Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 Idiologi ??? siapa takut ! 6/6

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Mayansah wiyono
KorLap


Lokasi : Tepus
Reputation : 6
Join date : 26.08.13

PostSubyek: Idiologi ??? siapa takut ! 6/6   Tue Feb 11, 2014 2:41 pm

 diskusi  6
penerapan & masa depan pancasila

Diskusi terakhir, yang mengambil pokok bahasan “Penerapan dan Masa Depan Pancasila” diadakan di rumah Silvi. Kali ini, saudari Liem bertindak sebagai Moderator, dan notulis oleh bung Asep.

Liem : Kawan-kawan sekalian, tibalah kita pada bagian akhir diskusi. Nah, menurut saya, ini bagian yang paling berat, karena mempersoalkan penerapan Pancasila, serta masa depannya. Nah, siapa mau mengawali pembicaraan?
Slamet : Saya setuju. Kalau kita ngomong penerapan Pancasila, sepertinya kita dituntut bercermin. Sejauh mana kita sudah menerapkan nilai-nilai, atau prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila.
Liem : Dan jangan lupa bung Slamet, kita juga harus membicarakan hambatan dan tantangan apa saja yang kita hadapi dalam penerapan Pancasila.
Kaimana : Saya kira bung Slamet dan Mbak Liem benar. Baiklah, siapa yang akan mulai dengan mem-berikan contoh-contoh konkrit tentang penerapan Pancasila ini? Boleh menggunakan contoh di level nasional atau lokal, lebih bagus lagi jika meng-gunakan kasus-kasus yang terjadi di sekitar kita.
Ucok : Oke, mungkin saya bisa mulai. Beberapa waktu lalu, wakil-wakil kita di DPR kan menolak kebijakan impor beras oleh pemerintah. Nah, bagaimana kita memahami kasus ini dari sisi ideologi?
Jalal : Yang pertama kita pahami bahwa kasus ini berada di wilayah nasional. Bahwa sebuah kebijakan di tingkat nasional dari seorang presiden disikapi, dengan cara ditolak oleh wakil-wakil kita.
Asep : Tapi apa urusannya kegiatan para anggota DPR itu bagi kita di daerah?
Silvi : Lho, jangan lupa, kebijakan pemerintah pusat itu  akibatnya juga akan dirasakan langsung oleh para petani di daerah kita. Tanya saya ke Pak Sugeng bagaimana nasibnya sebagai petani sekarang!
Sugeng : Yang pasti saya dan teman-teman lain yang berprofesi sebagai petani ancur-ancuran sekarang. Banyak diantara kami terlilit utang karena harga gabah dan beras anjlok tidak sebanding dengan biaya tanam, dari mulai beli pupuk, obat-obatan sampai perawatan. Padahal uang itu rata-rata dari ngutang! Ya sekarang kami cuma bisa pasrah!
Silvi : Husss! Jangan pasrah dong Pak! Pasrah itu di-larang oleh ideologi kita! Kita harus terus ber-juang! Jangan ikut-ikutan pak Daeng yang belum apa-apa sudah menyerah pada nasib! (sambil tersenyum melirik Pak Daeng)
Sugeng : Oh iya ya hahahahaha, Pemerintah memang harus dikasih pelajaran!
Daeng : Tapi tujuan pemerintah mengimpor beras ’kan untuk menjaga agar harga beras tetap murah? Bukankah Pemerintah juga membela masyarakat miskin agar tetap bisa beli beras.
Komang : Benar, Pak Daeng. Tapi caranya yang salah. Mana bisa membela rakyat miskin, tapi dengan cara menindas petani yang juga miskin? Ini menunjukkan jika pisau analisa yang digunakan Pemerintah tumpul sehingga sama sekali tidak menyelesaikan masalah!
Silvi : Ya jelas aja tumpul! Lha pemerintahnya saja tidak berideologi! Eh maaf! Pemerintah berideologi tapi menggunakan ideologi pedagang yang cuma mikir untung!
Peserta : (tertawa) ha ha ha ha ha
Daeng : Lah terus cara yang benar bagaimana, dong?
Komang : Seharusnya pemerintah berpikir secara menye-luruh. Semua rakyat miskin harus dibela. Jangan hanya membela yang satu, tapi mengorbankan yang lainnya. Itu konyol, namanya. Langkah paling bijak seharusnya, beras petani disubsidi. Ini berarti, Bulog harus membeli beras petani dengan harga yang lebih mahal agar petani tetap untung. Tapi pemerintah harus menjualnya kepada rakyat dengan harga murah agar tetap bisa terjangkau bagi rakyat miskin.
Umar : Lho, berarti pemerintah akan rugi, dong?
Upik : Memangnya pemerintah itu pedagang sayur kayak saya? Kok mikirnya untung-rugi?
Jalal : Tepat sekali bantahan saudari Upik. Kalau pemerintah itu hanya berpikir untung rugi, jangan-jangan itu pikiran pedagang yang  ber-ideologi pedagang dan sedang menjabat sebagai pemerintah ha..ha..ha...
Ucok : Jangan-jangan nanti malah negara ini dijualnya pula! Ha..ha..ha..
Para peserta diskusi tertawa. Salah seorang malah berseru: “Itu sudah terjadi!“
Silvi : Pemerintah itu ada karena rakyat. Karena itu, pemerintah bertugas melayani rakyat. Nah, karena jumlah yang paling besar dari rakyat itu hidup miskin, maka sudah jelas tugas utama pemerintah adalah berpihak pada rakyat miskin. Ini bukan soal untung rugi, tapi amanat ideologi negara, termasuk konstitusi kita.
Umar : Berarti, kenaikan BBM sampai 100% itu juga tidak benar! Masak subsidi dicabut hanya karena takut menghabiskan uang negara. Uang negara ’kan uang rakyat, berarti uang kita-kita juga!
Asep : Nah, terkait dengan itu, saya punya pengalaman. Tahun lalu, saya bersama beberapa anggota masayarakat di daerah saya, menolak penggusur-an yang dilakukan oleh Pemerintah daerah. Daerah yang akan digusur itu adalah kampung yang dianggap kumuh oleh Pemda. Menurut Pemda, itu adalah tanah negara.
Silvi : Hmm. Selalu begitu alasannya.
Asep : Maksud Pemda, kawasan itu akan didirikan pusat perbelajaan (mall). Sementara itu, penduduk setempat adalah orang-orang miskin seperti tukang becak, pemulung, pengamen, pedagang kaki lima.
Ucok : Nah, sekarang kita membicarakan masalah-masalah lokal di daerah-daerah kita.
Daeng : Lho, sebentar. Bukannya langkah Pemerintah daerah itu benar? Kalau itu tanah negara, berarti para penduduk itu menempati tanah secara liar. Jadi secara hukum, proses penggusuran itu sudah memenuhi prosedur.
Komang : Ah, bung Daeng ini. ’Kan dari awal kita sudah membahasnya. Mengapa orang jadi miskin ?
Daeng : Lho, karena... ya karena.... sistem yang dibangun oleh Pemerintah tidak berpihak pada mereka yang miskin!
Lena : Nah itu ngerti! Berarti menjadi miskin ’kan bukan cita-cita mereka? Nah, kalau begitu, apakah orang-orang miskin seperti pemulung, kuli bangunan, dan sebagainya itu salah ?
Daeng : Ya tentu saja tidak!
Liem : Lho, kok tadi bung Daeng menyalahkan orang miskin sebagai penghuni liar ?
Daeng : (menepuk kepalanya sendiri) Aduuh! Gimana sih saya ini...! (sadar bahwa cara berpikirnya salah lagi).
Para peserta tertawa melihat sikap bung Daeng
Ucok : Bung Daeng, mereka menjadi penghuni liar bukan karena kehendak mereka. Siapa sih yang ingin hidup miskin? Tidak ada! Mereka miskin karena hak-hak mereka tidak dipenuhi oleh negara. Mereka adalah korban dari kebijakan yang tidak adil dan tidak berdasarkan pemerataan.
Upik : Saya heran. Mengapa para pejabat pemerintah itu sering mengatakan : demi kerapian, ketertiban, atau keindahan kota para pedagang kaki lima digusur, diuber-uber, orang-orang miskin disalahkan, dan dianggap menganggu.
Jalal : Ini yang namanya mental sok tuan, sok juragan besar. Kalau pejabat punya mental seperti ini, pasti maunya dilayani, memerintah sana-sini. Memben-tak-bentak rakyat. Mereka lupa, menjadi pejabat adalah untuk melayani.
Ucok : Bukan hanya itu. Pejabat seperti ini kalau menyu-sun kebijakan, pasti lupa pada rakyat. Mereka menyusun kebijakan menurut kebutuhan mereka sendiri.
Umar : Bilang saja kalau pejabat-pejabat kita itu tidak berideologi! Tidak Pancasilais! Gitu aja kok repot! (dengan mimik bak guru besar).
Lena : Tapi, itu ’kan bukan hanya terjadi pada para pejabat? Orang-orang yang bukan pejabat juga bisa punya mental seperti itu.
Daeng : Pasti mau mengarah pada saya, ’kan?
Para peserta diskusi tertawa melihat mimik muka bung Daeng yang merasa bersalah.
Kaimana : Apa yang jadi pelajaran kita? Kalau mau berjuang membela rakyat, harus juga menggunakan cara berpikir, atau metode berpikir yang benar. Dengan demikian kita telah menerapkan ideologi dalam kehidupan kita, dan itu telah diajarkan dalam ideologi kita.
Daeng : Iya ya. Jadi bisa saja orang mengaku-aku ber-ideologi Pancasila, tapi cara berpikirnya salah?
Slamet : Benar. Contohnya bukan hanya ada pada cara berpikir bung Daeng, tapi juga banyak kader lain, atau masyarakat lainnya.
Asep : Kalau begitu, artinya metode berpikir itu kita gunakan terus-menerus dalam menghadapi kenyata-an hidup ?
Silvi : Tepat sekali bung Asep. Jika tidak, bisa bahaya!
Asep : Seberapa bahayanya?
Silvi : Ya besar sekali! Bisa-bisa kita mengkhianati ideologi kita sendiri! Ya seperti Orde Baru atau beberapa pejabat sekarang ini, ngakunya Pancasilais tapi prakteknya malah menindas rakyatnya sendiri!
Slamet : Baiklah saudara-saudara sekalian, saya kira sudah cukup jelas mengenai contoh-contoh penerapan Pancasila tadi. Yang penting dan harus selalu diingat, ketika kita hendak berjuang menerapkan nilai-nilai Pancasila, asahlah terus metode berpikir kita agar kita tidak berbelok, tersesat bahkan bertentangan dengan ideologi kita sendiri nantinya. Setuju?
Para peserta: Setujuuuuu!!! (serempak)
Liem : Baik teman-teman sekalian, saya pikir kita istirahat dulu sebentar. Waktunya masih panjang, setelah ini kita akan bahas topik berikutnya yaitu tentang masa depan Pancasila.
Lima belas menit kemudian Liem kembali membuka diskusi.
Liem : Teman-teman sekalian, waktu istirahat sudah cukup dan kita segera saja mulai diskusi ini. Silahkan siapa yang akan mulai lebih dulu?
Ignatius : Jika kita akan bicara tentang masa depan Pancasila, tentu kita harus mulai bicara dari proses awal kelahiran Pancasila. Sebagaimana yang telah kita fahami bahwa Pancasila itu merupakan intisari dari ajaran Bung Karno. Dan kalau kita dalami, ternyata Pancasila merupakan kristalisasi dari nilai, kearifan dan pengalaman perjuangan bangsa Indonesia selama berabad-abad serta pemahaman mendalam terhadap realitas bangsa dan tanah air Indonesia.
Liem : Ya, Bung Karno juga sering mengatakannya, bahwa Pancasila itu adalah mutiara-mutiara yang digali dari bumi pertiwi sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.
Ignatius : Benar, mutiara-mutiara yang dimaksud Bung Karno itu berujud tanah air kita yang amat luas, yang terdiri dari ribuan pulau; nilai-nilai luhur yang menata kehidupan; kearifan yang menuntun kearah perkembangan yang lebih baik; serta pengalaman perjuangan melawan segala macam bentuk penindasan.
Slamet : Ya, tapi jangan lupa, disamping itu Bung Karno juga mempelajari ideologi-ideologi besar dunia. Mempelajari berarti menganalisa, mengkritik, membuang yang tidak sesuai dan menyerap nilai yang  berguna dan cocok dengan kita.
Asep : Maksudnya bagaimana sih? Kok saya masih bingung?
Liem : Mungkin saya bisa bantu untuk menjelaskannya secara singkat. Dari abad 18 sampai abad 20 terdapat ideologi besar dunia, termasuk negara-negara pendukungnya. Yang pertama adalah kapitalisme-liberalisme yang berpedoman pada deklarasi kemerdekaan Amerika (Declaration of Independence) oleh Thomas Jefferson tahun 1776. yang kedua adalah Komunisme, yang berpedoman pada Manifesto Komunis tahun 1848 oleh Karl Marx.
Daeng : Apakah persaingan kedua ideologi itulah yang kemudian memicu adanya perang dingin antara Amerika Serikat dengan (bekas) Uni Sovyet ?
Liem : Benar. Kedua ideologi itu satu sama lain merasa saling bertentangan. Karena itu negara-negara penganut kedua ideologi itupun menjadi dua kelompok besar. Baik Amerika Serikat ataupun (bekas) Uni Sovyet, keduanya juga memiliki negara-negara pengikut mereka.  
Slamet : Karena sengitnya persaingan diantara dua blok besar itu, seolah-olah mereka ingin membelah dunia hanya menjadi dua bagian. Menjadi pengikut mereka, atau menjadi lawan mereka.
Liem : Dan Bung Karno yang berpikir kritis dan mandiri, justru menemukan kelemahan-kelemahan kedua ideologi itu. Ideologi kapitalisme-liberalisme, lebih mengutamakan kebebasan ekonomi, politik, atau ingin mengejar kebahagiaan, tapi mengabaikan keadilan sosial.
Umar : Apa yang salah dengan ideologi itu?
Komang : Saya bisa menjawabnya. Kalau tekanan utama semata-mata pada kebebasan berusaha, maka yang paling kuat, yang paling pintar, dan yang paling kaya, akan mengalahkan orang-orang  miskin. Dan ini tidak adil bagi orang miskin.
Liem : Sedangkan ideologi Komunisme mendasarkan pada filsafat Materialisme. Bagi filsafat ini, yang paling hakiki dalam kehidupan adalah materi, sehingga prinsip di dalamnya adalah anti Tuhan. Hal ini bertentangan dengan keyakinan mayoritas masya-rakat Indonesia, bahkan masyarakat dunia yang justru sangat ber-Tuhan.
Kaimana : Pancasila rumusan Bung Karno mengkritik dan melengkapi kelemahan kedua ideologi itu. Kebebasan tanpa batas di bidang ekonomi akan lebih menguntungkan orang-orang kaya. Hal ini menimbulkan keserakahan, yang berakibat penin-dasan terhadap orang-orang miskin. Karena itu, Pancasila menegaskan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, termasuk sila Keadilan sosial.
Komang : Begitu juga, jika orang menganggap yang paling hakiki adalah materi, atau benda, maka manusia itu sendiri adalah sebuah benda. Tapi siapakah yang menciptakan manusia dan alam semesta? Filsafat materialisme anti Tuhan, dan Pancasila menegas-kan Ketuhanan yang Maha Esa. Pancasila menegaskan pengakuan bahwa Manusia dan Alam semesta adalah ciptaan Tuhan.
Liem : Nah, dengan demikian, Pancasila sesungguhnya merupakan peningkatan ke taraf yang lebih tinggi ketimbang kedua ideologi besar dunia itu.
Ucok : Betul sekali. Dan semangat kemerdekaan serta kemandirian yang dimiliki Pancasila, telah mengilhami bangsa-bangsa terjajah di Asia, Afrika dan Amerika Latin, untuk merebut kemerdekaan mereka.
Kaimana : Nah, bukankah kita harus bangga memiliki “mutiara” seperti Pancasila? Ideologi ini ibarat cermin yang dapat kita gunakan untuk pedoman diri pribadi (individu). Pedoman dalam kehidupan berpartai politik. Pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Pedoman dalam hidup rukun beragama, berbangsa dan bernegara, serta dalam hubungan di dunia internasional.
Para peserta : Tentu saja kita bangga! Merdeka! Hidup Pancasila!
Ucok : Abad sekarang dan abad-abad selanjutnya adalah abadnya Pancasila!
Para Peserta : Benar! Setujuuuu! Hidup Pancasila!
Kaimana : Tapi yang menjadi pertanyaan pokoknya, sebagai kader Soekarno apa yang harus kita lakukan untuk mengawal dan mengamalkan Pancasila!
Tiba-tiba peserta terdiam. Masing-masing terlihat sibuk berpikir berusaha mencari jawaban.
Komang : Menurut saya, ada sepasang hal yang harus kita lakukan untuk mengawal dan mengamalkan Pancasila, pertama mempertajam pemahaman kita tentang Pancasila 1 Juni 1945 ajaran Bung Karno. Kedua, mempraktekkan nilai-nilai Pancasila dalam segala segi kehidupan: politik, ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan situasi dan perkembangan keadaan.
Liem : Ya saya setuju, tapi sepertinya perlu ditambahkan sepasang lagi. Ketiga, kita harus senantiasa kian mendialogkan Pancasila dengan pemikiran dan ideologi besar dunia yang berkembang saat ini, dan keempat kita harus membangun kekuatan pendukung Pancasila, baik ditingkat nasional maupun internasional.
Slamet : Wah, wah, wah hebat sekali! Sudah dua pasang hal yang harus kita kerjakan untuk melestarikan dan mengamalkan Pancasila. Saya setuju! Tapi saya mau menambahkan satu hal lagi, kita harus membangun konsolidasi pendukung Pancasila! Kita bentuk kelompok kecil diantara kita untuk mengorganisir dan menggerakkan kekuatan-kekuatan: pemuda, petani, buruh, nelayan, perempuan. Kelompok lain akan kita bentuk kemudian, setuju?
Peserta : Setujuuuu!
Ucok : Ya sekarang lengkap sudah! Ingat kawan-kawan yang harus kita kerjakan adalah dua pasang hal yang telah disampaikan oleh Komang dan Mbak Liem serta satu tindakan untuk pengembangan dan pelestarian Pancasila seperti yang disampai-kan Bung Slamet tadi. Setujuuuuu!
Seluruh Peserta : Setujuuu! Merdeka! Hidup Bung Karno!

Sumber : http://thesoekarnofoundation.blogspot.com/

_________________
Sewu siji wong beja neng ngalam ndonya iki, Mugo mugo sing siji kuwi Kulo
Dibawah Bendera Revolusi


Terakhir diubah oleh Mayansah wiyono tanggal Fri Mar 20, 2015 9:07 am, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
http://www.wonosari.com
bahqri.dixie
KorLap


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 8
Join date : 10.07.12

PostSubyek: Re: Idiologi ??? siapa takut ! 6/6   Sun Feb 16, 2014 3:34 am

ngakak 

_________________
FKOGK

Berjaya di udara berkarya di nyata coming good di wonosari.com
Kembali Ke Atas Go down
http://bahqriimages.blogspot.com
 
Idiologi ??? siapa takut ! 6/6
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Teras Nongkrong-
Navigasi: