Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 ( Cerbung ) Lintang Kemukus

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Thu Nov 20, 2008 4:33 pm

Lintang kemukus dini hari
Oleh Ahmad Tohari
Diterbitkan oleh Gramedia, 1985
Buku asli dari Universitas Michigan
11 Sep 2006 didigitalkan
211 halaman

Berbentuk novel adapun sampul depannya:



Episode 1
Dukuh Paruk masih diam meskipun beberapa jens satwanya sudah terjaga oleh pertanda datangnya pagi. Kambing-kambing mulai gelisah dalam kandangnya. Kokok ayam jantan terdengar satu-satu, makin lama makin sering. Burung sikatan mencecet-cecet dari tempat persembunyiannya. Dia siap melesat bila terlihat serangga pertama melintas dalam sudut pandangnya. Dari sarangnya di pohon aren keluar seekor bajing karena tercium bau lawan jenisnya. Mereka berkejaran. Dahan-dahan bergoyangan. Tetes-tetes embun jatuh menimbulkan suara serempak. Seekor codot melintas di atas pohon pisang. Tepat di atas daun yang masih kuncup, binatang mengirap itu mendadak menghentikan kecepatannya. Tubuh yang ringan jatuh begitu saja ke dalam lubang kuncup daun pisang itu.

Jangkrik, gangsir, dan walang kerik sudah lama bungkam. Gangsir menyembunyikan diri dalam liang di tanah yang disumbat dari dalam. Walang kerik membaurkan diri dengan warna hijau dedaunan. Dia hanya bisa diketahui bila ada embusan angin. Pada saat itulah naluri memerintahkannya menggesekkan sayap sehingga terjadi suara yang khas.

Ada sebatang pohon jambu air di salah satu sudut Dukuh Paruk. Dalam kerimbunan daun-daunnya sedang dipagelarkan harmoni alam; beratus-ratus lebah madu dengan ketekunan yang menakjubkan sedang menghimpun serbuk sari. Sayap-sayapnya mendengungkan aneka nada halus dan datar, mengisi kelengangan pagi yang masih temaram. Tanah di bawah pohon jambu itu memutih oleh hamparan beribu-ribu tangkai sari. Bau wangi tanah, suara lembut sayap-sayap lebah madu dan pendar embun yang mulai menangkap cahaya dari timur.

Pucuk-pucuk nyiur dan rumpun bambu menerima kehangatan pertama pagi hari. Pancaran cahaya matahari adalah tenaga yang setiap kali membangunkan Dukuh Paruk dengan menyingkap kabut yang menyelimutinya. Dua puluh tiga rumah di pedukuhan kecil itu mulai hidup. Terdengar rengek anak-anak yang terjaga dan langsung merasa lapar. Seorang perempuan keluar menjemur kain yang basah kena ompol bayinya. Suaminya juga keluar halaman dengan tujuan berbeda. Laki-laki itu menjambret daun pisang kering untuk menggulung tembakau. Ada orang jongkok di balik semak. Tangannya mengibas mengusir agas yang merubung kepalanya. Dukuh Paruk sudah terjaga.

Bersambung.......
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
dedik cahyono
Camat
avatar

Lokasi : Jakarta
Reputation : 0
Join date : 11.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Thu Nov 20, 2008 10:34 pm

sing tetengok lagi ngopo yo?;'>,@#$%^&*(

_________________
sak beja-bejane wong lali, iseh bejo wong kang eling lan waspodo
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ciriajasa.com
4lief4
Koordinator
avatar

Lokasi : njakarta
Reputation : 0
Join date : 03.06.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Mon Nov 24, 2008 8:00 pm

Bersambung kapan ya
Kembali Ke Atas Go down
kinda
KorLap
avatar

Lokasi : ellesmera
Reputation : 3
Join date : 07.06.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Mon Nov 24, 2008 8:23 pm

-menyimak-
Kembali Ke Atas Go down
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Tue Nov 25, 2008 6:08 pm

dedik cahyono wrote:
sing tetengok lagi ngopo yo?;'>,@#$%^&*(

LAgi nyawang endahe swasono mas.........arp melu thethengok po???

kinda wrote:
-menyimak-
4lief4 wrote:
Bersambung kapan ya

Nyoh ki tak sambung maneh..........

Gek ojo do begijikan.......................

Hanya sebuah rumah yang masih sepi. Rumah itu mempunyai ukuran yang paling kecil di Dukuh Paruk. Penghuninya tunggal, seorang nenek yang sudah linglung. Meskipun sudah bangun, perempuan tua itu belum hendak beranjak dari tempat tidurnya, termangu-mangu dengan matanya yang kelabu. Dalam genggamannya ada beberapa keping uang logam. Dia tidak tahu siapakah yang telah menaruh uang itu di bawah bantalnya. Nenek Rasus itu memang linglung, sudah lama linglung.
Tidak seperti biasa, beberapa hari lamanya nenek Rasus tidak tinggal seorang diri di rumahnya. Pagi itu pun dia tidak seorang diri. Seorang perempuan muda yang paling berharga di Dukuh Paruk masih tergolek di atas balai-balai dalam bilik sebelah. Srintil masih menyambung mimpi setelah menempuh malam yang paling berkesan bersama Rasus.
Seberkas sinar matahari menembus dinding bambu, lurus seperti kristal maya jatuh di pipi Srintil. Lingkaran terang yang hanya seluas uang logam mampu menyingkap rona hidup di pipi ronggeng Dukuh Paruk itu. Rambutnya yang hitam, meskipun begitu kusut, memantulkan kilau yang lembut. Ketika rona terang itu akhirnya bergerak ke arah mata, Srintil berada dalam batas jaga. Irama napasnya mulai tak teratur, bulu matanya bergerak-gerak. Akhirnya terdengar desah panjang ketika Srintil menggeliat perlahan-lahan.
Peralihan dari alam tidur ke alam jaga berlangsung sementara kelopak mata Srintil belum terbuka. Bola mata bergulir-gulir di dalam pelupuknya. Kemudian tercipta sebuah lekuk yang bagus di kedua sudut bibir Srintil. Kesadaran telah merayapinya, kesadaran bahwa lintasan hidupnya sedang memasuki batas waktu di mana Srintil merasa dirinya larut dan menyatu dengan Rasus.
Karena Srintil tidur dalam posisi miring ke arah tepi balai-balai, maka ia tetap percaya masih ada seseorang di sampingnya. Tangan kanannya digerakkan ke arah belakang dengan keyakinan yang bulat bahwa jemarinya akan jatuh ke atas sebidang dada laki-laki. Tetapi yang kemudian terasa di ujung jarinya adalah dinginnya tikar pandan. Dicobanya meraba lebih jauh. Dan kosong.
Srintil cepat bangkit dan menoleh ke belakang Didapatinya dirinya tak berteman dalam bilik yang lengang itu. Mula-mula Srintil menduga, atau berharap, Rasus masih berada di sekitar rumah sedang berhajat di belakang misalnya, Namun perasaan buntu tiba-tiba menguasai dirinya setelah Srintil melihat tak ada satu pun barang milik Rasus yang tertinggal.
Dalam bilik sebelah Srintil mendapati nenek Rasus duduk hampir tanpa gerak kecuali kembang-kempis dadanya yang tak kentara. Atau sepasang mata kelabu yang bergulir ketika melihat Srintil datang.
"Di mana Rasus, Nek?"
"Apa?"
"Rasus, cucumu! Di manakah dia sekarang?"
"Si Rasus di mana?"
"Iya."
"Rasus? Jadi Si Rasus sudah pulang?"
"Oh, Nenek pikun. Nenek linglung. Nenek tidak melihat ke manakah Rasus pergi?"
Sesaat lamanya perempuan itu kembali dalam sikap tanpa gerak. Kemudian menjulurkan tangan ke arah Srintil. Telapak tangan dibuka. Beberapa keping uang logam ada di sana. Srintil menatapnya tidak mengerti. Dan putus asa. Berbalik, menarik daun pintu dengan kasar, lalu keluar. Dicarinya tempat dari mana dia bisa memandang dengan sempurna ke arah pancuran. Rasus tidak kelihatan. Dilongoknya pekarangan kosong tempat orang-orang Dukuh Paruk biasa jongkok di balik semak. Hampa. Yang kelihatan oleh Srintil adalah sepasang burung sikatan yang sedang sibuk menyambar-nyambar lalat hijau.

Selanjutnya bersambung ke episode 2
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
dedik cahyono
Camat
avatar

Lokasi : Jakarta
Reputation : 0
Join date : 11.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Wed Nov 26, 2008 1:10 am

Quote :
Quote :
sing tetengok lagi ngopo yo?;'>,@#$%^&*(

LAgi nyawang endahe swasono mas.........arp melu thethengok po???

kirain lagi kosentrasi menghimpun tenaga...
lha rep melu ra di jak'e mas..

_________________
sak beja-bejane wong lali, iseh bejo wong kang eling lan waspodo
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ciriajasa.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Wed Nov 26, 2008 12:32 pm

Lho yo nek aku ki, ngejaki no.......Wis gek kapan ayo jagongan......karo ndelok Lintang Kemukus.......Opo arep notong Lintang Panjer Rino wae...... ngakakk .

Nek jagongan yo kudune perlu golek telo bakar no... ajib
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
dedik cahyono
Camat
avatar

Lokasi : Jakarta
Reputation : 0
Join date : 11.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Wed Nov 26, 2008 10:27 pm

enak'e telo pendem digodok, wedhange teh pait...
jan uenak tenan...

nggonku ono teko poci karo teh pecut nggowo winggi
tapi telone durung tuku jew... ajib

_________________
sak beja-bejane wong lali, iseh bejo wong kang eling lan waspodo
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ciriajasa.com
4lief4
Koordinator
avatar

Lokasi : njakarta
Reputation : 0
Join date : 03.06.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Wed Nov 26, 2008 10:48 pm

Jenenge Srintil ngakak
Kembali Ke Atas Go down
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Thu Nov 27, 2008 10:02 am

dedik cahyono wrote:
enak'e telo pendem digodok, wedhange teh pait...
jan uenak tenan...

nggonku ono teko poci karo teh pecut nggowo winggi
tapi telone durung tuku jew... ajib

Yo ayo......kapan enake, aku manut, ok KAng dedik??? ajib ajib ajib ajib
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Fri Nov 28, 2008 5:45 pm

Bersambung..............

Episode 2
Akhirnya Srintil menatap jauh ke seberang sawah yang sangat luas. Di sana Dawuan mulai memperlihatkan sosoknya. Kabut tipis yang menyelamuti Dawuan mengambang naik karena hangatnya sinar matahari. Dawuan dengan pasarnya. Dawuan dengan markas tentaranya di bamah pimpinan Sersan Slamet, kepada siapa Rasus pergi menggabungkan diri. Bagi Srintil, Dawuan kini berubah menjadi sosok yang angkuh.
"Oh, jadi begitu," pikir Srintil yang ingin menolak kenyataan bahwa Rasus telah meninggalkannya bahkan tanpa pamit. Dalam perkiraan ronggeng Dukuh Paruk itu semua laki-laki adalah dari jenis yang sama, yang bisa demikian gila hanya karena ingin hidup bersamanya barang satu-dua malam, tak peduli apa pun yang menjadi nilai tukarnya. Sulam, Lurah Pecikalan atau bahkan Bapak Siten Wedana adalah sebagian kecil deretan nama laki-laki yang runduk di bawah kibasan sampur Srintil. Dan ronggeng itu merasa heran mengapa ada seorang lelaki dari jenis lainnya. Dengan keakuan yang tegar laki-laki itu lari menghindar. Boleh jadi Srintil takkan bersedih hati bila laki-laki itu bukan Rasus.
Hingga beberapa saat lamanya Srintil tetap berdiri diam. Dibiarkannya nyamuk-nyamuk belirik yang beterbangan mengelilingi tubuhnya. Beberapa ekor hinggap menghisap darah di kaki Srintil. Seekor lainnya hinggap di belakang telinga dengan perut yang makin lama makin menggantung penuh darah. Rambut di atas dahinya basah oleh kabut pagi yang mengembun. Matanya mengambang.
Dua orang anak dengan tubuh telanjang menatap Srintil dengan heran. Mata kedua anak itu adalah mata sekalian orang Dukuh Paruk yang tidak pernah berharap melihat seorang ronggeng menangis. Ronggeng bagi dunia Dukuh Paruk adalah citra sekaligus lambang gairah dan sukacita. Keakuannya adalah tembang dan joget. Perhiasannya adalah senyum dan lirikan mata yang memancarkan semangat hidup alami, semangat yang sama yang telah menerbangkan burung-burung dan memekarkan bunga-bunga. Jadi, ronggeng adalah dunia sukaria dan gelak-tawa.
Kedua anak yang bertelanjang badan itu mengundurkan diri. Mereka membawa pertanyaan yang muskil: mengapa seorang ronggeng bisa menangis?
Tentu saja hanya Srintil sendiri yang bisa merasakan dirinya sedang ditarik ke luar dari keakuannya. Ada yang menelanjanginya, entah siapa dia, sehingga Srintil sedikit demi sedikit mengenal dirinya dari sisi lain. Bukan sebagai perempuan milik bersama sebuah tatapan melainkan seorang perempuan dalam arti yang paling bersahaja. Dia yang merasa tidak utuh tanpa kepastian seorang laki-laki berada dalam hidupnya; dalam hatinya dan dalam kamar tidurnya. Atau bila benar bahwa dunia yang besar ini berisi berjuta-juta dunia kecil dan dalam setiap dunia kecil itu berisi seorang laki-laki dan seorang perempuan. Srintil hanya merindukan yang kecil itu. Sebuah dunia kecil tanpa Rasus sungguh tak bisa dibayangkan oleh ronggeng Dukuh Paruk itu.
Dukuh Paruk tidak memerlukan waktu lama buat menyadari apa yang sedang terjadi atas diri Srintil. Hari berikutnya, pedukuhan kecil itu sudah hangat oleh celoteh orang-orang perempuan. Perhatian mereka tertuju kepada Srintil yang kini lebih suka diam merenung dan menyendiri. Semuanya tahu bahwa keadaan Srintil tidak bisa dipisahkan dengan Rasus yang telah meninggalkan Dukuh Paruk dan bergabung kembali dengan kelompok tentara pimpinan Sersan Slamet.
"Eh, dengar! Pernahkah terjadi seorang ronggeng mabuk kepayang terhadap seorang lelaki?" kata seorang perempuan yang bersama dua temannya sedang mencari kutu di bawah pohon nangka.
"Sepanjang yang kudengar tak ada cerita demikian," jawab perempuan kedua. "Yang baku, seorang laki-laki tergila-gila kepada ronggeng karena ronggeng memang dibuat untuk menarik hati laki-laki. Dia tidak boleh terikat kepada seorang pun. Lha, bagaimana kalau dia sendiri dimabuk cinta demikian?"
"Ya, Srintil memang aneh. Nah, kalau sudah terjadi demikian maka Nyai Kartareja yang bersalah."
"Nyai Kartareja?"
"Iya. Kalau Nyai Kartareja berhati-hati dalam mendampingi Srintil, takkan terjadi begini. Dia mengabaikan kewajiban karena terlalu bernapsu. Srintil disuruhnya melayani sebanyak mungkin laki-laki tanpa menghiraukan adanya hari-hari pantangan, terutama pada hari kelahiran Srintil sendiri. Memang Nyai Kartareja ikut menjadi kaya. Nah, namun begini jadinya."
"Sebetulnya aku bisa mengerti mengapa Srintil senang terhadap Rasus. Pokoknya tak ada yang salah. Persoalannya bila Srintil terus murung dan menolak kembali naik pentas, Dukuh Paruk jadi sepi. Itu saja yang kusayangkan."
"Tetapi aku masih percaya kepada suami-istri Kartareja. Kalau mereka bisa memasang guna-guna sehingga banyak laki-laki gandrung terhadap Srintil, mengapa mereka tidak mampu memutus tali asmara antara ronggeng itu dengan Rasus?"
Ucapan yang terakhir ini memang tidak berlebihan. Kalau ada orang yang paling khawatir tentang keadaan Srintil, tentulah dia Nyai Kartareja bersama suaminya. Mereka sungguh tidak rela anak asuhannya jatuh hati kepada Rasus atau kepada laki-laki lain mana pun. Lebih-lebih lagi bila Srintil sampai berpikir tentang sebuah rumah tangga yang hendak dibangunnya. Martabat mereka sebagai dukun ronggeng berada dalam taruhan, dan, sumber penghasilan mereka yang subur terancam bahaya.
Maka Nyai Kartareja harus berbuat sesuatu. Tali asmara yang mengikat Srintil kepada Rasus harus diputuskan. Mula-mula Nyai Kartareja mencari sebutir telur wukan. Telur ayam yang tertinggal dalam petarangan karena tidak bisa menetas itu diam-diam ditanamnya di salah satu sudut kamar tidur Srintil. Mantera pemutus asmara dibacakan.
Niyatingsun matak aji pamurung
Hadi aing tampean aing cikaruntung nantung
Ditarbuan boeh sana, manci rasa marang
Srintil marang Rasus
Kene wurung kana wurung, pes mimpes dening
Eyang Secamenggala
Pentil alum cucuk layu, angen sira bungker
Si Srintil Si Rasus
Ker bungker, ker bungker kersane Eyang Secamanggala
Ker bungker, ker bungker kersane Sing Murbeng
Dumadi



Bersambung...........
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Fri Nov 28, 2008 5:47 pm

4lief4 wrote:
Jenenge Srintil ngakak

Ojo ngguyu ra ilok seru2 ngguyumu kuwi..... :cry: :cry: :cry:
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Tue Dec 02, 2008 12:21 pm

Lanjutan..........

Episode 3

Adalah matera; susunan kata-kata yang menyalurkan sugesti dan kekuatan alam melalui jalur nonfisika dan bebas dari hukum-hukum tentang energi maupun mekanika yang biasa. Kekuatan itu tak terelakkan kecuali oleh kekuatan lain yang segaris namun berlawanan arah. Dan, mantera yang dipasang oleh Nyai Kertareja secara tak sengaja telah mendapat tandingannya. Yaitu ketika suatu malam Srintil ingin kencing. Karena malas keluar kamar Srintil memilih salah satu sudut kamar tidurnya sebagai tempat melepas hajat. Di sana ada bagian lantai yang gembur bekas cungkilan baru. Adalah layak bila Srintil menganggap bagian tanah tersebut bisa dikencingi karena cepat meresap air, tak peduli di tempat itulah Nyai Kartareja menanam telur wukan yang telah dimanterainya. Tanpa disadarinya Srintil melumpuhkan mantera yang ditujukan kepadanya.
Sudah dua kali Srintil menolak naik pentas. Perbuatan yang sangat mengecewakan suami-istri Kartareja dan terutama orang yang mengundangnya, oleh Srintil hanya diberi dalih enteng: malas!
Tetapi Srintil tidak malas melakukan perbuatan yang lucu di mata orang-orang Dukuh Paruk; bercengkerama dengan anak-anak gembala yang kebanyakan masih bertelanjang badan. Tanpa canggung Srintil ikut berlari-lari menghalau kambing. Atau duduk di bawah pohon dan membantu anak-anak gembala membuat layang-layang dari daun gadung. Srintil bisa menyatu dengan kegembiraan anak-anak yang menjadi lebih ceria karena mendapat teman bermain istimewa. Mula-mula anak-anak gembala itu merasa rikuh namun akhirnya mereka cepat akrab.
"Dulu saya juga seperti kalian, senang bermain-main di tegalan sambil menggembala kambing," kata Srintil. Tangannya sibuk membuat mainan baling-balik dari daun kelapa.
"Kakak juga pintar menangkap capung dengan getah nangka?" tanya seorang anak.
"Ah, itu gampang. Kalau mau dengan getah nangka malah bisa menangkap burung kedasih," jawab Srintil dengan gaya seorang ibu yang bijak.
"Pernah seperti ini?" kata seorang anak lainnya yang membawa tahi sapi kering yang membara sebagian. Di atas bara itu ada seekor jarigkrik yang sedang dibakar. Srintil tersenyum.
"Oh, tentu saja. Aduh, gurih nian jangkrik bakar itu, bukan?"
"Kakak mau? Silakan ambil."
"Boleh?"
"Ambillah!"
Anak-anak memperhatikan dengan minat yang penuh ketika Srintil mengunyah jangkrik yang dibakar dalam bara tahi sapi kering itu. Semacam lambang keakraban, dan anak-anak gembala itu bersorak-sorai. Seorang yang paling besar di antara mereka maju mendekati Srintil. Di tangannya ada bambu seruas.
"Benar juga, Kakak rupanya dulu suka bermain-main seperti kami. Tetapi apakah Kakak bisa menebak isi tabung ini?"
"Gangsir," jawab Srintil setelah mencoba berpikir.
"Bukan."
"Buah salam."
"Bukan."
"Kepik hijau."
"Bukan."
"Nah, aku menyerah."
"Betul?"
"Ya."
Anak gembala itu membalikkan tabung hingga isinya jatuh ke tanah. Srintil menjerit dan melompat, tepat seperti gadis kecil yang ketakutan. Seekor ular angon merayap bebas setelah sekian lama terkurung dalam tabung bambu. Sekali lagi terdengar sorak-sorai anak-anak gembala. Srintil mengejar si Nakal, mencubit pahanya. Anak itu meringis, namun kelihatannya dia tidak menyesal bila Srintil terus mencubitnya.
Suatu ketika Srintil merasa benar-benar ingin menyendiri. Jenuh mendekam dalam kamarnya ronggeng itu keluar menuju tepian dukuh. Di sana, di bawah pohon nangka Srintil dahulu menghabiskan sebagian besar waktu bermainnya. Dipungutnya selembar daun yang jatuh lalu diremasnya. Aneh, Srintil merasa ada sesuatu yang terlampiaskan ketika daun yang tak bersalah itu remuk dalam genggamannya.
Tidak jauh dari tempat itu dua ekor anak kambing melompat-lompat dalam gerakan yang amat lucu. Kemudian mereka berlomba mencari selangkangan induknya buat menetek. Ulah kedua kambing itu kelihatan kasar. Tetapi induk mereka membiarkan tetek yang menggembung penuh daya hidup itu diperah dan disodok-sodok. Srintil memperhatikan perilaku induk dan anak itu tanpa kedipan mata. Srintil tersenyum. Kali ini senyumnya disertai oleh kontraksi kelenjar teteknya sendiri serta rangsangan aneh pada urat-urat sekitar rahim. Tiba-tiba hasrat hendak memeluk seorang bayi mendesaknya demikian kuat. Hampir pada saat yang sama rasa cemas karena mungkin Nyai Kartareja dengan caranya sendiri telah mematikan indung telur dalam perut Srintil membuat ronggeng itu sesak napas. Perang yang seru terjadi dalam dadanya yang ditandai dengan sepasang garis basah yang turun dari mata ke pipi Srintil. Ada sebuah pertanyaan yang buat kali pertama muncul di hatinya; mengapa diriku seorang ronggeng? Pertanyaan itu datang dari perkiraan Srintil; kalau dia bukan seorang ronggeng Rasus takkan meninggalkannya dengan cara begitu saja.
Khayalan Srintil terkacau oleh deru sepeda motor yang memasuki Dukuh Paruk. Di kecamatan Dawuan dan sekitarnya hanya ada dua kendaraan seperti itu. Yang satu milik siten wedana, lainnya milik Marsusi, seorang kepala perkebunan karet Wanakeling. Siapa pun di antara keduanya yang bersusah payah datang ke Dukuh Paruk, rasanya hanya untuk satu tujuan. Srintil tertegun sejenak lalu bangkit dan berjalan mengendap-endap menjauhi rumahnya. Pelarian kecil itu berakhir di puncak bukit pekuburan Dukuh Paruk yang menerimanya dalam kesunyian.
Ada celeret melayang dari satu pohon ke pohon tanpa suara. Ada kucica betina sibuk membawa kapuk bunga gelagah untuk bantalan sarangnya. Di dekat sebuah batu nisan seekor tabuan sedang menarik-narik ulat besar yang sudah dilumpuhkannya. Dan Srintil terkejut ketika terdengar suara tokek dari bubungan cungkup makam Ki Secamenggala.

Episode 4
Kelengangan pekuburan Dukuh Paruk menjadi ibu bagi seorang anak yang ingin memahami apa yang sedang melintas dalam hidupnya. Srintil mengadukan kebuntuan rasanya kepada berjenis-jenis anggrek liar yang menempel pada tubuh batang beringin besar, kepada relung-relung pakis yang berjumbai-jumbai di lereng curam atau kepada terotok kayu mati yang dipatuk burung pelatuk. Santunan mereka yang demikian ramah membuat Srintil merasa betah tinggal di tempat yang tersembunyi itu hingga matahari terbenam nanti atau bisa lebih lama lagi. Dalam kelengangan di pekuburan itu alam mengajaknya bicara banyak-banyak melalui bau tanah dan wanginya bunga kemboja. Melalui denging agas yang mengitari kepalanya atau melalui kelembutan lumut yang menutupi batu-batu lembab. Srintil larut dalam haribaan ibunya, merasa dimengerti dan dimanjakan. Khayalannya bcbas mengawang dan akan terus melayang-layang apabila tidak datang seseorang yang mengusiknya.
"Srin, pulang. Ada tamu."
Srintil terkejut sebelum kesadarannya pulih. Tanpa menoleh ke arah sumber suara dia tahu siapa yang datang.
"Pulang, Srin. Kau ditunggu," ulang Nyai Kartareja dengan suara tanpa tekanan memerintah. "Kau harus tahu siapa tamumu kali ini; Pak Marsusi, kepala perkebunan karet itu."
Srintil mengerdip tanda mengerti.
"Nah, ayo pulang."
"Aku belum ingin pulang," jawab Srintil tanpa emosi.
"Eh, jangan begitu, Wong Ayu," kata Nyai Kartareja sambil mengatur dirinya duduk di samping Srintil. "Kamu tak boleh menyepelekan tamu. Apalagi tamu kali ini bukan sembarang orang."
"Ya, tetapi aku tidak ingin pulang."
"Kalau aku menjadi kamu, Srin, aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini. Menggonceng motor ubluk bersama Pak Marsusi ke kota. Pelesir ke mana-mana, nonton bioskop misalnya. Kau belur pernah melihat tontonan itu, bukan? Kepada Pak Marsusi kau bisa minta dibelikan barang-barang. Nah, bagaimana kalau kau minta kalung seperti yang dipakai istri lurah Pecikalan?"
"Sudahlah, Nyai. Pulanglah dulu. Aku akan menyusul kemudian. Aku mau mandi dulu."
"Bagus. Wong Ayu. Tetapi betul, ya. Kamu kami tunggu."
Srintil mengangguk ringan.
Diperhatikan induk semangnya yang sedang berjalan menuruni bukit pekuburan Dukuh Paruk. Tak lama kemudian Srintil pun ikut turun. Bukan mengikuti jalan Nyai Kartareja, melainkan jalan lain yang tidak menuju pancuran atau menuju rumahnya. Srintil melangkah cepat ke arah jalan yang membawanya keluar dari Dukuh Paruk. Langkahnya cepat dan panjang-panjang. Kepada orang-orang yang kebetulan berpapasan Srintil hanya tersenyum atau mengangguk ringan. Sampai di pematang yang menuju Dawuan, Srintil mempercepat jalannya. Matahari yang sudah melewati titik kulminasinya menyiram ronggeng itu dengan pancaran terik yang menyakitkan kepala. Srintil terus berjalan, terkadang sambil mengangkat tangan kirinya untuk mengurangi terik matahari ke arah wajahnya.
***
Di rumahnya Nyai Kartareja mulai merasa was-was karena ternyata Srintil tidak segera mengikutinya pulang. Marsusi, laki-laki berusia lima puluhan, sudah gelisah di tempat duduknya. Caping wol stetson sudah beberapa kali dipasang di kepala dan dilepas lagi tanpa tujuan tertentu. Akhirnya Marsusi keluar mengambil sesuatu di bagasi motornya. Sebuah botol persegi dibawanya masuk. Penantian yang menggelisahkan harus ditemani jenewer, pikirnya. Minuman keras itu ditenggak langsung dari botolnya.
"Sampean tadi mengatakan Srintil ada di rumah. Lalu manakah dia?" tanya Marsusi sambil meletakkan botolnya dengan agak kasar.
Nyai Kartareja menyembunyikan kebimbangannya di balik senyum ramah.
"Betul, Pak. Tadi Srintil berkata hendak mandi dulu. Ah, anak ini. Ke mana dia?"
"Coba susul lagi. Bila benar sedang mandi mengapa bisa demikian lama?" ujar Kartareja.
"Nanti dulu," kata Marsusi yang kelihatan tidak sabar karena menunggu Srintil sekian lama. "Sampean berdua yang memelihara Srintil di sini, bukan?"
"Benar, Pak."
"Lalu? Apa kalian kira aku datang kemari buat duduk-duduk nganggur seperti ini? Katakan saja; Srintil sedang dipakai orang lain atau Srintil sedang pergi entah ke mana! Jangan biarkan aku jadi gusar, orang Dukuh Paruk!"
Kartareja hanya bisa menoleh kiri-kanan. Bibirnya bergerak-gerak namun tak sepatah kata pun terdengar. Bahkan kemudian dukun ronggeng ini duduk membeku dengan mata melukiskan rasa takut ketika Marsusi bangkit dan mendekat. Caping wol dibantingnya ke atas meja.
"Sampean berdua ini orang dukuh yang tidak tahu diuntung! Aku tidak pernah lupa bahwa semacam sampean ini mendapat rejeki dari orang seperti saya ini. Nah! Mengapa sampean berdua jadi banyak tingkah? Sekarang jawab pertanyaanku; bisakah kalian membawa Srintil kemari sekarang juga? Kalau tidak, mampus saja. Jangan coba-coba menjadi dukun ronggeng!"
Apabila Kartareja makin membeku oleh kekasaran Marsusi maka lain halnya dengan istrinya. Nyai Kartareja mempunyai seribu pengalaman menghadapi laki-laki dan dunianya. Dari yang masih bocah sampai yang perjaka, dari yang baru belajar mengenal perempuan sampai yang sudah matang seperti yang sedang gusar di hadapannya itu. Atau karena pekerjaan seorang istri dukun ronggeng yang ternama ialah mengerti secara tepat situasi hati seorang laki-laki yang datang kepadanya, menampung keluh-kesahnya, menyalurkan renjananya dan meredam emosinya. Demi keberhasilan pekerjaannya Nyai Kartareja tak pernah meninggalkan resep; seorang laki-laki yang datang kepadanya, meski yang sudah beruban sekalipun akan dianggapnya sebagai bayi. Bayi yang mudah terlena oleh kelembutan nina-bobo dan mudah diakali dengan senyum yang teduh serta bujukan manis.

Bersambung........
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
dedik cahyono
Camat
avatar

Lokasi : Jakarta
Reputation : 0
Join date : 11.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Tue Dec 02, 2008 9:18 pm

Wonosingo Ngali Kidul wrote:
dedik cahyono wrote:
enak'e telo pendem digodok, wedhange teh pait...
jan uenak tenan...

nggonku ono teko poci karo teh pecut nggowo winggi
tapi telone durung tuku jew... ajib

Yo ayo......kapan enake, aku manut, ok KAng dedik??? ajib ajib ajib ajib

Kapan2 menawi dolan teng bekasi mampir padepokan kulo mas...
nangging namung sempit, namine taseh ngontrak...

_________________
sak beja-bejane wong lali, iseh bejo wong kang eling lan waspodo
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ciriajasa.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Wed Dec 03, 2008 2:32 pm

dedik cahyono wrote:
Wonosingo Ngali Kidul wrote:
dedik cahyono wrote:
enak'e telo pendem digodok, wedhange teh pait...
jan uenak tenan...

nggonku ono teko poci karo teh pecut nggowo winggi
tapi telone durung tuku jew... ajib

Yo ayo......kapan enake, aku manut, ok KAng dedik??? ajib ajib ajib ajib

Kapan2 menawi dolan teng bekasi mampir padepokan kulo mas...
nangging namung sempit, namine taseh ngontrak...

Cocok mas Dedik, masalah papan ki nek aku ra rak mbedak2ke...aku dewe wae rung duwe omah, kuwi wae ijih nunut.

Yo, mengko aku nek ning bekasi tak mampir.....nek karo Tambun ngendine??? Kiro2ne aku rep dolan ning nggone liku jek kapan2 ki....
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
dewalangit
Officer
avatar

Lokasi : Jl.jogja-wnsari km 20 Patuk.Dhaksinargha Bhumikarta.
Reputation : 39
Join date : 20.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Wed Dec 03, 2008 9:43 pm

Wouw,...bagus ceritanya,..bisa diambil nilai yang ada didalam nya,.. ajib

_________________
Dengan Ilmu hidup jadi mudah
Dengan Seni dan Cinta hidup jadi indah
Dengan Agama hidup jadi terarah
Dengan smart & smile hidup jadi bergairah


FB
Kembali Ke Atas Go down
http://www.saeahchim.co.kr/
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Thu Dec 04, 2008 11:30 am

Sip mas..... Amiiiin
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
rmlodang
Camat
avatar

Lokasi : Kayangan junggring saloko.
Reputation : 12
Join date : 12.08.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Thu Dec 04, 2008 6:03 pm

4lief4 wrote:
Bersambung kapan ya


Seik seik seik
Atik angger seing cerito Wonosingo dirimu kok ura sabaran to.....

Mbok seing sabar ngunuh lho ura usah grusa grusu mundak ura becik dadine....

keeee....dadi keder to mbah singo anggone mbacutke ceritane...


MERDEKA KANG HE HE HE ngakak ngakak
Kembali Ke Atas Go down
http://maryoto_metal@yahoo.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Thu Dec 04, 2008 6:06 pm

rmlodang wrote:
4lief4 wrote:
Bersambung kapan ya


Seik seik seik
Atik angger seing cerito Wonosingo dirimu kok ura sabaran to.....

Mbok seing sabar ngunuh lho ura usah grusa grusu mundak ura becik dadine....

keeee....dadi keder to mbah singo anggone mbacutke ceritane...


MERDEKA KANG HE HE HE ngakak ngakak

Lha jelas tooo, njur kepiye nek ra keder....Karang nek d tunggu ki marake semrepet lan keduten terus...gek ahwane ki kemrungsung ra anteng2 no lehe nerusake....

MElakne nek d gondeli ki ra apik no...
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
siwid
Donatur
avatar

Lokasi : nomaden
Reputation : 21
Join date : 04.04.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Thu Dec 04, 2008 7:29 pm

nek tak print oleh kan bos? ngko trus tak jilid. ajib

_________________
Syarat biar punya kawan memang sederhana. Modalnya, mau menerima kawanmu apa adanya. Itu saja!
Kembali Ke Atas Go down
dedik cahyono
Camat
avatar

Lokasi : Jakarta
Reputation : 0
Join date : 11.07.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Thu Dec 04, 2008 10:08 pm

Wonosingo Ngali Kidul wrote:
dedik cahyono wrote:
Wonosingo Ngali Kidul wrote:
dedik cahyono wrote:
enak'e telo pendem digodok, wedhange teh pait...
jan uenak tenan...

nggonku ono teko poci karo teh pecut nggowo winggi
tapi telone durung tuku jew... ajib

Yo ayo......kapan enake, aku manut, ok KAng dedik??? ajib ajib ajib ajib

Kapan2 menawi dolan teng bekasi mampir padepokan kulo mas...
nangging namung sempit, namine taseh ngontrak...

Cocok mas Dedik, masalah papan ki nek aku ra rak mbedak2ke...aku dewe wae rung duwe omah, kuwi wae ijih nunut.

Yo, mengko aku nek ning bekasi tak mampir.....nek karo Tambun ngendine??? Kiro2ne aku rep dolan ning nggone liku jek kapan2 ki....

padepokan kulo penere wingking pasar tambun mas...
masuk'e lewat gang dekat polsek bekasi utawi samping sekolahan kanan jalan saking pasar tambun arah cikarang...

menawi badhe pinarak paring wartos rumiyen njeh mas, masalahe kulo kadang2 makaryo menawi dinten minggu menopo dinten libur..
(maklum Pekerja serabutan)

_________________
sak beja-bejane wong lali, iseh bejo wong kang eling lan waspodo
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ciriajasa.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Fri Dec 05, 2008 11:40 am

siwid wrote:
nek tak print oleh kan bos? ngko trus tak jilid. ajib

RA po2 mas Siwid, malah apik kuwi.....

Dadi matur suwun banget aku....... ajib ajib ajib ajib ajib


dedik cahyono wrote:
Wonosingo Ngali Kidul wrote:
dedik cahyono wrote:
Wonosingo Ngali Kidul wrote:
dedik cahyono wrote:
enak'e telo pendem digodok, wedhange teh pait...
jan uenak tenan...

nggonku ono teko poci karo teh pecut nggowo winggi
tapi telone durung tuku jew... ajib

Yo ayo......kapan enake, aku manut, ok KAng dedik??? ajib ajib ajib ajib

Kapan2 menawi dolan teng bekasi mampir padepokan kulo mas...
nangging namung sempit, namine taseh ngontrak...

Cocok mas Dedik, masalah papan ki nek aku ra rak mbedak2ke...aku dewe wae rung duwe omah, kuwi wae ijih nunut.

Yo, mengko aku nek ning bekasi tak mampir.....nek karo Tambun ngendine??? Kiro2ne aku rep dolan ning nggone liku jek kapan2 ki....

padepokan kulo penere wingking pasar tambun mas...
masuk'e lewat gang dekat polsek bekasi utawi samping sekolahan kanan jalan saking pasar tambun arah cikarang...

menawi badhe pinarak paring wartos rumiyen njeh mas, masalahe kulo kadang2 makaryo menawi dinten minggu menopo dinten libur..
(maklum Pekerja serabutan)

Wooo yoo, reti aku daerahmu....sesuk2 kapan2 tak dolan.... ajib ajib ajib
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Tue Dec 09, 2008 12:31 pm

Bersambung...........

Episode 5

"Aduh. Nak, eh, Pak. Benar jugalah bila sampean menjadi gusar semacam ini. Kami pun bisa mengerti mengapa sampean kehilangan kesabaran. Ini semua karena kesalahan kami. Sampean dari rumah membawa kejenuhan atau kegemasan yang seharusnya segera cair di rumah ini. Ya, ya. Pokoknya kehendak seorang priyayi seperti sampean pasti akan kami utamakan. Masalahnya, Srintil yang sampean kehendaki masih kekanak-kanakan. Ah, sampean jangan lupa; Srintil masih demikian hijau. Maka siapa pun yang menghendaki kesegarannya harus sedikit bersabar."
"Dengar, Pak. Srintil masih segar seperti kecambah," sambung Nyai Kartareja sambil menyentuh dada Marsusi dengan lembut.
"Saya tidak mencari perempuan lumutan," kata Marsusi. Nada bicaranya jatuh pada tempo yang rendah.
"Nah! Kecambah itu kami sediakan buat sampean. Soalnya kini terletak kepada kesabaran sampean itulah karena Srintil sudah beberapa hari merajuk."
"Nanti dulu. Me-ra-juk?"
Hening. Nyai Kartareja membiarkan pertanyaan Marsusi buat sementara mengawang. Andaikan Marsusi tahu bahwa senyuman Nyai Kartareja yang kelihatan begitu wajar adalah sebuah taktik profesional. Atau setidaknya, senyum itu menandakan Nyai Kartareja telah merasa membuat langkah awal yang tepat untuk menguasai keadaan.
"Inilah susahnya momong seorang ronggeng cantik tetapi masih kekanak-kanakan. Bayangkan, Pak. Srintil sedang menuntut kalung seperti yang dipakai oleh istri lurah Pecikalan; sebuah rantai emas seberat seratus gram dengan bandul berlian. Seorang priyayi seperti sampean, kalau mau, tentu bisa memenuhi keinginan Srintil itu. Nah, bagaimanakah dengan kami yang melarat ini. Oh, Srintil. Mentang-mentang cantik mudah saja dia memberi beban berat kepada kami."
"Hm," lenguh Marsusi. Hanya itu.
Yang terjadi kemudian adalah tawar-menawar yang berlangsung dalam keheningan. Nyai Kartareja merasa dirinya berada di atas angin. Langkahnya telah berhasil melumpuhkan murka Marsusi sekaligus menempatkan laki-laki itu dalam selmah taruhan harga diri. Perhitungan istri dukun ronggeng itu terbukti cermat. Marsusi memang bukan laki-laki kemarin sore yang tidak tahu akan adanya maksud tertentu dalam kata-kata Nyai Kartareja. Masalahnya Marsusi kini merasa secara tidak langsung diperbandingkan hanya dengan seorang lurah. Martabatnya sebagai priyayi kepala perkebunan terusik. "Seorang priyayi seperti sampean, kalau mau, tentu bisa memenuhi keinginan Srintil," itulah kata-kata Nyai Kartareja yang melecut hati Marsusi.
"Hm," lenguhnya lagi.
Marsusi kembali ke tempat duduknya. Ditenggaknya minuman keras yang masih tersisa. Wajahnya beringas oleh pengaruh alkohol atau oleh kerusuhan dalam hatinya. Dalam hati dia mengutuk Nyai Kartareja yang telah memasang pemerasan terselubung. Aneh, Marsusi tak kuasa mendobrak jebakan halus itu, bahkan menerima apa adanya sebagai tantangan. Dipasangnya caping dengan tergesa-gesa kemudian Marsusi bangkit.
"Aku mau pulang, Nyai!"
"E, lho?" ujar Nyai Kartareja pura-pura kaget.
"Yah, bagaimana lagi bila Srintil ngambek seperti itu," sela suaminya.
"Nanti dulu, Pak. Tak ada pesan buat Srintil? Besok lusa sampean mau datang lagi, bukan?"
Marsusi yang sudah duduk di atas sepeda motornya menoleh. Cuping hidungnya bergerak-gerak. Sorot matanya menyala. Gejolak emosinya disalurkan ke kaki yang menggenjot mesin kuat-kuat. Harley Davidson sisa masa perang itu menderu dan laju diiringi tatapan mata anak-anak Dukuh Paruk yang penuh kekaguman.
Nyai Kartareja menjatuhkan pundaknya. Lega. Sekarang dia bukan hanya merasa telah mengatasi kemarahan Marsusi yang gagal berjumpa dengan Srintil, melainkan sekaligus menjebak laki-laki itu dalam sebuah tantangan.
"Kita main tebak-tebakan, Ki," kata Nyai Kartareja kepada suaminya.
"Aku berani bertaruh; besok atau lusa Pak Marsusi akan kembali kemari. He-he. Seratus gram kalung emas dengan bandul berlian; tantangan yang pantas buat Pak Marsusi. Apa katamu, Ki?"
"Kamu ini bagaimana? Pikir dulu di mana sekarang Srintil," jawab Kartareja dingin tetapi tandas.
Ada perubahan yang nyata pada wajah Nyai Kartareja. Dia tersadar akan masalah yang justru di hadapan matanya. Karena bimbang Nyai Kartareja tak mampu meneruskan kata-katanya. Tidak lama, karena kemudian wajah perempuan itu kembali cerah.
"Ah, kukira Srintil berada di rumah kakeknya sekarang. Aku akan pergi ke rumah Sakarya."
"Aku ikut," kata Kartareja sambil meraup tembakaunya.
"Nah, ayolah!"
Di rumah Sakarya, suami-istri dukun ronggeng itu mendapatkan kenyataan yang mengecewakan. Srintil tidak berada di sana. Bahkan keduanya mendapat teguran Sakarya yang bernada meminta pertanggungjawaban. Kemudian datang seorang tetangga yang mengatakan melihat Srintil berjalan tergesa-gesa ke luar dari Dukuh Paruk.
"Apa sampean berdua tidak mengerti semua ini terjadi karena ada sesuatu antara cucuku dan Rasus?" kata Sakarya, nadanya menuduh. "Dua kali sudah Srintil menampik panggilan naik pentas. Kini dia malah minggat. Bagaimana ini?"
Nyai Kartareja mendan ludah. Dia teringat akan telur wukan yang ditanamnya diam-diam dalam bilik Srintil. Heran, mengapa kali ini ikhtiarnya tidak mempan.
"Nanti dulu," sela Nyai Sakarya. "Apabila Srintil suka kepada Rasus, apa salahnya kita membantu agar mereka bisa kawin?"
Sakarya diam. Kakek Srintil itu menangkap kebenaran dalam kata-kata istrinya. Pada dasarnya Sakarya merasa mempunyai seorang cucu yang menjadi istri tentara tak perlu ditolak oleh siapa pun di Dukuh Paruk. Namun bagi Sakarya masalahnya memang tidak begitu mudahnya.
"E, lha!" ujar Kartareja tertuju kepada Nyai Sakarya. "Tentu saja tak ada yang salah bila Srintil kawin dengan Rasus. Itu bila cucumu tidak menjadi ronggeng pengemban nama Dukuh Paruk."

Episode 6
"Lalu sampean, Sakarya," kata Kartareja ganti kepada kakek Srintil. "Jaga jangan sampai sampean mempunyai pikiran seperti istri sampean. Ingat kewajiban sampean sebagai pemangku dan kamitua anak-cucu Ki Secamenggala di dukuh ini. Tanggung jawab sampean tidak membenarkan sampean mementingkan kepentingan sendiri."
Sakarya terbatuk dan mengangguk.
"Ya. Tetapi sampean berdua harus berusaha membawa kembali Srintil. Kalian harus menemukan Srintil di mana pun sekarang dia berada."
"Baik. Aku sanggup mencari dan menemukan Srintil," kata Nyai Kartareja penuh kepastian.
"Nah, begitulah. Namun hati-hati. Sampean tak boleh berlaku kasar terhadap cucuku meskipun dia telah merepotkan kita," ujar Nyai Sakarya.
"He, kapankah aku menyakiti cucu sampean? Bahkan, siapakah yang telah membuat Srintil kini mampu memiliki harta dan perhiasan sekian banyak? Sampean menyuruhku berhati-hati. Tetapi sampean sendiri tidak berhati-hati dalam berkata!"
"Sudah, sudah!" suara Kartareja dan Sakarya terdengar hampir bersamaan.
***
Matahari masih terik ketika Srintil turun dari andong di depan pasar Dawuan. Titik-titik keringat di pucuk hidungnya. Tengkuk dan pipinya segar dan hidup, memberi kesan kulit seorang anak usia sepuluh tahun. Bahwa Srintil sebenarnya tidak siap mengunjungi pasar terlihat dari roman mukanya yang beku serta pakaian dan rambutnya yang demikian acak-acakan.
Namun dalam keadaan demikian keremajaan Srintil kelihatan wajar. Kalaulah ada sesuatu yang menodainya, maka hanya orang-orang yang sangat berpengalaman yang bisa mengetahuinya. Lihatlah kedua pangkal alis ronggeng itu yang mulai turun masuk ke cekungan rongga mata. Bagi orang-orang yang sangat berpengalaman hal itu adalah tanda bahwa seorang perempuan betapapun muda usianya, sudah memasuki keaktifan kehidupan berahi.
Setelah membayar ongkos andong, Srintil tidak segera memasuki pasar melainkan hanya membuat beberapa langkah ke tepi jalan. Belum sekaii pun Srintil kelihatan begitu canggung dan asing di pasar Dawuan. Dia tetap berdiri di tepi jalan hingga beberapa waktu lamanya. Tatapan matanya kosong, tanpa makna.
Biasanya kedatangan Srintil di pasar Dawuan menimbulkan gairah yang spontan. Orang-orang lelaki bersiul-siul atau membuat seloroh erotik. Orang-orang perempuan mengintip tangan, telinga, atau leher Srintil untuk mengetahui adakah perhiasan-perhiasan baru di sana. Kemudian menyusul celoteh spekulasi; gendak Srintil kali ini adalah si Anu atau Bapak Anu, pangkatnya ini atau kerbaunya sekian belas.
Tetapi hari itu orang-orang pasar Dawuan banyak menahan diri. Srintil memasuki pasar dengan mendung membayangi wajahnya. Mulutnya terkatup dengan garis bibir datar lurus. Pangkal alisnya bertemu pada lipatan di tengah dahi. Dalam kesan keseluruhan Srintil siap menampik segala bentuk seloroh dan senda-gurau.
Orang-orang melihat Srintil dengan pandangan mata mengandung tanda tanya. Perempuan-perempuan saling berbisik. Celoteh ringan mulai terdengar dari sudut-sudut pasar.
"Ada apa, dunianya kelihatan gulita?" kata perempuan pedagang ubi kepada rekan di sebelah. Sudut matanya terarah kepada Srintil.
"Nah, saya bisa mengira-ngira," jawab temannya. "Kalau ada seorang ronggeng merengut seperti itu tentu telah terjadi sesuatu dengan pamongnya."
"Maksudmu, Nyai Kartareja?"
"Ya. Seorang dukun ronggeng suka mengatur segala urusan, bahkan sering kali ingin menguasai harta anak asuhannya."
"Itu cerita lama. Aku tahu seorang ronggeng sering kali dianggap sebagai ternak piaraan oleh induk semangnya. Lihatlah dalam musim orang berhajat atau masa lepas panen; ronggeng naik pentas setiap malam. Siang hari dia mesti melayani laki-laki yang menggendaknya. Sementara itu yang mengatur semua urusan, lebih-lebih urusan keuangan, adalah si dukun ronggeng. Kasihan, kan? Sebaliknya, kini suami-istri Kartareja menjadi kaya, kan?"
"E! Kalian sedang bicara apa? Srintil yang kelihatan kusut itu?" kata perempuan ketiga yang datang bergabung. "Kalian jangan berpikir yang bukan-bukan. Dengar. Srintil berada di sini dalam usaha melarikan diri dari tangan seorang laki-laki yang tidak tahu diri. Laki-laki itu kukira, tidak mau tahu bahwa Srintil sedang datang bulan. He-he-he."
"Ah, mana bisa begitu. Perhatikan sekali lagi, kain Srintil tak bernoda, tumpalnya tidak dilipat. Jadi dia dalam keadaan bersih."
"Kita memang telah berbicara berlebihan. Kukira Srintil seperti kita juga yang kadang merasa demikian sebal terhadap laki-laki. Jadi yang menyebabkan Srintil murung adalah perkara sederhana. Dia sedang diamuk rasa jenuh dan muak terhadap laki-laki. Itu saja."
Celoteh di sudut pasar itu berhenti karena kehabisan bahan. Perempuan-perempuan itu memperhatikan Srintil memasuki warung penjual lontong. Di sana Srintil duduk satu lincak bersama perempuan pemilik warung. Karena penampilan Srintil yang kaku, perempuan penjual lontong itu menjadi salah tingkah.
"Man makan, Jenganten?"
"Tidak, Yu. Aku hanya mau minum dan beristirahat sebentar di sini. Boleh kan?" jawab Srintil tanpa melihat pemilik warung.
Sejumlah besar air dingin yang bening dihabiskan Srintil. Apabila air mampu menghidupkan kembali tanah yang mati atau menggugah biji-bijian agar tumbuh menjadi kecambah, maka air pulalah yang bisa menjinakkan kegelisahan Srintil dengan pertama-tama memperlambat denyut jantungnya.

Kapan2 bersambung maneh...........
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
rmlodang
Camat
avatar

Lokasi : Kayangan junggring saloko.
Reputation : 12
Join date : 12.08.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Tue Dec 09, 2008 4:40 pm

Wah jan uapik tenan kie gur gawe penasaran....
Gek kapan ayu ngangkring neng Ngarep Pasr puri wae kang, tak krungu sambungane dewe. :bounce: :bounce:
Kembali Ke Atas Go down
http://maryoto_metal@yahoo.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Tue Dec 09, 2008 5:15 pm

rmlodang wrote:
Wah jan uapik tenan kie gur gawe penasaran....
Gek kapan ayu ngangkring neng Ngarep Pasr puri wae kang, tak krungu sambungane dewe. :bounce: :bounce:

Lha neka aku ki kari manut wae gek dang........yo wis aku manut wae, gek kowe wong loro ning ngarep BAlai Kota ngrungoke lehku crito ngono??? ngakak ngakak ngakak , jan gur do di apusi thok aku ki... ngakakk ngakakk ngakakk ...

Yoh....tak tunggu dang
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Thu Dec 11, 2008 1:54 pm

Lanjutane..............

Episode 7

Termangu-mangu di atas lincak, Srintil merasakan kesejukan air sedang mendinginkan badannya yang semula panas oleh terik matahari dan panas oleh galau pikirannya. Sementara itu di dalam hatinya sedang berlangsung penataan kembali keimbangan antara emosi dan rasa. Proses penguasaan diri yang berlangsung dalam diam itu ternyata menghabiskan banyak tenaga, terbukti dari terbitnya titik-titik keringat di seluruh permukaan kulit ronggeng Dukuh Paruk itu. Suatu kegiatan metabolik dalam intensitas tinggi yang kemudian menuntut mekanisme tubuh Srintil beristirahat. Denyut kantuk pertama kelihatan pada kerdipan mata Srintil yang lamban. Ketika itu Srintil melihat bayangan Rasus muncul di hadapannya. Namun angin yang berembus pelan membuat matanya semakin redup. Rasa kantuk tak tertahankan lagi olehnya.
"Yu, aku sangat ngantuk. Aku mau tidur di sini barang sebentar. Boleh kan?" kata Srintil sambil merebahkan diri. Pelupuh lincak berderit.
"E, Jenganten ini bagaimana? Orang mengatakan, tidak boleh orang tidur di warung. Ora ilok, nanti warungku tidak laku. Nanti..."
Perempuan pedagang lontong itu tidak ingin berkata lebih jauh karena melihat kenyataan di hadapannya. Rasa keibuannya tergugah oleh sebentuk tubuh yang tergolek demikian damai. Sosok Srintil yang muda dan lentur, wajah yang teduh dalam tidur mengingatkan perempuan itu akan anaknya yang masih bayi dan kini ditinggal bersama neneknya di rumah.
Dalam keadaan lelap keakuan Srintil hampir punah. Menjadi tidak penting lagi apakah dia bernama Srintil atau apakah dia ronggeng Dukuh Paruk. Tak ada lagi atribut apa pun yang tepat bagi sebuah subyek yang kini terdampar di atas lincak itu. Dia hanya pantas disebut sebagai bagian alam yang bernama anak manusia yang jelas sekali ingin mengundurkan diri barang sejenak dari keakuannya. Yang serempak muncul ke permukaan adalah kesan memelas, kesan yang menjadi daya tarik utama seorang bayi.
Ternyata bukan hanya pedagang lontong yang bersimpati kepada Srintil, melainkan juga sebagian besar orang yang berada di pasar Dawuan. Alam menagih janji kepada mereka; alam yang setiap hari mengasah naluri mereka sehingga mereka dapat merasakan bahwa Srintil sedang berada dalam kesempitan sehingga pantas mendapat pembelaan. Tidaklah penting bagi orang-orang pasar Dawuan itu untuk mengetahui apa sebenarnya yang membuat Srintil tampak merana. Manifestasi sikap mereka menjadi jelas ketika satu jam kemudian muncul Nyai Kartareja di gerbang pasar Dawuan. Perempuan-perempuan penjual ubi melihat wajah kaku istri dukun ronggeng itu. Sorot mata yang keruh dan rambut yang disanggul tinggi-tinggi memperkuat kesimpulan bahwa sedang ada ketegangan antara Nyai Kartareja dan Srintil. Atas dasar tuntunan naluri yang paling bersahaja orang-orang pasar Dawuan bertindak melindungi ronggeng Dukuh Paruk itu.
"Ah, Nyai Kartareja. Sampean sedang mencari Srintil, bukan?" tanya seorang perempuan pedagang ubi. Yang ditanya mengangguk kaku.
"Nah, dia tidak ada di sini. Kulihat Srintil tadi terus ke selatan."
"Seorang diri?"
"Ya. Dan Srintil kelihatan sangat murung. Ada apa ya, Nyai Kartareja?"
Pertanyaan yang bernada campur tangan itu menyinggung perasaan Nyai Kartareja. Dia tidak menjawab, bahkan berbalik keluar pasar Dawuan dalam langkah yang panjang-panjang.
Kegiatan pasar Dawuan sebenarnya hanya berlangsung pagi hari. Setelah matahari tergelincir sebagian pedagang sudah pulang ke rumah masing-masing. Yang tinggal adalah mereka yang tidak mungkin setiap kali membawa dagangannya pulang-balik. Mereka adalah penjual barang-barang tembikar, penjual tikar, pedagang ubi, serta pemilik warung makanan yang melayani pembeli hingga sore hari. Para pedagang keliling juga menggunakan pasar Dawuan sebagai terminal peristirahatan.
Pada sore hari banyak los berisi orang yang menggelar tikar; tidur berleha-leha atau duduk berkeliling, bermain kartu. Udara yang panas membuat orang-orang kehilangan gairah bekerja. Mereka mengharapkan suasana yang santai.
Seperti burung perkutut di pohon kenari di belakang pasar. Tubuhnya lenyap dalam kerimbunan dedaunan agar bebas dari sengatan sinar matahari. Namun merdu suaranya mencapai si betina jauh di seberang sana. Bila yang dipanggil sudah datang maka perkutut jantan mengubah nada suaranya menjadi lebih rendah dan lembut. Demikian lembut sehingga terdengar baur dengan suara angin yang menyapu pepohonan. Sepasang burung perkutut merasa perlu menciptakan suasana pribadi untuk mencari keselarasan dengan alam. Udara yang panas, angin yang berembus pelan, dan suara perkutut adalah sebuah harmoni yang bersumber dari naluri alam sendiri.
Arif seperti sepasang perkutut itu adalah Wirsiter bersama Ciplak, istrinya. Pasangan penjaja musik kecapi itu tahu betul saat yang tepat di mana musiknya menjadi kebutuhan para pelanggan. Mereka muncul di pasar Dawuan ketika orang-orang di sana berada dalam puncak kebosanan pekerjaan rutin. Sehabis bekerja sepanjang pagi hari orang-orang pasar itu mengharapkan kedatangan suasana selingan yang lebih renyah dan ringan.
Wirsiter dan istrinya tak pernah rela disebut tukang ngamen, apalagi disebut sebagai pengemis yang berpura-pura menjual musik. Mereka tidak akan menggelar musik di hadapan siapa pun, termasuk pelanggan yang tidak memintanya. Untuk mendukung sikap ini mereka selalu tampil bersih. Pakaian mereka selalu rapi; Wirsiter dengan blangkon, baju lurik serta kain batik yang diwiru. Istrinya selalu muncul dengan kain kebaya lengkap dengan selendang dan konde berhiaskan bunga melati. Bibir mereka merah karena keduanya makan sirih.
Ada berbagai perkakas musik untuk menerjemahkan irama, keselarasan, bahkan renjana alam. Orang Dukuh Paruk misalnya percaya penuh bahwa calung adalah perkakas yang tiada taranya untuk menampilkan irama denyut jantung yang meriah dan hangat dalam rangsangan berahi. Kalau orang ingin bertanya di manakah letak kekuatan musik calung, jawabnya sangat bersahaja; yakni kesederhanaannya. Bukan berarti orang dengan mudahnya memotong-motong bambu, merangkainya kemudian jadilah perangkat calung. Sederhana artinya, orang harus membatasi diri dalam campur tangannya ketika mereka-reka bambu. Persyaratan-persyaratan yang bersifat alami lebih menentukan mutu perangkat calung daripada keahlian tangan pembuatnya.

Episode 8

Calung yang sempurna hanya dihasilkan dari bambu hitam yang betul-betul kering. Tetapi orang tidak boleh menjemurnya, apalagi memanggangnya di atas api. Bambu itu tidak boleh terluka sebelum ditebang, baik luka oleh manusia atau luka oleh binatang mengerat atau patah ujungnya selagi masih muda. Dia juga harus lurus dan langsing. Bambu yang tebal karena terlalu gemuk tidak baik untuk membuat calung. Para pembuat calung tidak akan mengatakan bahwa tertib yang mereka patuhi itu adalah cara mereka menempatkan diri dalam keselarasan Sang Empu Agung. Mereka hanya tahu, dengan tertib itulah mereka akan memperoleh perangkat calung yang sebenar-benarnya. Bunyinya akan mampu menerjemahkan suara puluhan blentung, iramanya bisa padu dengan suara curah hujan di atas atap ilalang dan semangatnya adalah detak jantung yang bergairah.
Sama halnya calung, kecapi pun mengandalkan kekuatan pada kebersahajaannya. Bentuk umum sebuah kecapi adalah kotak kayu bersegi lima dan memanjang. Pada salah satu bidangnya direntangkan kawat-kawat dawai. Setiap helai kawat mewakili sebuah nada. Tangga nada ditentukan oleh tebal tipisnya kawat serta sebuah bantalan logam tipis yang dipasang miring dan serong. Bantalan serong ini mengatur jenjang panjang kawat-kawat dawai.
Tentang sebuah kecapi hendaknya orang tidak menanyakan soal presisi nada, patokan umum, apalagi menerapkan pengetahuan akustik terhadapnya, setidaknya terhadap kecapi milik Wirsiter. Seniman keliling itu tidak belajar teori tetek-bengek. Dengan alatnya yang demikian sederhana Wirsiter dan istrinya melagukan keserasian alam. Guru mereka adalah kelap-kelip ribuan kunang ketika jatuh gerimis senja hari. Atau lintasan buih yang hilang-tampak di antara bebatuan atau curah hujan yang menerpa permukaan telaga yang tenang. Rasa dalam kesadaran sempurna; itulah guru utama Wirsiter dan istrinya.
Jadi Wirsiter bersama istrinya pergi ke sana kemari menjajakan musik yang memanjakan rasa, yang sendu, dan yang melankolik. Musiknya tidak membuat orang bangkit berjoget, melainkan membuat pendengarnya mengangguk-angguk menatap ke dalam diri atau terbang mengapung bersama khayalan sentimental. Seperti pada sore hari yang panas itu orang-orang pasar Dawuan tepekur mendengarkan petikan kecapi Wirsiter. Ciplak membawakan asmara dahana.

Li lali tan bisa lali
Sun lelipur tan sengsaya
Katon bae sapolahe
Kancil desa 'njang talingan
Aku melu karo ndika
Lebu seta sari pohung
Becik mati yen kapiran


Seberkas lagu dan liriknya dibawakan oleh dua orang yang sejak kelahiran mereka menjadi murid alam. Orang-orang yang sedang berjudi berhenti menjatuhkan kartu. Yang sedang tiduran berleha-leha mengawang ke alam khayal antara tidur dan jaga. Perempuan yang sedang mengunyah sirih tetap menggerak-gerakkan mulut, tetapi pikirannya terbang ke belakang, ke suatu masa yang paling berkesan dalam hidupnya.
Barangkali Wirsiter maupun Ciplak tidak bisa mengatakan mengapa mereka lebih banyak menyanyikan lagu-lagu asmara. Dalam kenyataannya mereka hanya menuruti selera sebagian besar pelanggan. Atau karena musik kecapi memang paling cocok untuk melukiskan perasaan asmara. Atau lagi; bila benar bahkan kumbang tahi yang beterbangan di Dukuh Paruk pun diciptakan atas dasar motiyas, cinta agung, maka Wirsiter bersama istrinya hanya patuh kepada naluri alam yang paling dasar.
Orang-orang di pasar Dawuan asyik terlena. Segala sesuatu lepas dari perhatian mereka, tak terkecuali sebuah subyek yang sedang terdampar di atas lincak pedagang lontong. Musik Wirsiter mengantarkan Srintil ke alam jaga dengan caranya yang paling santun. Perlahan-lahan Srintil membuka matanya. Namun dia tidak melihat sesuatu karena pusat indrianya sedang bertumpu pada syaraf pendengaran. Memang, Wirsiter dan istrinya dengan lagu asmara yang mereka kumandangkan tidak bermaksud menyentuh hati Srintil. Namun ketidak-sengajaan mcreka tak urung mengusik kelenjar air mata ronggeng Dukuh Paruk itu.
Srintil bangkit, dan mengusap mata.
Perempuan pedagang lontong menoleh karena mendengar derit pelupuh bambu.
"Oh, sudah bangun, Jenganten? E, lha sampean menangis?"
"Tidak, Yu. Tidak."
"Jenganten ini bagaimana? jelas sekali sampean menangis. Sakit? Atau sebenarnya apa..."
"Tidak, Yu. Beri aku minum lagi," potong Srintil.
Penjual lontong tertegun. Ditatapnya Srintil yang sibuk mengusap air mata di pipi dan di kedua lubang hidungnya. Lalu sadar bahwa Srintil bukan kanak-kanak lagi, karenanya dia layak mempunyai wilayah pribadi yang tak usah diketahui orang lain.
"Anu, Jenganten, makan ya?"
"Aku tidak lapar, Yu."
"Ah jangan berdusta di hadapanku. Aku ini seorang ibu yang sudah cukup usia, jadi aku bisa membaca tanda-tanda orang yang lapar. Bibir sampean kehilangan cahayanya. Lekuk di pangkal leher sampean sangat kentara. Dan ketika tidur tadi perut sampean masuk ke rongga dada. Maka sekarang makanlah. Bila tidak nanti tubuh sampean bisa rusak. Sayang, bukan?"
Srintil bukan tidak lapar. Sejak kemarin perutnya sudah terasa perih. Masalahnya dia hanya malas menyuapkan makanan ke dalam mulut. Namun ketika sepiring nasi lontong dengan kuah panas siap di hadapannya Srintil mengalah. Hidangan itu dihabiskannya dalam waktu singkat. Bibirnya, pipinya, merah oleh panasnya kuah serta pedasnya sambal cabai. Keringat serta air matanya kembali menitik. Citra hidupnya seakan menggeliat bangkit.
"Nah, benar kataku, bukan? Nasi lontong ini bisa membuat sampean lejar. Tambah, ya?"
"Terima kasih, Yu. Aku sudah kenyang."

Bersambung............
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Tue Dec 16, 2008 11:46 am

Bersambung...........

Episode 9

Srintil meninggalkan pasar Dawuan ketika orang-orang di sana masih asyik menikmati kecapi Wirsiter. Banyak orang menoleh kepadanya tetapi tanpa komentar. Namun dalam hati mereka mencatat; baru sekali inilah mereka melihat Srintil begitu lesu dan murung.
Baru beberapa langkah di luar pasar Srintil berhenti. Rasa bimbang menghentikan langkah-langkahnya. Perilakunya yang serba canggung menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Seorang di antara mereka mendekati Srintil dari arah belakang. Laki-laki berkaus putih dan bercelana hijau tentara itu tak merasa salah ketika tangannya menggamit pantat Srintil. Tak diduganya Srintil membalas dengan tatapan mata amarah. "Aku memang ronggeng, maka tangan laki-laki boleh hinggap di mana saja pada tubuhku. Tetapi kini hatiku bukan lagi ronggeng. Bukan!"
Sayang. Teriakan keras Srintil hanya bergema dalam hati sendiri. Kopral Pujo yang berdiri satu jengkal di hadapannya tidak mendengar teriakan itu. Namun setidaknya dia sadar kemarahan Srintil akibat kelancangan tangannya bukan berpura-pura.
"Kira-kira dua jam yang lain Nyai Kartareja datang ke markasku mencari kamu. Wah! Seorang ronggeng dicari di sebuah markas tentara. Lucu, ya?" kata Kopral Pujo sambil cengar-cengir untuk menutupi penyesalannya.
"Kamu sudah bertemu Nyai Kartareja?" sambungnya.
"Belum," jawab Srintil tak acuh.
"Kamu disangkanya pergi bersama Rasus."
"Oh?"
"Begitulah. Padahal sudah tiga hari ini Rasus tidak ada di markas. Bersama Sersan Slamet, Rasus pergi ke markas batalyon."
"Oh? Jadi Rasus tidak ada lagi di sini?"
Kopral Pujo tidak mcnangkap perubahan mendadak pada wajah Srintil.
"Dia anak yang beruntung. Bila pulang nanti Rasus benar-benar sudah jadi tentara. Punya pangkat, punya gaji. Wah, pokoknya seperti aku ini."
Srintil diam menunduk. Dan mengapa Kopral Pujo tidak mengerti bahwa sedang terjadi galau yang seru dalam hati perempuan muda di hadapannya? Ketumpulan perasaannya menyebabkan Kopral Pujo juga tidak berprasangka apa pun ketika Srintil bertanya,
"Kapankah kira-kira Rasus pulang?"
"Mana aku tahu. Tetapi kira-kira lama. Yang aku tahu, seorang seperti Rasus harus menempuh pendidikan sebelum resmi diberi pangkat. Di mana dia akan dididik, entahlah. Aku baru tahu kalau Sersan Slamet kembali ke markas."
"Ya." ujar Srintil lirih.
Kini Kopral Pujo mengerti perubahan pada diri Srintil; matanya yang berkaca-kaca, sinar wajahnya yang memudar dan napasnya yang terengah-engah. Kopral itu mengerutkan kening.
"Nanti dulu, Wong Dukuh Paruk! Aku jadi tidak mengerti. Adakah sesuatu antara dirimu dengan..."
"Tidak, Pak. Tidak!"
Srintil memutar badan lalu berjalan cepat meninggalkan Kopral Pujo yang kemudian berdiri termangu, kemudian tersenyum sendiri sambil mengangguk-angguk. Dan, "Hm?" Tentang Rasus dan Srintil, Kopral Pujo hanya tahu keduanya berasal dari Dukuh Paruk. Selama dalam pergaulan di markas, Rasus tak pernah bercerita tentang ronggeng itu, apalagi tentang hubungan khusus di antara keduanya.
Entah dorongan apa yang menyebabkan Srintil kembali memasuki pasar Dawuan. Duduk di sebuah lincak kosong Srintil memanggil Wirsiter dan istrinya dan meminta mereka menggelar musik. Selesai satu babak Srintil meminta penjaja musik kccapi itu menyambungnya. Dan seterusnya, tanpa menghiraukan berapa banyak uang yang harus dikeluarkannya.
Hingga matahari hampir terbenam pasar Dawuan masih berhiaskan suara kecapi Wirsiter dan tembang yang dinyanyikan oleh Ciplak. Srintil menampilkan kegembiraan yang aneh. Terkadang Srintil tersenyum sambil pacak gulu, tetapi senyumnya aneh. Terkadang ia ikut berduet dengan Ciplak, tetapi suaranya parau, tidak polos. Semuanya memberi kesan perilaku Srintil bertentangan dengan apa yang sedang dirasakan dalam hatinya.
Lalu apa pula yang menyebabkan Srintil demikian marah ketika Ciplak minta berhenti bertembang.
"Kami sudah lelah, Jenganten," kata Ciplak.
"Sudah dua puluh babak."
"Ya, istriku benar. Lagi pula hari sudah hampir gelap," tambah Wirsiter.
Srintil mengerutkan kening hingga kedua pangkal alisnya hampir bertemu. Matanya bersinar-sinar.
"Sudah dua puluh babak; jadi sampean berdua takut aku takkan membayar semuanya. Begitu?" ujar Srintil tajam.
"Ah, jangan salah mengerti, Jenganten," kata Wirsiter merendah. "Hari sudah sandikala!"
Dengan tekanan kata pada "sandikala" Wirsiter bermaksud mengingatkan Srintit akan hari yang sedang memasuki saat-saat paling peka. Senjakala: saat keimbangan ekosistem alam bergoyang karena siang sedang beralih ke malam, karena sedang berlangsung perubahan intensitas sinar kosmik yang jatuh ke bumi. Wirsiter takkan pernah berkata demikian. Dalam hidupnya hanya ada salah satu ketentuan bahwa orang harus beristirahat di kala hari senja ketika Bathara Kala turun mencari mangsa. Bathara Kala harus dihormat dan dipuja; satu hal yang tak bisa ditawar-tawar bagi Wirsiter dan istrinya. Menyimpang dari tertib itu hanya berarti menyediakan diri menjadi umpan Sang Waktu.
Srintil dapat memahami kata-kata Wirsiter; senjakala adalah saat semua orang mengundurkan diri dari keseharian untuk memenuhi selera alam. Namun tak urung kemarahan masih tergambar jelas di wajahnya. Barangkali kemarahan Srintil akan berkepanjangan kalau tidak dilihatnya seorang nenek berjalan terbungkuk-bungkuk mendekatinya. Suaranya terputus-putus karena napas yang terengah-engah sehabis jauh berjalan.
"Cucuku, Wong Ayu, kau di sini?" suara Nyai Sakarya langsung menyiram hati Srintil yang sedang panas.

Lanjut maneh kapan2....
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas
avatar

Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   Tue Dec 30, 2008 9:51 am

Episode 10

Suara itu adalah suara paling akrab yang dikenal Srintil sejak masa kanak-kanak. Suara ibu tak pernah didengarnya karena Srintil jadi yatim-piatu sejak bayi. Mata Nyai Sakarya yang sudah begitu redup karena usia masih mampu memberi daya kepada Srintil yang kemudian bangkit perlahan-lahan. Sentuhan telapak tangan renta yang jatuh di pundaknya terasa sejuk di hati Srintil. Dia berjalan menunduk ke luar pasar Dawuan dalam rangkulan neneknya, menggigit bibir, dan matanya kembali berkaca-kaca.
Seorang nenek yang terbungkuk-bungkuk berjalan merangkul cucunya. Nyai Sakarya maupun Srintil membisu. Namun dalam hati masing-masing sudah tumbuh kesepakatan; mereka berdua hendak pulang ke Dukuh Paruk. Pedukuhan kecil yang terasing di tengah sawah itu adalah ibu mereka. Haribaan dan pelukannya teduh dan mesra.
Mereka berhenti di sebuah angkruk di luar Dawuan sambil menanti saat senjakala lewat. Dalam kegelapan yang mulai membayang keduanya tetap bungkam. Nyai Sakarya sudah tahu mengapa cucunya melarikan diri dan Srintil sudah tahu pula mengapa Nenek mencarinya. Kemudian keduanya melayangkan ingatan masing-masing kepada dua hal yang berbeda. Nyai Sakarya teringat akan orang tua Srintil ? anaknya sendiri ? yang kedua-duanya meninggal dalam malapetaka racun bongkrek ketika Srintil baru berusia lima bulan. Duka cita masa lalu yang tak mungkin terlupakan kini menjelma menjadi rasa sayang yang amat sangat terhadap cucunya.
Sementara Srintil yang tidak tahu-menahu soal malapetaka tempe bongkrek itu hanya teringat akan Rasus. Dan Rasus kini menjadi sebuah teka-teki yang menyakitkan setiap kali bayangannya muncul di hati Srintil. Anak Dukuh Paruk itu entah di mana sekarang. Srintil merasa ditinggalkannya dengan cara yang paling tidak berperasaan.
Perjalanan ke Dukuh Paruk diteruskan ketika bintang-bintang mulai terang. Lepas dari jalan besar Srintil dan neneknya menapak pematang yang lurus menuju Dukuh Paruk. Gerumbul kecil itu meremang di kejauhan. Kiri-kanan pematang adalah hamparan sawah yang sangat luas dan kini ditanami berbagai palawija. Burung bence yang selalu berteriak-teriak bila ada manusia berjalan dalam gelap terbang hanya beberapa depa di atas kepala cucu dan nenek itu. Suaranya berisik, seakan-akan seluruh malam adalah miliknya yang sedang diusik.
Agak jauh di depan sepasang sinar kebiruan bergerak menyeberang pematang diikuti oleh dua pasang lainnya. Srintil merapat ke tubuh neneknya.
"Belacan yang mengiringkan anak-anaknya." kata Nyai Sakarya yang mengerti akan ulah Srintil. Namun Srintil kembali merapat ke tubuh neneknya ketika terdengar kegaduhan tak jauh di sampingnya. Sesaat kemudian samar-samar terlihat seekor unggas besar mengapung ke udara dengan tikus sawah di cakarnya. Burung hantu telah mendapat mangsa pertama di awal malam. Dia terbang megah sementara jerit tikus mangsanya terdengar makin jauh makin sayup.
Malam telah sempurna gelap sebelum Nyai Sakarya dan Srintil mencapai Dukuh Paruk. Bulan tua baru akan muncul tengah malam sehingga cahaya bintang leluasa mendaulat langit. Kilatan cahaya bintang-beralih memberi kesan hidup pada rentang langit. Tetapi bila kilatan cahaya itu berlangsung beberapa detik lamanya dia menimbulkan rasa inferior; betapa kecil manusia di tengah keperkasaan alam. Di bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi semut kceil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti sedikit pun.
Tampi berjalan terburu-buru menuju rumah Sakarya. Goder, anaknya yang baru sepuluh bulan melekat di balik kain embanannya. Tangan kanan Tampi memegang sesuatu yang terbungkus tumpal kain. Sesisir pisang raja; yang ini buat Srintil yang sudah beberapa hari tergeletak sakit. Badannya mulai kurus, wajahnya pucat. Kesan kesegarannya, ciri utamanya yang paling menonjol selama ini, hampir lenyap. Srintil enggan bercakap-cakap dengan siapa pun, enggan makan, bahkan senyumnya yang sangat khas hilang sama sekali.
Nah, kecuali pada saat Goder kecil datang bersama emaknya. Pesona bayi adalah pesona bunga-bunga, pesona mayang pinang yang terurai dari kelopaknya di pagi hari atau pesona biru bunga bungur di awal musim kemarau. Ulahnya selalu menawan, bahkan bau badan dan mulutnya adalah kesegaran ajaib yang hanya alam sendiri mampu menciptakannya. Sinar matanya yang polos bening mampu memadamkan murka seorang ayah. Bayi adalah kesejukan alam seperti demikian adanya sehingga seorang ibu misalnya, takkan marah bila pangkuannya terkena kencing, bahkan tahi bayinya. Seorang bayi pastilah lebih dari anak kandung ibunya karena dia sesungguhnya adalah anak kandung alam yang paling sah. Maka siapa pun yang mau jujur dengan nuraninya akan mengakui bahwa semua bayi hidup dalam alam yang penuh rahmat. Siapa yang merasa sedang diamuk rasa tidak menentu bisa mendapatkan keteduhan bila dia mau menyelinap ke dalam dunia bayi.
Srintil yang sedang merana secara ragawi maupun rohani bisa merasakan keajaiban suasana yang dibawa oleh si kecil Goder. Meski badannya lemah dia berusaha duduk dan meminta Tampi menyerahkan bayinya. Demikian setiap hari bila Tampi menjenguk Srintil di rumah Sakarya.
"Kula nuwun..."
"Oh, ya. Tampi, bukan? Mari masuk," ujar Nyai Sakarya menyilakan tamunya.
"Bagaimana keadaan Srintil, Nyai?"
"Lihatlah sendiri di kamar. Wah, harus bagaimana aku ini. Srintil masih enggan makan. Ketupat dia tak mau, lontong yang kuberikan tadi pagi masih utuh sekarang. Bubur, apalagi."
Kamar tidur Srintil yang sesungguhnya berada di rumah Kartareja. Di sanalah dia sebagai ronggeng menerima tamunya. Kamar di rumah Kartareja itu mewah menurut ukuran Dukuh Paruk. Tempat tidurnya terbuat dari besi pejal, kasurnya tebal dan berkelambu. Orang seperti Tampi tak berani masuk ke dalam kamar seperti itu karena rikuh.
Sementara di rumah neneknya, Srintil tidur dalam kamar seperti milik kebanyakan orang Dukuh Paruk. Tempat tidurnya terbuat dari bambu seluruhnya kecuali empat tiang penyangganya. Alasnya adalah tikar pandan dengan dua bantal yang sudah lusuh. Masuk ke dalam bilik seperti itu tak ada keraguan sedikit pun di hati Tampi.
"Bagaimana, Srin?" tanya Tampi setelah melangkahi pintu bilik.
Tubuh yang tergolek itu hampir tak memberi tanggapan apa pun. Matanya kosong dan cekung.

Lanjutane...
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Sponsored content




PostSubyek: Re: ( Cerbung ) Lintang Kemukus   

Kembali Ke Atas Go down
 
( Cerbung ) Lintang Kemukus
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Teras Nongkrong-
Navigasi: