Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 ( Cerbung ) Satria Gunungkidul

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next
PengirimMessage
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Fri Sep 19, 2008 4:54 pm

First topic message reminder :

Episode Pertama

Raja wanita atau Ratu di Majapahit yang bernama Sri Gitarja atau Tribuwana Tungga Dewi, yang disebut juga Bhre Kahuripan (1328 - 1359), lebih dikenal dalam dongeng "Minakjinggo Damarwulan" sebagai Prabu Kenya (Raja Wanita) Diah Kencana Wungu.

Di dalam dongeng sejarah itu diceritakan bahwa Prabu Kenya Diah Kencana Wungu ini menikah dengan Raden Damarwulan yang menurut catatan sejarah sebenarnya bernama Cakradara dengan gelar Kertawardana.

Sepasang suami-isteri kerajaan yang terkenal ini mempunyai seorang putera yang diberi nama Hayam wuruk (Ayam Muda). Hayam Wuruk inilah yang akhirnya menduduki tahta kerajaan sebagai Raja Majapahit dengan bergelar Prabu Rajasanegara (1350 - 1389).

Selama tiga puluh sembilan tahun. Sang Prabu Hayam Wuruk amat bijak dan pandai mengendalikan pemerintahan dan pada jaman itu, kerajaan Majapahit mencapai puncak kebesaran dan kemakmurannya, menjadi Kerajaan yang terbesar dan terkuat dalam kepulauan Nusantara. Bahkan dalam jaman ini pula nama Majapahit dikenal, disegani, dan dikagumi oleh negara-negara seberang lautan, termashur sampai ke tiongkok, India, Campa, Kamboja, anam. Hubungannya dengan negara-negara asing ini baik sekali dan saling menghormat, karena Majapahit dianggap sebagai kerajaan dan negara besar diantara negara-negara lain di dunia.

Semua hasil gilang-gemilang ini bukan semata-mata berkat kebijaksanaan Prabu hayam Wuruk seorang, melainkan juga berkat jasa-jasa para panglima senapati Majapahit. Terutama sekali berkat jasa warangka-dalem atau Patih Gajah Mada, seorang perwira yang terkenal karena sakti mandraguna, dan setia lahir-batin kepada kerajaan di mana ia mengabdikan dirinya. Dalam sejarah, belum pernah terdapat seorang patih seperti Sang Perkasa Patih Gajah Mada ini yang membela kerajaan Majapahit semenjak ibunda Prabu Hayam Wuruk, yakni Ratu Tribuwanatungga Dewi memegang kendali kerajaan. Patih Gajah Mada menjalankan tugasnya sebagai seorang patih yang setia selama tiga puluh tiga tahun (1331-1364).

Dan pada jaman keemasan Majapahit itulah kisah dibawah ini terjadi.

****

Raja yang memerintah di kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di
Pakuan, adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata.

Ratu Dewata mempunyai seorang puteri yang terkenal sekali karena kecantikannya. Puteri ini bernama Diah Pitaloka Citraresmi. Kecantikan Diah Pitaloka Citraresmi memang luar biasa dan agaknya sukar dicari keduanya di dunia ini! Bahkan Dewi Komaratih sendiri, Dewi Asmara yang terkenal sebagai bidadari tercantik di surga, agaknya akan kagum melihat wajah dan bentuk tubuh Diah Pitaloka! Tiada cacat celanya, dari ujung rambut di kepalanya sampai ke tumit kakinya. Kalau emas, dia adalah emas murni yang belum tercampur sedikitpun dengan logam lain. Seumpama batu permata, dia adalah mutiara asli yang telah digosok oleh tangan seorang ahli. Orang yang melihatnya, baik ia laki-laki maupun perempuan, akan terbelalak matanya dan ternganga mulutnya karena takjub dan kagum menyaksikan puteri nan cantik jelita, ayu dan manis ini!

Pada suatu hari, datanglah utusan dari kerajaan Majapahit. Ternyata bahwa
berita tentang kecantikan Diah Pitaloka tidak saja menggoncangkan alam
Pasundan, bahkan juga menjadi kemang-tutur orang-orang di Majapahit dan
akhirnya menggerakkan rasa asmara di dalam dada Sang Prabu Hayam Wuruk. Maka diutuslah oleh Prabu Hayam Wuruk seorang tumenggung untuk menyampaikan pinangannya ke kerajaan Pajajaran.

Pada jaman itu, tidak ada raja yang lebih besar dan termashur daripada Prabu
Hayam Wuruk. Maka, sudah selayaknya kalau pinangan Raja Majapahit ini diterima dengan hati gembira dan puas oleh Raja Dewata. Prabu Hayam Wuruk terkenal cakap, gagah-perwira, masih muda dan belum mempunyai permaisuri pula. Maka selain Raja Majapahit siapa pulakah orangnya yang lebih pantas mendapat kehormatan untuk mengulurkan tangan memetik bunga puspita dari Pajajaran itu?

Betapapun juga, Ratu Dewata sangat menyinta puterinya dan takkan puas hatinya kalau belum mendengar keputusan tentang pinangan Raja Majapahit itu dari mulut Diah Pitaloka sendiri. Ia ingin mendengar pendapat puterinya, maka dipanggilnyalah Diah Pitaloka serta diceritakan tentang datangnya utusan yang membawa pinangan dari Raja Majapahit, Sang Prabu Hayam Wuruk.

Kulit muka yang putih kekuning-kuningan dan halus bersih dari Diah Pitaloka
segera menjadi merah bagaikan sekuntum mawar merah yang indah. Puteri itu
menundukkan kepalanya dan dadanya turun-naik menahan desakan napasnya. Setelah agak reda gelora yang ditimbulkan oleh berita yang disampaikan oleh ramandanya itu, dengan suaranya yang merdu dan halus dia menjawab sambil menyembah.

"Ramanda prabu, junjungan tunggal di mayapada ini bagi hamba. Pendapat dan pikiran apakah yang ramanda kehendaki daripada hamba? Segala pendapat dan pikiran yang selalu menguasai hati dan ingatan hamba hanya satu, yakni, taat, patuh, dan setia kepada segala titah ramanda, sebagaimana layaknya seorang anak terhadap orang tuanya!"

Alangkah senangnya Ratu Dewata mendengar sembah puterinya ini. Ayah manakah takkan menaruh hati sayang dan kasih yang besar terhadap seorang anak yang tidak hanya kecantikannya membanggakan hati orang tua, akan tetapi terutama yang demikian berbakti?

"Sukurlah, anakku yang manis, Ramanda akan menerima pinangan ini oleh
karena menurut pendapat dan pandanganku, Sang Prabu Hayam Wuruk adalah seorang raja yang berbudi bawa laksana, pandai mengatur pemerintahan, dan bijaksana pula. Kalau engkau menjadi permaisurinya, ayahmu akan merasa puas dan tenteram, oleh karena engkau pasti akan menemui kebahagiaan di Majapahit. Semoga dewata yang agung melindungimu, Pitaloka."


Maka dengan girang hati Ratu Dewata lalu menjamu utusan dari Majapahit itu.
Kemudian ia memberi jawabannya dan mengabarkan kepada Prabu Hayam Wuruk bahwa selain pinangan itu diterima dan dianggap sebagai penghormatan besar sekali, Ratu Dewata sendiri berkenan mengantar puterinya ke Majapahit dengan membawa berita gembira itu, dan tak lupa membawa serta pula hadiah-hadiah untuk sang Prabu.

Ketika berita ini disampaikan kepada rakyat Pajajaran, maka bergembiralah semua orang Siapa orangnya yang takkan merasa gembira? Puteri kedaton Pajajaran menjadi permaisuri Majapahit! Tentu saja rakyat pun ikut merasa bahagia dan bangga. Berita ini disambut oleh rakyat dengan meriah, bahkan mereka yang terdiri dari golongan berada, lalu menyelenggarakan pesta untuk merayakan dan meriahkan pertunangan itu!

Seluruh Pajajaran berpesta-pora dan bergembira-ria. Hanya ada dua orang yang tidak ikut bergembira. Pertama adalah Diah Pitaloka sendiri Dara jelita ini
sungguhpun di lahir tunduk dan patuh kepada ramandanya dan ikut pula
memperlihatkan wajah gembira untuk menyenangkan hati ayahnya, namun di sudut hatinya timbul keraguan dan kebimbangan yang membuatnya tidak berbahagia Ia telah mendengar akan kegagahan dan kecakapan Prabu Hayam Wuruk dan ia percaya bahwa kedudukannya akan terangkat tinggi dan akan mendapat kemuliaan besar di Majapahit. Akan tetapi, selama hidupnya ia belum pernah bertemu dan melihat dengan mata sendiri keadaan Sang Prabu Hayam Wuruk. Kalau boleh dan kalau mungkin, ia akan merasa lebih senang jika dijodohkan dengan seorang pemuda di Pajajaran sendiri, seorang pemuda yang pernah dilihatnya dan yang kegagahan atau kecakapannya telah diketahuinya dari pandangan mata sendiri, bukan hanya diketahui karena mendengar berita angin seperti halnya Prabu Hayam Wuruk! Akan
tetapi, dia adalah seorang wanita sejati yang memegang teguh kesusilaan,
apalagi sebagai seorang puteri raja, ia harus memberi teladan bagi kaum putri
umumnya, yakni kepatuhan terhadap orang tua dengan jalan berkorban. Ia
menganggap pertunangan ini sebagai penguranan dirinya demi kebahagiaan orang tua dan demi kepentingan negara! Bukankah kalau dia menerima pinangan dan mentaati kehendak ayahnya, maka orang tuanya akan berbahagia? Dan bukankah kalau dia menjadi permaisuri Raja Majapahit yang besar dan kuat, maka kedudukan Pajajaran pun akan kuat pula?

Orang kedua yang pada saat itu merasa berduka adalah seorang pemuda rupawan yang tinggal seorang diri di dalam pondoknya. Pemuda ini adalah seorang panglima perang atau senapati muda dari kerajaan Pajajaran. Namanya sederhana sekali, yakni Sakri.

Telah tiga tahun Sakri menjadi senapati di Pajajaran. Pemuda ini berasal dari
Gunung Kidul, di sebuah dusun kecil dekat pantai Laut selatan. Ia adalah putera seorang panembahan atau wiku ahli tapa yang sakti dan suci. Tidak mengherankan bahwa Sakri mendapat gemblengan lahir dan batin oleh ayahnya dan mewarisi kesaktian yang hebat mengagumkan. Setelah menjadi dewasa, ayahnya menyuruh ia merantau dan mencari pengalaman hidup, dan kalau bertemu dengan orang besar yang berjodoh, supaya bersuita (menghambakan diri).

Dalam perantauannya, akhirnya Sakri tiba di Pajajaran dan ia memasuki
gelanggang ujian yang diadakan oleh Ratu Dewata. Kesaktian dan kegagahannya mengagumkan dan menyenangkan hati Raja Pajajaran hingga ia diterima menjadi seorang senapati muda.

Mengapa Sakri berduka mendengar bahwa Diah Pitaloka terikat jodoh dengan Raja Majapahit? Mudah diduga, Dada pemuda ini telah ditembus panah asmara yang mengandung bisa maha ampuh dan luka di dada kirinya makin lama makin menghebat. Cintanya terhadap puteri itu makin mendalam dan berakar. Akan tetapi, ia hanya seorang senapati muda yang baru menghambakan diri. Dia hanyalah seorang hamba dan kedudukannya hanya setinggi rumput di ladang. Sedangkan Diah Pitaloka adalah seorang puteri raja yang menjadi junjungannya dan kedudukan puteri itu setinggi bintang di langit! Kini, mendengar tentang diterimanya pinangan Prabu Hayam Wuruk atas diri Diah Pitaloka, Sakri hanya dapat menyesali nasib.

Malam itu Sakri tak dapat tidur. Ia duduk di atas sebuah batu di belakang
pondoknya sambil berpangku tangan dan memandang ke arah bintang-bintang yang bertaburan di angkasa bebas. Berkali-kali ia menghela napas, tanda dari kehancuran kalbunya.

"Habislah harapanku, rusak-binasalah cita-citaku. Duhai bintang selaksa,
tolonglah aku. Hidupku kosong, tiada pegangan lagi. Apa artinya hidupku tanpa dia??"

Berulangkali ia menghela napas dan wajahnya yang tampan menjadi sepucat bintang yang teraling mega. Kemudian ia teringat akan kampung halaman. Sudah menjadi kelaziman orang bahwa dalam saat duka selalu ia akan teringat akan kampung halamannya. Ia teringat akan ayahnya, dan teringat pula akan adiknya yang bernama Saritama. Kedua orang ini adalah orang-orang yang terkasih dalam hidupnya, yakni sebelum ia bertemu dengan Diah Pitaloka. Setelah seluruh hati dan nyawanya tercengkeram oleh kecantikan puteri itu, jarang sekali ia teringat kepada ayah dan adiknya. Tapi kini, tiba-tiba terbayanglah wajah kedua orang itu di ruang matanya dan ia menjadi rindu sekali kepada mereka.

Kenangan ini mengingatkan ia kembali kepada segala petuah dan pelajaran ayahnya yang bijaksana. Dan timbulah sesal dan kecewa dalam hatiya, Menyesal dan kecewa kepada diri sendiri. Bukankah dulu ayahnya pernah menyatakan bahwa cinta suci itu tak dikotori oleh segala kehendak dan pamrih untuk kesenangan diri sendiri? Bukankah segala perbuatan kebajikan itu baru dapat disebut sempurna apabila tidak dinodai oleh nafsu ingin menyenangkan diri sendiri? Diah Pitaloka telah dijodohkan dengan seorang Raja Besar dan akan menjadi seorang permaisuri yang tinggi dan mulia kedudukannya lebih tinggi dan lebih mulia daripada kedudukannya sekarang sebagai puteri Pajajaran. Bukankah hal ini berarti bahagia bagi Diah Pitaloka? Mengapa ia harus menyesal dan berduka? Kalau ia memang benar-benar menyintai puteri itu, sudah seharusnya apabila ia ikut bersukur melihat orang yang dikasihinya itu menjumpai kemulaiaan dan mengecap kebahagiaan. Ah, alangkah sesatnya jalan pikiran dan gelora perasaannya tadi.
Hampir saja ia dibutakan oleh nafsu mudanya.

Sakri menghela napas lagi, akan tetapi kini penuh kesadaran. Ia harus menerima nasib, Ia harus berani menerima sakit hati dan berani berkurban demi cintanya kepada Diah Pitaloka. Pikiran ini melapangkan dadanya dan ia lalu bangun dari duduknya, dan masuk ke dalam pondoknya. Terdengar ayam jantan berkeruyuk tanda bahwa fajar telah mendatang. Tanpa terasa olehnya, ia telah duduk melamun semalam suntuk di belakang rumahnya!

Bersambung..........
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika

PengirimMessage
dwikoe
Camat


Join date : 19.06.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Fri Oct 31, 2008 7:10 pm

aku mengko njeluk dewa hujan....

ben udan deres, dadi dinamit'e epha ora iso meledak.....

terus tak tusuk nganggo tombak.....


HIDUP TOMBAK.........!!!!!!!!!!!


(......halahk...iki opo.........)
Kembali Ke Atas Go down
http://www.elsppat.or.id
dewalangit
Officer


Join date : 20.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Fri Oct 31, 2008 11:02 pm

lha ko sembara ora metu,... :lol:
Kembali Ke Atas Go down
http://www.saeahchim.co.kr/
pHa_epHa
Koordinator


Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Sun Nov 02, 2008 12:39 am

dwikoe wrote:
aku mengko njeluk dewa hujan....

ben udan deres, dadi dinamit'e epha ora iso meledak.....

terus tak tusuk nganggo tombak.....


HIDUP TOMBAK.........!!!!!!!!!!!


(......halahk...iki opo.........)

tak ngundang dewa api we
men tombak'e meleleh trus dinamite njebluk
ning sing genah aku wis mlayu...
ha ha ha
mas haryo endi kieeeee
::0): ::0): ::0): ::0):
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
prima_uciha
Koordinator


Join date : 06.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Mon Nov 03, 2008 7:52 am

mbak epha ki enenge kok gor meleleh ae!!! frustasi frustasi frustasi
Kembali Ke Atas Go down
pHa_epHa
Koordinator


Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Mon Nov 03, 2008 10:18 am

nak saiki meleleh aku prim...meleleh nunggu mas haryo neruske critane...
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Mon Nov 03, 2008 2:00 pm

Yo wis terusake maneh..............................
"Sakri bangunlah! Mari kita bertempur seperti perajurit-perajurit sejati! Saritama membentak marah karena gemas melihat betapa lawannya itu tidak membalas.

Mendengar ucapan ini dan merasa betapa pukulan Saritama kuat dan berat, bangkitlah semangat Sakri. Serentak ia melompat berdiri dan menggeram keras, "Baiklah, Saritama. Mari kau pertahankan serbuan seorang satria Pajajaran!" Maka ia lalu menyerang dengan hebatnya. Kedua teruna remaja yang sama tampan sama gagah itu, kakak beradik yang setelah lama berpisah kini bertemu di medan yuda menjadi lawan, berkelahi mati-matian!

Keduanya sama kuat, sama cepat, dan sama digdaya. Pukul-memukul, tendang-menendang, hempas-menghempas hingga debu mengebul dari tanah yang mereka pijak. Perkelahian ini demikian hebat dan seru, sehingga para perajurit Majapahit dan Pajajaran yang sedang bertempur di dekat tempat kedua kakak-beradik ini beryuda, menghentikan pertempuran mereka dan menonton perkelahian ini dengan kagum!

Sakri dan Saritama bertempur bagaikan dua ekor harimau berebut kelinci. Sepak-terjang Sakri bagaikan Gatutkaca yang menyambar-nyambar dengan hebatnya, kuat dan cepat gerakannya. Sedangkan Saritama yang lebih halus gerak-geriknya itu bagaikan Raden Angkawijaya yang biarpun bergerak lemah-lembut, akan tetapi selalu tepat cekatan. Tak banyak bergerak dalam mengelak sebuah serangan, dan setiap pukulan yang dilancarkan, biarpun kelihatannya dilakukan dengan perlahan, namun mengandung tenaga yang cukup besar untuk menghancurkan kepala seekor banteng!

Pertempuran itu berjalan seru dan lama hingga para perajurit kedua fihak bersorak-sorak membela jago masing-masing. Baik Sakri, maupun Saritama keduanya merasa betapa berat dan kuat orang yang menjadi lawannya. Sakri diam-diam merasa kagum dan girang melihat kehebatan adiknya, akan tetapi oleh karena pada saat itu adiknya menjadi seorang Majapahit, terpaksa harus dibinasakan! Sakri menggertak gigi untuk menguatkan hatinya, kemudian ia mencari kesempatan. Ketika kesempatan yang dinanti-nanti itu tiba, cepat bagaikan petir menyambar ia mengirim pukulan tangan kanan yang disertai Aji Kelabang Kencana yang bukan main dahsyatnya! Pukulan sakti ini tepat mengenai pangkal telinga Saritama dan tubuh Saritama terpental jauh lalu jatuh di atas tanah tanpa daya!

Kalau saja yang terkena pukulan itu bukan Saritama, Satria Gunung Kidul yang telah digembleng secara hebat oleh ayahnya, pasti akan tewas di saat itu juga. Akan tetapi, Aji Kelabang Kencana mempunyai kesaktian luar biasa hingga biarpun tidak tewas, namun tubuh Saritama telah menjadi bengkak-bengkak dan matang biru! Pemuda ini merangkak bangun dan mukanya yang tampan kini telah menjadi tidak karuan macamnya, bengkak-bengkak hingga kedua matanya hampir tak nampak lagi. Bukan main rasa sakit yang diderita oleh Saritama, akan tetapi satria ini menguatkan tubuh dan hatinya dan hanya sedikit keluhan terdengar dari mulutnya yang bengkak-bengkak itu.

"Aduh, Rama panembahan, tak kusangka Saritama akan tewas dalam kakangmas Sakri sendiri....." Kemudian ia merangkak bangun dan berseru keras kepada Sakri.

"Panglima Pajajaran, janganlah berlaku kepalang-tanggung, majulah dan padamkanlah apiku kalau kau memang seorang satria!"

Semenjak ia memukul Saritama dengan Aji Kelabang Kencana dan melihat betapa adinda yang dikasihinya jatuh berguling dengan tubuh dan muka bengkak-bengkak mengerikan, lenyaplah seketika itu juga semangat bertempur dalam dada Sakri. Ia merasa ngeri dan kasihan sekali. Apalagi setelah mendengar Saritama mengeluh dan menyebut ramanya, hancur luluh perasaan Sakri. Ramanya dulu pernah berkata bahwa kelak ia harus mewakili rama-ibu dan mendidik serta menjaga Saritama, akan tetapi sekarang, dia sendiri telah berusaha sekuasanya untuk membinasakan adindanya itu!

Tak tertahan lagi rasa terharu yang melemahkan hatinya. Ia lalu menubruk maju sambil memekik, "Adimas Saritama......"

Saritama hendak mengelak, akan tetapi oleh karena tubuhnya telah menjadi lemah dan sakit-sakit, ia tak kuasa melepaskan rangkulan kakaknya. Sakri lalu menggunakan tangan kanannya untuk memijit-mijit dan mengusap-ngusap muka dan tubuh adiknya, menggunakan kesaktiannya untuk menghilangkan Aji Kelabang Kencana yang menyerang tubuh Saritama. Memang selain memiliki Aji Kelabang Kencana dahsyat, Sakri juga mempelajari aji untuk mengobati dan memusnahkan daya serang Kelabang Kencana.

Seketika itu juga, pulihlah keadaan Saritama. Segala bengkak-bengkak pada muka dan tubuhnya lenyap dan ia merasa segar kembali.

Saritama mencela kakaknya. Dengan cepat ia merenggutkan tubuh dari pelukan Sakri dan berkata, "Kangmas Sakri, mengapa kau memperlihatkan kelemahanmu lagi? Jangan kau memalukan aku, kangmas!"

"Saritama, adikku yang tersayang. Bagaimana aku dapat sampai hati mencelakakan kau yang kukasihi? Adinda, sekali lagi kupinta kepadamu, menyingkirlah dan jangan melawan aku. Kelak aku akan minta maaf kepadamu, dinda."
Sakri!

Bersambung...........
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
pHa_epHa
Koordinator


Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Tue Nov 11, 2008 11:35 am

aku setia ngenteni terusane mas.....nganti meleleh
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Tue Nov 11, 2008 12:06 pm

Tak terusake maneh wae................

Kau hendak merendahkan adikmu sendiri? Kalau kau seorang satria utama, apakah akupun bukan seorang satria Majapahit yang pantang mundur dan tidak kenal takut pula? Hayo, majulah dan pergunakanlah aji kesaktianmu pula. Saritama bukan anak kecil yang takut akan maut!"

Kembali kakak-beradik ini bertempur. Akan tetapi oleh karena Sakri merasa bimbang, ia hanya berkelahi dengan setengah hati, sehingga pada saat yang tepat Saritama berhasil memasukkan pukulannya yang dengan jitu sekali menghantam kepala Sakri. Bukan main hebatnya pukulan ini, oleh karena kali ini Saritama mempergunakan aji kesaktiannya yang bernama Bromo ati. Pukulan ini mempunyai daya bagaikan petir menyambar dan seketika itu juga tubuh Sakri menjadi hangus dan kulitnya rusak bagaikan terbakar api! Sakri bergulingan di bawah dan mengeluh kesakitan, tak berdaya untuk bangun lagi.

"Kangmas.......... kangmas.......... ampunkan aku......" Saritama mengeluh.

"Tidak ada yang harus mengampunkan dan tidak ada yang harus minta ampun, dimas. Kita sama-sama perajurit utama, bukan? Kematian bukan apa-apa, teruskanlah perjuanganmu dengan hati suci. Tak usah kita hiraukan sebab-sebab pertempuran. Tugas kita hanya berjuang, berjuang dengan suci. Aku..... aku puas, dinda........" Kemudian ia mengeluh dan tiba-tiba dari mulut keluar keluhan panjang, "Aduh........ adinda Diah Pitaloka......"

Terkejutlah Saritama mendengar ini. "Kangmas Sakri...... kau..... kau menyinta Diah Pitaloka Puteri Pajajaran?"

Sakri mencoba untuk tersenyum. "Dia.......... Dia pujaan kalbu dan sumber kebahagiaanku, dinda..... sampaikanlah salamku kepadanya dan sampaikan pula bahwa aku telah membela kehormatannya sampai titik darah terakhir......."

Dengan sedih Saritama menyanggupi. Pada saat itu, seorang perwira Majapahit yang berdiri di belakang Saritama, ketika mendengar bahwa Saritama, sebenarnya adalah adik dari Sakri panglima Pajajaran itu, menjadi tercengang. Timbul pikiran jahat dalam otaknya. Ia hendak merebut pahala dan jasa karena membinasakan Sakri, pahlawan musuh yang digdaya itu. Maka, diam-diam ia angkat tombaknya tinggi-tinggi dan cepat sekali ia menusuk punggung Saritama dengan tomak itu!

Saritama sama sekali tidak menyangka akan datangnya bahaya oleh karena kedukaannya membuat ia lupa akan segala. Dan oleh karena segala perhatiannya dicurahkan kepada kakaknya, maka agaknya tombak yang ditusukkan ini tentu akan menembusi tubuhnya! Akan tetapi pada saat itu Sakri yang telah hampir mati itu tiba-tiba meloncat bangun dan menubruk ke belakang Saritama hingga tombak itu tidak jadi menancap di punggung Saritama, akan tetapi tepat memasuki perut Sakri!

Sakri benar-benar digdaya. Biarpun tubuhnya telah hangus dan tombak itu telah menembus perutnya, namun ia masih kuasa menyambar maju dan kedua tangannya yang hangus itu mencekik leher perwira itu sampai kedua mata perwira itu melotot dan lidahnya terjulur keluar. Perwira itu binasa dan setelah melepas tubuh perwira yang telah menjadi mayat. Sakri lalu terhuyung-huyung dan jatuh ke dalam pelukan Saritama,

"Kangmas...... sungguh mulia hatimu. Di saat terakhir kau masih sudi menolong jiwaku."

Akan tetapi Sakri tak kuasa berkata banyak. Ia membuat gerakan agar Saritama mendekatkan telinganya. Pemuda ini mengerti akan isarat kakaknya, maka ia lalu mendekatkan telinganya di mulut kakaknya. Dan dalam saat terakhir itu, Sakri membisikkan semua aji kesaktiannya kepada adiknya yang terkasih ini. Kemudian, satria utama ini menjadi lemas dan menghembuskan napas terakhir. Sakri telah gugur bagaikan ratna, yang takkan lenyap dan pudar kegemilangan namanya selama dunia berkembang!

Saritama mencabut keluar tombak yang masih menancap di perut Sakri dan dengan penuh khidmat ia pondong jenazah itu keluar dari medan pertempuran, diikuti oleh pandangan mata perajurit-perajurit dari kedua fihak. Setelah pemuda itu pergi, maka para perajurit itu mulai bertempur pula dengan hebatnya!

Dengan hati duka, Saritama membakar jenazah kakaknya sambil berdoa. Setelah pembakaran jenazah ini selesai, ia lalu maju pula ke medan pertempuran, bukan untuk ikut bertempur, akan tetapi untuk mencari Puteri Pajajaran dan menyampaikan pesan Sakri kepada Diah Pitaloka.

Setelah Sakri gugur, maka kekuatan fihak Pajajaran makin lemah. Sungguhpun demikian, para satria Pajajaran yang gagah berani dan pantang mundur itu melanjutkan pertempuran sampai orang terakhir! Patih Gajah Mada mengerahkan semua pahlawannya dan akhirnya semua pahlawan Pajajaran dapat dibinasakan dalam pertempuran yang maha hebat itu! Darah mengalir bagaikan anak sungai dan mayat bergelimpangan bertumpang-tindih memenuhi lapangan Bubat.

Bersambung maneh ke Jilid 2
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
pHa_epHa
Koordinator


Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Tue Nov 11, 2008 3:29 pm

kok mati.......
hiks
Sad Sad Sad
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 12, 2008 10:56 am

pHa_epHa wrote:
kok mati.......
hiks
Sad Sad Sad

Lha cen kon mati kok...... ngakakk ngakakk
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
pHa_epHa
Koordinator


Lokasi : harmoni
Reputation : 3
Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 12, 2008 10:58 am

tiwas semangat lehku mbukak...tak kiro rep diteroske le crito
weis tak tunggu kie mas....

_________________
meleleeeehhhh..........
semangat semangat...demi vanya ma junior
lop pyu vem
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Thu Nov 13, 2008 12:16 pm

pHa_epHa wrote:
tiwas semangat lehku mbukak...tak kiro rep diteroske le crito
weis tak tunggu kie mas....
Sabar pha.....tenang wae.

Aku ki perlu golek sing seger2 ben iso mikir kanthi wening lan entuk inspirasi.......


ngakakk ngakakk ngakakk
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
pHa_epHa
Koordinator


Lokasi : harmoni
Reputation : 3
Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Thu Nov 13, 2008 12:52 pm

Wonosingo Ngali Kidul wrote:
pHa_epHa wrote:
tiwas semangat lehku mbukak...tak kiro rep diteroske le crito
weis tak tunggu kie mas....
Sabar pha.....tenang wae.

Aku ki perlu golek sing seger2 ben iso mikir kanthi wening lan entuk inspirasi.......


ngakakk ngakakk ngakakk

iki akeh es mas.....teruske nuh ceritane....

_________________
meleleeeehhhh..........
semangat semangat...demi vanya ma junior
lop pyu vem
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Fri Nov 14, 2008 10:58 am

Jilid 02


Diah pitaloka yang mendengar akan kekalahan fihaknya duduk di dalam kemah dengan pikiran kusut dan hati risau. Tiba-tiba ia teringat kepada Sakri. Ia tidak percaya bahwa fihaknya akan menderita kekalahan. Bukankah di fihaknya ada Sakri, pahlawan yang gagah perkasa itu?

Tiba-tiba sesosok bayangan yang gesit sekali meloncat masuk ke dalam kemahnya dan tahu-tahu seorang pemuda tampan yang sederhana berdiri di situ dengan sikap hormat.

"Hai, siapa kau yang kurang ajar dan lancang memasuki tempat ini?" Diah Pitaloka menegur marah.

"Maafkan hamba, Sang Puteri. Ketahuilah, hamba adalah adik dari seorang panglimamu yang ternama, yaitu Sakri."

"Kau adik Sakri? Dan..... bagaimana dengan dia.....?"

Wajah yang tampan dan agak pucat itu nampak berduka ketika menjawab. "Kangmas Sakri telah..... gugur dan kedatanganku ini hanya hendak menyampaikan pesannya, yakni bahwa kangmas Sakri meninggalkan salam dan hormat kepada Sang Puteri dan bahwa kangmas Sakri telah menunaikan tugasnya membela paduka sampai pada saat terakhir!"

Diah Pitaloka terharu sekali dan ia tidak dapat menahan air matanya yang mengucur turun. Dengan kedua tangannya, ia menutupi mukanya dan tubuhnya bergoyang-goyang karena menahan sedu-sedan yang keluar dadanya.

"Sakri...... Sakri...... kau pahlawan sejati, satria utama...... terima kasih atas pengurbananmu yang besar, Sakri......"

Ketika Diah Pitaloka menurunkan tangan dan memandang, ternyata pemuda yang mengaku sebagai adik Sakri itu telah pergi! Pada saat itu terdengar berita yang lebih menyayat jantung Diah Pitaloka. Yang membawa berita adalah ibunya sendiri, permaisuri raja Pajajaran. Permaisuri masuk ke dalam kamar puterinya sambil menangis dan dengan suara terputus-putus ia menceritakan bahwa Sang Ratu Dewata telah gugur di dalam yuda!

Mendengar ini, kedukaan yang sudah melemahkan jantung Diah Pitaloka, memuncak hebat dan ia lalu roboh pingsan! Ibunya hanya dapat menangis dan setelah Sang Puteri siuman kembali, kedua orang wanita, ibu dan anak ini, bertangis-tangisan.

"Duhai anakku sayang, belahan nyawa bunda. Alangkah buruknya nasib yang menimpa kita! Bunda tak menyesali untung bunda, karena bunda sudah tua, sudah cukup mengecap nikmat hidup. Akan tetapi kau....... anakku sayang, ibarat bunga sedang mulai mekar....... bunda tak patut mengurbankan puterinya, sekarang terserah kepadamu, anakku. Kau masih muda, pantas menjadi permaisuri yang mulia. Kau menurutlah saja anakku, taatilah kehendak Sang Prabu di Majapahit yang hendak memboyongmu, kau akan menjadi permaisuri yang dimuliakan orang, nak......."

"Duh bunda......." Diah Pitaloka menangis dalam pelukan ibunya dan untuk beberapa lama tak dapat berkata-kata. Akhirnya, sambil mengeluarkan sebuah keris yang runcing dan tajam, Diah Pitaloka berkata,

"Ibunda yang mulia, mohon diampunkan segala dosa dan kesalahan ananda. Alangkah akan hinanya nama ananda, alangkah akan rendahnya kehormatan ananda apabila ananda menyerah kepada musuh! Budi ramanda dan ibunda yang demikian besar bdilimpahkan kepada ananda, belum cukup terbalas hanya oleh pengurbanan jiwa ananda, apakah mungkin ananda menyerahkan diri kepada musuh yang berarti menghina dan menodai nama orang tua? Tidak, ibunda, ananda seribu kali lebih suka mati daripada menyerah kepada musuh! Ibunda, relakanlah, hamba hendak lebih dahulu menyusul ayahanda!"

Berseri wajah permaisuri mendengar ucapan puterinya itu. Saking terharunya, ia tak dapat berkata-kata, dan setelah beberapa kali menelan ludah, baru ia dapat berkata singkat, "Diah Pitaloka kau patut menjadi puteri sesembahan di keraton Pajajaran, patut menjadi sari tauladan para wanita!"

Di depan ibunya, Diah Pitaloka lalu menyuduk-salira (menusuk diri). Dengan air mata berlinang-linang, permaisuri dan para emban yang menangis sedih lalu menyelimuti jenazah Sang Puteri dengan sutera hijau. Kemudian permaisuri lalu mengajak para emban untuk mencari jenazah Ratu Dewata, suaminya. Diantara ribuan mayat yang malang melintang, akhirnya Sang Permaisuri dapat pula menemukan jenazah suaminya terhantar di atas tanah dengan sebatang tombak masih menancap di dadanya. Tomba itu merupakan tanda bahwa suaminya telah gugur dengan gagah-berani.

Setelah menubruk dan menangisi jenazah suaminya, Sang Permaisuri lalu mencabut kerisnya dan membunuh diri di dekat suaminya! Para selir dan emban yang mengiringkan Permaisuri melihat hal ini lalu meniru tindakan Sang Permaisuri. Mereka menggunakan senjata masing-masing untuk membunuh diri hingga bertambah pula tubuh manusia memenuhi lapangan Bubat! Sebelum senjakala, matahari telah menyembunyikan diri siang-siang di belakang awan tebal, seakan-akan Sang Batara Surya sendiri tidak tahan lebih lama menyaksikan akibat mengerikan dari perbuatan manusia yang bodoh dan dungu, manusia yang tak segan-segan untuk saling bunuh hanya karena memperebutkan sesuatu yang kosong!

Bersambung...................
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
dwikoe
Camat


Lokasi : cedak kebun Raya Bogor
Reputation : 1
Join date : 19.06.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Mon Nov 17, 2008 12:09 am

mati sampyuh . . . . .

kok malah kabeh mati tho...

lha saritama ro sopo yaa....????

opo karo aku wae... ngakakk ngakakk

heheheheheeeee.......
Kembali Ke Atas Go down
http://www.elsppat.or.id
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Mon Nov 17, 2008 1:09 pm

dwikoe wrote:
mati sampyuh . . . . .

kok malah kabeh mati tho...

lha saritama ro sopo yaa....????

opo karo aku wae... ngakakk ngakakk

heheheheheeeee.......

Saritama karo kowe yo ra po2......Wiek nek Galuh ki do mati kabeh critane ning Perang Bubat, prunanku wae wis dong jek. ngakakk ....

Yo wis tak golek ane disik Saritamane......nggo kowe ajib ajib ajib
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Mon Nov 17, 2008 5:49 pm

Tak lanjutke maneh wae......sing gelem moco, syukur aku. Ning kok sing ngritik lan gawe saran wong sithik....

Pantang mundur lanjut maneh, sak jelehe....

Ketika Sang Prabu Hayam Wuruk mendengar akan peristiwa yang amat menyedihkan itu, bukan main duka dan menyesalnya. Padahal Sang Prabu Hayam Wuruk yang telah amat rindu dan ingin sekali bertemu dengan calon permaisurinya, telah menyusul ke Bubat. Tidak tahunya, ketika tiba di Bubat, Sang Prabu hanya bertemu dengan layon Sang Puteri.

Perih dan sakit hati Sang Prabu Hayam Wuruk melihat jenazah yang telah diselimuti sutera hijau seluruhnya itu. Tanpa dapat dicegah lagi, Sang Prabu lalu melangkah maju dan menggunakan kedua tangannya untuk menyingkap sutera itu dari muka jenazah Diah Pitaloka.

Naik sedu sedan dari dalam dada yang menyumbat kerongkongannya ketika Sang Prabu menatap wajah yang tetap ayu, tetap gilang-gemilang, dengan dihias senyum manis itu. Dalam pandangan Sang Prabu, wajah Diah Pitaloka seakan-akan masih hidup dan senyum itu seperti sengaja ditujukan padanya.

Tak tertahan pula rasa duka dan terharu yang menggelora dalam kalbunya dan beerjatuhanlah air mata Sang Prabu membasahi wajah Sang Ayu yang telah tak bernyawa pula itu.

"Aduhai adinda juita! Adinda pujaan kalbu, mustikaningrat yang cantik jelita, alangkah kejamnya nasib menimpa kita! Telah menjadi kembang-mimpi kanda saat pertemuan kita yang telah kurindu-rindukan. Akan tetapi, setelah kita bertemu, kau telah pergi.......... aduhai adinda, adinda......"

Para pengiring Sang Prabu yang menyaksikan kedukaan Prabu Hayam Wuruk, merasa terharu sekali dan menumpahkan air mata dalam belasungkawa. Juga Patih Gajah Mada diam-diam merasa menyesal telah terjadi perang yang mengakibatkan tewasnya Sang Puteri yang sedianya akan mendatangkan bahagia maha besar bagi junjungannya itu. Ia lalu melangkah maju dan sambil menyembah berkata,

"Duh gusti pujaan hamba! Ingatlah bahwa segala peristiwa yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi, adalah kehendak Hyang Agung dan kita manusia hanyalah sekedar menjalankan kodrat belaka."

Maka sadarlah Prabu Hayam Wuruk dari pengaruh duka-nestapanya yang maha hebat. Dengan kedua tangan gemetar Sang Prabu menyelimutkan kembali sutera hijau itu di atas muka Diah Pitaloka, lalu memerintahkan agar jenazah Ratu Dewata seanak-isteri mendapat penghormatan selayaknya bagaikan keluarga raja yang terhormat serta jenazah mereka dibakar menurut upacara yang telah lazim.

Kemudian Sang Prabu memerintahkan kepada para ahlinya untuk merawat mereka yang terluka dalam perang itu, baik perajurit-perajurit Majapahit sendiri maupun Pajajaran. Semua diperlakukan sama dan tak boleh dibeda-bedakan.

Sesungguhnya, sebelum Sang Prabu Hayam Wuruk meminang Diah Pitaloka, Sang Prabu telah tertarik akan kecantikan Puteri Susumnadewi, puteri Raja Wengker. Oleh karena itu, setelah perjodohan dengan Diah Pitaloka gagal, Sang Prabu teringat kembali kepada Puteri Susumnadewi dan akhirnya Sang Prabu melamarnya sebagai permaisuri. Tak perlu diceritakan lagi betapa girang hati Wijayarajasa oleh karena dengan sendirinya derajat serta kedudukannya meningkat tinggi sebagai mertua raja.

Di sebelah selatan Pulau Jawa, yakni di sepanjang pesisir Laut Selatan, terdapat pegunungan yang memanjang dari barat ke timur yang terkenal disebut Gunung Kidul. Diantara bukit-bukit kecil yang tak terbilang banyaknya itu, bertapalah seorang Panembahan yang sakti dan suci, yakni Panembahan Sidik Panunggal. Sang Panembahan belum tua benar, paling banyak berusia lima puluh tahun, akan tetapi rambutnya yang panjang serta jenggotnya yang melambai sampai ke dada, telah putih semua. Panembahan Sidik Panunggal tinggal dalam sebuah pondok kecil terbuat daripada bambu sederhana. Hidupnya hanya bertani dan bermuja-samadhi, serta mengulurkan tangan menolong para penduduk desa apabila mereka itu membutuhkan pertolongan. Juga banyak sekali cantrik-cantrik yang mengejar ilmu dan bersuwita kepada Sang Panembahan yang sakti.

Pada suatu hari, tak seperti biasanya, Sang Panembahan Sidik Panunggal semenjak pagi tidak meninggalkan pondoknya. Biasanya, pagi-pagi sekali pada waktu ayam-ayam jantan berkokok Sang Panembahan sudah keluar dari pondok dan berjalan-jalan menghirup hawa udara sejuk di pegunungan, kemudian Sang Panembahan lalu ikut pula mengerjakan sawah-ladang dengan para petani lainnya. Berbeda dengan pertapa-pertapa lainnya yang tidak mau bekerja, Sang Panembahan ini tiap hari selalu membantu pekerjaan bapak tani dengan gembira, bahkan memberi petunjuk-petunjuk penting oleh karena beliau juga ahli dalam soal pertanian dan cara-cara menggarap sawah-ladang. Biarpun sudah tua dan tubuhnya kelihatan kurus, akan tetapi ternyata bahwa Sang Panembahan masih kuat mengayun cangkul.

Melihat betapa Sang Panembahan tidak seperti biasanya, dan tidak nampak keluar dari sanggar pemujaan para cantrik merasa bingung dan kuatir, akan tetapi mereka tidak berani mengganggu dan bertanya kepada Sang Panembahan, hanya duduk di luar pondok dengan bersila dan tidak berani membuat berisik.

Ketika akhirnya setelah lewat tengah hari Sang Panembahan keluar dari pondok, wajah orang tua yang biasanya nampak riang itu, kini kelihatan pucat dan walaupun kedua matanya tidak menampakkan kedukaan, namun keriangan yang biasa membayang pada matanya itu telah lenyap. Para cantrik maklum bahwa tentu ada sesuatu yang mengganggu pikiran Sang Panembahan Sidik Panunggal. Akan tetap, Sang Panembahan tidak berkata apa-apa, kecuali menanyakan tentang pekerjaan para cantrik.

Pada senja hari datanglah Saritama. Wajah pemuda ini nampak kurus dan pucat, sedangkan tubuhnya lemah-lunglai. Bahkan di atas kedua pipinya masih nampak bekas-bekas air mata. Para cantrik yang tadinya merasa gembira dan girang melihat kedatangan pemuda ini, menjadi heran dan diam-diam saling berbisik menduga-duga apakah gerangan yang disedihkan oleh Saritama.

"Angger, Saritama, kau sudah kembali, nak," kata Sang Panembahan Sidik Panunggal ketika melihat pemuda itu.

Tiba-tiba Saritama mengeluarkan suara isak tertahan dan sertamerta ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Panembahan itu dan memeluk kaki sambil menangis tersedu-sedu.

Sang Panembahan menggunkan tangan kanan mengelus-ngelus kepala pemuda itu sambil berkata,

"Saritama, tidak ada kedukaan dan kekecewaan yang cukup besar untuk dapat menggoncangkan iman seorang satria. Sadarlah kembali dan gunakan sifat jantanmu untuk mengusir perasaan duka yang tak baik dan melemahkan itu."

"Aduh rama Panembahan, hamba telah berdosa besar rama....... Hamba..... telah membunuh kakangmas Sakri......" Pemuda itu menangis lagi.

"Wahai puteraku yang bagus, puteraku yang setia dan taat kepada pelaksanaan tugas, mengapa kau begini lemah? Kau bilang bahwa kau telah membunuh kakakmu Sakri? Ya Jagat Dewa Batara yang berkuasa di jagatraya! Bagaimanakah asal-mulanya maka kau dapat berkata demikian?"

Setelah dapat menekan perasaan terharu dan dukanya dan menetapkan hatinya, Saritama lalu berkata, "Hamba mentaati perintah Rama Panembahan dan menuju ke Majapahit untuk menunaikan tugas sebagai seorang satria dan pembela negara. Kebetulan sekali ketika hamba tiba di sana, Majapahit sedang mengadakan perang melawan barisan dari kerajaan Pajajaran. Hamba lalu menuju ke tempat peperangan dan di sana hamba mendengar tentang mengamuknya seorang panglima Pajajaran yang gagah perkasa dan bernama Sakri. Tadinya hamba merasa ragu-ragu dan tidak percaya bahwa panglima yang bernama Sakri itu adalah kakangmas Sakri sendiri. Maka hamba lalu mengajukan diri membela perajurit-perajurit Majapahit. Ketika hamba bertemu dengan panglima itu, benar saja, panglima Pajajaran itu adalah kangmas Sakri sendiri! Aduh, Rama Panembahan, sebelum hamba melanjutkan cerita hamba, mohon penyesalan, Rama, dalam keadaan seperti itu, apakah yang hamba harus perbuat? Hamba ingin mendengar pendapat Rama, apakah perbuatan hamba itu sesuai dengan pendapat Rama atau tidak, agar hati hamba menjadi tenang dan puas."

Sang Panembahan Sidik Panunggal mengangguk-angguk perlahan sedangkan para cantrik saling pandang dengan heran mendengar cerita ini. Kemudian terdengar suara Panembahan itu yang halus, sabar, dan penuh ketenangan,

"Saritama, ketika kau maju ke medan perang, kau adalah seorang perajurit Majapahit, maka siapa juga orangnya yang berdiri di fihak musuh negara, harus disingkirkan."

"Aduh, Rama Panembahan! Lega rasa hati hamba mendengar pendapat Rama ini! Ternyata biarpun perbuatan hamba telah membuat hati sanubari hamba terasa perih dan hancur, namun agaknya tidak menyeleweng daripada pelajaran Rama! Ketika hamba berhadapan dengan kakangmas Sakri, hamba dan kangmas Sakri berselisih pendapat dan mempertahankan tugas masing-masing hingga akhirnya kami berdua beryuda. Tadinya hamba kalah dan terkena pukulan Kelabang Kencana yang ampuh dan luar biasa. Akan tetapi, kakangmas Sakri menaruh kasihan kepada hamba dan hamba disembuhkannya kembali! Kemudian karena dorongan tugas kami masing-masing sebagai seorang perajurit dan satria utama, kami beretempur pula. Bukan main hebatnya sepak-terjang kakangmas Sakri yang benar-benar sakti mandaraguna! Dia terlampau gagah perkasa, terlampau sakti, hingga terpaksa hamba mengeluarkan Aji Bromojati. Dan dia..... kangmas Sakri yang tercinta..... dia kena hamba pukul Aduhai, Rama Panembahan, kalau tidak takut akan dosa dan murka dewata, mau rasanya hamba memenggal tangan hamba yang telah memukul kepala kakangmas Sakri. Rama ...... rama..... hukumlah hamba, karena hamba telah berdosa besar dan patut mendapat hukuman berat!"

"Tenanglah, Saritama. Lalu bagaimana lanjutan ceritamu? Apakah Sakri terus tewas karena pukulanmu Bromojati?"

"Tidak, rama. Dia terlalu sakti dan kebal untuk dapat sekali tewas dengan sekali pukul. Hamba sudah tidak kuat meihat keadaannya setelah dia terpukul oleh hamba. Hamba tubruk tubuhnya dan hamba tak kuat lagi menahan keluarnya air mata. Hamba tangisi dia, dan pada saat itu, seorang perwira Majapahit tanpa sebab lalu menyerang hamba dari belakang dengan tombaknya. Hamba tidak melihat serangan ini, akan tetapi tiba-tiba kakangmas Sakri melompat berdiri dan menubruk perwira itu hingga tombak yang sedianya menancap di punggung hamba, lalu menancap di dada kakangmas Sakri! Kakangmas Sakri membinasakan perwira yang curang itu dan tak lama kemudian dia menghembuskan napas terakhir dalam pelukan hamba! Ah, Rama Panembahan, perbuatan kakangmas Sakri yang biarpun telah hampir tewas karena pukulan hamba itu, akhirnya masih menolong hamba dari ancaman maut, sungguh memberatkan rasa duka di dalam hati hamba! Dia yang telah hamba pukul hingga hampir tewas, bahkan menolong dan menyelamatkan nyawa hamba!"

"Saritama, kaukira kau ini siapa maka mudah saja mengatakan dapat membunuh? Lupakah kau akan ilmu penerangan yang telah diturunkan oleh Sri Kresna? Bukankah Sri Kresna dulu pernah bersabda kepada Sang Arjuna bahwa


"Kalau ada orang berkata
bahwa Atman dapat terbunuh
atau berkata bahwa dia telah membunuh
maka orang yang berkata demikian itu
tidak mengetahui akan kebenaran!
Bagaimanakah Dia dapat membunuh
dan siapakah itu
yang dapat membunuh Dia?"


Ucapan di atas yang dipetik oleh Panembahan Sidik Panunggal ini adalah ucapan Sri Kresna yang ditujukan kepada Sang Arjuna dalam wejangan-wejangannya, yang terkenal sebagai kitab Rhagawad Gita. Memang semenjak kecil Saritama telah menerima bermacam pelajaran dari Panembahan Sidik Panunggal, maka tentu saja ia masih ingat akan ilmu pelajaran batin di atas. Ia lalu menyembah di hadapan Sang Prabu Panembahan dan berkata,


"Terima kasih, Rama. Sungguh besar sekali pengaruh wejangan Rama, karena kini hamba merasa tidak sangat tertekan."


Bersambung maneh....piye jalan critane mengko di tunggu disik wae kelanjutane........
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
gimbik
Pengawas


Lokasi : Nori One
Reputation : 6
Join date : 04.03.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Tue Nov 18, 2008 3:03 am

weh mas aku wes wiwit penasaran ki ayo ndang dilanjout ke

_________________
I know the Lord will make a way for me
Mampir Dunk==> Bola
Disini Juga ==> Site
OK Zone ===> Blog
Dengerin Lagunya ===>> my world
Kembali Ke Atas Go down
http://profiles.friendster.com/imbik
pHa_epHa
Koordinator


Lokasi : harmoni
Reputation : 3
Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Tue Nov 18, 2008 3:47 pm

walah kok mati kabeh
hiks

kon ngritik to mas....lha diriku wedi nak dirimu kie nesu jek
siji we mas....nak no kosakata sing kudu mbukak kamus mbok nang ngisor ceritamu kie diartekno sisan.
koyo "beryuda"...jian nak ra mudengan koyo aku kie dadi ra tanggep maksud ceritane
ngakakk ngakakk
teruske mas....lanjut.....

_________________
meleleeeehhhh..........
semangat semangat...demi vanya ma junior
lop pyu vem
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Prexndes
Koordinator


Reputation : 4
Join date : 25.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Tue Nov 18, 2008 9:03 pm

ternyata, Epha yo ngerti sejarah to?,

yo apik yen ngono.


kang Haryo ndang diteruske no...........
Kembali Ke Atas Go down
dedik cahyono
Camat


Lokasi : Jakarta
Reputation : 0
Join date : 11.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 19, 2008 12:16 am

kang haryo lagi kosentrasi kie...

ojo do diganggu malah ra gelem neruske critane ngko.. ngakakk

_________________
sak beja-bejane wong lali, iseh bejo wong kang eling lan waspodo
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ciriajasa.com
gimbik
Pengawas


Lokasi : Nori One
Reputation : 6
Join date : 04.03.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 19, 2008 3:31 am

ho oh ketoke ojo2 malah tobo mbisu kieh
:cry:

_________________
I know the Lord will make a way for me
Mampir Dunk==> Bola
Disini Juga ==> Site
OK Zone ===> Blog
Dengerin Lagunya ===>> my world
Kembali Ke Atas Go down
http://profiles.friendster.com/imbik
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 19, 2008 9:59 am

gimbik wrote:
weh mas aku wes wiwit penasaran ki ayo ndang dilanjout ke

gimbik wrote:
ho oh ketoke ojo2 malah tobo mbisu kieh
:cry:

Santai Mbik, sing sabar2....aku ra topo kok, gur gek golek sing seger2 ben pikiranku iso nyanthol....... ngakakk

pHa_epHa wrote:
walah kok mati kabeh
hiks

kon ngritik to mas....lha diriku wedi nak dirimu kie nesu jek
siji we mas....nak no kosakata sing kudu mbukak kamus mbok nang ngisor ceritamu kie diartekno sisan.
koyo "beryuda"...jian nak ra mudengan koyo aku kie dadi ra tanggep maksud ceritane
ngakakk ngakakk
teruske mas....lanjut.....

Ok pha, sesuk2 maneh tak keki catatan kaki ben do mudeng kata2 sing sansekertane........hehehhe.....sory yo nduk cah ayu..... ngakakk ngakakk
ngakakk

Prexndes wrote:
ternyata, Epha yo ngerti sejarah to?,

yo apik yen ngono.


kang Haryo ndang diteruske no...........

Iyo mas, ben do reti sejarah.......ngewangi aku ngarang to mas, kok nyambut gawe wae....jan wis njenengan niku lho mas.........
Sesuk nek aku moro ning ngomahmu??? Berarti aku sambat, crito iki ngakakk ngakakk ngakakk ngakakk

dedik cahyono wrote:
kang haryo lagi kosentrasi kie...

ojo do diganggu malah ra gelem neruske critane ngko.. ngakakk

Yo bener mas, aku gek seolah2 konsen......
Di ewangi no mas dedik....... ajib ajib ajib

Suwun kabeh yo, iso merhatikan tulisanku sing gek belajaran iki..........terima kasih banyak untuk semuanya, I Love U for All,..


Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 19, 2008 10:02 am

Kulo terusaken rumiyen, ning nek ono kata2 sing kurang niti prono mbok di kritik.......nek perlu sarane .....


"Kau hanya menjalankan tugasmu sebagai seorang ksatria dan perajurit utama, demikianpun Sakri. Biarpun dia telah tewas di dalam peperangan, namun ia gugur sebagai seorang ksatria utama. Tewas di dalam menunaikan tugas di medan perang, bagi seorang perajurit dan ksatria utama, adalah cara mengakhiri hidup yang paling nikmat dan sempurna!"

"Akan tetapi, Rama Panembahan yang menjadi pujaan hamba di jagat raya! Betapa hati hamba takkan berduka oleh karena di dalam dunia ini, hamba hanya mempunyai rama dan kakangmas Sakri. Kini kakangmas Sakri telah pergi, ah, betapa hamba takkan merasa sunyi dan sengsara."

Sang Panembahan tersenyum. "Saritama, Saritama! Ucapanmu ini seperti seorang anak-anak saja. Mengapa kau hanya mempunyai aku dan kangmasmu? Tengoklah di sekelilingmu. Para cantrik ini, para kawan pamong desa, para petani, semua itu juga bukankah manusia-manusia yang tiada bedanya dengan aku atau kangmasmu? Kalau kau dapat menganggap aku sebagai ramamu dan Sakri sebagai kangmasmu, mengapa kau takkan dapat menganggap mereka semua itu sebagai ramamu dan juga sebagai kangmasmu? Dan sekarang, Saritama, bersiaplah untuk menerima kenyataan yang sebetulnya bukan apa-apa, akan tetapi kalau imanmu lemah, kau dapat menganggap bahwa hal ini merupakan hal yang pahit bagimu. Kenyataan yang tadinya menjadi rahasia dan yang kini hendak kubuka ini, juga akan membongkar pula kenyataan bahwa nafsu perseorangan atau nafsu kekeluargaan yang menebal di dalam hati manusia itu sebenarnya tidak selayaknya dan hanya timbul karena diadakan oleh manusia sendiri, bukan timbul dari kodrat. Kasih sayang harus dicurahkan kepada seluruh manusia, tak perduli orang itu keluarga maupun tidak, berdasar rasa perikemanusiaan dan sesama hidup, bahkan seyogianya tidak hanya terhadap sesama manusia, akan tetapi juga terhadap sesama mahluk di dunia. Saritama, sekarang dengarlah, aku hendak menceritakan sebuah riwayat yang hendak kupersingkat saja."

Sang Panembahan Sidik Panunggal lalu bercerita sebagai berikut. Kurang lebih empat belas tahun yang lalu, terdapat seorang adipati yang mengepalai Kadipaten Tritis. Adipati ini mempunyai seorang musuh, yakni seorang tumenggung. Oleh karena keduanya adalah hamba kerajaan Majapahit dan keduanya memiliki kesaktian dan telah berjasa besar terhadap kerajaan hingga pengaruh mereka cukup besar, maka rasa permusuhan ini tidak dinyatakan berterang, hanya terpendam dalam dasar hati masing-masing. Walaupun pada lahirnya adipati dan tumenggung itu tidak memperlihatkan sikap bermusuhan, akan tetapi di dalam hati mereka menaruh dendam besar. Permusuhan ini timbul oleh karena seorang Puteri keturunan Prabu Jayanegara yang lahir dari selir. Puteri ini sebenarnya telah mempunyai hubungan kasih-sayang dengan adipati itu, akan tetapi oleh karena pada waktu itu sang adipati masih belum menduduki pangkat dan keadaannya miskin, maka akhirnya sang puteri tak dapat menjadi jodohnya dan menjadi isteri sang tumenggung yang kaya raya dan berpengaruh. Hal inilah yang menjadikan ganjalan di dalam hati kedua orang itu dan menimbulkan sakit hati yang tak kunjung padam. Akan tetapi, sang adipati itu dapat mengobati luka di hatinya dan biarpun ia masih membenci sang tumenggung, namun dia tidak melakukan sesuatu, bahkan lalu kawin dengan puteri lain dan hidup cukup berbahagia oleh karena ia mendapat anugerah raja dan dijadikan adipati di Tritis.

Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan sang tumenggung itu. Biarpun puteri juita yang diperebutkan itu akhirnya terjatuh ke dalam tangannya dan menjadi isterinya, namun rasa cemburu masih melekat di dalam hatinya dan bencinya terhadap adiapti itu makin lama makin menghebat. Hingga pada suatu hari, dengan cara curang sang tumenggung itu berhasil menfitnah sang adipati yang dituduh hendak memberontak terhadap kerajaan Majapahit. Pada masa itu, yang memerintah di Majapahit adalah Sang Ratu Tribuwana Tungga Dewi dan sebagai seorang wanita, Ratu ini dapat dihasut hingga Sang Ratu menggerakkan panglima-panglimanya untuk memukul hancur adipati itu hingga terbinasa seluruh keluarganya, kecuali dua orang puteranya yang dapat diselamatkannya.

"Demikianlah riwayat itu, Saritama," kata Sang Panembahan Sidik Panunggal kepada Saritama yang mendengarkan dengan penuh perhatian dan tertarik sekali. "Dan sekarang ketahuilah, wahai anakku, bahwa tumenggung itu adalah Tumenggung Wiradigda yang sekarang masih menjadi Tumenggung di Majapahit dan berkedudukan di wilayah Tangen, sedangkan adipati itu adalah Adipati Cakrabuwana atau..... adikku sendiri! Sedangkan kedua putera adipati yang diselamatkan itu tidak lain adalah........ Sakri dan kau sendiri!
Jadi, aku bukanlah ramamu sebagaimana yang selama ini kau ketahui, akan tetapi adalah bapak tuamu atau pamanmu!"


Untuk mengetahui kelanjutannya, simak lagi..


;) ;) ;) ;) ;) ;)
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
pHa_epHa
Koordinator


Lokasi : harmoni
Reputation : 3
Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 19, 2008 2:21 pm

wahhhh apik terusane.....
trus ra ono bahasa sing kudu ak tlp takon mamak/simbah
ngakakk

_________________
meleleeeehhhh..........
semangat semangat...demi vanya ma junior
lop pyu vem
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 19, 2008 2:39 pm

pHa_epHa wrote:
wahhhh apik terusane.....
trus ra ono bahasa sing kudu ak tlp takon mamak/simbah
ngakakk

Terusane, mengko disik nooo...........Lha si Dwie ngandi to pha, kan wingi nggoleki Saritama. Bareng Saritama tak jedulke malah kabur wonge... ngakakk ngakakk ngakakk
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
pHa_epHa
Koordinator


Lokasi : harmoni
Reputation : 3
Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 19, 2008 2:43 pm

mbakyuku kae lagi oleh cem2an anyar....lha nunggu saritama kesuwen jek

_________________
meleleeeehhhh..........
semangat semangat...demi vanya ma junior
lop pyu vem
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 19, 2008 2:57 pm

pHa_epHa wrote:
mbakyuku kae lagi oleh cem2an anyar....lha nunggu saritama kesuwen jek

Woooo, yo syukur nek ngono, mugo2 sing anyar biso dadi regeng lan gangsar. Biso gawe atut runtuting keluargan, lan biso selawase.....Amin Amiiiin Amiiiin Amiiiin Amiiiin .

Aku wis ndongo lho kuwi..
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
giadi_pcs
Camat


Lokasi : sudirman jakpus
Reputation : 3
Join date : 14.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 19, 2008 8:55 pm

tak ewangi ndungo kanthi tulus iklas Amiiiin
Kembali Ke Atas Go down
dedik cahyono
Camat


Lokasi : Jakarta
Reputation : 0
Join date : 11.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Wed Nov 19, 2008 10:24 pm

Amiiiin Amiiiin Amiiiin

aku yo melu ndongake lho...

_________________
sak beja-bejane wong lali, iseh bejo wong kang eling lan waspodo
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ciriajasa.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Thu Nov 20, 2008 10:27 am

giadi_pcs wrote:
tak ewangi ndungo kanthi tulus iklas Amiiiin

dedik cahyono wrote:
Amiiiin Amiiiin Amiiiin

aku yo melu ndongake lho...

Amin.
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Thu Nov 20, 2008 4:18 pm

Lanjutane maneh.........

Kalau bumi yang terpijak kaki Saritama pada saat itu ambles, belum tentu pemuda itu akan sedemikian kagetnya mendengar penuturan ini. Sepasang matanya tajam menatap Sang Panembahan, wajahnya memucat dan bibirnya gemetar. Tiba-tiba ia maju menyembah dan berkata dengan suara keras,

"Paman Panembahan, mohon doa restumu!" Ia lalu melompat bangun dan sambil mengacungkan tinjunya ke atas, ia berseru dengan bengis. "Tumenggung Wiradigda, tunggulah pembalasanku!"

Kemudian, tanpa menoleh lagi, pemuda itu lalu melompat ke depan dan lari keluar dari tempat itu secepat kidang melompat!

Sang Panembahan memandang ke arah perginya Saritama sambil menggeleng-geleng kepala, "Ah, hati muda....... semoga Hyang Agung akan menjauhkannya daripada kesesatan." Kemudian, tanpa mengeluarkan kata-kata lain kepada sekalian cantrik yang masih duduk bersila di situ, Sang Panembahan lalu memasuki pondoknya kembali dan duduk bersila bermuja samadhi dengan tekunnya.

Para cantrik hanya dapat saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas.

Dengan hati dan pikiran tak karuan rasa, duka, kecewa, marah menjadi satu, Saritama meninggalkan pondok Panembahan Sidik Panunggal. Hatinya dipenuhi rasa dendam dan sakit-hati, dan pada saat itu ingin sekali ia segera bertemu dengan musuh besarnya yang telah menghancurkan penghidupan ayah-ibu dan keluarganya. Ingin ia segera mendapat kesempatan menjatuhkan tangan kepada Tumenggung Wiradigda.

Hm, Wiradigda keparat! Kau mengandalkan pengaruh dan kedudukanmu, dengan kejam dan buas menfitnah orang tuaku. Setelah kau merampas kekasih ayah, kau masih sampai hati untuk menghancurkan penghidupan ayah! Alangkah kejam, apa kaukira hanya aku saja laki-laki jantan di atas dunia ini. Tunggulah, awaslah kau, tumenggung keparat!" Tiada hentinya bibir Saritama bergerak-gerak membisikkan ancaman-ancaman ini di sepanjang jalan. Ia berlari bagaikan gila menuju ke Tangen, sebuah pedusunan yang berada di sebelah selatan Majapahit. Bukan dekat perjalanan yang ditempuhnya, akan tetapi berkat kesaktian dan kepandaiannya yang hebat, yakin dengan ilmu lari Kidang Kencana, ia mengharapkan akan dapat sampai di tempat itu dalam tiga hari.

Pada malam hari ketiga, ia telah tiba di luar daerah Tangen. Oleh karena malam itu gelap sekali, terpaksa ia harus bermalam di sebuah dusun kecil dan tak dapat melanjutkan perjalanannya. Dusun di mana ia berhenti itu kecil, akan tetapi cukup ramai. Ketika melihat sebuah pondok di dalam dusun itu, pondok yang dilengkapi dengan sebuah tempat pemujaan di sampingnya seperti yang biasa dipunyai oleh seorang pertapa atau seorang Panembahan, ia menjadi tertarik. Ketika ia bertanya kepada seorang petani yang kebetulan bertemu denganya di tengah jalan dekat pondok itu, ia bertanya.

"Paman, maafkan kalau aku menganggumu. Pondok siapakah yang nampak di depan ini. Agaknya pondok seorang pertapa."

Petani itu memandangnya sejenak, karena ia dapat menduga bahwa pemuda ini tentulah seorang pendatang dari jauh hingga tak mengenal pondok pertapa terkenal itu.

"Raden," katanya penuh hormat karena biarpun pakaian Saritama sederhana dan bagaikan seorang petani, namun sikap halus dan wajah tampan pemuda itu menimbulkan dugaan kepadanya bahwa pemuda ini tentu bukanlah seorang petani biasa. "Pondok ini adalah tempat kediaman seorang dukun yang sakti dan ditakuti orang, namanya Bagawan Kalamaya yang kemashurannya telah terkenal sampai ke kota raja."

"Ah, kebetulan sekali, paman. Kalau seorang bagawan, tentu sudi menerima aku untuk bermalam di sini."

"Raden, kalau kau hendak bermalam di dusun kami, dan kalau kiranya gubukku yang bobrok tidak menjadikan celaan, aku persilakan kau mampir dan bermalam saja di rumahku. Janganlah kau mencoba untuk minta bermalam di sini."

Saritama merasa heran. "Eh, mengapa begitu, paman? Aku berterima kasih sekali kepadamu, paman. Kau memang baik hati dan ramah tamah, akan tetapi, hatiku menjadi ingin tahu mendengar kata-katamu tadi. Mengapa Bagawan Kalamaya takkan mau menerimaku? Bukankah seorang pendeta itu biasanya murah hati dan berbudi?"

Petani itu menghela napas dan matanya memandang ke arah pondok itu dengan hati-hati dan takut-takut, kemudian ia berbisik. "Raden, ketahuilah, Bagawan Kalamaya adalah dukun tenung yang ditakuti orang dan iapun galak sekali. Yang paling hebat ialah bahwa di rumahnya terdapat banyak iblis yang dipeliharanya!"

Saritama tersenyum. Ia tidak merasa heran mendengar ucapan petani ini, oleh karena memang para petani yang bodoh seringkali mudah dipengaruhi dan ditakut-takuti tentang iblis-iblis dan segala setan oleh orang-orang yang mereka anggap dukun tenung.

"Biarlah, paman. Betapapun juga aku ingin sekali berkelanan dengan dukun yang sakti itu."

Petani itu memandang kepada saritama dengan penuh kekuatiran dan juga kagum, akan tetapi ia telah demikian ketakutan berada terlalu lama di dekat pondok Bagawan Kalamaya, maka ia segera meninggalkan Saritama cepat-cepat sambil menoleh beberapa kali.

Saritama lalu memasuki pekarangan pondok yang gelap itu. Langsung ia menuju ke pintunya dan mengetok sambil mengucapkan salam. Setelah beberapa kali ia mengetuk pintu, barulah terdengar jawaban dari dalam.

Terus, apa yg akan terjadi dengan Saritama? Dan bagaimana kisah kelanjutannya Saritama ketemu dengan dukun tersebut?
Mari kita ikuti saja kisahnya selanjutnya??? Sabar mengikuti akan mendapatkan jodoh yg utama ngakakk
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
pHa_epHa
Koordinator


Lokasi : harmoni
Reputation : 3
Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Thu Nov 20, 2008 5:24 pm



arep pasang susuk po...balung gajah nang pipi men ketok cubby

_________________
meleleeeehhhh..........
semangat semangat...demi vanya ma junior
lop pyu vem
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Thu Nov 20, 2008 5:29 pm

pHa_epHa wrote:


arep pasang susuk po...balung gajah nang pipi men ketok cubby

Gek opo hubungane ki...........jan ra karu2an... ngakakk
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
pHa_epHa
Koordinator


Lokasi : harmoni
Reputation : 3
Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Thu Nov 20, 2008 5:34 pm



mulakno diteruske ceritane mas

_________________
meleleeeehhhh..........
semangat semangat...demi vanya ma junior
lop pyu vem
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Thu Nov 20, 2008 5:50 pm

pHa_epHa wrote:


mulakno diteruske ceritane mas

Kowe ki sabar yo, ojo grusa grusu......nek wong sabar ki mengko entuk jodo sing utomo lan gemati ro kowe....

Santai wae.......
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
dedik cahyono
Camat


Lokasi : Jakarta
Reputation : 0
Join date : 11.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Thu Nov 20, 2008 8:46 pm

ya mbak pha_epHa kayaknya jodohnya sudah dekat... ngakakk

_________________
sak beja-bejane wong lali, iseh bejo wong kang eling lan waspodo
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ciriajasa.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Fri Nov 21, 2008 11:49 am

dedik cahyono wrote:
ya mbak pha_epHa kayaknya jodohnya sudah dekat... ngakakk

Weeee wong epha ki, kari IJAB jeee....hehehhehe......Ayo sopo sing arep melu aku among tamu??? ajib ajib ajib
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
pHa_epHa
Koordinator


Lokasi : harmoni
Reputation : 3
Join date : 15.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Fri Nov 21, 2008 3:32 pm

tetep.....
kowe tak dapok dadi domas we mas....ning potong rambut yo
ha ha ha
dilanjut mas ceritane...tak tunggu kie

_________________
meleleeeehhhh..........
semangat semangat...demi vanya ma junior
lop pyu vem
Kembali Ke Atas Go down
http://www.bnpb.go.id
Sponsored content




PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Satria Gunungkidul   Today at 8:45 am

Kembali Ke Atas Go down
 
( Cerbung ) Satria Gunungkidul
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 3 dari 5Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Teras Nongkrong-
Navigasi: