh seseorang, lalu diakui oleh sekelompok orang, masyarakat atau bangsa. Nah, karena ideologi juga merupakan cita-cita, maka memerlukan tindakan, atau perjuangan untuk mewujudkannya.
Slamet : Bagaimana saudari Liem, apa ada tambahan?
Ucok : Oh iya, Mbak Liem ini kan dosen. Jadi kita perlu mendengar juga pendapat sekolahan mengenai ideologi.
Liem : Baiklah, mungkin saya bisa tambahkan pengertian ideologi dari segi istilah. Ideologi adalah gabung-an dari dua kata, yakni ”Idein” yang berarti ”melihat” dan ”Logia” yang berarti ”kata atau ajaran.” Jadi ideologi adalah ilmu yang bertujuan mempelajari terjadinya gagasan, cita-cita atau ajaran yang ada di masyarakat. Tapi dalam per-kembangannya, ideologi lebih banyak diartikan sebagai ajaran itu sendiri.
Jalal : Saya ada pertanyaan sedikit, apakah setiap nilai-nilai, atau ajaran yang ada dan berkembang di masyarakat semuanya bisa dikatakan ideologi?
Ucok : Nilai-nilai atau ajaran yang seperti apa yang dimaksud Bung Jalal? Contohnya apa misalnya?
Jalal : Ya, misalnya norma dan adat, setiap orang tahu mana yang baik dan buruk menurut pandangan masyarakat. Apakah ini juga bisa dikategorikan sebagai ideologi?
Lena : Saya juga sempat mendengar kalau iklan-iklan di TV yang membujuk kita untuk membeli dan terus membeli juga merupakan perwujudan dari ideologi, apakah itu benar?
Ignatius : Biar tambah pusing, saya tambahi lagi, apakah agama juga merupakan ideologi?
Ucok : Luar biasa...! Ini contoh diskusi yang dinamis. Semula saya merasa sudah paham apa itu ideologi. Tapi terus terang, pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya berpikir ulang tentang ideologi.
Komang : Benar, bung Ucok. Saya juga berpikir begitu. Memang kita bisa mencontohkan bahwa ideologi itu misalnya kapitalisme, sosialisme, komunisme, atau Pancasila. Tapi, apa nilai-nilai lain di luar itu tidak bisa disebut ideologi juga?
Semua peserta diam dan memandang Liem seolah menunggu jawaban.
Liem : Mengapa semua memandang saya? Kok, seperti-nya saya yang harus menjawab semua pertanyaan itu sih? Biar dosen tapi bukan berarti saya tahu segalanya kan?
Upik : Wah, kalau tidak ada jawaban berarti diskusi ini selesai! Ya sudah saya pulang saja, jadi orang miskin lagi!
Semua peserta tertawa mendengar celetukan Upik.
Ucok : Horas...! ha... ha... ha..., saya gembira karena diskusi ini semakin maju.
Asep : (tersenyum kecut) Gini kok dibilang semakin maju! Semakin pusing, tahu!
Semua peserta tertawa.
Umar : Alaaaaa... gitu aja kok pusing! Saya yang makan sate kambing tiap hari saja gak pusing tuh!
Asep : Ini masalah ideologi! Bukan sate kambiiiiing! (sambil sedikit berteriak jengkel melihat Umar yang menggodanya)
Lagi-lagi semua peserta tertawa melihat Asep dan Umar yang selalu terlihat tidak akur.
Kaimana : Oke saya coba jawab ya, tapi tetap dibantu lho. Sepengetahuan saya ideologi itu memang bermacam-macam bentuk dan perwujudannya.
Ucok : Trus trus....!!! (terlihat tidak sabar)
Kaimana : Ideologi ada yang tersusun secara menyeluruh, atau utuh. Tapi ada pula yang hanya sepotong-sepotong atau tidak lengkap.
Ucok : Contohnya?
Kaimana : Contoh, ideologi yang utuh, ya Pancasila, karena didalamnya mengatur secara lengkap mulai dari hubungan-hubungan kemasyarakatan, hubungan ekonomi, hubungan politik, sampai hubungan kita di wilayah internasional.
Umar : Jika ideologi yang tidak utuh apa contohnya?
Kaimana : Ideologi yang tidak utuh itu biasanya berupa potongan-potongan saja. Seringkali berasal dari pecahan atau perwujudan dari ideologi tertentu.
Upik : Contoh konkritnya seperti apa?
Kaimana : Ya, misalnya yang paling sederhana adalah konsumerisme. Kita sering mengenal istilah ini dan tadi sebenarnya secara tidak langsung sempat diungkap oleh Lena.
Lena : (agak bingung) tadi saya hanya bertanya apakah iklan-iklan di TV yang membujuk kita untuk membeli dan terus membeli apakah benar juga termasuk ideologi.
Kaimana : Betul, itulah konsumerisme. Bagi beberapa orang konsumerisme ini dianggap sebagai ideologi, tapi tidak utuh karena hanya berupa potongan nilai. Konsumerisme hanya mengajarkan tentang gaya hidup saja.
Liem : Kalau konsumerisme merupakan potongan atau pecahan ideologi, lalu ideologi yang menjadi induknya apa?
Kaimana : Kapitalisme!
Liem : Bisa dijelaskan, apa buktinya jika konsumerisme adalah pecahan kapitalisme?
Kaimana : Seperti kita ketahui bersama kapitalisme adalah ideologi yang bertujuan untuk menumpuk modal dan keuntungan. Karena kaum kapitalis hanya peduli pada keuntungan, maka segala cara ditempuh. Salah satunya adalah menyusun strategi pasar agar barang-barang mereka terus laku.
Slamet : Maka itu, dibangunlah image (pencitraan) melalui iklan-iklan di TV, bahwa dengan membeli dan mengkonsumsi barang-barang yang mereka jual maka mereka akan dikatakan sebagai masyarakat modern, jika tidak mereka akan dikatakan ketinggalan zaman, udik, wong ndeso, dll. Maka lahirlah gaya hidup baru yaitu konsumerisme.
Daeng : Oooo, saya mulai faham sekarang.
Jalal : Kalau sifatnya tidak utuh dan menyeluruh, mengapa nilai-nilai itu disebut ideologi?
Komang : Itu hanya soal penyebutan saja. Memang ada yang menyebut ”potongan-potongan itu” termasuk ideologi, ada lagi yang menganggapnya sekedar nilai-nilai, atau mungkin gaya hidup dari kelompok-kelompok tertentu.
Silvi : Dari semua penjelasan tadi, ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Apakah agama juga dapat dikategorikan sebagai ideologi?
Slamet : Bagi kita agama itu bukan ideologi tetapi agama dapat saja menjadi acuan bagi suatu ideologi.
Liem : Lalu bagaimana dengan kita kader-kader Gerakan Kader Soekarno dalam menempatkan posisi agama ini?
Komang : Bagi kita agama tetap mengatur segala bentuk hubungan kita dengan Tuhan kita masing-masing. Namun khusus untuk urusan politik kenegaraan kita memilih Pancasila sebagai sumber hukum dan ideologi bersama, ideologi bangsa Indonesia.
Peserta : Sepakaaaaaaat!!! (menjawab serentak)
Ucok : Baik kawan-kawan, sebaiknya kita istirahat 15 menit untuk menyegarkan pikiran kita lagi. Silahkan teh dan kopinya diminum dulu.
Semua peserta istirahat, beberapa diantaranya memilih untuk melanjutkan diskusi kecil 2-3 orang. Setelah 15 menit, Ucok kembali membuka forum diskusi.
Ucok : Baik teman-teman sekalian. Kita tadi telah ber-bicara panjang lebar tentang ideologi. Dan saya yakin teman-teman sekalian mulai faham tentang pengertian ideologi sebenarnya.
Asep : Dari yang saya tangkap tadi sih, ternyata ideologi itu bermacam-macam ya.
Komang : Memang ada begitu banyak nilai-nilai, ajaran, atau ideologi, namun tidak semua ideologi itu memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan cita-cita dan harapan hidup kita. Sehingga kita harus memilih!
Asep : Berarti ideologi merupakan sebuah pilihan?
Liem : Betul Bung Asep, dan juga keberpihakan. Karena dengan memilih akan mengharuskan kita untuk berpihak. Contohnya seperti saat ini, karena kita sepakat berjuang dan berpihak kepada rakyat miskin, maka secara sadar kita memilih Pancasila 1 Juni 1945 ajaran Bung Karno sebagai ideologi kita. Tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945 itu sendiri nanti kita bicarakan lagi.
Ucok : Nah, setelah kita telusuri apa itu ideologi, kita bedah, dan kita hubungkan dengan macam-macam nilai, apakah ada rumusan, atau rangkum-an mengenai ideologi?
Liem : Saya pernah mempelajari rumusan ideologi seperti ini : Ideologi adalah sistem yang menjelaskan tentang keberadaan suatu kelompok sosial, sejarah kelompok itu, pandangannya mengenai masa depan, serta pandangannya mengenai hubungan-hubungan kekuasaan yang seharus-nya mereka bangun.
Slamet : Wah, kalau sudah menjadi rumusan begini, biasanya lebih sukar dipahami. Coba saudari Liem, diperjelas satu persatu rumusan itu.
Liem : Gampangnya begini, suatu ideologi yang utuh, menyeluruh dan memiliki satu kesatuan, yaitu jika ideologi itu mampu menjawab pertanyaan : Siapakah kita? Darimana kita berasal? Bagai-mana kehidupan kita sekarang? Kehidupan macam apa yang sesuai dengan cita-cita kita di hari esok?
Ignatius : Lho, ini kok seperti pertanyaan pada diri kita sendiri ya?
Komang : Benar. Jika dicermati, pertanyaan itu menuntut jawaban mengenai asal usul atau sejarah suatu kelompok atau bangsa, keberadaanya di hari ini, dan cita-cita, arah atau tujuan yang hendak  di-capai di hari esok. Selanjutnya, ideologi mengarah pada tindakan atau perjuangan.
Ucok : Oh ya benar. Saya ingat, bukankah Bung Karno pernah menanamkan ideologi dengan cara seperti itu ?
Jalal : Tepat. Dalam usaha memperjuangkan kemer-dekaan Indonesia, Bung Karno sering mencerita-kan tentang kejayaan Majapahit dan Sriwijaya.
Silvi : Apakah itu dimaksudkan agar bangsa Indonesia memahami asal-usulnya ?
Slamet : Tepat sekali. Untuk membangkitkan semangat perjuangan, rakyat Indonesia harus disadarkan, masa lalu bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Masak sih, bangsa yang besar harus hidup terjajah? Karena itu harus bangkit menyambut hari esok dengan kemerdekaan.” Jadi, Bung Karno dengan sadar menggunakan ideologi perjuangan.
Liem : Nah, untuk dapat memahami masa lalu (sejarah), masa sekarang, dan masa depan, semua itu memerlukan cara berpikir yang tepat. Bahasa gaulnya, metode berpikir atau pisau analisa.
Asep : Lho, kok pakai pisau segala, sih? Emangnya Pak Umar, kemana-mana bawa pisau!
Umar : Saya bawa pisau kan buat motong kambing, bukan buat belajar ideologi? (sambil garuk-garuk kepala)
Semua tertawa mendengar ucapan bung Asep dan Bung Umar.
Liem : Itu cuma perumpamaan, Pak Umar. Pisau analisa itu adalah cara berpikir untuk membedah kenyata-an, dan menemukan inti masalah. Contoh-nya, ya tadi itu pas di rumah Bung Ucok ketika kita membahas sebab-sebab lahirnya kemiskinan.
Slamet : Benar, setiap pisau analisa harus mampu mem-bedah ke akar persoalan yang sebenarnya. Jika tidak, berarti pisau itu tumpul. Jika demikian kita tidak akan mampu memecahkan masalah. Oleh karena itu pisau analisa kita harus terus di-pertajam agar dapat menjadi alat perjuangan.
Umar : Mana contohnya pisau analisa yang tajam, dan mana yang tumpul?
Tiba-tiba Liem tersenyum memandang bung Daeng. Lalu pandangan itu beralih pada Komang. Sedetik kemudian, Komang memahami arti senyuman Liem.
Komang : (tampaknya tahu apa yang dimaksud oleh Liem) Contohnya, ya saat bung Daeng berpendapat, orang miskin karena nasib atau karena dia malas. Nah yang ini nih yang tump....!
Daeng : (segera memotong) Eit...! Sudah... sudah. Aduh, jadi malu, nih..
Yang lain tertawa melihat sikap bung Daeng.
Kaimana : Pentingnya pisau analisa yang tajam ini difahami betul oleh Bung Karno. Bangsa Indonesia harus disadarkan, kemiskinan yang mereka alami adalah akibat penjajahan Belanda. Coba bayangkan kalau bangsa Indonesia menganggap bahwa kemiskinan itu sudah takdir, nasib, atau karena salah bangsa Indonesia sendiri, mana bisa muncul semangat perjuangan?
Ucok : Tepat sekali. Nah.... saudara dan saudari sekalian, karena waktu sudah cukup, silahkan memberikan rangkuman sebagai pemahaman terakhir kita mengenai ideologi.
Kaimana : Ideologi merupakan seperangkat azas atau hukum-hukum, juga prinsip-prinsip, nilai-nilai, cita-cita, cara berpikir atau cara memandang dunia, yang ditegaskan oleh sebuah kelompok, masyarakat, maupun bangsa untuk diperjuangkan realisasinya.
Liem : Bisa juga, ideologi dirumuskan oleh seseorang, lalu diakui oleh sebuah masyarakat bangsa, dan dijadikan dasar negara.
Slamet : Sebagai cara atau metode berpikir, ideologi harus mampu menjelaskan ”apa yang ada” dan apa ”yang seharusnya ada.” Pertanyaan yang diajukan oleh ideologi adalah: Kenyataan hidup seperti apa yang kita hadapi sekarang? Apakah semua itu sudah sesuai dengan nilai atau prinsip-prinsip yang kita cita-citakan? jika belum, bagaimana seharusnya kenyataan hidup itu kita bangun sesuai ideologi kita?
Komang : Sebagai sebuah cita-cita, ideologi mempertanya-kan, cara bagaimana atau seperti apa yang harus ditempuh dan diperjuangkan untuk meraih cita-cita? Pertanyaan seperti ini dijawab melalui strategi, baik stategi politik, ekonomi, atau budaya.
Asep : Naah, tuuh, dengarkan, bung Umar...! Jangan sate saja yang diurusin!
Umar : Memangnya bung sendiri tidak perlu men-dengarkan? Enak saja. Memangnya sudah paham?
Para peserta diskusi tertawa melihat sikap dua orang itu.
Kaimana : Karena cita-cita yang ditegaskan oleh ideologi adalah perubahan susunan masyarakat, bangsa dan negara, maka jelas cita-cita ini memiliki skala yang besar atau luas. Semua ini memerlukan srategi yang jelas, terencana, dan memiliki ukuran-ukuran pencapaian. Karena itu strategi dapat diturunkan menjadi taktik-taktik, teknik serta program-program perjuangan.
Slamet : Ideologi memerlukan tindakan, praktek atau perjuangan. Maka, kita teringat slogan tadi : Ideologi tanpa perjuangan sama dengan mimpi. Sebaliknya, perjuangan tanpa ideologi sama dengan perjuangan liar.”
Liem : Karena ideologi telah memiliki prinsip, nilai-nilai, serta metode berpikir yang jelas, maka bagi penganut ideologi perlu menggalang semua kekuatan yang sefaham dengan ideologi kita untuk menghadapi sistem atau mereka yang ingin merusak atau mengganti ideologi kita!
Ucok : Oke! Saya kira cukup jelas apa yang kita rangkum tadi. Sekarang sudah pukul 17.00, dan diskusi bisa kita akhiri.
Upik : Sebentar dulu bung. Kita-kita ini masih banyak yang belum jelas. Misalnya, bagaimana hubungan antara ideologi dengan partai politik? Terus, mengapa Gerakan Kader Soekarno memilih Pancasila 1 Juni 1945?
Ucok : Tampaknya bu Upik ini mulai ketagihan diskusi. Padahal sebelumnya malas ikut. Baiklah, kita tentukan waktu dan tempat untuk diskusi lanjutan. Bagaimana, setuju?
Peserta : Setujuuuu.....!
Sumber..http://thesoekarnofoundation.blogspot.com/

_________________
Sewu siji wong beja neng ngalam ndonya iki, Mugo mugo sing siji kuwi Kulo
Dibawah Bendera Revolusi
Kembali Ke Atas Go down
http://www.wonosari.com
 
Idiologi ??? siapa takut..2/6
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Teras Nongkrong-
Navigasi: