Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 kisah bijak

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
must_ed
Koordinator


Lokasi : kaki gunung singa
Reputation : 8
Join date : 24.01.09

PostSubyek: kisah bijak   Sat Apr 25, 2009 10:45 am

Mengalah Itu Lebih Baik

Sekuat tenaga Koto menarik Cimo. “Alhamdulillah, akhirnya kita keluar dari sungai. Kita seharusnya tidak boleh menang sendiri, begini deh jadinya!” kata Cimo sambil mengeringkan badannya. “Iya, seharusnya kita saling mengalah ya biar nggak dorong-dorongan. Maafin aku ya,” kata Koto yang sudah menyadari kesalahannya. “maafin aku juga ya…” jawab Cimo sambil tersenyum. Mereka pun bersalaman.

Semalaman, hujan deras mengguyur perkampungan semut. Tidak ada satupun penghuninya yang berani keluar. Mereka tertidur lelap sampai sinar mentari menerobos masuk ke sarangnya. Cimo kecil, seekor semut hitam keluar dari sarangnya. Pagi itu, dia ingin pergi ke perkampungan jamur. Kebetulan perkampungan jamur itu dekat dari sarangnya. “Wa… pasti enak makan jamur di saat udara masih lembab begini!” pikirnya. Sebelum mencapai perkampungan jamur itu, Cimo harus melewati sungai kecil dengan seutas tali yang menjadi jembatan. Sungai itu sebenarnya air yang menggenang. Karena tubuh semut yang kecil, maka mereka menganggap bahwa genangan air itu sebagai sungai. “Aku harus hati-hati berjalan di atas jembatan tali agar aku tidak kecebur,’ kata Cimo dalam hati. Sesampainya di tengah jembatan, Cimo bertemu Koto, seekor semut merah yang baru saja keluar dari perkampungan jamur. Mereka berebutan ingin melewati jemabatn dan tidak ada satupun yang mau mengalah. “Cimo, kamu mundur dulu biar aku lewat duluan!” kata Koto. “Nggak! Kamu yang mundur dulu!” kata Cimo tak mau mengalah. “Aku yang sampai sini duluan Cimooo!” Koto mulai mendorong Cimo. Akhirnya Cimo dan Koto saling mendorong satu sama lain. Dorongan Cimo yang sangat kuat membuat Koto terjatuh ke sungai. “Astaghfirullahal’adzim, Cimo! Kamu mendorongku sampai jatuh. Sekarang lihat! Aku basah kuyup,” kata Koto sambil menangis. Cimo yang masih berdiri di atas jembatan tertawa terbahak-bahak. “Rasain lu!” ledek Cimo. Dengan marah Koto menarik kaki Cimo. Sekarang Cimo juga jatuh ke sungai. Koto menertawakan Cimo yang basah kuyup. “Lha kamu menarik kakiku, aku juga jatuh, basah kuyup,” kata Cimo menyalahkan Koto. Setelah itu, Cimo dan Koto berusaha untuk naik ke daratan. “Sungai ini sangat licin, aku kesulitan untuk naik!” Koto berusaha naik ke daratan, tapi selalu saja terperosot karena tanahnya licin. Cimo dan Koto mulai manyun. Mereka kedinginan. Akhirnya, mereka saling bantu agar segera keluar dari sungai. Badan Cimo yang lebih besar menopang tubuh Koto. Koto meloncat dan mendarat di daratan. Koto kemudian menarik tangan Cimo yang masih di dalam sungai. Sekuat tenaga Koto menarik Cimo. “Alhamdulillah, akhirnya kita keluar dari sungai. Kita seharusnya tidak boleh menang sendiri, begini deh jadinya!” kata Cimo sambil mengeringkan badannya. “Iya, seharusnya kita saling mengalah ya biar nggak dorong-dorongan. Maafin aku ya,” kata Koto yang sudah menyadari kesalahannya. “maafin aku juga ya…” jawab Cimo sambil tersenyum. Mereka pun bersalaman. Setelah tubuh Cimo dan Koto kering, mereka mencoba kembali melewati jembatan. Tapi, kali ini Cimo menunggu Koto selesai melewati jembatan dan sampai di seberang dengan selamat. Kemudian Cimo bergantian melewati jembatan ke perkampungan jamur. “Alhamdulillah, ternyata mengalah itu lebih baik,” kata Cimo dan Koto hampir bersamaan.
Kembali Ke Atas Go down
wahyun
Koordinator


Lokasi : jogja
Reputation : 2
Join date : 20.03.08

PostSubyek: Re: kisah bijak   Sun Apr 26, 2009 11:01 pm

bisa mengambil pelajaran dari alam.....mungkin manusia macam itulah yang disebut cerdas ^_^!!

sipppp!!
Kembali Ke Atas Go down
Prahayun
Donatur


Lokasi : Jakarta Selatan
Reputation : 4
Join date : 04.03.08

PostSubyek: Re: kisah bijak   Thu Jun 04, 2009 3:57 pm

Diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Kembali Ke Atas Go down
http://tagged.com/prahayun
Prahayun
Donatur


Lokasi : Jakarta Selatan
Reputation : 4
Join date : 04.03.08

PostSubyek: Re: kisah bijak   Thu Jun 04, 2009 3:57 pm

Cangkir Cantik









Sepasang kakek-nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka,

Kemudian mata mereka tertuju kepada cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek. Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara,


"Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik.

Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna.

Namun suatu hari ada seorang penjunan dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing.
Stop ! Stop ! Aku berteriak. Tetapi orang itu berkata, 'Belum !' Lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi.
Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas !
Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi.Tapi orang ini berkata, 'Belum !' Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin.

Aku pikir, selesailah penderitaanku.

Oh ternyata belum.
Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.

Wanita itu berkata, 'Belum !' Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong !

Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya.

Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku.

Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca.

Aku melihat diriku.Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik.

Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku."

Seperti inilah kehidupan membentuk kita.

Dalam perjalanan hidup akan banyak kita temui keadaan yang tidak menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata.

Tetapi inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi 'cantik'.

Jangan lupa bahwa pencobaan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita.

Artinya nggak ada alasan untuk tergoda dan jatuh dalam dosa apabila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Tuhan sedang membentuk anda.

Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai. Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk anda.









This story is taken from The book of chicken soup for the soul with title beautiful cup
Kembali Ke Atas Go down
http://tagged.com/prahayun
Prahayun
Donatur


Lokasi : Jakarta Selatan
Reputation : 4
Join date : 04.03.08

PostSubyek: Re: kisah bijak   Thu Jun 04, 2009 3:58 pm

Kisah tentang 2 orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :



Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menampar Pipiku



Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang untuk menyejukkan galaunya. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah ia oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu :



Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menyelamatkan Nyawaku.



Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya, Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu? Temannya sambil tersenyum menjawab, Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila dalam antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu.



Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Marilah kita belajar menulis diatas pasir!
Kembali Ke Atas Go down
http://tagged.com/prahayun
Prahayun
Donatur


Lokasi : Jakarta Selatan
Reputation : 4
Join date : 04.03.08

PostSubyek: Re: kisah bijak   Thu Jun 04, 2009 3:59 pm

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi.

Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak,tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.



Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada dibawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama.



Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu.

Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah keatas?

Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.



Pesan Moral:

Tuhan kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Tuhan melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tetapi tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Tuhan sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.
Kembali Ke Atas Go down
http://tagged.com/prahayun
Sponsored content




PostSubyek: Re: kisah bijak   

Kembali Ke Atas Go down
 
kisah bijak
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: LOUNGE 'N CHIT-CHAT :: Coerhat-
Navigasi: