Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin
Syekh Siti Jenar 5 3.7 3
Share | 
 

 Syekh Siti Jenar

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : 1, 2, 3, 4  Next
PengirimMessage
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi: Gunungkidul
Reputation: 20
Join date: 06.05.08

PostSubyek: Syekh Siti Jenar   Thu Jun 19, 2008 11:34 am

Bagi yang tahu tentang Riwayat dan ajaran syekh siti jenar mari berbagi.......jika tidak suka jgn mencela.....lebih baik diam......
Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa yang sangat kontroversial di Jawa, Indonesia.
Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya, di masyarakat,
terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti.
Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah
intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran -
ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang bertentangan dengan cara hidup Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

Konsep dan AjaranAjaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan
dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti
Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai
kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian
justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.
Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat
keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya
hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah
itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang
dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia
dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4
tahapan ; 1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat,
zakat dll); 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid,
dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu; 3. Hakekat, dimana hakekat
dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan 4. Ma'rifat,
kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa
setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya
ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para
ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syech
Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun
pasca wafatnya sang Syech. Para ulama mengkhawatirkan adanya
kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syech Siti
Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang
harus disampaikan adalah pada tingkatan 'syariat'. Sedangkan ajaran
Siti Jenar sudah memasuki tahap 'hakekat' dan bahkan 'ma'rifat'kepada
Allah (kecintaan yang sangat kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang
disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata 'SESAT'.
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat
masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap
pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda
- beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh
karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk
mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
disebut ikhlas.

Manunggaling Kawulo Lan GustiDalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti
dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan
bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan
kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan
Tuhannya.
Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia ("Ketika
Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan
manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan
Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan
bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"
)>. Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
Perbedaan penafsiran ayat Al Qur'an dari para murid Syekh Siti
inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam
ruh Tuhan, yaitu polemik paham 'Manunggaling Kawula Gusti'.

Hamemayu Hayuning BawonoPrinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.

KontroversiKontroversi
yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar.
Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para
pejabat kerajaan Demak Bintoro.
Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung
pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.
Dari sisi agama Islam,
Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini
akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat.
Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh
Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman
utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat
ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan
Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak.
Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.[rujukan?]
Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati
bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima
wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali
tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena
beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.[rujukan?]
Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali.
Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya
yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.[rujukan?]
Kisah pada saat Pasca KematianTerdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar.
Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.
Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya
yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di
antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.

sumber: wikipedia.org
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
sunarto
Lurah


Lokasi: Jakarta
Reputation: 0
Join date: 10.03.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Tue Aug 19, 2008 8:36 am

Wonosingo Ngali Kidul wrote:
Bagi yang tahu tentang Riwayat dan ajaran syekh siti jenar mari berbagi.......jika tidak suka jgn mencela.....lebih baik diam......
Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa yang sangat kontroversial di Jawa, Indonesia.
Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya, di masyarakat,
terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti.
Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah
intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran -
ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang bertentangan dengan cara hidup Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

Konsep dan AjaranAjaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan
dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti
Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai
kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian
justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.
Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat
keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya
hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah
itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang
dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia
dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4
tahapan ; 1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat,
zakat dll); 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid,
dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu; 3. Hakekat, dimana hakekat
dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan 4. Ma'rifat,
kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa
setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya
ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para
ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syech
Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun
pasca wafatnya sang Syech. Para ulama mengkhawatirkan adanya
kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syech Siti
Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang
harus disampaikan adalah pada tingkatan 'syariat'. Sedangkan ajaran
Siti Jenar sudah memasuki tahap 'hakekat' dan bahkan 'ma'rifat'kepada
Allah (kecintaan yang sangat kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang
disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata 'SESAT'.
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat
masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap
pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda
- beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh
karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk
mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
disebut ikhlas.

Manunggaling Kawulo Lan GustiDalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti
dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan
bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan
kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan
Tuhannya.
Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia ("Ketika
Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan
manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan
Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan
bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"
)>. Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
Perbedaan penafsiran ayat Al Qur'an dari para murid Syekh Siti
inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam
ruh Tuhan, yaitu polemik paham 'Manunggaling Kawula Gusti'.

Hamemayu Hayuning BawonoPrinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.

KontroversiKontroversi
yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar.
Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para
pejabat kerajaan Demak Bintoro.
Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung
pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.
Dari sisi agama Islam,
Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini
akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat.
Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh
Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman
utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat
ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan
Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak.
Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.[rujukan?]
Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati
bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima
wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali
tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena
beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.[rujukan?]
Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali.
Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya
yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.[rujukan?]
Kisah pada saat Pasca KematianTerdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar.
Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.
Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya
yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di
antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.

sumber: wikipedia.org

KITA BOLEH TAU KISAH DAN CERITANYA,TAPI JANGAN SAMPAI TERPENGARUH AJARANNYA,PERLU DIKETAHUI KESESATAN SEKARANG INI SANGAT BANYAK BENTUK DAN JENISNYA.COBA MARI KITA RENUNGKAN DAN KITA SADARI BERAPA BANYAK ALIRAN SESAT YANG NOTABENANYA MEMPUNYAI DALIL DAN DASAR DENGAN MENGGUNAKAN QURAN DAN SUNAH.NAMUN SEMUA ITU DISEBABKAN KURANG PEMAHAMAN DAN PENGETAHUAN TANTANG BAGAIMANA MENAFSIRKAN SEBUAH AYAT DAN HADIST.SUWUN
Kembali Ke Atas Go down
rmlodang
Camat


Lokasi: Kayangan junggring saloko.
Reputation: 12
Join date: 12.08.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Tue Aug 19, 2008 11:34 pm

Sik sik sik nek niki aku ora wani komentar ki, menyangkut kepercayaan jee.
Kembali Ke Atas Go down
http://maryoto_metal@yahoo.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi: Gunungkidul
Reputation: 20
Join date: 06.05.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Fri Sep 12, 2008 11:18 am

DUNIA baru saja menyaksikan demoralisasi peradaban dibalik perang Vietnam, pada paruh pertama dekade 1970-an seorang muda dari Jepang bernama Daisaku Ikeda mengunjungi Arnold Toynbee di Inggris. Yang pertama adalah tokoh Soka Gakkai; yang terakhir adalah raksasa pikir sejarah peradaban dunia. Toynbee telah renta pada saat perjumpaan timur-barat itu, dan tutup usia tak lama kemudian, 1975. Mereka berdialog.

Toynbee: Saya yakin bahwa gaya suatu peradaban adalah perwujudan dari agamanya. Saya amat setuju bahwa agama telah menjadi sumber vitalitas yang telah menyebabkan kehadiran peradaban di dunia dan telah mempertahankan kehadirannya—selama lebih dari tiga ribu tahun dalam kasus-kasus Mesir zaman Fir’aun dan Cina sejak bangkitnya dinasti Shang dan jatuhnya dinasti Ching pada tahun 1912… Setiap kali suatu bangsa kehilangan keimanan pada agamanya, peradabannya pasti runtuh oleh perpecahan sosial domestik dan serangan militer asing…

Contoh-contoh fenomena historis adalahnya jatuhnya peradaban Cina Kong Hu Cu sejak Perang Candu dan bangkitnya suatu peradaban Cina baru ketika ajaran Kong Hu Cu telah digantikan oleh komunisme; runtuhnya peradaban Mesir Fir’aun dan peradaban Yunani-Romawi dan penggantiannya oleh peradaban baru yang dilhami oleh ajaran Kristen dan Islam.


Ikeda: Bangsa Indonesia, sesudah memeluk Hinduisme dan Buddhisme mampu menciptakan suatu peradaban luhur yang dilambangkan oleh peninggalan Borobudur yang menakjubkan. Kemudian bangsa ini memeluk Islam, tetapi hal ini tidak membuatnya mampu menghasilkan sesuatu yang sebanding dengan prestasi yang pernah dicapai sebelumnya. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada bangsa Khmer. Namun apa yang pernah mereka miliki yang membuat mereka mampu membangun kuil agung semacam Angkor Wat, sudah lama hilang…

Toynbee: Seperti telah saya katakan, saya rasa keberhasilan atau kegagalan suatu budaya sangat berkaitan erat dengan agama bangsa itu. Suatu peradaban ditentukan oleh kualitas agama yang melandasinya.

****

SYEKH Siti Jenar menjadi, atau dijadikan, legenda karena ia kalah dari kekuasaan sezaman “Dewan Wali” pada permulaan abad ke-16 [kemungkinan fragmen tragis Siti Jenar terjadi antara tahun 1500-1518 masa pemerintahan Raden Fatah]. Nasibnya serupa dengan Syekh Isa al-Masih lima belas abad sebelumnya dihadapan dewan Sanhedrin, di Yerusalem. Keduanya adalah korban politik. Keduanya mengalami kematian tragis. Keduanya ironisnya tetap eksotik bagi pencari kebenaran, juga sensasi, diseberang kesilaman.

Seperti halnya Isa al-Masih yang bergerak dari periferi provinsi Galilea ke pusat Yerusalem, Siti Jenar bergerak di desa-desa semacam Krendhawasa atau Pengging, lalu mengarah ke jantung Demak Bintoro yang merupakan lemhanas Islam di tanah Jawa pada masa itu. Kartel politik antara kaum elite struktural Islam dan kerajaan Demak yang mencacingkan kelahiran Siti Jenar serta menganjingkan kematiannya, memang dapat mengartikulasikan kekalahannya dari teropong politis. Dalam legenda itu, disebutkan tentang birahi Sunan Kudus untuk menyapu bersih Siti Jenar serta pengikutnya. Sunan Tembayat juga konon berada pada barisan yang menentang Siti Jenar. Stigmatisasi dibalik kedua ikon serendah itu—konon diwejangkan oleh Sunan Bonang—pasti bukannya tanpa latar belakang.

Bila bagi Demak yang Jawa ia dianggap menyebarkan ajaran bid’ah sebagaimana terungkap dalam naskah-naskah Babad Tanah Jawi, Suluk Syaikh Lemahbang maupun Serat Wali Sanga, tidaklah demikian kisahnya bagi Cirebon yang Pasundan. Melalui lensa Cirebon seperti Babad Cherbon,Negara Kretabhumi, Purwaka Caruban Nagari, tidak terdapat konotasi seburuk itu. Ia sebaliknya adalah wali tulen dan sepak-terjangnya dipandang rahmatan ‘lil allamiin bagi kaum mukmin.

Tetapi mengapa perbedaan antara Demak dan Cirebon begitu tajam hanya karena ajakan sang Syekh kepada tasawuf antropomorfistik, begitu istilah Gus Dur, yang mencita-citakan manunggaling kawula kalawan Gusti?

****

ADA persoalan fundamental. Membalikkan urutan maqam (kalau boleh disebut demikian) dari Ma’rifatullah ke Syari’at mengundang kecemasan akan konsekuensi sosio-politiknya pada ruang publik. “Jika engkau tidak mengetahui siapa yang disembah akhirnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sembahan yang sia-sia,” kata Siti Jenar. Kenali dan alami Tuhan dulu, baru taat kepada-Nya. Sebab tak kenal maka tak sayang; tak sayang maka tak taat. Kira-kira begitu maksudnya. Bila Tuhan telah dikenal, telah dialami secara eksistensial, maka dengan sendirinya Syari’at berjalan sebagai dorongan kebutuhan, sebagai panggilan siklus alamiah. Kurang-lebih begitu proyeksinya.

Mengatakan iyyâka na’budu, berarti pribadi masih mengklaim diri mampu dan aktif menyembah. Hal ini baik, tapi kurang cukup. Sebab, kalau sudah wa iyyâka nasta’în, itu artinya pribadi lebur, menyatu dengan Tuhan. Lepas dari dunia ego, menjadi manusia hakiki. Dengan demikian ‘ibâdah al-shâlihîn, ibadahnya orang saleh, adalah ibadah yang tidak lagi mengklaim bahwa “aku telah berbuat baik” sebab sebetulnya Tuhan sendiri yang bekerja. Hal ini paralel dengan keyakinan orang Kristen, “Tidakkah engkau percaya bahwa Aku ada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Segala sesuatu yang Kukatakan kepadamu, bukanlah dari diri-Ku sendiri. Bapa yang tinggal di dalam Aku melakukan pekerjaan-Nya” (Yoh 14; 10). Siti Jenar ingin Surat al-Fatihah dibaca lengkap, supaya Sang Pribadi dipahami lengkap.

Pada panggung politik memang hamba lebih sering teraleniasi dari para tuan yang ramah, yang mengira mereka memiliki kebajikan. Tetapi ini soal agama, di mana sumber rahmat adalah ketakterhinggaan sehingga riskan terhadap sentuhan politik. Rahmat adalah yurisdiksi Tuhan, bukan umat, apalagi para wali. Tentang rahmat, ada syair mengharukan dari si cantik kelahiran Basrah, Irak, Rabi’ah Adawiyah (713-801 M):

Ya Tuhan, kalau aku menyembah Engkau
hanya karena takut neraka-Mu
masukan saja aku ke neraka itu
kalau aku menyembah Engkau
karena tamak akan surga-Mu
haramkan aku daripadanya
Tetapi, kalau aku menyembah
karena ridha-Mu, maka terimalah aku


Untuk itu Siti Jenar menawarkan sebuah model “pencarian Tuhan” dengan sekuel Ma’rifatullah>Hakekat>Tarekat>Syari’at (MHTS)—tentu saja ini suatu simplifikasi semata—yang berlawanan dengan sekuel Syari’at>Tarekat>Hakekat>Ma’rifatullah (STHM) sebagaimana telah menjadi taklid mayoritas secara turun-temurun.

Membalikkan STHM menjadi MHTS bukan soal serampangan. Apalagi Ma’rifatullah artinya juga “memindahkan” baitullah yang di Mekkah itu ke dalam kepala masing-masing kaum mukmin tanpa pandang kelas. Yang paling dikuatirkan dari metafora (qias) ini adalah risiko salah-paham di tingkat umat. Keadaan menjadi lebih buruk bila karenanya terjadi pembongkaran tradisi magisterium(kekuasaan mengajar) para wali, bagi siapa interpretasi mi’raj dalam konteks Ma’rifatullah adalah teritori di atas langit yang belum boleh dijamah oleh kaum awam di kolong langit.

Pada tingkat individual model MHTS adalah sebuah metode pencerahan dan pembebasan dari bermacam belenggu doktrin maupun segala ikatan tradisional. Pada tingkat sosial, konsekuensinya, bisa terjadi suatu evolusi pembentukan masyarakat yang berswadaya. Suatu pendidikan kaum tertindas, jika kurang ekstrim disebut teologi pembebasan dalam kaca mata Pôrto Alegre zaman sekarang. Pada akhirnya MHTS adalah juga pemberdayaan komunitas basis. Imajinasi tentang penawaran MHTS yang menimbulkan stampede di sisi permintaan tidak memerlukan seorang dukun untuk mengetahui nasib apa yang akan dialami kerajaan.

Bagi Demak model “pencarian Tuhan” tidak dapat ditawar-tawar, tetap harus STHM. Ketika sebuahcaesuur (garis pemisah) antara zaman Hindu-Majapahit yang sedang tenggelam dan zaman Islam-Demak yang sedang menyingsing baru saja terbentuk, memindahkan ownership Ma’rifatullah ke ruang publik di mana seyogyanya Syari’at saja yang pantas diterapkan, perlu diharamkan. Konsolidasi masih menyisakan kerepotan antar aparat, tetapi Siti Jenar justru bergaul akrab dengan sekumpulan anasir orde lama Majapahit semacam Ki Ageng Pengging (atau Kebo Kanigoro), selain dengan sebarisan tokoh lokal dari komunitas Jepara, Tingkir, Kediri hingga Tuban. Bagi suatu sistem feodalisme, faktanya memang siapa “menguasai” Tuhan, dia menguasai dunia. Didatangi wangsit artinya adalah legitimasi, ditinggal pergi wangsit artinya delegitimasi.

Bisa dimengerti bila bagi Demak manunggaling kawula kalawan Gusti adalah catchwords yang diasosiasikan sebagai argot perlawanan lokal terhadap kekuasaan pusat. Arti lainnya adalah, garis proliferasi Islam di pesisir utara Jawa, dari timur ke barat, bisa kacau-balau. Padahal misi penaklukan Cirebon dan Banten masih harus diwujudkan ditengah perasaan gundah publik Pasundan menatap sinar-sinar Galuh dan Pajajaran yang semakin meredup. Dari titik pandang ini, cetak-biru geopolitik Demak terancam. [Kira-kira tahun 1525, misi penaklukan wilayah barat ini diwujudkan oleh Syekh Nurullah yang merupakan adik ipar Raja Demak ketiga, Sultan Trenggana. Setelah bertahun-tahun tinggal di Banten, Nurullah menetap di Cirebon di mana ia kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati].

Memang, fase pelembagaan adalah pertanyaan tersendiri ketika politik harus menemukan maknanya dan sejarah harus ditulis. Bagaimanapun, kenyataan “sabda” yang menjelma menjadi “daging” dalam suatu ikatan spiritual network, telah menyebabkan krisis kepercayaan diri pada kalangan borjuasi kerajaan akibat terperangkapnya kreatifitas oleh roh kekuasaan itu sendiri.

****

SYEKH Siti Jenar tidak lagi menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya. Pada tahun 1581 sebuah “revolusi” dibawah komando Jaka Tingkir dari Pajang menewaskan Aria Penangsang, keluarga raja Demak terakhir di Jipang. Di bawah Pajang benih-benih hegemoni Mataram mulai ditebarkan. Demak yang pesisir terpuruk menjadi suzereinitas oleh Mataram yang pedalaman.

Sejak tata ruang politik Jawa bergeser ke pedalaman, intensitas pergesekan antara kawula santri dan abangan, kawula saudagar dan priyayi, mewarnai jalannya sejarah. Di bawah pengaruh Mataram, Jawa merintis budaya agraris. Budaya maritim yang diwariskan dari tradisi Majapahit perlahan-lahan lengser keprabon madeg pandhito, walaupun pesisir seperti Indramayu, Semarang, Sidayu, Jepara, Surabaya dan Pasuruan masih menjadi pilar-pilar emporium bagi ketahanan ekonomi imperium. Bukan tanpa maksud istilah madeg pandhito digunakan di sini, sebab Masjid Agung Demak tetap dipertahankan oleh Mataram sebagai ikon bagi Jawa yang Islam, sekaligus menegaskan berlalunya zaman “kafir” Majapahit.

Tetapi nampaknya orang Jawa lebih menginginkan Islam melakukan asimilasi ketimbang akulturasi. Sumber-sumber keraton Mataram kemudian banyak memantulkan semangat manunggaling kawula kalawan Gusti dalam berbagai serat seperti Wulangreh dan Werdatama. Batin orang Jawa tentang “wangsit” nampaknya selaras dengan “wahyu” dalam Islam yang selain memang samawi, juga profetik tentang datangnya era kebahagiaan sejati serta kemuliaan kekal. Maka transisi politik ini juga memuat pergeseran dari Islam-Demak yang mencari vitalitas dalam Syari’at, menuju Islam-Mataram yang mencari vitalitas dalam Ma’rifatullah.

Ma’rifatullah lebih terasa sebagai endogenetis kearifan lokal, sesuatu yang hadir dari dalam, ketimbang Syari’at yang terasa sebagai eksogenetis kearifan asing, lebih berbau sorban Arab daripada belangkon, sesuatu yang hanya hadir dipermukaan. Pada titik ini apa yang diistilahkan Islam-Jawa terbentuk, mengakar kepada sistem nilai yang terekam sejak abak ke-9 M di masa ko-eksistensi dinasti Syailendra dan Sanjaya seiring lahirnya abjad Jawa Hanacaraka menggeser huruf Palawa dan Sansekerta [Mpu Ubayun adalah satu nama yang sering dikaitkan dengan Hanacaraka, walaupun tidak ada kepastian tentang hal ini].

Sistem nilai itu adalah manunggaling kawula kalawan Gusti—jadi, sudah ada kira-kira enam ratus tahun sebelum periode para wali Islam di tanah Jawa. Bahkan kalender Kamariah baru diterapkan tahun 1633, sebelum itu Jawa masih mempersepsikan waktu menurut kalender Saka hingga Sultan Agung menghadapi pemberontakan 27 desa di tahun 1630 dibawah karisma Syekh Bungas dari Wedi. Kejadian ini hanya satu pertanda bagi elegi dinasti Mataram sejak Amangkurat I naik tahta (1646).

Sejak itu, Islam kembali jatuh ke dalam fragmentasi berbagai kepentingan: Komunitas, Kekuasaan, dan… Kapitalisme—dari VOC hingga IMF. Secara anakronistik, dan pasti kontroversial, apakah Syekh Siti Jenar sebetulnya merasakan apa yang dirasakan Arnold Toynbee? Atau sebaliknya.

J.H. Wenas, rakyat jelata, tinggal di Jakarta.

*)Tulisan ini dimuat di www.sarwono.net, 8 Maret 2005, ( http://www.sarwono.net/artikel.php?id=72 )

================
Asyiknya Nulis Jowo
Menulis Cerita-cerita pendek
Cinta Ohh Cinta
Nyinau Filsafat Kita & Modern
Puisi-puisi Cinta
Berbagi Kata-kata Mutiara/pepatah/wejangan
TEntang Pendidikan
Berbagi Ndongeng
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi: Gunungkidul
Reputation: 20
Join date: 06.05.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Fri Sep 12, 2008 11:29 am



Saat Pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499)

Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda.
Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali. Siti Jenar dianggap telah merusakketenteraman dan melanggar peraturan kerajaan, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh, ada yang mengatakan bunuh diri).


Akan tetapi kematian Siti Jenar juga bisa jadi karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam.

Nama lain dari Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau Lemah Abang, Seh Sitibang, Seh Sitibrit atau Siti Abri, Hasan Ali Ansar dan Sidi Jinnar. Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali.

Dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, dikatakan bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang semula ikut mendengar saat Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Sedangkan dalam buku Sitijenar tulisan Tan Koen Swie (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jenar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jenar (Seh Siti Luhung/Seh Lemah Bang/Lemah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Sunan Giri. Namun menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon.

Informasi tambahan di sini, bahwa Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V (R. Alit/Angkawijaya/Kertabumi yang bertahta tahun 1388), yang dilahirkan dari putrinya bernama Ratu Pembayun (saudara dari Jin Bun/R. Patah/Sultan Bintoro Demak I yang bertahta tahun 1499) yang dinikahi Ki Jayaningrat/Pn. Handayaningrat di Pengging. Ki Ageng Pengging wafat dengan caranya sendiri setelah kedatangan Sunan Kudus atas perintah Sultan Bintoro Demak I untuk memberantas pembangkang kerajaan Demak. Nantinya, di tahun 1581, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet, akan menjadi Raja menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo Pajang I.

Keberadaan Siti Jenar diantara Wali-wali (ulama-ulama suci penyebar agama Islam yang mula-mula di Jawa) berbeda-beda, dan malahan menurut beberapa penulis ia tidak sebagai Wali. Mana yang benar, terserah pendapat masing-masing. Sekarang mari kita coba menyoroti falsafah/faham/ajaran Siti Jenar.

Konsepsi Ketuhanan, Jiwa, Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan dalam pandangan Siti Jenar dalam buku Falsafah Siti Jenar tulisan Brotokesowo (1956) yang berbentuk tembang dalam bahasa Jawa, yang sebagian merupakan dialog antara Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, yaitu kira-kira:

Siti Jenar yang mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 (dua puluh) atribut/sifat yang dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat, tidak ada asal-usul serta tujuannya;

Hyang Widi sebagai suatu ujud yang tak tampak, pribadi yang tidak berawal dan berakhir, bersifat baka, langgeng tanpa proses evolusi, kebal terhadap sakit dan sehat, ada dimana-mana, bukan ini dan itu, tak ada yang mirip atau menyamai, kekuasaan dan kekuatannya tanpa sarana, kehadirannya dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda, tidak dapat diinterpretasikan, menghendaki sesuatu tanpa dipersoalkan terlebih dahulu, mengetahui keadaan jauh diatas kemampuan pancaindera, ini semua ada dalam dirinya yang bersifat wujud dalam satu kesatuan, Hyang Suksma ada dalam dirinya;

Siti Jenar menganggap dirinya inkarnasi dari dzat yang luhur, bersemangat, sakti, kebal dari kematian, manunggal dengannya, menguasai ujud penampilannya, tidak mendapat suatu kesulitan, berkelana kemana-mana, tidak merasa haus dan lesu, tanpa sakit dan lapar, tiada menyembah Tuhan yang lain kecuali setia terhadap hati nurani, segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah;
Segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah, maha suci, sholat 5 (lima) waktu dengan memuji dan dzikir adalah kehendak pribadi manusia dengan dorongan dari badan halusnya, sebab Hyang Suksma itu sebetulnya ada pada diri manusia;



Bersambung.......2
================
Asyiknya Nulis Jowo
Menulis Cerita-cerita pendek
Cinta Ohh Cinta
Nyinau Filsafat Kita & Modern
Puisi-puisi Cinta
Berbagi Kata-kata Mutiara/pepatah/wejangan
TEntang Pendidikan
Berbagi Ndongeng
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi: Gunungkidul
Reputation: 20
Join date: 06.05.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Fri Sep 12, 2008 11:30 am

Lanjutan Selesai..................

Wujud lahiriah Siti jenar adalah Muhammad, memiliki kerasulan, Muhammad bersifat suci, sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat pancaindera;

Kehendak angan-angan serta ingatan merupakan suatu bentuk akal yang tidak kebal atas kegilaan, tidak jujur dan membuat kepalsuan demi kesejahteraan pribadi, bersifat dengki memaksa, melanggar aturan, jahat dan suka disanjung, sombong yang berakhir tidak berharga dan menodai penampilannya;


Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, jasad busuk bercampur debu menjadi najis, nafas terhembus di segala penjuru dunia, tanah dan air serta api kembali sebagai asalnya, menjadi baru;

Dalam buku Suluk Wali Sanga tulisan R. Tanojo dikatakan bahwa :

Tuhan itu adalah wujud yang tidak dapat di lihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang bersinar cemerlang yang berwujud samar-samar bila di lihat, dengan warna memancar yang sangat indah;

Siti Jenar mengetahui segala-galanya sebelum terucapkan melebihi makhluk lain ( kawruh sakdurunge minarah), karena itu ia juga mengaku sebagai Tuhan;

Sedangkan mengenai dimana Tuhan, dikatakan ada di dalam tubuh, tetapi hanya orang terpilih (orang suci) yang bisa melihatnya, yang mana Tuhan itu (Maha Mulya) tidak berwarna dan tidak terlihat, tidak bertempat tinggal kecuali hanya merupakan tanda yang merupakan wujud Hyang Widi;

Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati) tapi kehidupan dunia itu kematian, bangkai yang busuk, sedangkan orang yang ingin hidup abadi itu adalah setelah kematian jasad di dunia;
Jiwa yang bersifat kekal/langgeng setelah manusia mati (lepas dari belenggu badan manusia) adalah suara hati nurani, yang merupakan ungkapan dari dzat Tuhan dan penjelmaan dari Hyang Widi di dalam jiwa dimana raga adalah wajah Hyang Widi, yang harus ditaati dan dituruti perintahnya.


Dalam buku Bhoekoe Siti Djenar karya Tan Khoen Swie (1931) dikatakan bahwa :

Saat diminta menemui para Wali, dikatakan bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar Prabu Satmata;

Ia menganggap Hyang Widi itu suatu wujud yang tak dapat dilihat mata, dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang, warnanya indah sekali, memiliki 20 (dua puluh) sifat (antara lain : ada, tak bermula, tak berakhir, berbeda dengan barang yang baru, hidup sendiri dan tanpa bantuan sesuatu yang lain, kuasa, kehendak, mendengar, melihat, ilmu, hidup, berbicara) yang terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut DZAT dan itu serupa dirinya, jelmaan dzat yang tidak sakit dan sehat, akan menghasilkan perwatakan kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramah-tamahan;

Tuhan itu menurutnya adalah sebuah nama dari sesuatu yang asing dan sulit dipahami, yang hanya nyata melalui kehadiran manusia dalam kehidupan duniawi.

Menurut buku Pantheisme en Monisme in de Javaavsche tulisan Zoetmulder, SJ.(1935) dikatakan bahwa Siti Jenar memandang dalam kematian terdapat sorga neraka, bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati. Namun banyak ditafsirkan salah oleh para pengikutnya, yang berusaha menjalani jalan menuju kehidupan (ngudi dalan gesang) dengan membuat keonaran dan keributan dengan cara saling membunuh, demi mendapatkan jalan pelepasan dari kematian.

Siti Jenar yang berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia, menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian.

Siti Jenar memandang bahwa pengetahuan tentang kebenaran Ketuhanan diperoleh manusia bersamaan dengan penyadaran diri manusia itu sendiri, karena proses timbulnya pengetahuan itu bersamaan dengan proses munculnya kesadaran subyek terhadap obyek (proses intuitif). Menurut Widji Saksono dalam bukunya Al-Jami’ah (1962) dikatakan bahwa wejangan pengetahuan dari Siti jenar kepada kawan-kawannya ialah tentang penguasaan hidup, tentang pintu kehidupan, tentang tempat hidup kekal tak berakhir di kelak kemudian hari, tentang hal mati yang dialami di dunia saat ini dan tentang kedudukannya yang Mahaluhur. Dengan demikian tidaklah salah jika sebagian orang ajarannya merupakan ajaran kebatinan dalam artian luas, yang lebih menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah, sehingga ada juga yang menyimpulkan bahwa konsepsi tujuan hidup manusia tidak lain sebagai bersatunya manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti).

Dalam pandangan Siti Jenar, Tuhan adalah dzat yang mendasari dan sebagai sebab adanya manusia, flora, fauna dan segala yang ada, sekaligus yang menjiwai segala sesuatu yang berwujud, yang keberadaannya tergantung pada adanya dzat itu. Ini dibuktikan dari ucapan Siti Jenar bahwa dirinya memiliki sifat-sifat dan secitra Tuhan/Hyang Widi.

Namun dari berbagai penulis dapat diketahui bahwa bisa jadi benturan kepentingan antara kerajaan Demak dengan dukungan para Wali yang merasa hegemoninya terancam yang tidak hanya sebatas keagamaan (Islam), tapi juga dukungan nyata secara politis tegaknya pemerintahan Kesultanan di tanah Jawa (aliansi dalam bentuk Sultan mengembangkan kemapanan politik sedang para Wali menghendaki perluasan wilayah penyebaran Islam).
Dengan sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama Hindu-Budha yang memunculkan tokoh kontraversial beserta ajarannya yang dianggap “subversif” yaitu Syekh Siti Jenar (mungkin secara diam-diam Ki Kebokenongo hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha sehingga bergabung dengan Siti jenar).


Bisa jadi pula, tragedi Siti Jenar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran.

Kaitan ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula-Gusti seperti dikemukakan di atas, perlu diinformasikan di sini bahwa sepanjang tulisan mengenai Siti Jenar yang diketahui, tidak ada secara eksplisit yang menyimpulkan bahwa ajarannya itu adalah Manunggaling Kawula-Gusti, yang merupakan asli bagian dari budaya Jawa. Sebab Manunggaling Kawula-Gusti khususnya dalam konteks religio spiritual, menurut Ir. Sujamto dalam bukunya Pandangan Hidup Jawa (1997), adalah pengalaman pribadi yang bersifat “tak terbatas” (infinite) sehingga tak mungkin dilukiskan dengan kata untuk dimengerti orang lain. Seseorang hanya mungkin mengerti dan memahami pengalaman itu kalau ia pernah mengalaminya sendiri.

Dikatakan bahwa dalam tataran kualitas, Manunggaling Kawula-Gusti adalah tataran yang dapat dicapai tertinggi manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Tataran ini adalah Insan Kamilnya kaum Muslim, Jalma Winilisnya aliran kepercayaan tertentu atau Satriyapinandhita dalam konsepsi Jawa pada umumnya, Titik Omeganya Teilhard de Chardin atau Kresnarjunasamvadanya Radhakrishnan. Yang penting baginya bukan pengalaman itu, tetapi kualitas diri yang kita pertahankan secara konsisten dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pengalaman tetaplah pengalaman, tak terkecuali pengalaman paling tinggi dalam bentuk Manunggaling kawula Gusti, yang tak lebih pula dari memperkokoh laku. Laku atau sikap dan tindakan kita sehari-hari itulah yang paling penting dalam hidup ini.

Kalau misalnya dengan kekhusuk-an manusia semedi malam ini, ia memperoleh pengalaman mistik atau pengalaman religius yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti, sama sekali tidak ada harga dan manfaatnya kalau besok atau lusa lantas menipu atau mencuri atau korupsi atau melakukan tindakan-rindakan lain yang tercela. Kisah Dewa Ruci adalah yang menceritakan kejujuran dan keberanian membela kebenaran, yang tanpa kesucian tak mungkin Bima berjumpa Dewa Ruci.

Kesimpulannya, Manunggaling Kawula-Gusti bukan ilmu melainkan hanya suatu pengalaman, yang dengan sendirinya tidak ada masalah boleh atau tidak boleh, tidak ada ketentuan/aturan tertentu, boleh percaya atau tidak percaya.
Kita akhiri kisah singkat tentang Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar sendiri”.*

Sidang para Wali

Sunan Giri membuka musyawarah para wali. Dalam musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar. Ia menjelaskan bahwa Syeh Siti Jenar telah lama tidak kelihatan bersembahyang jemaah di masjid. Hal ini bukanlah perilaku yang normal. Syeh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan meninggalkan syariah nabi Muhammad. Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat syeh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba,mereka diberitahu hanya ALLAH yang ada dalam gua.Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya.Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh ALLAH untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, ALLAH tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar. Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik ALLAH maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali. Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang kesini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian. Didalam musyawarah ini Syeh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara ALLAH, manusia dan segala ciptaan lainnya. Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu benar,tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.Dari percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu kelihatannya bahwa yang menjadi masalah substansi ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi penyampaian kepada masyarakat luas. Menurut Sunan Giri paham Syeh Siti Jenar belum boleh disampaikan kepada masyarakat luas sebab mereka bisa bingung, apalagi saat itu masih banyak orang yang baru masuk islam, karena seperti disampaika di muka bahwa Syeh Siti Jenar hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa pada akhir abad ke 15 M. Percakapan Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan Tan Koen Swie.


Pedah punapa mbibingung,
Ngangelaken ulah ngelmi,
NJeng Sunan Giri ngandika,
Bener kang kaya sireki,
Nanging luwih kaluputan,
Wong wadheh ambuka wadi.
Telenge bae pinulung,
Pulunge tanpa ling aling,
Kurang waskitha ing cipta,
Lunturing ngelmu sajati,
Sayekti kanthi nugraha,
Tan saben wong anampani.
Artinya:
Syeh Siti Jenar berkata, untuk apa kita membuat bingung, untuk apa kita mempersulit ilmu? Sunan Giri berkata, benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar,karena berani membuka ilmu rahasia secara tidak semestinya.
Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.


Ngrame tapa ing panggawe
Iguh dhaya pratikele
Nukulaken nanem bibit
Ono saben galengane


Mili banyu sumili
Arerewang dewi sri
Sumilir wangining pari
Sêrat Niti Mani


. . . Wontên malih kacarios lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah.

Sarêng jaja sampun tinuwêg ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. Amêsat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita.

Kinanti

Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pêpuntoning tekad, santa-santosaning kapti.
Nora saking anon ngrungu, riringa rêngêt siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi, yeka pangagême raga, suminggah ing sangga runggi.
Marmane sarak siningkur, kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku panganggone donya, têkeng pati nguciwani.
Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika,neng kaanan ênêng êning.


================
Asyiknya Nulis Jowo
Menulis Cerita-cerita pendek
Cinta Ohh Cinta
Nyinau Filsafat Kita & Modern
Puisi-puisi Cinta
Berbagi Kata-kata Mutiara/pepatah/wejangan
TEntang Pendidikan
Berbagi Ndongeng
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
dwikoe
Camat


Lokasi: cedak kebun Raya Bogor
Reputation: 1
Join date: 19.06.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Sat Sep 13, 2008 11:37 am

kang...
klo menurut pemahamanku kie, manunggaling kawulo gusti berarti sak roso..
tuhan itu hidup dalan hati kita, masing 2 kita punya pen citraan sendiri ttg tuhan
sehingga bagaimana kita bersikap, berbuat dan bertingkah laku sehari hari itu mencerminkan pencitraan tuhan yg kita yakini....
Kembali Ke Atas Go down
http://www.elsppat.or.id
dwikoe
Camat


Lokasi: cedak kebun Raya Bogor
Reputation: 1
Join date: 19.06.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Sat Sep 13, 2008 11:42 am

TUHAN

"Kalau Tuhan benar-benar ada, maka sudah seharusnya dia dimusnahkan," kata seorang filsuf Rusia Mikhail Bakunin. Tuhan yang menyerang Jemaah Ahmadiyah dan Tuhan yang saya pelajari di bangku sekolah membuat saya mengamini Bakunin. Tuhan, yang harus ditulis dengan huruf besar sebagai tanda keagungan-Nya. Tuhan yang lelaki, atau paling tidak yang mempunyai kekuasaan patriarki, dan yang membuat mulut bocah saya terbungkam ketika hendak melontarkan pertanyaan "mengapa perempuan tidak bisa menjadi pastor?"

Namun, mengapa manusia mempercayai Tuhan yang seperti ini? Ketercengangan, kebingungan dan keresahan manusia akan alam terkadang menuntunnya untuk mencari "Yang Maha Kuasa". Karena itulah, manusia sempat menyembah gunung, matahari atau cahaya apa saja dari langit. Karena bagi mereka, Tuhan tidak lain dan tidak bukan adalah "Yang paling ditakuti". Kepercayaan pada yang maha kuasa memang sering didasarkan pada ke-egoisan.

Karena manusia ingin diselamatkan, diberkahi dan diberi rejeki yang melimpah dari yang disembah, mereka bahkan mencoba menyogok Tuhan dengan sesaji. Tidaklah heran bagi manusia seperti ini, Tuhan adalah diktator yang selalu menuntut. Tuhan yang pencemburu, yang begitu murka ketika manusia melupakanNya. Keberadaan Tuhan seperti ini begitu tergantung pada manusia. Dengan kata lain, dia serupa dengan manusia yang menyembahNya: sebuah keberadaan yang menuntut dan tidak mandiri. Yang tak rela diduakan. Yang selalu tergantung pada elu-eluan penyembahnya. Tuhan dengan krisis identitas.

Dan tidaklah heran, bila Tuhan semacam ini dapat ditemukan dalam sosok pemerintah otoriter: pada Firaun Mesir yang mengaku sebagai utusan Tuhan, dalam sosok Kaisar Jepang yang menjadi wakil Yang Maha Tinggi, atau pada pemerintah Kerajaan Inggris kuno. Bahkan juga dalam pejabat tinggi negara kita yang memaksa para warganya untuk menulis agama mereka – kepercayaan mereka pada Tuhan. Dan dalam keroyokan yang mengamuk, merusak dan menyerang insan-insan yang tak mempercayai Tuhan tertentu.

Tuhan seperti ini menjadi simbol patriarki, yang melahirkan dualisme tajam: Yang Kuasa dan pengikutNya. Namun, ambisi manusia untuk memuja terkadang sama besarnya dengan ambisinya untuk dipuja. Karena itulah, Tuhan dan pengikutnya seringkali menjadi cermin yang memantulkan persona yang sama. Dan karena itu pula, si pengikut dapat berlaku seperti Tuhan mereka: penghukum yang tak kenal ampun. Bahkan lebih parah, karena dalam si pengikut, apa yang abstrak dan menjadi metafor, dapat menjadi nyata dalam tindakan mereka. Apa yang menjadi kata, tiba-tiba menjadi kekejaman yang mengakibatkan tangis dan membawa mangsa.

Penggambaran Tuhan sebagai Yang Maha Tinggi, Yang Maha Esa, seakan tidak lain adalah cara manusia untuk menjadi narsis. Karena gambaran seperti inilah yang memberi kesempatan manusia untuk memahkotai diri mereka sendiri dengan gambaran yang begitu melambung dan dilambungkan.
Kemarahan para pengeroyok terkadang disebabkan oleh kekecewaan narsis mereka. Ketika Tuhan mereka digambarkan berbeda, ketika kelompok lain menawarkan interpretasi yang berlawanan dari ide mereka, ketika manusia layaknya Musdah Mulia (yang membela LGBT) atau Ahmadiyah yang mempunyai pandangan "baru" tentang Tuhan, ego pengeroyok inilah yang telah tersakiti. Karena pada saat itu, para narsis ini tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa harapan mereka tak akan pernah sampai. Narsis yang tidak siap untuk merombak keyakinan mereka atau paling tidak mendengar keyakinan yang lain. Namun, narsis yang marah karena kekecewaan. Karena Tuhan mereka tidaklah selalu benar, besar, dan kekar.

Inilah salah satu alasan yang membuat atheis meninggalkan Tuhan. Bagi banyak atheis, hanyalah dalam sains-lah kebenaran dapat diungkap. Dengan bukti dan akal. Namun, sains sendiripun seringkali relatif dan dapat disanggah: Teori Newton dipatahkan oleh Einstein yang menawarkan teori relativitas. Teori Einstein ditentang lagi oleh Neils Bohr yang menyatakan bahwa teori Einstein tidak cukup relative karena Einstein luput mengindahkan karakter kuantum mekanik yang tak pernah konstan, dan yang selalu terpengaruh oleh subyektifitas sang peneliti. Neils Bohr-pun disanggah lagi oleh Everett, dan seterusnya dan seterusnya. Memang, dalam pencariannya akan kebenaran, manusia tak pernah dapat menemukan jawaban akhir yang pasti.

Dan bukankah pencarian akan Tuhan dapat dibandingkan dengan pencarian dalam sains? Karena keduanya menyiratkan pertanyaan-pertanyaan akan keberadaan, kehidupan dan asal galaksi kita, dan asal kita sebagai manusia.

Karena bila kita berani untuk mencari dan mencari lagi akan kebenaran, kita akan ditarik pada labirin yang berlapis dan tiada habisnya. Dalam pusaran-pusaran teori, tanya, jawab dan kebimbabangan, yang di dalamnya selalu ada jurang begitu dalam yang belum pernah kita lihat. Yang tak akan dapat kita kunjungi. Namun, hal inilah yang terkadang membuat saya terus mencari dan mencari.

Pada suatu renungannya akan Tuhan, Einstein menyatakan bahwa ada suatu "keindahan yang tiada tara", yang tak pernah dapat kita mengerti. Sesuatu yang membuat kita tersentuh dan beriman. Dan karena ketidak-mengertian inilah, Einstein terus mencari.
Memang, ketidak sabaran akan jawaban yang serba cepat, keinginan untuk mengambil jalan pintas dan ambisi akan kekuasaanlah yang dapat menuntun manusia untuk merumuskan Tuhan yang satu, yang kaku. Walaupun di dunia ini, terdapat bermacam-macam Tuhan. Beberapa teks bahkan sempat menyebut lebih dari 200 tuhan dalam sejarah dunia.
Dan di dunia yang serba dinamik, yang terus bergerak dan menari dalam segala getarannya, bagaimana Tuhan dapat menjadi begitu statik: berhenti dan terpaku dalam suatu zona tempat dan waktu? Dalam sebuah dogma yang membuahkan amarah? Tuhan yang dilahirkan oleh dogma adalah Tuhan yang mati. Tuhan yang dapat dibunuh oleh para atheis. Tuhan yang telah saya bunuh.

Karena seharusnya, pencarian akan Tuhan selalu membawa kita pada ketidak-tahuan. Pada pertanyaan. Dan terkadang, kebingungan. Karena itu, kita harus siap tidak saja untuk menemukan "keindahan yang tiada tara", namun juga kekecewaan. Karena pencarian akan Tuhan adalah tidak lain dan tidak bukan pencarian akan esensi kita, keberadaan kita. Esensi kita yang tak terlihat namun ada. Esensi yang begitu dekat, namun tak dapat dimengerti. Karena itulah Chuan Tzu berkata: "Kita berkata 'aku, namun tahukah kita siapa dan apa artinya 'aku'?"
Dan segala kebingungan, segala tanya, di antara yang ada dan tanpa, saya dapat berkata: Saya tidak percaya akan Tuhan. Namun saya percaya akan tuhan. tuhan yang tak berkelamin, yang tak semena-mena, yang tak maha tinggi dan yang tak maha Esa. Dalam tuhan yang seperti ini, saya dapat bertakwa.

(Soe Tjen Marching, penulis buku The Discrepancy between the Public and the Private Selves of Indonesian Women diterbitkan oleh the Edwin Mellen Press).
Kembali Ke Atas Go down
http://www.elsppat.or.id
wawan
Koordinator


Reputation: 0
Join date: 31.03.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Sat Sep 13, 2008 5:20 pm

mas Syekh Siti Jenar ki lanang po wadon?
Kembali Ke Atas Go down
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi: Gunungkidul
Reputation: 20
Join date: 06.05.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Mon Sep 15, 2008 1:06 pm

dwikoe wrote:
kang...
klo menurut pemahamanku kie, manunggaling kawulo gusti berarti sak roso..
tuhan itu hidup dalan hati kita, masing 2 kita punya pen citraan sendiri ttg tuhan
sehingga bagaimana kita bersikap, berbuat dan bertingkah laku sehari hari itu mencerminkan pencitraan tuhan yg kita yakini....

Yoh bener, ati sing penting ora ono liyane.

wawan wrote:
mas Syekh Siti Jenar ki lanang po wadon?

Jaler mas.. ajib
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Soesan
KorLap


Lokasi: Jakarta Selatan - Nglipar
Reputation: 0
Join date: 29.05.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Mon Sep 15, 2008 3:00 pm

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/TasawufManusia.html
Kembali Ke Atas Go down
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi: Gunungkidul
Reputation: 20
Join date: 06.05.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Mon Sep 15, 2008 4:29 pm

Soesan wrote:
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/TasawufManusia.html


Wah apik mas tasawufe....tambah wacana maneh...suwun
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Mbah Yono
KorLap


Lokasi: Bandara Soetta-jkt
Reputation: 4
Join date: 03.03.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Mon Sep 15, 2008 10:53 pm

Jangan pernah membayangkan/memikirkan apalagi menganggap Tuhan dalam bentuk apapun (bisa menjurus ke musrik), Toh nanti ada satu kenikmatan yg paling hakiki, yaitu bila kita masuk surga nanti, kita bisa melihat Tuhan. Itulah inti dari nikmat surga, bukan hanya sekedar buah-buahan atau sungai yg mengalir di bawahnya.
Kembali Ke Atas Go down
http://www.gmf-aeroasia.co.id
mas_ahmed
Lurah


Lokasi: jogja
Reputation: 0
Join date: 17.04.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Sun Oct 05, 2008 2:58 pm

Manunggaling kawulo gusti itu menurutku merupakan hubungan seseorang dengan Tuhannya yg sangat dekat tanpa terhalang jarak.
menurutku ajaran syech siti jenar itu adalah ajaran yg bisa membuat hati setiap umat menjadi tenang. ajaran syech siti jenar ini sangat penting untuk diketahui semua umat beragama di dunia bukan hanya umat islam saja, karena dalam ajarannya manunggaling kawulo gusti itu diajarkan cara berketuhanan secara vertikal dan horisontal yg ikhlas&tulus tanpa mengharap apapun termasuk pahala dan surga. secara logika manusia, tak ada satu pun manusia yg dalam hatinya menganggap dirinya sebagai tuhan, karena setiap manusia pasti menyadari kalau dia adalah manusia yg punya keterbatasan, bahkan menurut logika dr cerita2 para nabi, fir'aun (zaman nabi musa) pun tidak pernah menganggap dirinya tuhan, dia adalah pengikut ajaran leluhur (sebelum nabi musa datang). yang menganggap dia tuhan sebenarnya malah pengikut2nya yg kagum dengan kehebatan fir'aun dan musuh2nya yg ingin menjatuhkan kekuasaannya. nabi musa datang untuk meluruskan ajaran leluhur yg salah akan tetapi fir'aun masih setia dengan ajaran leluhurnya dan dia tidak terima kalo ajaran leluhurnya yg menurut dia sudah baik digantikan dengan ajaran nabi musa.

Menurutku yg berhak menerima ibadah seseorang & menentukan apakah seseorang itu kafir atau tidak itu hanya Allah Yang Maha Akbar..
Kembali Ke Atas Go down
Mbah Yono
KorLap


Lokasi: Bandara Soetta-jkt
Reputation: 4
Join date: 03.03.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Mon Oct 06, 2008 7:19 am

mas_ahmed wrote:
Manunggaling kawulo gusti itu menurutku merupakan hubungan seseorang dengan Tuhannya yg sangat dekat tanpa terhalang jarak.
menurutku ajaran syech siti jenar itu adalah ajaran yg bisa membuat hati setiap umat menjadi tenang. ajaran syech siti jenar ini sangat penting untuk diketahui semua umat beragama di dunia bukan hanya umat islam saja, karena dalam ajarannya manunggaling kawulo gusti itu diajarkan cara berketuhanan secara vertikal dan horisontal yg ikhlas&tulus tanpa mengharap apapun termasuk pahala dan surga. secara logika manusia, tak ada satu pun manusia yg dalam hatinya menganggap dirinya sebagai tuhan, karena setiap manusia pasti menyadari kalau dia adalah manusia yg punya keterbatasan, bahkan menurut logika dr cerita2 para nabi, fir'aun (zaman nabi musa) pun tidak pernah menganggap dirinya tuhan, dia adalah pengikut ajaran leluhur (sebelum nabi musa datang). yang menganggap dia tuhan sebenarnya malah pengikut2nya yg kagum dengan kehebatan fir'aun dan musuh2nya yg ingin menjatuhkan kekuasaannya. nabi musa datang untuk meluruskan ajaran leluhur yg salah akan tetapi fir'aun masih setia dengan ajaran leluhurnya dan dia tidak terima kalo ajaran leluhurnya yg menurut dia sudah baik digantikan dengan ajaran nabi musa.

Menurutku yg berhak menerima ibadah seseorang & menentukan apakah seseorang itu kafir atau tidak itu hanya Allah Yang Maha Akbar..



DI QUR'AN SUDAH JELAS KALO FIR'AUN MENGAKU TUHAN KENAPA PAKE LOGIKA, DI QUR'AN GAK ADA INTRIK POLITIK LHO!
Kembali Ke Atas Go down
http://www.gmf-aeroasia.co.id
mas_ahmed
Lurah


Lokasi: jogja
Reputation: 0
Join date: 17.04.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Mon Oct 06, 2008 10:07 pm

Quote :
DI QUR'AN SUDAH JELAS KALO FIR'AUN MENGAKU TUHAN KENAPA PAKE LOGIKA, DI QUR'AN GAK ADA INTRIK POLITIK LHO!

makasih udah ditanggepin, semoga perbedaan pendapat bs menjadi rahmat bagi kita dan bs mempererat persaudaraan ajib

itu kan cm menurut logika, bukan di qur'an, logika manusia itu bisa salah bisa juga benar, hanya Allah Yang Maha Benar. yg aku tahu ajaran Syech Siti Jenar banyak mengarah ke logika walaupun sebenernya tidak smua ciptaan Tuhan itu bs dilogika, tp Tuhan menciptakan otak agar manusia bs berfikir pake logika, dan aku pernah denger dr pak kyai "Allah itu meninggikan derajat orang2 yg berilmu.." jd menurutku manusia boleh saja berfikir dengan logika yg sehat tp kebenaran dr logika itu tetap saja hanya Allah Yang Maha Tahu..
kalo dr kata2ku ada yg salah itu cm logikaku yg belum tentu benar..
:)

mohon bimbingan para senior yg lbh ngerti :|
Kembali Ke Atas Go down
DWI SANTOSO
KorLap


Lokasi: Natah Kulon - Ciledug
Reputation: 0
Join date: 13.06.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Sat Oct 11, 2008 1:26 pm

Al qur'an...

bolehkah Al Quran itu di nyanyikan/ di lagukan..?
Kembali Ke Atas Go down
DWI SANTOSO
KorLap


Lokasi: Natah Kulon - Ciledug
Reputation: 0
Join date: 13.06.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Sat Oct 11, 2008 1:39 pm

kadang terlintas dipikiran saya, jika boleh apakah tidak akan merubah makna...?

Contoh : Jika dalam alquran itu ada ayat larangan jika dinyanyikan apakah tidak akan membuat jadi tak luchu

misal ada marah jika kita nyayikan yang kita marahi takut, tidak....????
banyak hal ... bisa dijelaskan ...????
Kembali Ke Atas Go down
mas_ahmed
Lurah


Lokasi: jogja
Reputation: 0
Join date: 17.04.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Wed Oct 15, 2008 12:08 pm

DWI SANTOSO wrote:
Al qur'an...

bolehkah Al Quran itu di nyanyikan/ di lagukan..?


menurutku boleh saja dinyanyikan asal tidak merubah makna..
Bahasa yg digunakan di quran memang bahasa arab tp bahasa di quran itu tidak seperti bahasa arab yg dipakai dalam kehidupan sehari2 orang arab..

kalo bahasa arab yg dipakai sehari2, tidak begitu berpengaruh jika panjang pendek bunyinya gak sesuai, ini aku pernah denger dr orang yg pernah hidup di arab. katanya di arab jg ada nyanyian2 seperti di negara2 lain yg dalam nyanyian itu panjang pendeknya bunyi tidak diperhatikan dan orang arab masih bisa mengerti dengan artinya. dan katanya jg kalo orang arab sedang berbicara dengan bahasa arab jg tidak memperhatikan panjang pendek bunyi pengucapan kata2.

kalau quran itu sendiri isinya merupakan bacaan yg bisa dibilang seperti bahasa sastra tingkat tinggi, jadi kalau panjang pendeknya bunyi tidak diperhatikan bisa kacau maknanya..

kesimpulanku Al Quran boleh dinyanyikan tp tetep memperhatikan aturan pembacaan yg benar karena salah menyanyikan bs merubah makna, kalo bacaan doa2, sholawat2, dan bacaan2 berbahasa arab lain yg diluar Al Quran itu boleh dinyanyikan tanpa harus memperhatikan panjang pendek bunyi pengucapan..

itu sedikit penjelasanku, kalo ada yg bs menjelaskan lebih baik lagi monggo saling membantu memberi pengertian..
:(0)*:
Kembali Ke Atas Go down
calawu
Warga


Lokasi: Bogor
Reputation: 0
Join date: 27.03.09

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Fri Mar 27, 2009 10:28 am

Matur suwun mas kliwon nambah pengetahuan....
tp sing luwih penting iku, kepiye carane yen pengin ngamalke ajaran sing budi luhur kuwi...
soale menurutku gak sembarang wong/guru memahami....
Sing mirip kathah mas, tp sing bener2 mangerti ora gampang...
mungkin para sedulur biso mbantu....
Kembali Ke Atas Go down
Antono
Lurah


Lokasi: paliyan
Reputation: 0
Join date: 04.02.09

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Fri Mar 27, 2009 1:32 pm

nyuwun ngapunten mas kulo ngeh bingung
soir rung so bantu
Kembali Ke Atas Go down
gaplex
Koordinator


Lokasi: KARANG DUWET,KARANG MOJO,CILEDUG
Reputation: 7
Join date: 07.01.09

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Fri Mar 27, 2009 2:21 pm

aku wes sering moco kisah syeh siti jenar...........
tapi rung iso memahami...............
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ndtindonesia.com
Den Ayu
Koordinator


Lokasi: Wonosari GK
Reputation: 18
Join date: 23.03.09

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Fri Mar 27, 2009 4:08 pm

Syekh Siti Jenar ki sopo neh...?

tau rungu tapi dereng ngertoz...maap.

Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
syamsuri
Lurah


Lokasi: Cibinong
Reputation: 1
Join date: 22.03.09

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Wed Apr 01, 2009 8:44 pm

Wonosingo Ngali Kidul wrote:
Bagi yang tahu tentang Riwayat dan ajaran syekh siti jenar mari berbagi.......jika tidak suka jgn mencela.....lebih baik diam......
Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa yang sangat kontroversial di Jawa, Indonesia.
Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya, di masyarakat,
terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti.
Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah
intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran -
ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang bertentangan dengan cara hidup Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

Konsep dan AjaranAjaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan
dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti
Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai
kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian
justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.
Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat
keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya
hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah
itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang
dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia
dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4
tahapan ; 1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat,
zakat dll); 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid,
dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu; 3. Hakekat, dimana hakekat
dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan 4. Ma'rifat,
kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa
setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya
ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para
ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syech
Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun
pasca wafatnya sang Syech. Para ulama mengkhawatirkan adanya
kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syech Siti
Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang
harus disampaikan adalah pada tingkatan 'syariat'. Sedangkan ajaran
Siti Jenar sudah memasuki tahap 'hakekat' dan bahkan 'ma'rifat'kepada
Allah (kecintaan yang sangat kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang
disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata 'SESAT'.
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat
masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap
pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda
- beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh
karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk
mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
disebut ikhlas.

Manunggaling Kawulo Lan GustiDalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti
dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan
bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan
kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan
Tuhannya.
Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia ("Ketika
Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan
manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan
Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan
bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"
)>. Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
Perbedaan penafsiran ayat Al Qur'an dari para murid Syekh Siti
inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam
ruh Tuhan, yaitu polemik paham 'Manunggaling Kawula Gusti'.

Hamemayu Hayuning BawonoPrinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.

KontroversiKontroversi
yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar.
Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para
pejabat kerajaan Demak Bintoro.
Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung
pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.
Dari sisi agama Islam,
Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini
akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat.
Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh
Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman
utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat
ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan
Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak.
Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.[rujukan?]
Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati
bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima
wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali
tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena
beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.[rujukan?]
Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali.
Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya
yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.[rujukan?]
Kisah pada saat Pasca KematianTerdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar.
Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.
Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya
yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di
antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.

sumber: wikipedia.org

Syamsur : iPingin tahu Riwayat dan Ajaran dari syekh Siti Jenar buat apa sich kang...
manusia hidup itu kan hanya ada di rasa, iyakan..!!!?
ndak punya rasa...? berarti mati.
lhaaa.. kira-kira kakang ini udah bisa ngrasa manunggal dengan gusti apa belum..?
Gusti ( bagusing ati ) artinya yang ada pada diri kita sendiri, yang selalu dan akan selalu mengajak dan membawa kita kepada yang baik-baik ( Baik dalam artian Hakiki ) yang tidak baik itu bukan bagusing ati (gusti) itu ablisss laknatulloh.
saya rasa ini sesuai dengan hadish " bahwa didalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka baik pulalah manusia tersebut. segumpal daging tersebut adalah hati ".
sementara ini saja dulu. kalau pingin panjang lebar, datang ke rumah bawa gulo teh. haaa...haaa...
[i]
Kembali Ke Atas Go down
Den Ayu
Koordinator


Lokasi: Wonosari GK
Reputation: 18
Join date: 23.03.09

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Thu Apr 02, 2009 8:47 pm

Wah berat iki...

Aq tak maca wae...


;) ;)
Kembali Ke Atas Go down
syamsuri
Lurah


Lokasi: Cibinong
Reputation: 1
Join date: 22.03.09

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Sun Apr 05, 2009 5:13 am

Den Ayu wrote:
Wah berat iki...

Aq tak maca wae...


;) ;)

yen berat ojo nggendong maca...nnn. selehke utowo jaluk tulung kancane. sukur2 gelem latihan angkat bojo, dadi sesok sesok entheng. coba wae yen ra percoyo.
Kembali Ke Atas Go down
imamchoo
Warga


Lokasi: blitar
Reputation: 0
Join date: 15.04.09

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Wed Apr 15, 2009 2:38 am

kesimpulanya:
memang blajar kui kudu ko ngisor disik.ra oleh langsung duwur trus nang ngisor,ajarang siti jenar bener,ajarang wali juga bener
ajaran
wali =soko ngisor nang nduwur
siti jenar=ko ndowur nang ngisor
Kembali Ke Atas Go down
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi: Gunungkidul
Reputation: 20
Join date: 06.05.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Fri Apr 17, 2009 10:36 am

syamsuri wrote:


Syamsur : iPingin tahu Riwayat dan Ajaran dari syekh Siti Jenar buat apa sich kang...
manusia hidup itu kan hanya ada di rasa, iyakan..!!!?
ndak punya rasa...? berarti mati.
lhaaa.. kira-kira kakang ini udah bisa ngrasa manunggal dengan gusti apa belum..?
Gusti ( bagusing ati ) artinya yang ada pada diri kita sendiri, yang selalu dan akan selalu mengajak dan membawa kita kepada yang baik-baik ( Baik dalam artian Hakiki ) yang tidak baik itu bukan bagusing ati (gusti) itu ablisss laknatulloh.
saya rasa ini sesuai dengan hadish " bahwa didalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka baik pulalah manusia tersebut. segumpal daging tersebut adalah hati ".
sementara ini saja dulu. kalau pingin panjang lebar, datang ke rumah bawa gulo teh. haaa...haaa...
[i]


Lha klo situ sendiri klo udah tahu ya share dong di sini, apa artinya Siti Djenar......
Dan jika sudah paham dengan pengertian manunggaling kawula gusti ya jangan mencela.....
Bisa di jelaskan menurut dengan data, kondisi lapangan dan mayoritas umum dengan analisa dan tesis anti tesanya.....
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi: Gunungkidul
Reputation: 20
Join date: 06.05.08

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Fri Apr 17, 2009 10:38 am

DWI SANTOSO wrote:
kadang terlintas dipikiran saya, jika boleh apakah tidak akan merubah makna...?

Contoh : Jika dalam alquran itu ada ayat larangan jika dinyanyikan apakah tidak akan membuat jadi tak luchu

misal ada marah jika kita nyayikan yang kita marahi takut, tidak....????
banyak hal ... bisa dijelaskan ...????

mas_ahmed wrote:
DWI SANTOSO wrote:
Al qur'an...

bolehkah Al Quran itu di nyanyikan/ di lagukan..?


menurutku boleh saja dinyanyikan asal tidak merubah makna..
Bahasa yg digunakan di quran memang bahasa arab tp bahasa di quran itu tidak seperti bahasa arab yg dipakai dalam kehidupan sehari2 orang arab..

kalo bahasa arab yg dipakai sehari2, tidak begitu berpengaruh jika panjang pendek bunyinya gak sesuai, ini aku pernah denger dr orang yg pernah hidup di arab. katanya di arab jg ada nyanyian2 seperti di negara2 lain yg dalam nyanyian itu panjang pendeknya bunyi tidak diperhatikan dan orang arab masih bisa mengerti dengan artinya. dan katanya jg kalo orang arab sedang berbicara dengan bahasa arab jg tidak memperhatikan panjang pendek bunyi pengucapan kata2.

kalau quran itu sendiri isinya merupakan bacaan yg bisa dibilang seperti bahasa sastra tingkat tinggi, jadi kalau panjang pendeknya bunyi tidak diperhatikan bisa kacau maknanya..

kesimpulanku Al Quran boleh dinyanyikan tp tetep memperhatikan aturan pembacaan yg benar karena salah menyanyikan bs merubah makna, kalo bacaan doa2, sholawat2, dan bacaan2 berbahasa arab lain yg diluar Al Quran itu boleh dinyanyikan tanpa harus memperhatikan panjang pendek bunyi pengucapan..

itu sedikit penjelasanku, kalo ada yg bs menjelaskan lebih baik lagi monggo saling membantu memberi pengertian..
:(0)*:

Kita tidak membahas tentang Al-Quean secara detail dulu mas....

Tapi kita mencoba membahas Siti Djenar menurut versi masing2, dan pengetahuan masing2 pula.
Klo memang ada data2, bukti2 dan analisa yg di perlukan dengan Kitab boleh di sebutkan tapi mari kita kupas secara akademis saja....
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
gaplex
Koordinator


Lokasi: KARANG DUWET,KARANG MOJO,CILEDUG
Reputation: 7
Join date: 07.01.09

PostSubyek: Re: Syekh Siti Jenar   Fri Apr 17, 2009 10:53 am

siti djenar.....
sebenarnya mitos po tenanan sih..
enek sing ngerti kuburane ra ;) ;)
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ndtindonesia.com
 

Syekh Siti Jenar

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 4Pilih halaman : 1, 2, 3, 4  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Kebatinan, Misteri dan Ghaib-