Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 IMAN YANG DIKALAHKAH NAFSU

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: IMAN YANG DIKALAHKAH NAFSU   Fri Jul 11, 2008 11:38 am

Ternyata usia dan kemampuan
batiniah seseorang masih rentan godaan, apalagi berhadapan wanita cantik.
Harta, tahta dan wanita sebagai fenomena menghancurkan moralitas selalu menjadi
batu sandungan. Demikian pula yang menimpa Wisrawa, orang yang pernah menduduki
singgasana kerajaan Widarba bergelimang harta benda dan puja-puji. Di masa tua
ia ingin hidup menyendiri sebagai pertapa memisahkan diri dari kehidupan ramai
mempersiapkan surga di kehidupan selanjutnya.

Malang tak terhindar, untung pun terlepas. Duka asmara sang anak, Danaraja, memaksa ia turun gunung. Berbekal keyakinan dan
pengetahuan yang luas tentang hakekat dan makna kehidupan ia langkahkan kakinya
menuju Alengka Diraja. Tekadnya ingin menyenangkan suputra dengan melamar Dewi
Sukesi untuk menjadi permaisuri negeri Widarba. Ia berangkat sebagai wakil
Danaraja, karena hanya ia yang mampu menjabarkan isi sayembara mengajarkan
Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Konon bagi siapa saja yang
mendengar “wejangan” sastra ini akan memperoleh anugerah pembebasan satu
tingkat dari segala dosa. Bagi para raksasa maka akan berubah menjadi manusia,
sedangkan manusia akan mencapai taraf kedewaan. Betapa dahsyat kekuatan sastra
ini hingga menjadi “rahasia” bagi yang menguasai dan tidak sembarangan
diajarkan. Karena efek samping dari penerimaan ajaran ini yang kurang dan
bahkan tidak sempurna justru menimbulkan malapetaka. Ajaran ini sesungguhnya
dikhususkan bagi mereka yang siap menempuh kematian meninggalkan keduniaan.
Dengan kata lain terbatas bagi mereka yang telah berusia tua dengan harapan
terbebas dari godaan harta, tahta dan wanita.

Apa yang terjadi dengan Wisrawa?
Ternyata usia tua dan predikat
pendeta yang melekat pada dirinya tanggal ketika harus berhadapan dengan kecantikan
Dewi Sukesi. Kenapa begitu? Konon syarat dalam mengajarkan sastra ini harus
dilakukan dalam kondisi bersih, dalam arti lahiriah dan batiniah. Maksudnya
adalah dalam keadaan polos alias telanjang (+bulat) tubuhnya dan batinnya
sepenuhnya diserahkan kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Logikanya untuk
menghindari hal-hal yang menganggu akal sehat harus dilakukan dengan mata
tertutup. Untuk berapa lama? Inilah susahnya tidak ada yang dapat menentukan.

Ketika Wisrawa dan Sukesi
berduaan dalam kamar tertutup dengan kondisi yang “bersih” mempelajari Sastra
Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, ada kelompok yang tidak senang. Mereka
adalah para dewa yang ketakutan otoritasnya mulai terusik. Bila kelakuan
Wisrawa ini dibiarkan maka akan menguncang sendi-sendi kehidupan, terjadi
ketidakseimbangan. Para raksasa akan habis menjadi
manusia, sedangkan manusia menjadi dewa, lalu dewa akan menjadi apa?

Kegundahan para dewa ini
memutuskan untuk mengagalkan usaha Wisrawa menyebarkan sastra rahasia. Saat dua
insan berlainan jenis ini khusuk menekuni pelajaran dalam sekejab mereka sempat
beradu pandang. Dalam sekejab itu mereka lupa pada dirinya, Wisrawa berubah
menjadi Kamajaya dan Sukesi menjadi Kamaratih. Sepasang dewa-dewi lambang cinta
kasih ini membawa pengaruh tumbuhnya rasa ingin memiliki di antara mereka
berdua. Selanjutnya menjadi urusan orang dewasa. Terjalinlah hubungan terlarang
yang mengubah tujuan dan jalan hidup Wisrawa, sang pendeta. Sukesi bukanlah
korban, karena ia adalah wujud godaan bagi Wisrawa yang sedang berusaha
meningkatkan taraf kehidupan batiniahnya. Sukesi memiliki dalih memberikan
kesetiaan kepada orang yang sanggup memenuhi keinginannya. Berbeda akibatnya
bagi Wisrawa, apapun dalih yang ia ucapkan tak akan dapat mengembalikan
citranya. Ia kini telah tercoreng dan hanya bisa menjalani hidup barunya
sebagai bukti tanggungjawabnya.

Terusir dan tercampakkan dari
kehidupan keluarga masih belum seberapa dari akibat yang menimpa Wisrawa dalam
upaya mengajarkan sastra rahasia. Sukesi mengandung. Setelah tiba waktunya
melahirkan dari dalam kandungan bukan orok yang lahir melainkan segumpal darah,
sepotong telinga dan kuku. Betapa pedih hati orangtua menyaksikan anak yang
dilahirkannya tidak sempurna. Itu akibat hubungan yang dilandasi nafsu birahi
semata, padahal seharusnya cinta kasihlah yang menjadi dasar kelahiran setiap
kehidupan. Wisrawa tahu itu. Anak yang terlahir tidak sempurna ini dengan
kekuatan puja Wisrawa memohon kepada Tuhan. Segumpal darah berubah menjadi
raksasa berkepala sepuluh diberi nama Rahwana atau Dasamuka. Sepotong telinga
berubah menjadi raksasa besar diberi nama Kumbakarna. Sedangkan sepotong kuku
berubah menjadi raksesi (raksasa perempuan) diberi nama Sarpakenaka.

Ketiga anak Wisrawa dan Sukesi
ini memiliki perbawa dan tabiat masing-masing. Rahwana cenderung bersifat
kasar, pemarah, menang sendiri dan pokoknya megalomia sesuai sifat nafsu
amarah. Kumbakarna yang memiliki tubuh sebesar gunung membutuhkan makan yang
banyak dan malas, habis makan lalu tidur sesuai sifat aluamah. Sarpakena
memiliki tubuh yang aduhai sebagai wanita, sayang wajahnya bertaring senang
menggumbar syahwat kepada setiap lelaki dan gila pesta sesuai dengan sifat
supiah.

Ketiga anak dengan kecenderungan
masing-masing itu juga melambangkan kondisi psikologis Wisrawa dalam menghadapi
cobaan itu. Menyadari kekhilafannya, mereka lalu membangun bahtera rumah tangga
dengan berlandaskan cinta kasih dan pengorbanan.. Maka lahirlah anak keempat
yang wujud dan tubuhnya sempurna sebagai manusia diberi nama Wibisana. Si
bungsu ini memiliki sifat arif bijaksana dan selalu memberi nasehat baik kepada
tiga kakaknya sesuai sifat mutmainah..

Dengan kelahiran Wibisana yang
membawa kebaikan dalam kehidupan ini maka lengkaplah perjalanan hidup Wisrawa
yang berarti pula bukti keberhasilan memahami Sastra Jendra Hayuningrat
Pangruwating Diyu dengan pengorbanan yang begitu besar, yaitu harga dirinya.

Cerita selengkapnya dapat
disaksikan pada Pergelaran Drama Wayang
berbahasa Indonesiadi Gedung Kautaman Pewayangan TMII pada Minggu, 13 Juli 2008 pukul
15.00 – 17.30 Wib.

Dan puisinya ada di Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: IMAN YANG DIKALAHKAH NAFSU   Sat Jul 12, 2008 12:26 pm

Untuk cerita dalam pewayanannya ada di..
Wayang 1
Wayang 2

Monggo singh bade mresani...
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
 
IMAN YANG DIKALAHKAH NAFSU
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Teras Nongkrong-
Navigasi: