Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 Berbagi Cerita2 Pendek

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Berbagi Cerita2 Pendek   Wed Oct 15, 2008 1:47 pm

Kemarin yang tak pernah aku Lupakan

Ternyata aku memang mencintainya. Setiap malam aku memikirkan ini, dan sekarang baru aku merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya. Semakin aku mengenalnya, seakan aku tak bisa lepas lagi darinya. Michelle, aku sangat mengagumimu. Sosok yang begitu sederhana. Yah, alasan itulah yang selama ini membuatku tak berani meneruskan rasa ini. Aku, seorang pemilik bisnis komputer yang cukup terkenal, tak mungkin bisa jatuh cinta pada seorang gadis biasa seperti dia. Aku yang lulusan S2 sebuah PTN terkenal di Jakarta tak mungkin bersama gadis yang hanya lulusan SMA. Aku yang terus berprestasi sepanjang masa studiku hingga sekarang berkarir, tak mungkin berniat serius dengan anak seorang pemilik warung pinggir jalan seperti dia. 6 bulan lebih aku tetap pada pemikiranku itu. Sungguh, aku tak mungkin bersama dia.

Apa kata dunia bila aku pacaran, dan akhirnya mengikat janji dengan gadis yang tak setara denganku?Dan aku yakin bisa menghilangkan rasa yang sebenarnya telah tumbuh sejak pertama bertemu dengannya, di warung milik ayahnya. Sampai hari ini tiba. Keyakinanku goyah. Yah, ternyata semua prediksiku salah. Aku tak bisa melupakannya, sedetik pun. Terlebih akhir-akhir ini. Entah apa yang membuatku begitu mengaguminya diantara gadis-gadis lainnya. Ada banyak pilihan buatku, gadis selevel, pintar, berkarir, dari keluarga yang disegani, tapi aku tak pernah bisa memilih. Tak ada satu gadispun yang sanggup menyita waktu dan pikiranku seperti Michelle. Aku akui setahun yang lalu aku pernah berniat serius dengan salah satu branch office managerku di kantor cabang daerah Surabaya.

Dia pintar, disiplin, loyal, dan yang paling penting, dia juga berniat serius denganku. Tapi aku juga tak mengerti kenapa tiba-tiba saja perasaan itu hilang justru setelah kami semakin saling mengenal, dan akhirnya aku membiarkan dia dinikahi seorang staff perbankan rekanan bisnisku. Yap, istilahnya, aku jadi mak comblang untuk orang yang katanya aku sayangi. Aneh kan? Akhirnya setelah aku mengenal Michelle, aku tahu jawabannya. Aku hanya mengagumi saja, bukan mencintai. Dan aku merasa berbeda dengan Michelle. Walaupun sebelumnya ada banyak penyangkalan dan pemikiran rasional atas perasaanku padanya, kenyataannya, aku mengakui sekarang. Aku sedang jatuh cinta!

***

Saat itu aku melihatnya sedang membantu seorang nenek menyebrang di jalanan yang memang sangat ramai. Entah kenapa tiba-tiba saja aku menghentikan laju mobilku dan memutuskan mengikutinya. Ternyata dia lalu masuk di sebuah warung pinggir jalan tak jauh dari tempatku berdiri memandangnya. Pandanganku terus mengikutinya. Dia sibuk melayani pembeli. Dengan tangannya yang cekatan dia membersihkan meja, mengantar pesanan, menerima pembayaran dari pembeli, sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Tanpa sadar, hampir dua jam aku disana memandangnya. Dan hal itu berlanjut terus hingga satu minggu. Aku tetap berdiri disana, sampai pada hari ke delapan pengintaianku, aku memutuskan untuk makan di warung itu. Sebuah keputusan sulit karena sebelumnya aku tak pernah makan di pinggir jalan. Aku termasuk orang yang sangat berhati-hati dengan makanan. Tapi toh akhirnya aku masuk juga, dan mulai memilih makanan apa yang akan aku santap. Dia datang, menawarkan menu andalan warungnya.

Aku mengikuti sarannya, es kelapa muda dan soto babat tapi tanpa nasi, karena aku tak biasa mengenyangkan diri di pagi hari. Dia berlalu, melayani pesananku dengan bantuan seorang lelaki paruh baya yang akhirnya aku kenal sebagai ayahnya. Saat dia datang lagi dengan pesananku, aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatku nekat melakukan ini. Dia biasa saja, sekilas tak ada yang menarik dari wajahnya. Sampai saat aku melihatnya tersenyum pada ayahnya sewaktu mereka asyik bercanda. Akrab sekali. Warungnya memang masih sepi, karena mungkin memang masih terlalu pagi. Dan aku memang sengaja memilih waktu ini agar aku bisa menemukan jawaban atas kelakuan anehku seminggu ini. Akhirnya aku temukan. Kesahajaannya, semangatnya, rasa percaya dirinya, keramahannya, juga senyumnya. Aku terpesona pada dirinya. Hingga berbulan-bulan aku selalu sarapan di warung itu, berkenalan dengan ayahnya. Membicarakan obrolan-obrolan ringan seputar topik-topik hangat yang menjadi headline di surat kabar, hingga cerita soal keluarganya. Ternyata ayah Michelle open mind person, berwawasan, dan sangat bijak menyikapi suatu masalah. Aku tak pernah canggung dibuatnya. Dari obrolan biasa, hingga masalah serius menyangkut masa depanku aku bicarakan padanya. Tak jarang Michelle turut menyela saat dia tak sibuk melayani pembeli. Menanggapi omongan ayahnya yang kadang memang suka diselingi dengan canda. Aku seakan merasa begitu dekat dengan mereka, disamping perasaan lain yang aku rasakan semakin tumbuh subur pada Michelle.

Tapi seperti apa yang aku ungkap sebelumnya, aku tak berani mengakui kalau ini adalah rasa cinta, hanya karena status sosial dan keadaan Michelle yang sangat sederhana. Tapi pagi ini, setelah semalaman aku berpikir keras, aku akan mengubahnya. Yah, aku sudah mantap pada pilihanku. Aku sudah tahu banyak tentang latar belakang Michelle. Studinya mandek bukan karena otak Michelle tak mampu, tapi karena dia mengalah untuk adik-adiknya. Tak meneruskan studi tak membuat Michelle berhenti belajar. Banyak yang dia tahu, termasuk masalah komputer. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, membuat aku semakin tak bisa melepas pesonanya. Yah, hanya keadaan yang kurang menguntungkan baginya. Dan sekarang, aku ingin sekali membuatnya bahagia. Berhenti memikirkan nafkah untuk keluarganya. Karena aku yakin sanggup menafkahinya, lahir dan batin, termasuk menyekolahkan kedua adiknya. Aku semakin mantap dengan keputusan ini. Segera kupacu Soluna hijau metalikku dengan hati yang tak menentu. Kali ini aku berniat memarkirnya di depan warung ayah Michelle, agar dia yakin aku bisa mencukupi kebutuhan materinya. Selama ini aku memang tak mengenalkan diriku yang menjadi direktur utama perusahaan spare part komputer dengan banyak kantor cabang di seluruh Indonesia. Yang mereka tahu aku hanya seorang wiraswasta yang sedang meniti karir. Aku tak berniat membohongi mereka, hanya saja aku tertarik dengan ketulusan dan keramahan mereka pada setiap orang, tak perduli status sosial mereka.

Dan itu menjadi satu bukti padaku, bahwa mereka, terlebih Michelle tak berorientasi pada status dan materi bila mengenal seseorang, berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada di dekatku. Setelah tikungan itu aku akan segera sampai, tapi ups!!! Nyaris saja aku menabrak seorang nenek tua yang menyebrang tertatih. Untung aku cepat menguasai keadaan hingga mobilku bisa berhenti di pinggir jalan sebelum sempat menabrak pohon beringin besar di sisi jalan itu. Huff!! Aku menarik nafas lega. Aku keluar, hanya ingin mengetahui keadaaan nenek tua itu. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja, hanya agak terkejut sedikit mungkin. Tapi sudah ada banyak orang yang datang dan menolongnya, termasuk Michelle. Dia segera memeluk nenek tua itu sebelum dia menjerit dengan kerasnya. Aku heran melihatnya. Nenek itu baik-baik saja, bahkan sekarang bisa berdiri tanpa bantuan Michelle. Tapi Michelle terus menatap ke arah mobilku sambil meneteskan air matanya. Lirih juga kudengar dia menyebut namaku. Lalu datang ayah Michelle, melihat keadaan dan menenangkan Michelle.

Ada segulir air mata jatuh di pipinya. Aku tak mengerti. Segera saja kudekati Michelle, gadis yang ingin kunikahi itu. Aku tak tahan melihatnya menangis tersedu seperti ini. Tapi seakan dia tak melihatku, berlari mendekati mobilku. Ternyata ada banyak orang di sekeliling mobilku, menarik tubuh seorang lelaki muda yang bersimbah darah dari kursi depan mobilku. Aku heran, dan berjalan mendekat. Melihat Michelle yang masih terus menangis, juga ayahnya. Lalu aku melihat wajah itu, penuh darah, tapi aku masih bisa mengenalinya. Dia adalah aku…........
Sad Sad Sad Sad Sad Sad Sad Sad Sad
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Thu Oct 16, 2008 11:17 am

Bisakah Berkumpul Kembali....

Siang itu Mereka berkumpul bersama, dua laki-laki dan tiga perempuan. Seperti biasanya memesan makanan dan minuman favorit masing-masing.
"Bu...! Biasa ya?"
"berapa orang? semua?!?!" nampak salah seorang dari Mereka mengangguk pelan dan melanjutkan percakapan yang sempat terpotong pada sesi pelajaran. Bukannya belajar malah diskusi, pun yang didiskusikan tentang hal-hal yang tidak berkenaan dengan masalah kampus. Pernyataan itu sempat juga terlontar dari salah satu teman Mereka, tapi hal itu tidak diindahkan. Toh segala tugas juga dikerjakan tanpa bantuan orang lain selain anggota dari Mereka sendiri, mengapa harus perduli...!
"uihh, makasih ya bu?? yuk semua" dan masing-masing dari Mereka mengambil bagiannya, sambil mengunyah sempat-sempatnya juga mengeluarkan beberapa patah kata.

Keesokan paginya tak urung juga Mereka bersama, silih berganti menanti yang belum tiba kekampus. Ada hal yang membuat Mereka sering dekat belakangan hari, selain jadwal ujian yang penuh dan mengharuskan Mereka sering berkumpul untuk membahas ujian yang akan dihadapi Mereka juga harus berpuas-puas ria untuk waktu ini karena akan menghadapi masa liburan yang lumayan panjang, ditambah lagi peraturan kampus yang mewajibkan mereka melaksanakan praktek dan mau tidak mau harus berpisah untuk beberapa saat.
"hei, gimana jadi prakteknya?"
"insyaallah, besok aq berangkat"
"keujung dunia ceritanya nih ya?"
"ye....orang keujung pulau kok"
"iyah sama aja" salah satu dari dua dari Mereka angkat bicara dan berbicara. Ya, ada yang praktek dikantor Papanya, praktek ditempat yang pernah dijadikan tempat praktek dan satu diantaranya praktek di Aceh atas pilihannya sendiri. Mereka diterima dan masing-masing sukses dalam hal ini. Walaupun demikian Mereka tidak memutuskan jalur komunikasi satu sama lain.

Beberapa saat setelah masing-masing sibuk dengan prakteknya.
"Eh hantu...susah bener sih dihubungin, udah sombong sekarang yah? jadi apa disana?"
"Lho bukannya situ yang susah dihubungin.."
"Ye...orang aq nelpon sama temenmu selalu nyambung kok, situnya aja yang gak ada."
"He...he... iya-ya, aq jadi operator nih. yah... paling gak nyambung ama kuliah kita,gak kayak yang duduk disana tuh...megang komputer aja tapi gak tau apa yang bakalan dikerjain. He....(seraya tertawa meledek dua bagian dari Mereka yang praktek bersama). Nah kamunya sendiri dibagian apa?"
"Aq??? pokoknya gak kayak kalianlah (sambil mengejek), kayak gak tau aja aq kan paling demen ama yang namanya switching, yah walaupun kemaren penempatannya rada gak nyambung tapi ya sukur aq sekarang ditempatin bagian sentral. Gimana hebatkan?"
"ye.. cantik situ yah? ehmpphhh awas kalo udah pulang kujitak tu kepala"
"ya iyalah, eits..ss gak boleh cemburu gitu donk?"
"iya ngerti, btw kapan pulang? bentar lagikan kita kuliah?"
"mungkin dua pekan Ramadhan, napa mangnya?"
"Loh jadi gak kuliah?"
"kuliah, cuma aq nyusul. Begitu selesai praktek aq langsung kuliah, tenang aja...!!?"
"kami tunggu yah? eh jangan lupa bawa oleh-oleh, beliin aq pisang sale Rp 20.000 nanti aq kasi uangnya belakangan soalnya temen aq doyan banget"
"iyah... udah dulu yah? bengkak nih pulsanya"
"ok da da bye bye"

Seminggu setelah percakapan yang singkat itu.
"Halo kak?"
"eh pa kabar dek? gimana prakteknya, sukseskan?"
"ya gitu deh, alhamdulillah baek2 ja"
"dek udah tau gak kabar temen adek?"
"anak semester 2 yah? udah tau. kecelakaan kan?" salah satu junior Mereka ada yang meninggal karena kecelakaan waktu hendak rekreasi. Tapi berita yang akan disampaikan ternyata tidak disadari bahwa ini tentang kabar salah seorang dari Mereka.
"Bukan? temen adek ada yang tewas kemaren malam........"

"kenapa gak ada yang ngasi tau ke aq? kalian kejam banget...! seolah-olah aq bukan bagian dari kalian.." sambil tersedu ia meluapkan emosinya pada temen perempuannya yang sehari-hari selalu bersama dengan teman lelakinya yang juga bagian dari Mereka.
"bukannya gitu...! aq udah telpon tapi abangmu yang menjawab....*kami udah mencoba telpon kekantormu tapi gak ada yang ngangkat* kamikan gak mau kamu disana terganggu atas insiden ini.."
"Persetan sama kalian semua..."Ia memaki ke semua orang yang ditelponnya yang seolah-olah mendiskriminasikan dirinya. Tapi apa mau dikata semua itu sudah terjadi dan garis takdir tidak dapat diubah.

Kini yang ada dihatinya hanyalah penyesalan kenapa disaat itu ia harus pergi jauh dari kumpulan Mereka, yang selalu menemani kesehariannya dikampus. Justru temannya yang inilah yang mempunyai mimpi yang sama dengan dirinya.
"Ingin Membuktikan Kepada Dunia Bahwa Ia Ada"

Mereka : Andriel - Arie - Ika - Susan - Aq
*To Andriel*
Teman, kitakan punya mimpi yang sama. Tapi kenapa kau mengubur mimpimu dengan ragamu tanpa mewujudkannya terlebih dahulu...? Kaulah inspirasiku untuk tegar. Kaulah yang selama ini kuanggap orang yang bisa kuajak berdiskusi tentang hidup.
Riel, mimpimu akan kuteruskan bersama dengan mimpiku. Damai dan Tenanglah kau dialam sana.
*Ria*
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Thu Oct 16, 2008 11:33 am

.................Selalu Denganmu................

******** Selalu Denganmu *********

Langkah kakiku keluar kian berat menjejak, dan kusadari betapa letihnya aku. Seharian mengurusi program orientasi siswa baru betul-betul memeras selutuh energiku; rasanya sekarang aku hanya ingin cepat pulang, melempar diri ke atas ranjang, lalu tidur terlelap sampai besok pagi.

Baru dua hari selesai dari total lima hari penuh masa orientasi. Masih ada tiga hari penuh keringat dan air mata yang menanti, namun sekujur badanku sudah mulai menjerit-jerit kelelahan. Dan bagaimana bisa si ketua OSIS ceroboh menyebalkan itu masih tega menyerahkan segala tanggung jawab mengurusi acara kebersamaan siswa Jumat nanti kepadaku? As if menjadi pembimbing kelas, pengurus games, dan penghubung tim paduan suara sudah tidak cukup menyita waktu, perhatian, serta tenagaku. Andai saja si bodoh itu punya sedikit saja tempat lebih di otak lemahnya untuk bisa peduli pada penderitaan bawahan tertindas.

Fiuh. Apalah. Yang penting hari ini sudah selesai, dan aku akhirnya bisa pulang. Biarlah masalah itu kupikirkan besok.

Dengan gontai kuseberangi lobi utama lantai satu dengan postman bag favoritku menggantung berat di pundak kanan, mencoba mengusir denyut-denyut mengganggu yang mulai menyerang kepalaku. Keremangan suasana yang familier menyapa penglihatanku. Sudah sore juga rupanya. Selama rapat evaluasi sekaligus beres-beres tadi aku tidak begitu memperhatikan waktu. Kulihat bayangan wajahku membias di salah satu kaca etalase piala yang berdiri disana-sini; ya ampun, aku terlihat berantakan. Rambutku awut-awutan, mukaku pucat, dan ada bulatan hitam menggantung semu di bawah dua mataku.

Aduh. Sudah pusing, capek, jelek, lapar pula. Kusadari aku belum makan apa-apa sejak pagi. Sial. Lebih baik aku bergegas pulang sebelum maag-ku kambuh.

Melewati akuarium ikan besar yang berdiri tegak tepat di samping pintu masuk, sempat kupejamkan mata ketika semilir angin sore lembut menerpa wajahku. Aku selalu suka hembusan angin yang sesekali lewat di daerah lobi, entah mengapa. Dan saat kembali kubuka mata, menatap jauh ke depan, aku terhenti.

Dia. Terduduk diam sendirian di tengah tangga lobi depan. Berpangku tangan, masih dengan setelan putih-birunya, ditemani name tag orientasi norak segitujuh yang tergeletak pasrah bersama ransel biru tua di sisi kirinya.

Tatapanku terkunci pada punggungnya yang lebar, sementara aku melangkah kearahnya bagai tertarik kuat oleh medan magnet tak terlihat. After all this time, aku masih tak bisa menolak pesonanya, yang membuatku tak berdaya. Kesederhanaannya. Begitu tulus, begitu bersahaja.

Aneh. Kenapa dia belum juga pulang?

Dan lidah ini terasa begitu kelu, saat dengan suara bergetar kucoba untuk menyapanya.

“H-hey…”

Hupp. Ia mendongak. Mataku menemui rautnya yang menawan. Rambut pendek acak-acakan. Alis tebal yang menaungi sepasang mata cokelat. Hidung mancung. Bibir bersemu merah muda, merekah sempurna. Dan kulit yang cokelat, terbakar matahari. Sebuah senyum manis kontan melengkapi segala keindahan itu saat ia mengenaliku.

“Hey,” ia balas menyapa, ragu. Suaranya parau, mungkin karena terlalu banyak teriak di sesi permainan tadi.

“Belum pulang?” tanyaku, mencoba terlihat kalem. Meski dalam hati aku setengah mati ingin langsung menerjang dan memeluknya erat-erat.

Ia tertawa kecil sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya, salah tingkah. “Aku… eh, gue lupa bawa kunci rumah,” ucapnya awkward, menghindari tatapan mataku.

Aku ikut tertawa. Kuambil posisi duduk di sebelah kanannya. “Gue?”

Dahinya berkerut. “Ha?”

“Iya. Gue.” Kuangkat alisku, menggodanya. “Well, don’t you mean ‘aku’?”

Ia mendengus, mengangkat bahu. “Kamu yang bilang kita harus jaga jarak di sini,” ucapnya sambil merengut. Duh, lucunya.

“Iya, tapi kan kalo lagi ada orang aja,” jawabku ringan. “Sekarang kan kita sendirian, nggak apa-apa. Lagian nggak enak, kaku-kakuan sama kamu. Pake manggil ‘kakak’ segala lagi. Aneh banget rasanya.”

Kembali ia tergelak seraya mengangguk, walau kubaca masih ada sedikit ragu bercampur cemas membekas di wajahnya.

Diam. Kuarahkan pandang ke depan, menyapu areal parkir sekolah yang hampir kosong dihadapanku. Hanya ada beberapa mobil yang kukenali sebagai kendaraan dinas sekolah masih terparkir disana. Lapangan basket yang terletak tak jauh pun terlihat sepi, tak seperti biasa; segelintir orang yang masih bermain basket disana terlihat berganti-ganti menembakkan bola ke arah ring. Suasana sekolah yang biasanya sibuk terasa amat sunyi di sore hari. Aneh. Tetapi damai.

“Kata teman-temanku, kamu hari ini galak.”

Spontan aku menoleh, menatapnya yang sedang tersenyum nakal dengan pandangan lurus ke depan. Kukerutkan dahi. “Galak? Galak apanya?”

Ia mengangkat bahu. “Nggak tau. Mereka cuma bilang, hari ini kamu lain. Murung terus, jarang senyum, jarang ngomong. Kalau ditanya juga jawabnya sinis. Padahal kemarin kan kamu ramah banget sama semuanya.”

Bayangan wajah si ketua OSIS sialan langsung berkelebat di pikiranku, dan aku pun tersenyum. “Oh, mungkin karena aku lagi sebel sama seseorang kali ya,” ucapku.

“Ha?” Ia tampak kaget. “Sama siapa? Bu-bukan sama aku, kan?”

“Bukan, bukan sama kamu kok,” Kuhela napas panjang. “Ada yang ngasih aku kerjaan tambahan pagi ini, dan aku bingung aja bagaimana cara ngerjainnya.”

“Oh.” Dianggukkannya kepala, lega. “Padahal menurut aku kamu lebih lucu kalau lagi senyum.”

Kudorong bahunya. “Gombal.”

“I’m only being honest here, sweetheart.”

“Whatever. Tetap saja terdengar gombal.”

“Ih.” Rautnya berubah cemberut. “Dibaik-baikin malah ngeledek. Ya udah. Terserah kamu.”

Aku mendelik ke arahnya. “Siapa yang ngeledek?”

“Itu, barusan…” Dipasangnya tampang merajuk. “Ternyata bener. Hari ini kamu galak.”

Kembali diam. Beberapa orang berbaju bebas tak dikenal berjalan melewatiku masuk ke dalam lobi; para alumni yang mau mengambil buku tahunan, mungkin. Tentu saja mereka terrhambat sejenak, dicegat sekaligus ditanya-tanya ketus oleh si satpam wanita menyebalkan yang senantiasa menjagai pintu depan.

Sebuah tawa kecil tak tertahan menyelip keluar dari bibirku. Membuatnya menoleh. “What’s so funny?”

“Tuh, si satpam kepo beraksi lagi,” bisikku.

Ia menoleh ke belakang, melihat orang-orang berbaju bebas tadi sedang adu mulut dengan si satpam. “Whoa. Apa setiap orang yang mau masuk ke dalam gedung sekolah harus melewati tahap itu?” Digelengkannya kepala. “Hari ini udah empat kali aku lihat ada orang nggak dikasih masuk sama dia. Benar-benar sekolah yang aneh.”

“Exactly. Welcome to my world,” Kembali kuhembuskan napas panjang. “I hate to break this to you, honey, tapi kayaknya kamu memilih sekolah yang salah.”

“Mungkin.” Ia mengorek tasnya, mengeluarkan sesuatu yang ternyata adalah sebatang cokelat. Diberikannya cokelat itu padaku yang hanya menatapnya tak mengerti.

“Nih makan, kamu pasti lapar,” ujarnya.

Kuterima cokelat itu dengan bingung. “Kamu… Kok tahu aku lapar?”

Ia tersenyum. “Aku tahu kamu sibuk banget hari ini. Karena sibuk, pasti kamu belum sempat benar-benar makan. Aku kan kenal kamu.”

Kutatap wajahnya. Ada kelembutan di sana, yang kian menggetarkanku, meluluhkanku.

“Thanks…” desahku akhirnya, terharu.

“Anytime. Janji ya, besok walaupun sibuk tetap harus ingat makan.”

“Uhm… Iya, janji.”

Sembari sibuk mengunyah cokelat, sembunyi-sembunyi kucuri pandang ke arahnya, yang masih terduduk manis di sisi kiriku. Aku selalu suka melihatnya dalam balutan kemeja putih dan celana pendek birunya ini. Ia terlihat lucu, childish sekaligus matang. Seakan jejak-jejak kekanakan masih enggan meninggalkannya, walaupun kini ia sudah bisa dibilang beranjak dewasa. Celana pendeknya terlihat kekecilan, begitu juga dengan kemeja putihnya yang kancing paling atasnya dibiarkan terbuka. Angin sore yang masih bersemilir sesekali mengacak-acak rambutnya, mengibarkan ujung kerahnya. Sebuah pemandangan indah yang menggetarkan.

Ah. Jika memang benar ada sesuatu yang bisa dibilang sempurna di seluruh semesta, bolehkah aku menyatakan bahwa dialah kesempurnaan itu? Karena segala hal yang dimilikinya terlihat begitu tak bercela di hadapanku. Manis. Lugu. Irresistible. Charming. Dan bercahaya. Bersinar terang bagai sejuta bintang di langit malam. Mendamaikan hati bak derasnya rinai hujan.

Aku masih ingat sapaan pertamanya di lorong sekolah tiga tahun lalu. Saat dimana aku masih mengenakan setelan putih biru yang serupa dengannya. Sapaan yang dipenuhi suara yang bergetar dan sejuta senyum canggung. Waktu itu, ia nyaris jatuh tertabrak seorang teman yang sedang berlari lewat, karena ia berdiri kaku di tengah-tengah lorong sementara berbicara denganku. Dengan refleks aku sempat menahan pundaknya, mencegahnya jatuh berdebum di lantai. Pandangan kami bertemu, dan sejak saat itulah kurasakan reaksi kimia yang berhasil memercikkan bara cinta antara aku dan dia. Nyala api yang tak padam oleh waktu, namun malah mematangkan esensi. Bukankah itu yang semua orang cari?

Sekarang, saat deru jalannya masa telah lewat berlari cepat, meninggalkan jejak kabur bernama memori, kisah cinta itu masih saja indah bersemi. Hampir tiga putarran musim cerita ini kutulis bersama-samanya. Dan apakah aku bahagia? Ya. Tentu saja.

Seperti saat ini, ketika kuhabiskan soreku duduk berdua dengannya di tangga depan sekolah, menikmati sepoi angin dan lembutnya cahaya matahari yang menerangi.

Tiba-tiba, dalam keheningan yang terjaga baik selama beberapa menit tadi, digenggamnya tanganku.

“Aku senang hari ini,” ucapnya lirih, tulus. “Makasih, ya.”

“Ha?” Kutolehkan kepalaku, bingung. “Senang? Senang kenapa?”

“Karena kamu,” jawabnya.

Aku semakin tak mengerti. “Kenapa karena aku? Aku nggak ngapa-ngapain hari ini. Malah tadi kamu bilang aku hostile. Galak. Whatever. Kenapa karena aku?”

Ia menghela napas. Kembali dirogohnya ransel birunya, mengeluarkan buku catatan harian wajib yang setiap hari harus diisinya. Sebuah prosedur menarik sekaligus unik dari masa orientasi siswa sekolah ini. Dibolak-baliknya halaman demi halaman buku catatan harian bersampul merah tersebut, menemukan sesuatu, lalu diberikannya buku itu kepadaku, masih dalam keadaan terbuka.

“Karena ini,” ujarnya lagi, kembali tersenyum, menyuruhku membaca.

Kuterima buku itu. Kulihat halaman yang membuka. Dan aku tersadar.

Tadi siang, di salah satu sesi siang yang membosankan, aku sempat iseng membuka-buka catatan harian para anggota kelas yang kubimbing. Dan dalam catatan miliknya, di salah satu halaman tengah yang masih kosong, kutulisi beberapa baris penggalan lirik sebuah lagu kenangan berdua. Selalu Denganmu, dari Tompi. Lengkap dengan sebuah smiley imut di pojok kanan, dan deretan huruf ‘ILU’ yang kuukir manis tepat di sebelahnya. Tanpa sadar, aku tersenyum. Aku bahkan lupa kalau aku menulis ini tadi siang; mungkin aku terlalu bosan sekaligus fed up dengan si ketua OSIS terkutuk untuk dapat memfokuskan pikiran.

Kuangkat wajahku, menemui parasnya yang sedang sumringah. Kuangkat alisku, sembari menghela napas panjang, saat sepasang sorot cokelat itu mengunci mataku dalam sebuah tatapan manis, penuh arti.

Aku mencintainya.

Aku sungguh mencintainya.

Aku mencintainya seperti sang rembulan mencintai malam. Seperti matahari mencintai teriknya siang. Aku mencintainya selembut daun-daun kemerahan yang jatuh menumpuk di musim gugur. Sedamai suara debur ombak yang menyapa pasir di garis pantai. Seteguh pohon beringin yang tak bergeming tertiup angin. Seindah titik-titik hujan malam yang turun membasahi tanah.

Dan saat ia berdiri, meraih ransel serta nametag norak segitujuhnya, lalu berbalik menatapku, waktu seakan tersangkut dan berhenti.

“Kamu… Mau kemana?” tanyaku tergagap, tidak siap dengan gesturnya barusan.

Perlahan, diangkatnya bahu. “Where else? Aku mau pulang,” ucapnya. “Udah sore, aku mau istirahat.”

“Tapi, tadi katanya kamu lupa bawa kunci rumah…”

Ia tergelak, mukanya memerah. “Aku… Aku tadi bohong,” desahnya. “Aku cuma mau nungguin kamu, biar bisa ngobrol sama kamu, sebentar, di sini.”

“Ha?” Aku seperti kehilangan kata-kata mendengar kalimatnya. Hatiku diterpa gelombang ketrenyuhan yang amat sangat; aku hanya bisa memandangnya, lembut bercampur haru, sembari tersenyum tulus.

Sebuah tawa kecil pun terselip keluar dari bibirnya. “Sudah ya, aku pulang dulu.”

Kusaksikan sosoknya berjalan gontai menuruni tangga, membiarkanku trerus terdiam terpaku pada punggungnya selagi ia melangkah. Diiringi tiupan angin sore yang menerbangkan ujung kemejanya, menyisir jejak rambutnya, membingkainya dalam satu lagi momen sempurna.

Mengapakah aura itu selalu saja berhasil menghipnotisku, menjadikanku diam tak berdaya di hadapan pesona dirinya?
Mengapakah kehadirannya selalu sanggup menghapus segala keluhkesahku dan membuatku kembali bahagia?

Aku pun tak kuat menahan godaan untuk berteriak memanggilnya sekali lagi. “Hey!”

Ia langsung berbalik, bingung. “Apa?”

“Sampai ketemu besok!” seruku lantang, mengatupkan kedua tangan membentuk corong di sekeliling mulutku sembari tertawa lebar. “Jangan sampai telat lagi ya!”

Tulus, ia ikut tertawa. Memandangku sekali lagi, mengatakan sejuta kata tanpa perlu mengutarakannya dengan barisan kata-kata.

“Iya! Jangan khawatir, sayang…”

…Kaulah matahari dalam hidupku
Dan kaulah cahaya bulan di malamku
Hadirmu s’lalu akan kutunggu
Cintamu s’lalu akan kurindu
Selalu denganmu… Kasihku, slamanya
Selalu denganmu… Cintaku, bersama…
Tahukah kau diriku tak sanggup hidup bila kau jauh dariku?
Kuingin dipelukmu, s’lalu…

*****
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Thu Oct 16, 2008 6:28 pm

********** Kisah Cinta 5 Pemuda Desa ***********

Badu, 17 tahun, cowok tampan namun kurang dewasa. Gelagapan kalau ngomong sama cewek yang belum dikenal. Dan sayangnya, ia jatuh cinta setengah mati pada Rini, 14 tahun, cewek cantik yang angkuh karena gue-paling-cakep-jadi-semua-cowok-pasti-takluk-sama-gue. Rini masih anak SMP yang labil dan mudah berubah-ubah. Sekarang bilang cinta, besok bilang lo siapa?

Badu jatuh hati dan bertekuk lutut di hadapan Rini. Badu yang ganteng dan senior keren pun berhasil memikat hati gadis pujaannya. Hubungan mereka nampak manis, walau kurang seimbang. Badu menjungkirbalikkan dunia demi menyenangkan tuan putrinya. Sedangkan si putri, tersenyum tipis, mengangkat kelingkingnya sebagai tanda terima kasih.

Well… at least mereka tampak bahagia.

Tapi kini sang pangeran mesti pergi, menimba ilmu ke negeri yang jauh. Padahal percintaan mereka baru berjalan tiga bulan! Mana bisa pangeran rela meninggalkan putrinya yang begitu cantik, yang mungkin akan berpaling ke ksatria lain begitu sang pangeran meninggalkannya?

Oh, tapi sang putri berjanji, “Nanti kalau kamu pulang, kita akan berkuda bersama-sama menuju matahari terbenam.”

Dengan setengah hati, sang pangeran pun pergi… sambil berharap sang putri tetap di sini saat ia kembali.



Romi, 18 tahun, sahabat baik Badu. Sama dengan Badu, Romi juga memiliki gadis pujaan. Tapi berlainan dengan Badu, gadis pujaan Romi adalah gadis yang amaaat baik. Soleha. Rajin berdoa. Murah hati. Ramah. Banyak senyum. Pandai. Sederhana. Dan seribu sifat di pelajaran PPKn lainnya. Nama gadis itu Yuli.

Yuli adalah kembang di Desa Permai. Ratusan pemuda berlutut di hadapannya memohon cintanya. Tapi Yuli hanya tersenyum dengan lembut, dan menolak mereka semua tanpa melukai hati mereka. Termasuk Romi pun ditolaknya.

Romi pantang menyerah. Ia berusaha, dengan mencucurkan keringat, air mata, dan darah. Ia mencoba menjadi sahabat Yuli dulu. Perlahan-lahan, batu karang itu pun lunak karena diempas ombak terus-menerus.

Romi tentu bahagia bukan kepalang saat Yuli menerima cintanya. Hubungan mereka pun berlangsung manis selama enam bulan.

Tapi, oh, lagi-lagi alasan yang sama! Sang pangeran mesti pergi ke negeri seberang, menuntut ilmu guna mencari uang. Dan Yuli pun mesti pergi ke desa tetangga, menimba bisa tanpa kenal putus asa.

Mereka pun terpisah sementara, yang satu berlayar naik kapal, yang satu berkereta kuda. Masing-masing pergi dengan harapan di hatinya, semoga hubungan cinta ini masih bisa terjaga.



Lintang juga sahabat Romi dan Badu. Ia juga punya gadis pujaan, yang sudah dipacarinya selama setahun terakhir. Hubungan Lintang dengan Kartika tampak kuat dan indah. Apa sih rahasianya? Oh, karena mereka sudah bersahabat dekat dan berjuang bahu-membahu di tempat ibadahnya—bahkan sebelum mereka mulai pacaran dulu.

Namun kenapa masalah itu datang juga? Lagi-lagi, sang pangeran mesti pergi ke negeri seberang! Negeri tempat segalanya tampak asing dan menyeramkan. Sang pangeran sebenarnya gentar, tapi apa daya, negeri itu mesti ditaklukan.

Pangeran mengayuh perahunya dengan hati penuh tekad. Akan pergi, belajar, dan jadi orang sukses! Lalu aku akan pulang dan membuktikan ke putriku bahwa aku layak mendapatkan cintanya!

Mereka begitu saling mencinta.

Tapi mungkin, aku juga tak tahu, cinta yang terpisah jutaan kilometer itu sulit, bahkan nyaris mustahil.

Sang pangeran pun dengan terpaksa memutuskan tali cintanya. “Maafkan aku, putriku. Tapi aku tak sanggup menjalaninya. Aku terlalu mencintai kamu, dan terpisah darimu menyayat hatiku. Biarlah kini aku berjuang sendirian. Tapi nanti, suatu hari nanti, aku akan kembali! Membawa kotak harta karun itu untuk membangun rumah tangga kita sendiri. Kumohon, nantikanlah aku…”

Namun sang putri tertunduk sedih. “Aku tak tahu, pangeranku. Kalau memang cintamu kuat, kenapa kita tidak bersama-sama berjuang? Kenapa kita harus terpisah sekarang? Aku tak tahu apakah aku masih bisa menunggumu…” air mata sang putri meluncur turun, “hatiku terlanjur berdarah karenamu.”

Ah…

Penonton ingin akhir yang bahagia! Tapi waktu masih terbuka, masih bisa ada jalan untuk mencinta…



Di Desa Permai ada pula satu pemuda lagi. Seorang cowok bertubuh subur, dengan muka lumayan dan selera humor yang besar. Wah, kudanya juga gagah! Putih berkilap, dengan surai yang berkibar-kibar menantang. Dengan modal itu, tak heran Dono dapat berganti gadis paling jelita di Desa Permai secepat berganti baju.

Sebenarnya Dono orang yang baik. Namun sayang, ia terbiasa hidup enak. Orang tuanya kaya raya, yang empunya tiga ladang dan empat tambak udang! Semua kebutuhan Dono pun sudah tersedia; tinggal tunjuk dan bersuara, maka cring! yang diinginkannya pun datang.

Ah, susah ya jadi orang tua. Tidak mencukupi kebutuhan anak, nanti anaknya kurang gizi dan sakit-sakitan. Atau malah bilangnya kurang disayang. Tapi kalau memenuhi semua keinginannya, anaknya jadi manja dan tak tahu berjuang.

Ah, Dono, Dono. Kapan kau akan sadar, Nak? Kapan kau akan membuka matamu, dan menyadari bahwa cewek bukan diciptakan untuk memenuhi keinginanmu? Kapan kau akan sadar, bahwa hubungan cinta itu bukan untuk main-main, yang bisa diputuskan begitu saja saat kau merasa cewek itu tidak lagi sesuai yang kau harapkan? Kapan kau akan sadar, bahwa cinta sejati itu harus diusahakan, bukan datang begitu saja. Oh, Dono… kuharap kau akan menyadari hal itu, tanpa perlu ditampar oleh Yang Maha Kuasa. Karena kadang tamparan itu justru berguna untuk menyadarkan. Istiqfar, Dono, istiqfar…



Oh, tunggu! Masih ada satu pemuda lagi di Desa Permai! Atau kurcaci, tepatnya. Nama kurcaci itu Joel. Oh, jangan terkecoh oleh namanya! Ia sama sekali tak sekeren namanya itu. Joel adalah kurcaci cebol dengan muka penuh tompel. Badannya kurus kering dan kusam. Tapi Joel berhati emas, dengan hikmat yang setara Raja Salomo nan bijak.

Hidup Joel tidak mudah. Sedari kecil, ia harus mencari makan jamur-jamuran di pinggir pohon willow, lalu memasaknya sendiri. Joel terbiasa menutup hatinya, agar tidak ada yang dapat menyakitinya. Mungkin karena itulah, sampai saat ini Joel belum punya pacar. (Atau mungkin karena belum ada yang mau? Ah, jangan berprasangka buruk! Haha…)

Walaupun Joel bersahabat baik dengan Dono, Romi, Lintang, dan Badu yang semuanya sudah punya pacar, ia sendiri tidak merasa perlu buru-buru mencarinya. Oh ya, pernah sekali waktu ia jatuh cinta pada bidadari hutan yang memikat. Tapi itu dulu, duluuu sekali! Kini Joel mau memusatkan perhatiannya untuk memperkaya dirinya sendiri dulu. Bukan dengan emas atau perak, bukan! Tapi dengan roti hidup yang bisa ditemukan di Hutan Albakit.

Jika nanti roti hidup itu telah memulihkan luka-luka hatinya, dan telah mengubahnya menjadi bejana emas yang bersinar, barulah Joel mau membuka hatinya… untuk seorang gadis yang istimewa, yang telah menanti pangerannya dengan setia!



Ah… Dono, Romi, Lintang, Badu, dan Joel. Begitu rumit, begitu kompleks, begitu bervariasinya umat manusia! Bagaimana kelanjutan cerita mereka? Hal itu masih tanda tanya.

Yang jelas, tak sampai tiga bulan kemudian, hubungan Badu dengan Rini putus. Memang tali itu tak terikat dengan kencang; kita tak dapat berharap lebih banyak lagi.

Setahun kemudian, hubungan Romi dengan Yuli juga kandas. Karena penantian itu terlalu lama dan panjang, tak jelas ujung pangkalnya. Tapi mereka masih tetap bersahabat, berharap suatu saat nanti dapat merajut kembali kisah yang sempat terputus.

Sedangkan Lintang masih tetap berjuang, berusaha membuktikan bahwa ia layak mendapatkan cinta putrinya. Sepuluh tahun lagi mereka akan bersatu kembali, siapa tahu?

Dono? Matanya masih dibutakan, oleh harta orang tuanya dan hidupnya yang serba enak. Gadis-gadis jelita masih ada di sekitarnya, menunggu giliran untuk dipacari dan ditinggalkan. Apakah nanti ia akan sadar, tidak ada yang tahu. Only time can answer that…

Sedangkan Joel? Ia masih terus mencari roti hidup di Hutan Albakit. Dengan api di hatinya yang tak kunjung padam, bahwa pencarian ini layak dilakukan.

Umur Desa Permai masih panjang. Masih akan ada banyak kisah di sana. Kisah cinta, kisah persahabatan, kisah pencarian, dan kisah perjuangan umat manusia. Selama Desa Permai masih tetap permai, selalu ada kisah untuk diceritakan…
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
dwikoe
Camat
avatar

Lokasi : cedak kebun Raya Bogor
Reputation : 1
Join date : 19.06.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Mon Oct 20, 2008 11:48 am

aku tak melu moco2 wae....

sopo ngerti dadi inspirasi.....
Kembali Ke Atas Go down
http://www.elsppat.or.id
siti rahayu
Camat
avatar

Lokasi : Blok F 48
Reputation : 13
Join date : 25.07.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Mon Oct 20, 2008 11:57 am

terlalu panjang ceritanya...bacanya pusing...

_________________
Cheisya Ramadhani Maulana
Ganapatih Naradatva Maulana
Kembali Ke Atas Go down
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Tue Nov 11, 2008 11:51 am

Cintamu-Sebening Embun Pagi

Seorang gadis bernama Lila, semenjak lulus kuliah tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Belum lagi sebagai bungsu ke empat bersaudara dia satunya yg belum menikah. Padahal calon sih sudah ada, tapi laki2 itu ada di negri sebrang entah kenapa lelaki itu belum melamarnya.
Kondisi ini di perparah dengan delapan keponakannya yg lebih suka merepotkan dirinya dari pada kedua orang tua mereka.
Segalanya harus dihadapi Lila sendiri, karena kedua orang tuanya sudah tidak ada dan kakaknya sibuk dengan pekerjaan masing hingga lupa mengurus anak2 dan adik bungsunya (Lila).

Di tengah kesunyian dan kegalaun, hanya ada sati Cinta yang Sebening Embun Pagi.

Untuk menyimak novelnya ada di Cintamu Sebening Embun Pagi


Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Fri Dec 05, 2008 12:07 pm

Wah kok rung ono sing urun cerpen yoo..... Amiiiin
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
siti rahayu
Camat
avatar

Lokasi : Blok F 48
Reputation : 13
Join date : 25.07.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Fri Dec 05, 2008 1:41 pm

nek urun cerpen..entuk hadiah ora kih?

_________________
Cheisya Ramadhani Maulana
Ganapatih Naradatva Maulana
Kembali Ke Atas Go down
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Tue Dec 09, 2008 11:26 am

siti rahayu wrote:
nek urun cerpen..entuk hadiah ora kih?

Tak keki hadiah mbak, tenang wae percoyoo ro aku.... ajib ajib ajib .

Gek nuliso, sak karepmu nek iso crito opo waelah....Basing2 bae.. ajib
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
siti rahayu
Camat
avatar

Lokasi : Blok F 48
Reputation : 13
Join date : 25.07.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Tue Dec 09, 2008 11:28 am

Wonosingo Ngali Kidul wrote:
siti rahayu wrote:
nek urun cerpen..entuk hadiah ora kih?

Tak keki hadiah mbak, tenang wae percoyoo ro aku.... ajib ajib ajib .

Gek nuliso, sak karepmu nek iso crito opo waelah....Basing2 bae.. ajib

gek arep crito opo kih yo.....

_________________
Cheisya Ramadhani Maulana
Ganapatih Naradatva Maulana
Kembali Ke Atas Go down
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Tue Dec 09, 2008 11:31 am

siti rahayu wrote:
Wonosingo Ngali Kidul wrote:
siti rahayu wrote:
nek urun cerpen..entuk hadiah ora kih?

Tak keki hadiah mbak, tenang wae percoyoo ro aku.... ajib ajib ajib .

Gek nuliso, sak karepmu nek iso crito opo waelah....Basing2 bae.. ajib

gek arep crito opo kih yo.....

Crito kisah cintamu yo rapo2, crito kisah cintane wong wonosari.com malah apik.

Pokoke aku manut ro critamu...... Bagoos Bagoos Bagoos
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Thu Dec 11, 2008 2:02 pm

Cintamu Terlalu Muda

Cahaya rembulan menembus pohon-pohon randu di sekitar ladang. Suara jangkrik bersahutan merayakan kegembiraan malam yang terang.

"Dita, would you marry me...?" bisik Paijo di telinga Dita.

"Jo, kamu serius......?, atau kamu hanya kumbang yang hanya manis kala mengharapkan bunga", sergah Dita penuh tanda tanya.

" Aku serius Dita, aku akan segera melamarmu kalau engkau setuju untuk menjadi istriku..."

dan segera malam berlalu....................................

Dita kena grounded 1 bulan, rahasianya ketahuan sudah, dia pacaran dengan Paijo, anak pedagang kelontong tetangga RT-nya. Sehari2 hanya nangis saja....., bukan karena rindu Paijo tapi karena bosen di rumah.

"Assalamu alaykum......", bel berbunyi tepat pagi ke-27 Dita dikurung.

buru2 Dita lari mau membuka pintu, kesempatan untuk melihat orang luar selain dari ibu bapaknya, pikirnya.

"Masuk .....Dita...", teriak ayahnya.

Dita mendelik karena takut, dia kembali ke belakang....tapi diam2 mencuri dengar siapa tamu yang datang. Paijo dan orang tuanya datang untuk melamar Dita......

"Anak saya tidak akan saya serahkan kepada orang yang tidak bisa membahagiakannya, pergi.....!!!!!!" suara bapak Dita terdengar lantang.

Dita tahu pasti lamaran itu pasti ditolak, alasannya pasti karena Paijo tidak kaya lah, Paijo kurang berpendidikan lah, Paijo belum punya rumah sendiri, dan beribu alasan lain.

Malamnya Paijo mengurung diri di kamarnya, gelap....gelap....hanya gelap yang dirasakannya.

Menjelang subuh, Paijo sudah berkemas2, tekadnya sudah bulat, dia akan lari dari kampungnya, malu...malu sekali. Dia malu jadi orang miskin, malu jadi orang tak berpendidikan, malu hidup di kampungnya sendiri, kampung yang dulu sangat dicintainya.

"Saudara2, demi generasi mendatang yang lebih baik, korupsi, kolusi, dan koncoisme, harus dieliminasi dari negara kita tercinta ini" teriak seorang gadis cantik mengakhiri orasinya, mahasiswa-mahasiswa lain tampak puas atas orasinya.

Turun panggung, tangan gadis itu ditarik sama pemuda berambut gimbal dan diajak ke pinggir lapangan.

"Dita, ada yang mencarimu, katanya pacar kamu...!!!, cerocos si gimbal.

"Busyet dah, pacar gue.....gue gampar loe macem2...!!!" Dita merasa terusik atas ulah si gimbal.

"Yah, loe dibilangin gak percaya, tuh anaknya nungguin loe di pintu gerbang kampus."si gimbal jengkel sambil ngeloyor pergi.

Dita yang kepanasan habis orasi tambah jengkel saja, sudah jengkel sama pejabat2 Indonesia yang kerjanya cuma merusak bangsa, ditambah lagi ada yang ngaku2 jadi pacarnya dia, tanpa sepengetahuannya lagi, ketemu aja belum pernah pikirnya.

Sambil bersungut2 dia bergegas ke pintu gerbang kampus, kampus yang telah membuat dia lebih memahami derita rakyat dan derita kaum lemah, suatu hal yang tidak pernah dirasakannya dalam keluarganya yang berada.

"Heh, loe......., sapa loe ngaku2 jadi pacar gue, blon pernah nyungsep ke got loe...", Dita langsung nyerocos begitu ketemu cowok yang dimaksud si gimbal.

"Tenang Dita...", jawab cowok itu tenang.

"Tenang, tenang.......tenang nenek moyang loe..., kalo ngajak berantem jangan beraninya sama kaum hawa doang."Dita nyerocos lagi nggak berhenti.

"Dita yang manis..."cowok itu mulai bicara pelan dan halus, membuat Dita agak sungkan, apalagi dia dibilang manis, dia mulai mendengarkan.

"Hurry up, I am listening..." gertak Dita

"Kamu memang nggak berubah dari dulu, tapi kamu nggak akan pernah bisa galak denganku.."ucap cowok itu dengan penuh percaya diri.

Dita tambah penasaran, belagu amat cowok ini pikirnya.

"Heh, loe gak usah bertele2, apa maksud kedatanganmu..., cepet bilang sebelum aku kehilangan kesabaran..."

"Kamu inget temen mainmu waktu kecil yang punya garis kecil di atas bibir atasnya, yang sering nyuri mangga tetangga bersamamu...?."cowok itu mencoba meredakan kemarahan Dita dengan pertanyaan.

Dita berpikir keras, mencoba mengingat kembali masa lalu pahitnya yang berusaha dia kubur dalam2. Masa lalu dalam kediktatoran keluarga, suatu hal yang amat dia benci dan dia tentang habis2an saat ini bersama teman2 mahasiswa seluruh negeri.

"Kamu......, Kamu...., Paijo...!!!!!." Dita terbata2

Cowok itu mengangguk. Dita lemas lunglai, serasa terasa lagi seluruh syarafnya karena kaget.

Beberapa hari berlalu..............

"Dita, setelah kupikir matang, aku akan menyuntingmu, kalau dirimu bersedia menjadi pendamping hidupku...?," Paijo dengan hati2 memberanikan diri meminta Dita untuk menikah, walaupun dia takut kalau Dita sudah tidak mencintainya lagi. Dita mungkin berubah pikirnya, sudah jadi gadis metropolitan.

"Tapi Paijo, ortuku pasti gak setuju, kamu masih ingat kejadian waktu itu kan....?,"sanggah Dita dengan wajah sedih.

"Aku sadar hal itu, tapi yang akan berumah tangga itu kita, asal kita saling mencintai, kita akan bersama2 mewujudkan cita dan cinta kita yang telah kita impikan dulu.., kita nikah dengan wali hakim.."ujar Paijo sungguh2.

Dita linglung, dia harus memilih antara cinta dan orang tua, sebuah pilihan pahit, peribahasa "If there are two choices, choose the third one" tidak berlaku lagi sekarang. Pilihannya benar2 cuma dua, Paijo atau orang tua.

Setelah kusut semalam itu karena banyak pikiran, Dita akhirnya memutuskan memilih Paijo, pilihan yang pahit sebenarnya, tapi dia tak bisa mengingkari kalau dia masih mencintai Paijo, terbukti dia belum pernah sekalipun begitu sreg dengan cowok2 yang mengejarnya walaupun mereka ganteng dan kaya, setelah sekian lama pisah dengan Paijo.

Pernikahan dilangsungkan sederhana di masjid kampus, sangat sederhana, hanya dihadiri teman2 terdekat saja.

Setelah menikah, Paijo dan Dita tinggal di satu kontrakan, selain untuk mengirit ongkos, mereka berencana membeli rumah sederhana dari tabungan mereka selama ini.

Mereka sama sekali tak mau mengemis pada orang tua, hal yang tabu dalam pandangan mereka. Merepotkan mereka lagi setelah kerepotan2 mereka sejak mereka dilahirkan.

Paijo bekerja sebagai redaktur sebuah harian ibukota sebagai cerpenis dan pencipta puisi, sekaligus menyalurkan hobinya sejak kecil. Dengan uang seadanya, mereka mencoba bertahan hidup di ganasnya kehidupan ibu kota.

Setahun sudah berlalu.......

Dengan menghisap rokoknya dalam2, Paijo berpikir keras...belum satu puisipun terhasilkan dari sibuknya di depan komputer hari ini. Pikirannya kalut dan bingung, Dita hamil..., kontrakan sebentar lagi habis, musti diperpanjang, apalagi penerbitan puisinya tinggal lusa.

Dia memandang Dita yang ketiduran di sampingnya, wajah ayu tanpa dosa yang setia menemani perjalanan hidupnya. Dia tidak habis pikir kadang, anak konglomerat yang mau membagi hidup dengan orang kecil seperti dia.

Jarum jam berdentang 2 kali, dan satu puisipun terselesaikan. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi......Paijo tertidur..

Paijo terbangun, matahari dengan garang membelai mukanya yang kusut, jendela telah terbuka, dia mencium bau mie goreng kesukaannya, rupanya Dita telah masak. Tapi dia kaget setengah mati, komputernya telah mati, padahal dia belum menyimpannya di file.

"Dita..............!!!!!!!!"Paijo berteriak keras.....

"Ya.........!!!!" jawab lembut Dita dari belakang.

"Siapa yang mematikan komputer..?"Paijo berteriak keras, merah mukanya tanda marah.

"Saya, kan Mas Jo tidur malam tadi.." jawab Dita masih sibuk dengan masakannya.

"Kamu tahu, aku harus menyelesaikan puisi itu dan besok akan terbit, dan saya belum menyimpannya, kamu keterlaluan Dita, tidak tanya2 aku dulu", Paijo menuju ke belakang dengan bersungut2.

"Itu puisi untuk membayar kontrakan, untuk membayar makan, apa kamu nggak ngerti...?"

"Ya, tapi kan saya tidak tahu kalau belum disimpan Mas..."

"Tapi kamu kan harus tanya dulu..., kamu memang keras kepala...., sudah salah membantah terus.., kamu tidak pernah berubah Dita.." Paijo mulai kehilangan kontrol atas omongannya.

Dita mulai berubah air mukanya mendengar ucapan Paijo, air mata mulai meleleh di pipinya. Dita pergi ke kamar dan menguncinya. Paijo hanya bisa melenguh memandangi jalanan kota Jakarta yang sibuk dan penuh polusi. Dia duduk lagi di depan komputer, mengingat2 lagi apa yang ditulisnya tadi malam. Sejam berlalu......

Pintu kamar berderit...

"Ternyata orang tuaku benar, kau tidak bisa membahagiakan aku, kau hanya bermain dengan khayalanmu, bermain dengan puisi2mu, tidak ada gunanya lagi aku bersamamu, kau tidak pernah mengerti aku, aku tidak mau mati dalam filosofi2 dalam otakmu itu, aku mau pulang ke orangtuaku..., selamat tinggal Jo..!!!", dng membawa sebuah tas jinjing Dita segera melesat pergi.

Paijo melongo, bingung mau berbuat apa, rasanya tidak percaya, kata2 yang keras dan cepat, sedikitpun tak ada waktu menjawabnya...

Dita segera hilang ditelan tikungan jalan, hilang di antara2 bajaj dan mobil2, Paijo menggigil.........gadis cantik itu telah pergi, tak meninggalkan apapun.................................................................................. kecuali sesal.

Sumber:http://amienstein.tripod.com/id52.html
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
rmlodang
Camat
avatar

Lokasi : Kayangan junggring saloko.
Reputation : 12
Join date : 12.08.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Thu Dec 11, 2008 2:05 pm

Aku yo urung moco, ning mesti masalah cinta meneh kie....

gek hayoo ngangkring disik kang...aku agi jatuh cinta karo bakule angkringan kie... ngakak ngakak
Kembali Ke Atas Go down
http://maryoto_metal@yahoo.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Thu Dec 11, 2008 2:13 pm

rmlodang wrote:
Aku yo urung moco, ning mesti masalah cinta meneh kie....

gek hayoo ngangkring disik kang...aku agi jatuh cinta karo bakule angkringan kie... ngakak ngakak

Weeeeh jan kowe kuwi dang, aku wis gur ndereke thok....
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
rmlodang
Camat
avatar

Lokasi : Kayangan junggring saloko.
Reputation : 12
Join date : 12.08.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Sat Dec 27, 2008 10:14 am

Wonosingo Ngali Kidul wrote:
rmlodang wrote:
Aku yo urung moco, ning mesti masalah cinta meneh kie....

gek hayoo ngangkring disik kang...aku agi jatuh cinta karo bakule angkringan kie... ngakak ngakak

Weeeeh jan kowe kuwi dang, aku wis gur ndereke thok....


Rumangsaku kaet mbiyen gur nderek terus to?

angger weis entuk an kie....SAK WENE KIYENG TEBAR PESONA KIE.
Kembali Ke Atas Go down
http://maryoto_metal@yahoo.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Tue Dec 30, 2008 10:16 am

rmlodang wrote:
Wonosingo Ngali Kidul wrote:
rmlodang wrote:
Aku yo urung moco, ning mesti masalah cinta meneh kie....

gek hayoo ngangkring disik kang...aku agi jatuh cinta karo bakule angkringan kie... ngakak ngakak

Weeeeh jan kowe kuwi dang, aku wis gur ndereke thok....


Rumangsaku kaet mbiyen gur nderek terus to?

angger weis entuk an kie....SAK WENE KIYENG TEBAR PESONA KIE.

Lha jelas to, karang nek ono angkringan mosok ra entuk2an....wong aku entuk walang...

Nek tebar pesona, gek tebar pesona sing kepiye, wong bakule angkringan karo lirak-lirik...
Haaaa wedi to aku Dang...gek kowe sing malah mesam-mesem ro bakuli..piye jal mosok aku rep rebutan ro kowe...

KAn yo ra lucu, mending yo kwoe wae sing gek gandrung2e wae... dance dance dance dance

Suk tak terke maneh ben kowe pendektane iso mantep, gek sesuk nek ngangkring mas gareng ro mas pri tak jaki...opo perlu kakangamu yo tak sambtai nembung ro bakule kuwi??? ngakakk ngakakk ngakakk
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Wed May 02, 2012 4:06 pm

Paijem merantau ke kota Jakarta

“Jem, kowe wis mantep nduk mau merantau ke Jakarta?” kata Mboke sambil ngelap inguse hehehehe”
“Mantep neh Mbok, masak gadis di kampung tani, itu ndeso namanya. Jakarta nanti Paijem akan banyak duit di Jakarta. “Omonge Paijem optimis”. Lihat Pak De sudah punya rumah kerjaan bagus, tiap bulan uang ngalir dari kantornya. Pokoknya tuh Paijem nanti kerja kantoran Mbok, yang penting do’akan aja ya! Paijem dengan mantap, sungkem ke Mbok-Bapake.
Dengan langkah optimistis yg tinggi hehehehe, berangkatlah sang gadis desa ke Jakarta meraih mimpi (=kayak lagu “mimpi Manis”).
Naik bus AC eksekutif hasil dari jual kambing punya Mboke satu”nya hehehehehe.
So, terik panas menyengat macet gak beraturan. Paijem 5 bulan di Jakarta sudah bekerja, tapi bukan kantor yg di harapkan untuk tempat kerjanya. Tapi sebagai pelayan di sebuah toko milik Tionghoa. Pak De yang menampungnya tetap menyemangati klo kerja di rantau itu harus sabar dan ulet pantang menyerah.
Semangat 45, ayo kamu bisa Jem hehehehe
Belum genap setahun Paijem dah dapet kenalan cowok betawi yg pingin deket ama die hehehehe logat dikit betawi_nye.
Cowoknya anak Babe yg punya komplek wilayah situ jadi Paijem aman gak di ganggu preman” kampung, PP skrng anter jemput free hahahahaha.

bersambung ahhhh..............
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
wiwid
HanSip
avatar

Lokasi : Dunia Maya
Reputation : 19
Join date : 09.08.09

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Thu May 03, 2012 7:13 pm

wah..
ceritane nanggung2 kih, wis koyo sinetron bae nganggo acara bersambung segala..

huft
Kembali Ke Atas Go down
http://www.wonosari.com/forum
erwan efendi
Koordinator
avatar

Lokasi : Indramayu Asli Ngleri Playen GK Ngayogyokarto Hadiningrat
Reputation : 2
Join date : 14.05.09

PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   Thu May 03, 2012 10:22 pm

bersambung lakone sejen ngikik

_________________
From :


FB = http://www.facebook.com/erwan.efendi

Blog 1 = http://artimagesq.blogspot.com/
Blog 2 = http://websfendyc.blogspot.com/
Blog 3 = http://blo99uru.blogspot.com/

Web's Fendy'c

Trim's
Kembali Ke Atas Go down
http://blo99uru.blogspot.com/
Sponsored content




PostSubyek: Re: Berbagi Cerita2 Pendek   

Kembali Ke Atas Go down
 
Berbagi Cerita2 Pendek
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Teras Nongkrong-
Navigasi: