Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??

Go down 
PengirimMessage
dewalangit
Officer
avatar

Lokasi : Jl.jogja-wnsari km 20 Patuk.Dhaksinargha Bhumikarta.
Reputation : 39
Join date : 20.07.08

PostSubyek: Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??   Wed Jan 21, 2009 10:19 pm




Tiwul bukan menu baru bagi masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Sudah sejak lama makanan ini dikonsumsi oleh orang Papua, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung. Siapa sangka bila ternyata tiwul yang identik dengan menu pokok marginal itu ternyata memiliki kalori dan gizi yang memenuhi standar untuk dijadikan makanan pengganti beras. Tapi tunggu dulu. Tiwul yang dimaksud tentu bukan tiwul sembarangan, tapi tiwul istimewa.

Dikatakan istimewa sebab tiwul itu diolah dengan berbagai bahan campuran full gizi. Bukan air tapi susu segar dicampur dengan telur. Waktu dihidangkan di meja makan pun temannya juga bukan ikan asin, tapi ayam bakar, sop kambing, kadang-kadang ikan bakar.

Tiwul adalah pilihan. Jika terjadi devisit beras, stabilitas dan ketahanan pangan keluarga tak akan terganggu sebab terdapat berbagai makanan pokok alternatif. Itu artinya ketergantungan terhadap padi sebagai bahan pangan pokok perlahan akan berkurang. Substitusi bahan pangan nonpadi yang tersedia secara regional sesuai dengan daya dukung agroekologi dan pranata budaya masyarakat ini, bagaimanapun, tetap memperhatikan kadar gizi makro dan mikro yang tinggi. Jangan sampai karena berganti tiwul, standar gizinya merosot.

Bahan Baku Tiwul



Sumber kalori potensial nonpadi adalah jagung dan cassava. Produksi jagung domestik lebih rendah dari permintaan sehingga mesti dipenuhi dari jagung impor sekitar 1,5 juta ton per tahunnya. Sedangkan, produksi cassava masih surplus. Dari 100 persen produksi hanya 90 persen yang digunakan untuk pangan, pakan, dan industri.

Dari sisi kandungannya, cassava ternyata punya keunggulan daripada padi. Ia punya lebih banyak kandungan lemak, kalsium, zat besi, vitamin A dan C. Bila tepung cassava dicampur dengan 18 persen tepung kedelai maka tepung komposit tersebut menjadi bahan pangan pokok bergizi tinggi dan lebih lengkap jika dibandingkan dengan padi. Ditambah dengan telur maka lengkaplah tiwul itu memiliki kandungan protein sebesar 29 persen.

Cassava juga punya keunggulan lain yaitu kemampuan tanaman ini beradaptasi dengan lingkungan marginal. Ia juga bisa ditanam di berbagai medan secara lebih merata di seluruh wilayah di negeri ini. Jika dipanen hasilnya bisa mencapai 25 ton per hektare per 9 bulan atau 134 kkal/hari, sedangkan padi sawah dengan asumsi dua kali panen hanya 12 ton per hektare setara dengan 125 kkal/hari. Artinya, dengan pengolahan yang sederhana saja menjadi tepung komposit ubi kayu bisa menjadi bahan pangan bergizi tinggi dan lengkap.

Keunggulan tepung komposit inilah, ternyata, yang menjadi faktor pendorong PT. Bogasari untuk membangun industri tiwul instan di Gunung Kidul, Yogyakarta. Industri ini akan menambah keunggulan cassava sebagai sumber kalori alternatif utama. Oleh karena itu, peran cassava dalam sistem pangan global menuju tahun 2020 menjadi semakin penting. Pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil pengumpulan data pola konsumsi penggunaan sumber kalori utama nonpadi di Papua, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung.

_________________
Dengan Ilmu hidup jadi mudah
Dengan Seni dan Cinta hidup jadi indah
Dengan Agama hidup jadi terarah
Dengan smart & smile hidup jadi bergairah


FB
Kembali Ke Atas Go down
http://www.saeahchim.co.kr/
Prof.
Koordinator
avatar

Lokasi : pekanbaru
Reputation : 3
Join date : 07.12.08

PostSubyek: Re: Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??   Mon Feb 02, 2009 3:37 pm

Tiwul, makanan masa lalu yang selalu mengelitik rasa kangen tuk kembali mencicipinya..... :@X:
Kembali Ke Atas Go down
http://ijopunkjutee.blogspot.com
fathers
KorLap
avatar

Lokasi : SUROBOYO
Reputation : 1
Join date : 05.11.08

PostSubyek: Re: Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??   Mon Feb 02, 2009 6:32 pm

jaman saya kecil dulu sering sekali makan nasi tiwul, bukan karena Hobi atau suka nasi tiwul, tapi karena memang keadaan yg memaksa mau gak mau harus makan nasi tiwul, dan memang sangat nikmat, apalagi lauknya Jangan Lombok, terong, kulupan Semingkir..... hmmmm ajib uenak tenan....
Tapi gak tahu kenapa sekarang ini , sedikit saja saya makan nasi tiwul atau jajan pasar yg ada tiwulnya ( di Surabaya ada ) perutku langsung suakit sampai tembus punggung, mungkin dasar wis sakit sakitan, makanya saat ini gak pernah berani makan tiwul......
Padahal tiwul is Delicius......
Kembali Ke Atas Go down
http://www.friendster.com/sonreiffal
siti rahayu
Camat
avatar

Lokasi : Blok F 48
Reputation : 13
Join date : 25.07.08

PostSubyek: Re: Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??   Tue Feb 03, 2009 9:41 am

fathers wrote:
jaman saya kecil dulu sering sekali makan nasi tiwul, bukan karena Hobi atau suka nasi tiwul, tapi karena memang keadaan yg memaksa mau gak mau harus makan nasi tiwul, dan memang sangat nikmat, apalagi lauknya Jangan Lombok, terong, kulupan Semingkir..... hmmmm ajib uenak tenan....
Tapi gak tahu kenapa sekarang ini , sedikit saja saya makan nasi tiwul atau jajan pasar yg ada tiwulnya ( di Surabaya ada ) perutku langsung suakit sampai tembus punggung, mungkin dasar wis sakit sakitan, makanya saat ini gak pernah berani makan tiwul......
Padahal tiwul is Delicius......

sama seperti aku...dl waktu kecil sama mbahku di kampung menu utama adh tiwul bukannya nasi putih..krn keadaan yg serba kekurangan...gak masalah makan tiwul tiap hari.....
tapi kalo skr aku makan sedikit aja (beli di pasar)...pasti ke "belakang" trus.....
apa bedanya yach?

_________________
Cheisya Ramadhani Maulana
Ganapatih Naradatva Maulana
Kembali Ke Atas Go down
kandar
Presidium
avatar

Lokasi : jakarta asli Kemiri, Tanjung sari
Reputation : 25
Join date : 23.08.08

PostSubyek: Re: Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??   Tue Feb 03, 2009 3:57 pm

mungkin bedane disini.. (maap artikel ini sudah pernah dimuat cmn utk mengingatkan kembali buat diri sendiri ajah?

_________________________________________________________________
Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir sayaterus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.

Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan. Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras." Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.

Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.

Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.

Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup
yang pahit.

Refleksi:
Mengapa harus sombong dengan kekayaan yang kita miliki, karena kekayaan tiada berguna sama sekali, lebih baik menghidupkan lagi rasa toleransi yang ada pada diri untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

_________________
urip mung mampir ngombe lan mung wang sinawang.

Menjadi tua pelan tapi pasti, namun menjadi dewasa belum tentu.

http://syifauwongmantren.multiply.com => nembe sinau
Kembali Ke Atas Go down
http://syifauwongmantren.multiply.com
fathers
KorLap
avatar

Lokasi : SUROBOYO
Reputation : 1
Join date : 05.11.08

PostSubyek: Re: Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??   Tue Feb 03, 2009 7:22 pm

SIP SIP ajib kang kandar.... artikel yang tadi, cuma sekarang aku jadi bingung Zat apa yang membuat badan/perut/lambung saya PASTI sakit kalu makan jajan/ nasi tiwul, bukan masalah pada rasa. tapi Badan yang nggak mau nerima. bahkan sempat sampai harus istirahat 4 hari.
Ada yang tahu apa penyebabnya ??????
Kembali Ke Atas Go down
http://www.friendster.com/sonreiffal
kandar
Presidium
avatar

Lokasi : jakarta asli Kemiri, Tanjung sari
Reputation : 25
Join date : 23.08.08

PostSubyek: Re: Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??   Wed Feb 04, 2009 9:14 am

Cari thiwul yg asli ya pulang ke kampung kang.. ben dimasakke simbok.. pasti 100% murni tanpa campuran zat kimia...

lebih enak lagi makannya pake gethuk karangan (rumput laut)....

_________________
urip mung mampir ngombe lan mung wang sinawang.

Menjadi tua pelan tapi pasti, namun menjadi dewasa belum tentu.

http://syifauwongmantren.multiply.com => nembe sinau
Kembali Ke Atas Go down
http://syifauwongmantren.multiply.com
love_gk
KorLap
avatar

Lokasi : karangmojo-panggang-jakarta
Reputation : 4
Join date : 14.10.08

PostSubyek: Re: Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??   Wed Feb 04, 2009 7:03 pm

cen nek bali ki seng tak goleki tiwul wingi sore...seng pero kemrotok esok2 disambelke lalap kacang opo pete jiaaaaan segere wes pokoke mengandung pitamin A-Z ngalahke iwak pitek(lha ra duwe) dance
Kembali Ke Atas Go down
http://etcdanseterusnya.blogspot.com
Sponsored content




PostSubyek: Re: Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??   

Kembali Ke Atas Go down
 
Siapa bilang Thiwul tidak Bergizi ??
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: ALL ABOUT GUNUNGKIDUL :: Kekayaan Daerah-
Navigasi: