Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   Tue Dec 09, 2008 12:50 pm




Rincian lebih lanjut:

Cintaku selalu padamu
Oleh Motinggo Busye
Diterbitkan oleh Alam Budaya, 1980
264 halaman


Ceritanya akan bersambung dan bersambung terus........


Episode 1

Laila terkejut ketika di panggil.
Suara ayahnya terasa begitu lantang. Dan ia yakin bahwa kali ini ia akan dimarahi. Dan ia yakin bahwa kemarahan ayahnya kali ini mestilah mengenai soal penting.
Gemetar Laila melangkah menuju teras samping rumahnya, dimana suara tadi bersumber.
" Duduk ", kata ayahnya.
Laila sebetulnya mau duduk, tetapi langkahnya gemetaran menuju kursi, jadi terlambat.
" Duduk ! mau membangkang lagi ya ? "
" Tidak, Papa ".
" Papa tidak terlalu banyak omong seperti mamamu, Laila. Secara singkat Papa peringatkan kamu agar tidak lagi main cinta dengan pemuda itu ".
" Pemuda yang mana Papa ? " Tanya Laila.
" Ah, kamu jangan berlagak pikun. Pemuda yang disebutkan Mamamu ", kata yahnya dengan tatapan mata tajam.
Laila tunduk oleh tatapan mata yang tajam itu. Dia menundukkan kepala . Dia masih berusaha membela diri : " Kalau mas Daud Waitulo yang Papa maksud…."
" Ya,…. dia itu ! ",potong sang Ayah.
" Kalau dia yang Papa maksud ", kata Laila masih tertahan – tahan , maka sang ayah memotongnya segera :
" Memang dia yang kami maksud. Yang surat kamu untuknya yang tidak jadi itu ditemukan. Namamu dalam kantong jaketmu… yang kamu katakana disitu minta perlindungan daripadanya, yang, yang kamu minta ajak diauntuk minggat dan kawin di kota lain, yang, yang, yang semua itu membuat rusak nama keluarga ! "
Laila berusaha menahan air matanya. Ayahnya menatap kearahnya. Ayahnya ingin melihat wajah Laila. Dia berkata, " Coba jangan berlagak patuh didepan Papa , nunduk – nunduk, hayo angkat kepalamu ! "
Laila tak bias menahan derai air matanya, Ayahnya membentak : " Ayo angkat kepalamu !"
Laila mengangkat kepala sedkit, dan dengan air mata berlinang ditatapnya ayahnya, Kini suara Ayahnya terdengar sendu :
" Kamu, Laila. Kamu Papa sayangi sejak kecil, kenapa setelah besar begini berani membuat putusan – putusan sendiri ", kata Ayahnya .
" Laila nggak mau kawin paksa, papa ! "
" Lho! Siapa yang mau kawin paksa ? Papa hanya melarang kamu berhubungan dengan Daud Waitulo itu. Bukan kawin paksa ! " , kata si Ayah lagi. " Kami semua tidak suka dengan tongkrongan dia ! tongkrongan dia yang jadi soal. Mengerti nggak ! Kami orang - orang tua, tahu betul tongkrongan orang – orang yang tidak betul, bandit – bandit, bajingan – bajingan, tukang goda perempuan, tukang rayu. Jelas ? "
" Jelas, Papa ". Sahut Laila menahankan tangis. Terdengar isak tangisnya kini.
" Kamu bersumpahlah pada papa dan mama, bahwa kamu tidak akan memilih Daud sebagai suamimu, demi keselamatan hari depan perkawinanmu", kata sang ayah.
Laila merasa ini bukan sumpah, melainkan ultimatum. Ini berarti Laila musti putus hubungan dengan mas Daud.
Tetapi Laila mencoba bertanya lebih dulu, sebelum ultimatum itu diterimanya. Sambil menundukkan kepala dia bertanya: "Papa….apa papa benar-benar kenal dengan watak dan pribadi mas Daud sampai papa begitu pasti memberi penilaian terhadapnya?"
"Jangan ajari orangtua dalam soal menilai!", bentak ayahnya mendadak.
"Jadi papa kenal dengan pribadi mas Daud. Dan pribadi dia pribadi bandit, suka ganggu perempuan, bajingan dan lain-lain itu ya pa?"
Tanpa diduga muncul Sarita, adik Laila nomor dua, Sarita nyeletuk: "Ah, kalau soal mas Daud sih orangnya keren, baik hati…."
Sang ayah, dalam menghadapi Sarita selalu tidak bias bersikeras. Sarita di manja orangtua karena dia dua kali membikin cemas keluarga: pertama ketika berumur 8 bulan hampir mati karena menderita sakit panas dikerongkongan, dan kedua ketika berumur 7 tahun hampir hancur lebur sebab sudah berada dibawah bus.
Hanya jalan yang kebetulan sompel yang menolong jiwa Sarita. Dia dianggap sebagai " Maskot ". Laila beruntung karna interupsi dari Sarita.
" Nggak model lagi, Papa, kawin – kawin paksa. Musti dijodohin sama ini, sama itu . Biar sama maling atau rampok sekalipun, biarin saja orang sekarang memilih pacarrrrrr ! , dan Sarita mengucapkan " Pacar " tadi dengan langgam " Pac-haaaaarrrrrrrr ", sehingga sang Ayah berusaha menahan jengkelnya.
" Sarita masuk " , perintah sang Ibu yang tiba – tiba muncul diteras samping.
" Ah, Ita Cuma mau nimbrung saja kok Mama ", kata Sarita.
" Nimrung juga nggak boleh . Ini pembicaraan orang tua " , kata sang Ibu.
" Okey, Mama. I Love you " kata Sarita dan pergi lari.
Sarita baru berusia tujuh belas tahun, tetapi sikapnya kadang kala memang kekanak – kanakan. Mungkin karena dia tahu dia dimanja.


Episode 2
Setelah Sarita pergi sang Ibu memulai ucapan : " Begini saja. Dengerin nasehat orang tuamu, Laila. Banyak Contoh, dimana anak – anak kualat sama orang tua, Hidupnya mana yg selamat. Liat temenmu sendiri berapa ekor tuh yang gagal ".
" Emang betul Mama ", kata Laila.
" Nah sekarang ikuti kemauan orang tua sekali ini, Laila. Kita bukan memaksa kamu putusin hubungan sama si Daud. Anak itu baik juga kelihatannya ".
" Kalau baik kenapa Papa yang vonis sebagai bajingan, sebagai bandit ? "
" Siapa yang bilang bandit ? " Tanya sang Ibu.
" Papa ", kata Laila cepat.
Ibu itu menoleh pada suaminya dan dia berkata : " Kau kalau ngomong yang nyatroni dong, Pa ! Recht op het doel afgaan , buntut suara ibunya yang berbahasa belanda suapaya Lila tidak mengerti.
Laila memang tidak mengerti bahasa belanda itu. Tetapi akibatnya ia menafsirkan bahwa ada sesuatu yang mutlak, pendeknya suatu dalih, agar laila putus hubungan dengan Daud.
Itulah kira – kira tanggapan Laila melihat Ibunya ketika berbahasa belanda intu.
Dan lebih curiga lagi ketika Ibinya ngomong campur lagi dengan bahasa belanda :
" Si laila ini kalau dibiarkan terus sama dia itu, heh, meer dan hij afkan, Pa ! ", dan ditegaskannya pula dalam bahasa inggris : " more than he can manage ! ".
Laila mengerti sedikit, namun kecurigaan Laila bertambah bahwa dia akan dipepet dan dipojokkan kini. Maka Laila berkata : " Laila akan patuh ,deh ! ".
Setelah berkata begitu, Laila pergi dari teras. Ayahnya tampak senang dengan ucapan singkat Laila. Namun Ibunya lebih arif lagi. Ibunya berkata : " Kita tak bias gembira begitu saja dengan kata – katanya Laila akan patuh , Deh……kita musti bisa meyakini dia, bahwa Daud bukan jodohnya ! ".
" Ngomong sih gampang , Mam. Anak macam Laila ini mengenal logika ! kita jangan anggap dia itu enteng. Dia cerdas. Dia pandai menganalisa. Dia keras hati dan juga keras kepala. Salah – salah dia bisa minggat dari rumah ini untuk bisa kawin dengan Daud ".
" Berapa lama sih dia tahan pisah dengan kita ? " Ibu itu menantang.
" Ngomong kau sekarang. Begitu dia minggat, kamu pun minggat ", kata sang suami.
Ibu Laila ter perangah dia mengulangi keyakinannya : " Dia melakukan siasat berlagak mematuhi kita. Ik berani bertaruh sama jij, Pa…….si Laila pasti akan melarang Daud mampir kesini lagi. Selanjutnya mereka akan mencari tempat rendezvous yang lain. Dan itu lebih berbahaya lagi ".
Sang suami diam.
Sang istri menambahi : " Lebih bahaya lagi kerena tiba – tiba saja kita dikasih fait accompli : Laila bunting ! ".
" Ah, pikiranmu selalu negatif 3 tahun aku kawin dengan kau, Mam, kau baru bunting ".
" Tetapi soal Virgin, soal keperawanan ! bisa saja mereka disatu tempat rendezvous. Lantas Laila bunting. Kita berdua jadi bego dan malu. Terpaksa dikawinin. Anak-anak sekarang kan banyak gitu, Pa ? cinta buat mereka terlalu simpel. Mereka tidak mengenal apa yang oleh kita di agungkan : De eliefde peoor de kunst. Cinta buat generasi Laila sekarang ini ibarat barang mainan. Nggak jadi sama ini , sama itupun jadilah. Mereka tak punya semboyan mengenai apa keagungan cinta apa keagungan perkawinan. Mereka tak punya apa yang kita agungkan sebagai " een huwelijk uit liefde ", a marriage of love ".
"Dus kita harus keras ", kata sang suami .
"Keras justru bahaya. Kita musti bersikap lunak pada Laila. Kita harus banyak dekat dengan Laila. Jangan kita – kita ini Cuma selalu cari duuuit saja. Cari kemewahaaaan, saja !".
" Lho , kamu yang selalu begitu : minta kulkas baru , minta meubel elite macam – macam ", bantah sang suami.
Ibu Laila terhempas oleh bantahan suaminya . Ia berniat ingin menyadarkan Laila suatu ketika , sendirian artinya : empat mata . malam ini tidak kena. Sang ibu tak ingin Laila begitu gampang jatuh ketangan pria yang belum punya watak seperti dia memilih Ayah Laila dengan segala seginya yang pantas.
Dan bilamana pilihan itu tiba Laila belum pulang juga. Katanya kerumah teman .
Sang Ibu menunggu di rumah tentu Laila bukan ke rumah temannya .
Pasti bersama Daud .
Dugaan sang Ibu tidak meleset.
Laila memang sedang bersama – sama Daud. Bahkan di rumah kontrakan Daud.
Dia tampak sedang membersihkan perangkat makan dari meja. Mungkin mereka berdua barusan saja selesai makan malam bersama. Dari meja Laila membawa perangkat piring – piring untuk dicuci . Ketika Laila mencuci piring , Daud ikut jongkok menemani.
" Memang kamu pantas menjadi nyonya ku ". Kata Daud.
" Hanya Papa dan Mama ku menganggap kita tak pantas menjadi suami istri ", kata Laila.
" Semua orang tua didunia ini egois. Tak ada orang tua yang langsung setuju dengan lelaki pilihan puterinya. Kecuali kalau lelaki itu merekayang pilih. Kalau puterinya yang memilih, musti ada saja yang kurang ".
Laila menyusun piring – piring yang baru dicuci itu dirak piring. Daud berkata : " Aku harus lebih sering bertemu kerumahmu, supaya mereka lebih kenal calon mantunya '.
Laila menaroh piring dirak itu, tetapi matanya menatap Daud dengan sikap berat. Daud merasa heran : " Kenapa Lail ? "
" Jangan lagi " , kata Laiala.
" Jangan lagi bagaimana ? tidak boleh dating ? " Laila hanya menggelengkan kepala. Dia kemudian menyusun semua piring dan gelas itu dengan rapi, dan melap tangannya. Kemudian dia melangkah menuju meja makan yang sudah bersih itu. Tangannya bersitelekan diatas permukaan meja makan itu. Suaranya penuh perasaan : " Mereka tidak suka kau . Saya kira mereka sudah ada pembicaraan dengan famili terdekat. Mungkin juga sudah janji ".

Episode 3
Diangkat tangannya yang bersitelekan itu, dan dia berbalik, berhadapan dengan Daud yang tadi berdiri tepat dibelakangnya. Maka dipeluknya Daud : " Mas Daud. Laila tiba – tiba takut mengambil keputusan, maka nantinya mas Daud malahan menyia – nyiakannya ".
" Menyia – nyiakan apa maksud mu ? " Tanya Daud.
" Menyia – nyiakan nasib Laila ", kata Laila. " Mas tau sendiri, Mama dan Papa sebetulnya saying pada Laila. Mas tidak tahu, bahwa Mama punya sikap pukul rata terhadap generasi kita sekarang ini. Mama menganggap itulah yang dibilangnya kepada Papakudimalam itu…..dianggapnya generasi sekarang ini cintanya murahan, gampangan. Tidak jadi dengan mas Daud, dikiranya Laila bisa saja ganti dengan pemuda lain ".
" Jadi kalau pendapatmu sendiri ? " Tanya Daud. Daud membenahi rambut Laila yang kusut.
" Buat Laila, mas Daud adalah segala – galanya. Buat saya tidak jadi dengan mas Daud lebih baik matisaja. Saya ingin buktikan pada Mama dan Papa , bahwa generasi kamipun mengenal cinta yang sebenarnya. Kalau perlu mati, ya mati ".
" Jangan terlalu negatif ". Kata Daud. " Kita pasti jadi suami istri. Tanpa perlu mati ".
" Dan buat Laila, bila Laila kawin sama mas Daud, kita hanya bercerai mati ", ucap Laiala. Karna tubuh Daud tinggi, ketika melepas pelukannya pada Daud, ditatapnya mata Daud dengan kepala tengadah . Dia berkata lirih : " Laila sungguh – sungguh , mas ".
" Akupun demikian ", kata Daud. " Tetapi cinta yang besar tunbuh dari macam – macam cobaan yang ruwet. Cinta kita akan semakin padat dan pasti. Saya tak pernah main – man dengan kau sejak pertama kali kita kenalan. Apa pernah ? ".
" Justru itulah ", kata Laila, " Mas Daud orang sekarang yang punya karakter sendiri, mas. Banyak pria seusia mas Daud yang tingkah lakunya meragukan. Tapi mas tidak ".
" Daud menghela nafas bahagia mendengar pujian gadis yang sangat dicintainya itu.
Lonceng jam dinding berdentang delapan kai. Laila melihat kedinding, lalu berkata :
" Sudah waktunya Laila pulang ", Laila kemudian menatap mata Daud.
" Disini saja dulu " , Kata Daud, menatap bola mata Laila. Bola mata itu tidak tampak gemerlap melainkan dilelehi air mata, " Kenapa kau mau menangis ? "
" Harapan kita tipis " kata Laila. " Kecuali kalau kita bersikap drastic. Yaitu mengambil langkah yang mengakibatkan putusnya hubungan dengan orang tua ".
Daud menghela nafas , dia mengangguk, menatap lagi pada Laila dan berkata : " Kita masih perlu menemukan jalan damai. Sebaiknya aku cepat – cepat melamarmu ".
" Ah, tak mungkin ", kata Laila, " Tanggapan orang tuaku – Papa dan Mama – sudah negatif, tanpa alas an. Mas Daud boleh saja Laila akui sebagai pria serius.
Buat mereka mereka negatifnya : tidak serius. Mas Daud sebagai bujangan kuanggap sudah siap berumah tangga. Segala – galanya sudah tersedia, sampai – sampai keset kaki di kamar mandi. Buat mereka mungkin negatif : mungkin mereka merasa telahpunya calon yang melebihi. Sulit, sulit, mas ". Dan Laila menangis. Tapi buru – buru dia hapus air matanya . Dan dia melangkah seraya berkata : " Dag, ya ? Laila pulang dulu, mas ".
" Laila ! " seru Daud.
Laila terus melangkah. " Laila ! "
Laila berhenti didepan beranda. Tidak menoleh karena air matanya bercucuran dengan dera.
" Kau tenanglah , Lail , saya memang harus melamarmu kerumah orang tuamu " kata Daud.
Laila menggelengkan kepala.
" Lailla bingung ", katany. " Sungguh Laila bingung…….mas ! "
Daud membelai – belai rambut nya. Laila berkata putus asa : " Laila pergi dulu, jangan datang kerumah ".
Mata Daud menatap berkaca – kaca sampai hilangnya Laila dalam kegelapan malam, diantara lampu – lampu dan keramaian jalanan malam itu.
Bila sampai dirumah, sang Ibu sudah menyongsongnyakepagar pekarangan. Ibu bertanya : " Kamu bener – benar pergi kerumah teman ? "
" Ya, Mama ", kata Laila tak acuh.
" Matamu merah, kamu seperti baru habis menangis ".
Kata sang Ibu.
" Memang ". Sahut Laila.
Ibunya menghela tangan Laila , sehingga Laila terbawa kehendak Ibunya tidak langsung masuk kerumah melainkan keteras samping. Lampu teras samping tidak dinyalakan. Tetapi dari lampu plafon pojok memantul cahaya yang lumayan menerangi teras .
Laila tahu ia akan diadili lagi. Sikapnya sudah siap – siap .
" Dari mana kau ? "
" Dari ruma teman, Mama "
" Betul ? " Tanya sang Ibu.
" Kalau Laila bohongpun Mama tidak tahu ", kata Laila.
" Kalau begitu kamu dari rumah Daud " kata Ibunya. Beliau berkata lagi seperti berkata pada dirinya sendiri : " Benar – benar keras kepala kau. Seperti yang Mama duga, kau akan melarang Daud kesini, sebaliknya kau yang akan kesana ".
" Papa dan Mama yang menciptakan saya menjadi orang pendusta ", kata Laila.
" Keras kepala…….. ", gerutu sang Ibu, " Kau akan mengalami nasip jelek nanti, Laila "
Laila merenungi ucapan Ibunya : Benarkah ramalan ini ? jika benar, apakah aku mulai kini siap memasuki kutukan ibu ?
" Saya kira hidup saya akan bahagia jika do'a Papa dan Mama ikhlas ", kata Laila.
" Kau memang pintar bicara, Laila . Tadi Papamu ngomel – ngomel kau lambat pulang. Itukah yang kau inginkan dirumah ini ? cekcok, marah, dan saling tuduh – menuduh ? Tahukah kamu ? Mama yang dituduh Papa setiap hari sebagai ibu yang longgar, tidak streng ! hanya karna soal kau ? ".
Uacapan Ibunya tiba – tiba menyerap dan menelan perasaan Laila

Bersambung.......
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   Thu Dec 11, 2008 1:33 pm

Sambungane..........

Episode 4

Laila melihat air mata Ibunya yang mulai meleleh. Bukan air mata bohong – bohongan, ia tahu Ibunya orang yang lapang hati . Dan jika Ibunya kini menangis, itu karena sudah benar – benar sedih.
Sambil mengisak Ibunya berkata : " Papamu kalau marah , yang lain – lainnya kena marah . Tadi sebuah vaas yang paling Mama sayangi dibantingnya. Dituduhnya Mama membiarkan dirimu. Kata – katanya ngawur, dia mengatakan, Mama yang akan bertanggung jawab jika Laila rusak untuk kemudian menjadi pelacur.
Kata – kata apa itu, ha ? Apakah setiap orang tua sekarang harus pergi kemana anak nya pergi ? ".
Ucapan Ibunya mengandung simpati. Laila memasuki pembicaraan dengan cepat : " Kira – kira Mama setuju dengan mas Daud, kan ? ".
Kepala Mama terangkat dengan cepat. Matanya segera memperlihatkan sikap negatif : " Ah, Mama tidak setuju ! pokoknya kalau kau akan memaksakan kehendakmu, terserahlah. Tinggalkan saja kami, cari nasip sendiri.
Daripada kamu dirumah ini merongrong Papamu yang punya penyakit darah tinggi. Dia tidak menyebutkan alas an apapun, kecuali tidak suka dengan Daud ".
Tiba – tiba Laila berkata pasti : " Saya akan minggat ".
Sang Ibu terkejut.
" Laila ! "
" Adik Mama tokh kawin minggat, dan mereka sekarang mungkin lebih bahagia dari Mama ".
"Laila ! kau pelawan sekaran ! Kau Durhaka ! " seru sang Ibu.
Laila terkena sergap lagi oleh Ibunya. Buru – buru dirangkulnya Ibunya ketika dilihatnya Ibunya menangis tersedu – sedu. Dia benar – benar menyadari keterlanjuran kata – kata yang diucapkannya. Dipagutnya Ibunya erat – erat : " Maafkan Laila, Mama. Laila benar – benar sangat mencintainya, Mama. Tetapi Lailapun saying pada Mama. Berikanlah Laila kesempatan untuk membuktikan pada Papa dan Mama , bahwa mas Daud itu baik, orang yang baik, Mama !"
Usahanya kelihatannya gagal meyakini, Ibunya pelan – pelan melepaskan pagutan Laila. Tampak beliau berdiri dengan lesu. Tampak kelesuan itu ketika tangannya membuka pintu teras. Dan masuk kedalam rumah . Kin tinggallah sunyi. Laila sendiri diteras itu dengan putus asa. Dibukanya tasnya. Dalam samar – samar diambilnya secarik kertas surat berbunga yang selalu ada ditasnya , dan selalu digunakannya untuk menulis surat pada pria yang dicintainya : Daud. Diambilnya vulpen. Ditulisnya singkat :
" Mas Daud, cintaku selalu padamu , mas, sekalipun bulan dan matahari berhenti bersinar, Laila ". Surat singkat itu dimasukkannya kedalam amplop. Besok paginya diposkannya.
Tapi setelah diposkan, Laila menyesal.
Dia khawatir, mas Daud akan salah sangka setelah menerima surat itu. Tetapi memang benarlah apa yang diduga Laila. Begitu Daud menerima surat itu, surat yang begitu singkat itu , tangannya gemetar . Dia baru kembali dari kuliah malam sebagai mahasiswa extension dan surat itu membuat seluruh rencananya batal akan menulis skripsi dimalam ini juga. Soalnya belum pernah Laila menulis surat sesingkat itu.
Daud mengira telah terjadi suatu keputusan keluarga yang mapan terhadap dirinya. Berhari – hari setelah menerima surat itu Daud menjadi bingung. Tiap ia mencoba bersikap jantan untuk pergi kerumah Laila, keraguannya muncul.
Untuk membalasnya tidak mungkin karna Laila selalu berpesan, jika dia menulis surat janganlah dibalas. Ini menyulitkan Daud dan membuat skripsi untuk gelar sarananya jadi benar – benar terlantar. Dia begitu cintanya pada Laila, dan jika dia mendatangi rumah Laila berarti Laila akan menerima beban kemarahan orang tuanya. Beban ini berarti dipikul Laila sendiri, dan itu adalah tidak adil didalam mencintai.
Memang banyak pria terlalu egois, menyuruh gadis yang dicintainya memikul beban sendiri. Akibat Daud tidak ingin menyiksa gadis yang dikasihinya, dia sendiri kini terlunta – lunta dibebani bayangan yang bukan – bukan. Sebulan ia harapkan lagi Laila akan muncul dirumah ini, tapi Laila tak datang jua.
Selama sebulan ini, bukan saja skripsinya terlantar, tetapi juga pekerjaannya dikantor acak – acakan.
Pagi ini Daud dipanggil Boss-nya.
" Biarpun saya tahu bukan kamu yang menggelapkan uang ini, tetapi karna kelalaian kamu maka Haryono sudah melarikan uang ini entah kemana ", kata sang Boss kepadanya.
Daud mandi keringat.
" Tetapi untuk melihat iktikad baikmu ". Kata pimpinan perusahaan dimana ia bekerja. " Saya minta kamu melakukan tugas mu yang terakhir. Bikinlah konsep iklan atas larinya Haryoto. Dan siang ini perlihatkan pada saya, masukkan disurat khabar sore dan pagi, selama du hari berturut – turut ".
" Baik, Pak ", kata Daud dengan hati ciut.
Dia berdiri mau meninggalkan ruang direktur, tetapi terdengar lagi : " Daud….."
" Ya, Pak "
Pimpinan perusahaan itu menatap wajah Daud dengan sedikit hiba. Dia berkata :
" Kalau nanti kamu kami berhentikan dengan hormat, itu adalah atas saran saya.
Supaya kamu bisa ,menerima pesangon 3 bulangaji. Sekali lagi, saya ingin menyelamatkan kamu. Satu – satunya jalan yaitu, kami memecatmu dengan hormat, supaya kamu selama tiga bulan bisa mencari pekerjaan lain.
Ingat, ini seuah PT, saya bisa membelamu, tapi direksi lain telah menemukan kelalaian kamu. Persoalan apa sebabnya yang membuat kamu acak – acakan belakangan ini , Daud ? ".
" Persoalan pribadi, Pak ", kata Daud, " Tak usah saya utarakan disini ".
" Segera kerjakan iklan tadi. Saya mendo'akan kamu mendapapt pekerjaan yang layak di perusahaan lain. Kamu sebenarnya tenaga qualified, saya percaya itu. Kamu bisa tapi kamu lalai. Sudah . Pergi kerjakan yang saya perintahkan tadi ".
Pedih hati Daud ketika menerima surat pemberhentian itu, sekalipun tertera diberhentikan dengan terhormat , ia justru meresa kehilangan kehormatannya !.
Dia pulang kerumahnya dengan perasaan hampa, tetapi kejadian sedih itu justru melecut hati nya tidak akan menunggu tiga bulan agar dapat kerja kembali.

Episode 5

Daud jarang kelihatan di rumah. Dan bilapun ia pulang , ia pulang setelah malam larut . Bila suatu malam ia pulang, ia temukan secarik kertas dimasukkan disela pintu. Ia tahutulisan itu. Tulisan Laila :
" Laila tadi siang ke sini.,mas Daud tidak dirumah. Laila sehat –sehat, semoga mas Daud demikian pula. Salam saying selalu, LAILA ".
Daud meletakkan surat itu diatas meja belajarnya.
Herannya , dia tidak ada getaran apa – apa atas surat itu. Tidak sebagaimana biasanya. Apakah karena dia sedang dirundung oleh mencari pekerjaan ?
Laila rupanya sudah begitu kangen juga padanya. Malam itu ia tidak bisa tidur dikamarnya. Ditinggalkannya kamar.
Dia keruang tengah. Satu – satunya lampu yang nyala hanyalah lampu baca.
Mungkin Papa barusan masuk tidur, karna surat kabar masih terhampar dekat kursi yang terletak dekat lampu baca itu. Suasana benar – benar muram oleh sinar lampu satu – satunya yang menyorot tajam kearah kursi yang biasa diduduki Papanya.
Tiba – tiba Laila disergap oleh putusan nekat. Ia ingin lari dari rumah. Ia sudah tak betah dengan rumah ini . Ia sudah benci. Dan itu takkan dilakukannya malam ini. Ia ingin bicarakan dulu dengan mas Daud.
Besok pagi.
Ya, pagi sekali ia kerumah Daud, tapi Daud tidak ada. Laila pergi kekantor Daud, hanya sebuah ucapan yang ia dapatkan : " Daud sudah berhenti ".
Laila menyesal sekali. Ia seakan – akan punya dugaan tepat, bahwa Daud telah diberhentikan karna lalai tugas dan ini semua akibat sikap keluarga difihak Laila.
Laila benar – benar menyesali orang tuanya. Daud telah menjadi korban sikap mapan orang tua Laila.
Tiba – tiba saja Laila ingat Joana, teman akrabnya sejak SMP.
Dengan naik becak , ia sampai diujung gang yang menuju rumah Joana.
" Hei, kamu Laila ! "
Joana dipergokinya ketika tepat sedang berpelukan dengan pacarna. Di rumahnya sendiri ia mendapat kebebasan begitu. Masih pagi lagi ! O, betapa irihati Laila menggelantungi hatinya ketika melihat mesranya Joana dan pacarnya.
" Laila, kamu nanti dating ya , dipesta perkawinan kami ", kata Joana.
" jadi juga dengan Solomon nih ? "
" Ya ", kata Solomon, " Cinta kalau sudah ngebet , harus segera masuk perkawinan ".
" Dari pada kececeran dijalanan ", kata Joana. Rupanya Solomon mau pergi, ia melihat jam setiap saat.
" Saya pergi , joan ", kata Solomon menepuk kepala Joana.
" Wah, saya mengganggu nih ", kata Laila.
" Memang dia sudah berencana mau pergi ", kata Joana.
Salomon Tamomoan pun akhirnya menaiki sadel dan berseru dari atas motornya : " Joan, ntar malem ya, jam 10 "
" Yuuuuuuuup ", sahut Joana melambai.
Laila benar – benar diterkam rasa iri hati : betapa mesranya Joana dan Solomon . Mereka sudah akan kawin.
Joana memperhatikan wajah Laila yang murung. Laila mau dihiburnya dengan bertanya : " Kamu kapan dengan Daud Waitulo ? "
" Belum tahu " sahut Laila.
" Bahaya lho pacaran lama – lama bisa nggak jadi ", kata Joana, " Tapi aneh nya aku dan Sal bisa begini tahan lama. Kau tahu nggak, aku yang mendesak kawin ".
" Sal sendiri ? " Tanya Laila.
" Dia si maunya siip dulu, baru kawin. Katanya tidak mau tergantung orang tuanya. Tapi ternyata dia belon juga cari kerjaan . Kudesak saja : biar sementara ditanggung orang tua. Nanti kalau sudah punya anak kan ada rejeki kata orang – orang betawi ".
Joana paling pandai ngomong. Buat Laila inipun jadilah. Kalau sudah ngomong Joana biasanya ceplosan terus ngomong tak ada habis – habisnya.
" yang ngebet itu saya ", kata Joana " Habis sudah bosen cium – ciuman melulu. Paling banter pegang. Keluar. Pegang. Keluar. Kamu tau nggak, itu bisa membuat kita jadi histeris . Maka daripada ngebet nggak karuan, ya lebih baik kawin saja "
Laila sebenarnya kerang mengerti dengan istilah – istilah ceritanya Joana. Tetapi ia menganggap Joana lebih berbahagia daripada nya.
" Kamu enak ", kata Laila. " Orang tua tidak merasa keberatan kalian pacaran. Saya ? Uh. Dihalangi, Joan ! "
" Barang kali anyak sekarang ini orang tua mata duitan. Babe gue saja kalau si Sal bukan orang kaya – anak orang kaya maksud gue – uhhhhh, kira – kira sih pantatnya sudah ditendang keluar rumah ".
Joana ambil nafas sejenak, tapi meneruskan lagi :
" Orang tua gue kan bisa direken melarat disbanding orang tua kamu , Lail ! Orang – orang yang melarat kadang – kadang lebih mata duitan daripada orang yang beduit ".
" Tapi babe gue sih lain ", kata Laila , " Mereka nenolak Daud dari soal dan alas an yang tidak jelas. Pokoknya gue nggak boleh sama Daud ".
" Ude deh, kawin tamasya aja ", kata Joana seenaknya.
" Kawin tamasya gimana ?"
" Kamu muat di iklan, kawin tamasya . Lu – orang pada pegi deh ke kantor catatan sipil. Beres. Akhirnya orang tuamu tokh mau akuin kalian sebagai suami istri" , kata Joana.
" Aku nggak berani ", kata Laila, " Aku terlalu saying pada Mamaku ".
" Kalau nggak berani ya resikonya tanggung sendiri. Menderita bathinlah! kayak gua . Lu tau nggak, begitu lama gua pacaran sama si Sal . Jangan kira gue udah bolong, Lail ? gua masih suci, karena Sal diajarin mral keperawanan oleh kakaknya. Kakaknya kan Pendeta ? Yaaaah, kadang – kadang gua sebel juaga maen – maen diluar doing. Tapi syukurnya gue punya kebanggan : Ditempat tidur penganten nanti gue masi perawan utuh. Sal masih Perjaka tingting ".
Pendeknya pagi itu Joana cukup berbangga akan dirinya sendiri. Laila Cuma menikmatinya dengan jakun turun naik : ngile .

Bersambung...........
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
rmlodang
Camat


Lokasi : Kayangan junggring saloko.
Reputation : 12
Join date : 12.08.08

PostSubyek: Re: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   Thu Dec 11, 2008 1:38 pm

Tak ndelik seik kang....gek hayo nyang angkringan wae kapan kapan..
Mas prie karo kang gareng yo weis siap.

oot setitik, ojo di deleted.
Kembali Ke Atas Go down
http://maryoto_metal@yahoo.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   Thu Dec 11, 2008 1:43 pm

rmlodang wrote:
Tak ndelik seik kang....gek hayo nyang angkringan wae kapan kapan..
Mas prie karo kang gareng yo weis siap.

oot setitik, ojo di deleted.

Yoh manut wae aku....
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   Tue Dec 16, 2008 11:41 am

Bersambung maneh..............

Episode 6
Bila Laila pulang kerumah, ia mengharapkan pikiran tenteram. Tetapi rasa risaunya muncul kembali bila Laila terlentang diatas ranjang. Dia iangat pada mas Daud, mengapa ia berhenti bekerja ?
Seperti tiap malam sebelumnya, malam itupun Laila tidur sedikit. Cuma pagi – pagi sekali Sarita menbangunkannya :
" Mas Daud datang ", kata Sarita.
" Papa sudah pergi ? " Tanya Laila cemas.
" Sudah "
" Mama ? "
" Lagi kepasar sama bibik "
" Oh, syukurlah ", kata Laila.
Laila keluar kamar setelah merapikan sisirannya . Begitu rindunya untuk bertemu dengan Daud, sampai – sampai ia lang sung saja menemuinya.
" Kau kerumahku ? " Tanya Daud.
" Ya "
" Aku sudah ganti pekerjaan " kata Daud. " Sekarang kalau kau punya waktu, mumpung Ibumu dan Papamu tidak ada, kita kerumahku.
Laila tertegun. Ia bertanya : " Sudah dikasih minum ? " Ah, nggak usah repot – repot ", kata Daud , " Atau saya pergi duluan ? "
" Ya begitu saja ", kata Laila.
Daud buru – buru pergi dari rumah itu. Ada satu perubahan dilihat Laila : Daud memakai skuter baru.
Ketika mandi Laila merasa bahagia sekali, karna ia selama ini ia mendo'akan agar masa depan Daud cemerlang. Coba, seperti kemarin, mendengar Daud berhenti, begitu besar kekecewaan Laila, karena dikiranya keberhentian mas Daud di pengaruhi oleh kekacaubalauannya urusan – urusan pribadi mereka.
Pagi itu Laila berusaha berdandan secantik mungkin. Bukan itu saja, ia ingin memperlihatkan dirinya lebih feminim – lebih wanita – satu – satunya selera yang agung pada diri Daud.
Daud senang bila wanita itu pandai berdandan, pandai memberihkan rumah, pandai memasak dan keibuan . Karena itu, Laila berdandan serapi mungkin, secantik mungkin, tetapi tidak memberi kesan dipoles dengan alat make up yang berlebihan.
Benar, ketika ia muncul didepan rumah Daud, Daud berkata : " Bebera hari nggak ketemu kau kelihatan cantik ".
" Thanks " kata Laila singkat.
" Singkatnya, aku berhenti dikantor dulu ", kata Daud ," Tetapi aku dapat pekerjaan baru setelah melalui test interview, dan ditempatkan ditempat yang baik. Besok mulai bekerja. Kondisi gaji bagus. Aku akan bekerja keras di kantor baru ini, demi karirku, demi masa depanku. Yang ingin kucapai adalah kelak menjadi direktur muda dikantor baru ini. Aku percaya aku bisa. Aku percaya aku bisa hanya dengan do'a mu yang tulus. Demi masa depan kita ".
" Mas Daud masih memikirkan masa depan kita ?" Tanya Laila .
Dud Waitulo tercengang oleh pertanyaan itu. Tampak bola matanya tidak memperlihatkan sinar apa – apa lagi, dan bertanya : " Apa kau akan dikawinkan dengan orang lain ? "
Laila diam beberapa detik, tetapi beberapa itu menegangkang.
Ketegangan itu meledak juga akhirnya ketika Laila berkata : " Memang begitulah kira – kira. Laila baru jelas apa motif Papa dan Mama menolak mas Daud. Bukan karna warisan , juga bukan karna harta. Tapi sumpah diwaktu muda antara Papa dan Mama dengan teman akrabnya : " Bahwa nanti mereka akan saling ambil mantu ".
Daud terperangah. Ledakan itu tiba – tiba seakan membunuh jiwanya. Ia seperti terpana untuk beberapa saat, duduk dengan bertopang dagu, dan melirik Laila dua kali dengan tarikan nafas kedalam.
" Padahal saya akan melamarmu dalam minggu ini juga ", kata Daud.
" Kenapa ? "
" Entahlah. Dorongan bathin saya begitu ", kata Daud.
Laila diam , Daud diam . Tetapi ia melirik dua kali lagi pada Laila, dan disambut Laila dengan pandangan. Sebelum Daud menduga yang bukan – bukan, berkatalah Laila : " Saya akan minggat, benar anak – anak sekarang bila menganggap orang tua sekarang egois ! Tidak egoiskah bila Papa dan Mama ku mau mengawiniku dengan anak teman sekolahnya dulu karena sumpah diwaktu muda ? Hanya mau sama – sama mendapatkan kesenangan ? "
" Kau kenal pemuda itu ? "
" Ada dua kali dating, Tetapi saya tak ambil perhatian. Kedatangan Om dan Tante itu kerumahpun kelihatannya biasa – biasa saja. Atau mereka pintar bersandiwara ", kata Laila.
Daud lebih terhempas. Dia bertanya : " Bila dipaksakan juga, kau bersedia ?"
" Saya minggat ",kata Laila.
Laila tiba – tiba saja menangis. Daud membujuknya : " Mungkin bukan jodoh kita", dan dielus nya rambut Laila dengan penuh saying dan kelembutan. Terasa nafas ciuman hidung Dud pada ubun – ubun Laila, terasa amt mesra sekali. Terasa lebih perih suara Daud yang lembut : " Katakanlah kita tak jadi kawin. Menjadi suami isteri. Katakanlah begitu . Tapi cintaku padamu tak berkurang. Kita harus tetap saling mencintai ".
Laila tak tahan untuk minta didekap. Ketika Daud belum juga mendekapinya, Laila mendekapinya sambil berkata : " Mereka tak tau rumah ini. Aku tinggal dirumah ini saja, mas Daud ".
" Tetapi bila mereka melapor polisi, soal ini bisa jadi perkara besar ", kata Daud.
" Oh, ya. Kau pun akan diseret ke pengadilan ", ujar Laila , " sedang kau akan baru mulai dengan karier baru ".
" Aku masih penasaran " , kata Daud, " Beranikah kau memikul resiko, jika aku potong ditengah jalan. Sebelum rencana mereka klop, aku melamar mu saja ? "
Laila bangga dengan putusan ini . Katanya " Dulu aku bimbang, kini hatiku padat. Aku akan hadapi kemarahan Papa sampai yang paling decil ".
Laila melirik , menghapus air mata, bertanya, " Kapan mas Daud akan dating ? "
" Saya akan dating mendadak ", kata Daud.
" Saya berani memberi tahu dulu pada Mama supaya jangan mengejutkan betul ba gi mereka ", kata Laila.
" Itu juga baik" , kata Daud.
Kali ini Laila merasa mendapatkan dorongan bathin. Dipeluknya Daud dengan hangat , dan dia berkata : " Papa dan Mama harus menanggungkan kesalahan mereka. Aku tidak berdendam . Tetapi selama ini mereka tampak berdiam diri kalau ku beri tahu bahan – bahan baju dan benang berwarna, alat – alat menjahit segala itu kau yang belikan. Kalau mereka betul – betul punya rencana , mereka harus menolak sejak pertama kau membelikan apa – apa buat ku ".
" Itu tak usah kau bangkit lagi ", kata Daud, " hampir tiga tahun pacaran bagi kita adalah latihan jiwa. Kalau kita bisa berangsur – angsur mengalah kan rintangan, perkawinan kita kelak akan kuat ".
Laila menatap kemata Daud. Tatapan mata gadis yang memang sudah membutuhkan pria sebagai suaminya. Daud mendekatinya, mengadu hidungnya dengan hidung Laila. Mereka tampak sangat terangsang. Mereka berpagut dan berciuman. Bibir Daud perlahan – lahan menyentuh bibir Laila. Sekecup sekecup sekecup. Tetapi kemudian kecupan itu menempel satu sama lain, dan mata Laila tertutup terbuka merasakan nikmatnya ciuman pria tercinta itu.


Sambung.......
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
SAPTO SARDIYANTO
Camat


Lokasi : JAKARTA
Reputation : 1
Join date : 24.05.08

PostSubyek: Re: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   Tue Dec 16, 2008 1:56 pm

sip critane

_________________
Betapa manisnya bersama - MU walau hidup ini pahit
asal Engkau ridha mesti semua orang marah sengit
alangkah baiknya jika antara aku dan Engkau makmur
walaupun antara diriku dan seluruh alam ini hancur
jika kasih sayang-MU telah hadir semuanya jadi hina
karena setiap yang diatas tanah akan menjadi tanah
(Enjoy Your life : Dr.M Al areifi)
Kembali Ke Atas Go down
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   Thu Dec 18, 2008 3:33 pm

SAPTO SARDIYANTO wrote:
sip critane

Nggih mas... ajib ajib
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
rmlodang
Camat


Lokasi : Kayangan junggring saloko.
Reputation : 12
Join date : 12.08.08

PostSubyek: Re: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   Thu Dec 18, 2008 8:40 pm

Dadi trenyuh aku...
Kembali Ke Atas Go down
http://maryoto_metal@yahoo.com
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   Fri Dec 19, 2008 5:18 pm

Ojo trenyuh dang....dadi welas aku....

Episode 7

Dia tidak merasa bahwa telapak tangan Daud sudah bergeser perlahan, bembuat Laila merasa pori – pori didadanya mengembang.
" Mas Daud " , bisik Laila.
" Kalau mereka menolak gimana ?" Tanya Laila, dan memanglah kadangkala jenis wanita adalah jenis mahluk yang lebih nekatdari pria. Tapi Laila tidak mau mengucapkan apa yang dimaksudkannya denga nekaditu. Sebenarnya memang wajar Laila tidak mau menyebutkannya. Betapapun tulus cintanya, suci hatinya, jujur danterbuka seluruhnya, namun soal, yang itu, ia tidak wajib mengatakanya . Itu memalukan.
" Aku juga nekad bisa ", kata Daud, memeluk Laila seerat – eratnya, " Tetapi selagi masih bisa secara wajar, wajarlah. Bisa saja kita sama – sama pasrah. Akhirnya kau kuhamili. Kita bikin orang tuamu menyerah pada kenyataan itu……".
Sama.
Ya. Sebetulnya itu yang dimaksudkan Laila dengan sebagai "nekad".
Memang sama begitulah yang Laila fikirkan. Cuma jika ada bedanya, Daud adalah jenis kelamin pria yang suka bertele – tele, berbeda dengan Laila yang dibatasi oleh naluri – naluri wanitanya untuk menyampaikan sikap kalbunya. Dalam soal nekadnya, Laila lebih nekad mungkin di banding Daud. Sekarang pun ia rela menyerahkan keperawanannya jika Daud betul – betul bersumpah untuk ambil resiko. Begitulah . Cuma ini tidak diucapkan Laila kepada Daud.Dia Cuma membiarkan Daud meraba tepi – tepinya, dan ia biarpun ingin dan ngebet, tidak mau membiarkan Daud lebih jauh dari itu. Tetapi Laila selalu membiarkan karena senang apabila Daud perlahan – lahan menanggalkan kaitan bh-nya. Entah bagaimana, kadang – kadang sisa – sisa cukuran kumis Daud yang masih numbuh dikit – dikit itu, menimbulkan suasana kecupan – kecupannya lebih membangkitkan birahi, biarpun kadang – kadang Daud menggigit – gigit kecit.
Hari itu Laila seakan – akan sudah ingin terus terang : Sekarang saja ! Ini karena ia tersentuh oleh peningkatan kenikmatan yang membikin ia merintih untuk menyampaikan rintihan penyerahannya. Tetapi Daud merupakan Pria yang cukup mampu menahan diri dan tetap tidak menodai Laila. Dia benar – benar ingin membuat Laila tetap perawan dimalam pengantin nanti, bila lamaran disetujui tentu.
Ibu Laila jadi kaget mendengar hal yang disampaikan Laila.
" Edan sekali ! Apa kau tidak punya perasaan sudah kami bawa Richard kesini ? kamu kira Papa da Mama Cuma orang tua – orang tua yang tidak serius ? "
" Saya tidak mengatakan Papa dan Mama main – main " , bantah Laila, " Tapi mas Daud akan kesini hari rabu untuk melamar. Cuma itu yang saya bilang ".
" Kapan kau ketemu dia ? " Tanya Ibunya agak bersuara kasar.
" Saya kerumahnya ", kata Laila.
" Kami akan malu dengan keluarga Richard ", kata sang Ibu.
" Saya tidak tertarik dengan Richard ", kata Laila.
' Anak sekarang pilihan nya memang yang blo'on , sama sekali tidak punya selera elite. Yang kamu sukai tidak lain macam Daud, macam Daud macam Daud itu lain tidak ! baiklah. Suruh ia dating kesini hari rabu tanggal 6 , dan bilang kepadanya kami pasti menolak lamarannya ".
Tanpa diketahui oleh Ibunya Laila, sebenarnya telah ada diberanda saat itu seorang tamu yang sudah dipersilahkan duduk oleh Sarita. Tamu itu tidak lain adalah Richard.
Ibu Laila tiba – tiba merubah sikap marahnya menjadi berbaik – baik pada tamunya: " Eh, Richard ada apa dick ? "
" Undangan makan malam dari papa dan mama ", kata Richard memberi sepotong kartu nama ayahnya yang dibungkus amplop kecil dengan sedikit pesan didalamnya.
" Tante musti bawa Laila , Dong ?" kata sang Ibu.
" Itu terserah Laila ", kata Richard.
Dari sudutu ruang makan Laila berkata perlahan, sopan, tapi kedengaran : " Laila sorry ya Dick, nggak bisa pergi ".
Tetapi setelah dibentak – bentak oleh Ayahnya. Laila akhirnya berpakaian juga untuk pergi memenuhi undangan makan malam oleh ayah dan ibu Richard.
Dalam mobil Laila bungkam seribubasa .
Tetapi dia bersikap ramah sewaktu berdapan dengan orang tua Richard. Richard pun kelihatan agak gallant. Memang dia gantang dan begitu sopan ketika berkata :
" Sementara yang tua kongkouw, kita kekebu ".
Laila gemeter dan ragu memenuhi ajakan itu . Tapi ia tampak sedikit aman oleh sikap – sikap Richard.
" Maaf tadi kami lagi perang hebat ", kata Laila .
" Saya tau ", kata Richard.
" Katanya kamu mau melanjutkan study ke Amerika ? " , Tanya Laila.
" Maksudnya memang begitu ", kata Richard.
Laila kini siap untuk bertekat pasif. Dia duduk saja dikursi itu dengan sikap tenang dan sopan, dan menanti Richard ngajak ngomong. Padahal ada soal yang ingin dikemukakannya secara terus terang sekarang ini kepada Richard.
" Kau sudah punya pacar ? " Tanya Richard.
Laila kaget bagai mendengar bom. Richard mendorongnya lagi dengan tandatanya : " sudah kan ? "
" Sudah "
" Boleh tau nama pacarmu ? "
" Boleh ", kata Laila.
" Siapa ? ", Tanya Richard, dengan suara tetap sopan.
" Daud ", kata Laila , " Daud Waitulo ".
" Bagus ", kata Richard, " Kamu jujur. Cewek – cewek sekarang ini lebihnya dari cewek – cewek zaman orang tua kita adalah mengatakan sesuatu yang jujur ".
" Ya, buat apa menipu diri sendiri ", tambah Laila.
" Memang mereka yang menipu diri sendiri adalah mereka yang tidak berbahagia sampai kapanpun ", kata Richard.
Laila jadi tertarik. Dia ingin tahu apa maksud undangan makan malam ini. Ia bertanya : " Kira – kira apa arah undangan makan malam ini ? "
" Mereka akan memantapkan pembicaraan mengenai perkawinan antara kau dan saya ", kata Richard.
" Kau sendiri bagaimana ? ", Tanya Laila tak bisa menahan diri lagi.
Richard tertawa. Dia berkata sambil ketawa manis : " Kadang – kadang lucu melihat orang – orang tua memikirkan sesuatu mengenai kita anak – anaknya . Mereka mau menganggap kita ini seperti bola golf. Dipukul dengan stick jauh – jauh. Mereka jalan santai mendekati tempat kita jatuh. Setelah dekat, mereka memainkan kita dengan pukulan lambat untuk memasuki lobang yang kecil. Kadang – kadang orang hidup suka mengabil sikap dengan benda apa yang paling dekat dia. Dia memelihara anjjing, sikapnya kayak anjing. Dia memelihara tujuh babu dirumahnya, sikapnya ya jadi kayak 7 babu itu. Repot nggak karuan ".


BErsambung........
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Wonosingo Ngali Kidul
Pengawas


Lokasi : Gunungkidul
Reputation : 20
Join date : 06.05.08

PostSubyek: Re: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   Tue Dec 30, 2008 9:46 am

Bersambung .....

Episode 8

Untuk yang pertama Laila menemukan tokoh Richard yang sejati dan menarik. Laila ketewa mendengar perbandingan lucu yang di ucapkan Richard.
" Pernah kau dengar bukan ? orsng – orang tua kita dullu satu kelas di Mulo. Lantas sama – sama satu kelas di AMS Solo. Mereka pacaran, mereka kawin. Kawinnya pun setelah sama –sama lulus AMS. Lalu ibumu dan ibu saya sama – sama hamil. Menghamili kamu dan menghamili saya. Ketika bayi lahir, bedanya saya sedikit tua beberapa hari dari kau. Lalu mereka jumpa. Omong – omong dan angkat sumpah : Kalau kita sama – sama panjang umur, anak kita akan kita jodohkan : Dick dan Laila. Oh, nostalgia ! Semua orang tua sekarang ini otaknya berisi nostalgia !.
Laila gembira. Lalu dia pancing dengan Tanya : " Kamu setuju kita menjadi alat – alat impian , alat alat nostalgia mereka ? "
Richard tertawa, ketawanya enak. Laila senang dengan ketawa enak itu, tapi itu membuatnya tegang beberapa detik. Kata Richard : " Saya ini punya pacar, gadis America. Dulu orang tuanya dan dia tinggal di Jakarta sebagai Duta Besar. Dia mendesak saya ke America, sambil nerusin pelajaran, juga ngajak kawin. Na ini orang – orang tua kuta nggak ngerti : Kamu sudah punya Daud. Sayapun sudah punya Elizabeth ".
" Apa yang bisa kita buat sekarang ? " pancing Laila.
" Kamu tinggal diam saja ", kata Richard, " Pada waktu saya diajak mama dan papa ke rumah kamu, melihat sikap kamu yang dingin kepada saya, saya pun juga sudah maklum kalau kamu sudah punya kekasih. Itu bukan berarti kamu benci saya, tentu tidak. Tetapi lain toh, cewek yang sudah punya pacar tetap atau yang belum ? ", Richard ketawa enak lagi, disambut dengan enak pula ketawanya Laila. Laila gembira karna inilah salah satu cara lain untuk mengatakan pada generasi tua, bahwa generasi muda bisa mengurus diri sendiri.
" Saya akan bilang ini malam juga ", kata Richard.
Lalu pelayan muncul : " Tuan Dick, silahkan ke dalam ".
Pelayan itu pergi , Richard berkata : " Itu babu No. 4 bagian panggil – panggil untuk makan. O, nostalgia mau meniru zaman Belanda yang mama mereka itu minder kepada Belanda semasa mereka masih di Mulo dan AMS ! ".
Lalu muncul lagi pelayan, membersihkan minuman dimeja kebun itu. Begitu pelayan pergi Richard memberi komentar: " Ini pelayan No. 5, kerjanya angkut –angkut gelas begitu ada pemberitahuan dari pelayan No. 4 tadi. Siklus rumah kami ibarat mesin. Tujuh pelayan secara rutin mendengar bell – bell dengan suara tertentu, dan mereka menjadi mesin komputer keluarga kami yang, yang, yang bahagia ".
Lalu Richard mengajak Laila : " Mari ikut rame – rame dengan impian mereka. Malam ini setelah kamu pulang, saya akan jadi pemberontak. Seolah – olah saya meledakkan bom yang akan bikin papah dan mamah saya semaput ".
Benar.
Itu terjadi.
Richard berangkat ke America hanya seminggu setelah makan malam bersama itu. Papa dan Mama Richard dating ke rumah Laila, dan akhirnya mereka bertangisan bersama – sama.
Impian mereka lenyap setelah bertahun – tahun mereka pelihara sebagai ramuan sebuah nostalgia.
Tetapi tiadak urung, Laila kaget juga ketika mas Daud dating hari rabu tanggal 6. Papa mau Mama menolak lamaran Daud . Katanya : " Laila akan melanjutkan study lagi , dan kami kira dia baru akan akmi setujui untuk kawin di umur 25 tahun ".
Buat Daud sakit sekali.
Tetapi tidak diceritakan disini mengapa akhirnya Daud dan Laila akhirnya kawin tanpa restu Papa dan Mama Laila. Itu tidak akan diceritakan sekarang , karna nanti Laila akan bercerita sendiri.
Sekarang biarpun sangat singkat, akan diceritakan juga betapa merintihnya Laila ketika ia menyerahkan mahkota kesuciannya kepada Daud, sebagai suaminya yang syah.

Sakit . Tapi nikmat. Sory sensor... lol!
Dan terpaksa diceritakan dengan singkat…………………

Berlanjut..........
Kembali Ke Atas Go down
https://www.facebook.com/mahesatunggalika
Sponsored content




PostSubyek: Re: ( Novel ) Cintaku Selalu Padamu   

Kembali Ke Atas Go down
 
( Novel ) Cintaku Selalu Padamu
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Teras Nongkrong-
Navigasi: