Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 Pemanfaatan Air Bawah Tanah di Bribin

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Yuli Purwaningsih
KorLap
avatar

Lokasi : jogjakarta
Reputation : 3
Join date : 13.09.09

PostSubyek: Pemanfaatan Air Bawah Tanah di Bribin   Mon Sep 28, 2009 1:23 pm

Seropan Target Proyek Pengeboran Setelah Bribin

Yogyakarta, Kompas - Setelah menyelesaikan proyek pengeboran dan pengangkatan air sungai bawah tanah Bribin, Semanu, Gunung Kidul, yang ditargetkan selesai tahun 2008, Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta bersiap melanjutkan proyek serupa di sungai bawah tanah Seropan, Semanu. Proyek ini diharapkan juga bisa dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan warga Gunung Kidul.

"Kita kembali bekerja sama dengan Pemerintah Jerman, mereka punya teknologi mengebor ke bawah. Setelah proyek Bribin selesai, akan diteruskan studi di Seropan, dibuat yang sama," ujar Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, Rabu (25/7), di Hotel Inna Garuda seusai penandatanganan memorandum of understanding perpanjangan proyek Bribin antara Pemprov DIY, Universitas Kalsruhe Jerman, dan Badan Tenaga Nuklir Nasional.

Sultan mengungkapkan, proyek Bribin merupakan inovasi teknologi yang pertama di dunia, yaitu membangun bendung bawah tanah di kedalaman 104 meter yang nantinya akan menghasilkan daya listrik dan air bersih.

Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Provinsi DIY Bayudono menyatakan 2008 diharapkan proyek Bribin akan selesai. Menurut dia, proyek Bribin saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar Bribin dan Kecamatan Semanu. Karena itu, telah ditetapkan sasaran berikutnya, yaitu Seropan. Seperti Bribin, proyek Seropan juga bekerja sama dengan Universitas Kalsruhe.

"Seropan yang sekarang sudah siap, debitnya rata-rata sekitar 700 liter per detik. Sekarang yang sudah diangkat baru 90 liter per detik untuk air minum. Nah, ini ingin dioptimalkan," ujar Bayudono.

Bayudono mengungkapkan, proyek pengeboran ini tidak hanya sekadar bisa membangunnya saja, tetapi bagaimana nanti setelah dibangun kira-kira mampu tidak masyarakat setempat mengelola sistem tersebut. "Jangan sampai setelah selesai, nanti tidak mampu dikelola masyarakat," ucapnya.

Partner ahli Universitas Klasruhe Air dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Agus Maryono menuturkan, air sungai bawah Seropan memiliki potensi besar. Terdapat dua air terjun bawah tanah, yang nanti akan dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik menggunakan turbin berteknologi mikrohidro.

"Dua terjunan itu akan digabungkan kira-kira ketinggiannya adalah 20-30 meter. Nanti akan dapat listrik sekitar 200 kilowatt. Listrik ini nanti yang digunakan untuk mengangkat air," tutur Agus. (RWN)

Sumber: http://202.146.5.33/kompas-cetak/0707/26/jogja/1040312.htm









Gambar ditambahkan sendiri
Kembali Ke Atas Go down
gaplex
Koordinator
avatar

Lokasi : KARANG DUWET,KARANG MOJO,CILEDUG
Reputation : 7
Join date : 07.01.09

PostSubyek: Re: Pemanfaatan Air Bawah Tanah di Bribin   Mon Sep 28, 2009 4:02 pm

siiiip.......
mudah-mudahan segera terwujud.....
selamat tinggal kekeringan
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ndtindonesia.com
rifaianchor
KorLap
avatar

Lokasi : samarinda
Reputation : 2
Join date : 15.09.09

PostSubyek: Re: Pemanfaatan Air Bawah Tanah di Bribin   Tue Oct 06, 2009 1:09 pm

mantap iku tak tunggu kabar berikutnya dan katane ada situs dari jerman yang khusus untuk proyek di gunung kidul,apa itu ya?
Kembali Ke Atas Go down
kandar
Presidium
avatar

Lokasi : jakarta asli Kemiri, Tanjung sari
Reputation : 25
Join date : 23.08.08

PostSubyek: Re: Pemanfaatan Air Bawah Tanah di Bribin   Tue Oct 06, 2009 4:07 pm

Info terkait.. => mudah2an ada info yg lebih updated..


Gunung kidul dan Proyek Bribin
Jumat,10 Juli 2009 09:24
Mendengar kata "Gunungkidul" maka yang terlintas di benak adalah kawasan pegunungan yang kering kerontang. Tiap musim kemarau, kawasan ini bakal diserang kekeringan panjang. Warga terpaksa berjalan beberapa kilometer untuk mendapatkan air bersih. Namun tak lama lagi gambaran dan kondisi itu perlahan-lahan pupus.

Sebagian warga Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, tak bakal kekurangan air lagi di musim kemarau. Bahkan, tak hanya air bersih yang datang, juga sekaligus pasokan listrik. Itu berkat proyek pengadaan air bersih dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bribin II akan segera beroperasi akhir tahun ini. Jika tak ada aral melintang, pemerintah akai. meresmikannya Agustus mendatang.

Gagasan untuk membangun PLTA Bribin II berawal dalam suatu seminar yang dihadiri para alumni Jerman di Yogyakarta, Februari 2000. Ketika itu, saya, sebagai Kepala Pusat Pengembangan Sistem Reaktor Maju di Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), bertemu dengan Prof. Franz Nestmann dari Universitas Karlsruhe-Jerman. la adalah ahli di bidang hidrologi dan teknik sipil.

Ketika itu, saya menantang, apakah Universitas Karlsruhe dapat memenuhi kebutuhan air minum juga kebutuhan air untuk pertanian di daerah Gunungkidul. Kawasan itu memang sulit air, tapi di dalam perutnya terdapat banyak potensi air sungai bawah tanah. Potensiini diketahuiTlengarradanyabeberapa aliran dari pegunungan kapur selatan tersebut ke arah pantai selatan.

Air bawah tanah ini kemudian keluar di daerah Baron, Ngobaran, dan berbagai lokasi lain hingga ke daerah Wonogiri, Pacitan, dan seterusnya. Adapun air sungai yang ke arah utara antara lain keluar dan bersama-sama bermuags hingga menjadi Sungai Bengawan Solo. Im sungguh suatu potensi yang demikian luar biasa jika dapat dieksploitasi untuk kesejahteraan masyarakat, yang memang sangat memerlukan air bersih.

Peninjauan ke Gua Air Bawah Tanah
Ketika itu, selama berada di Yogyakarta, saya dan Prof. Nestmann menyempatkan diri meninjau salah satu tempat di mana air sungai bawah tanah dapat dilihat dan dirasakan alirannya, yakni di Bribin, yang berada di kawasan Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Gua itu menjorok ke perut bumi, gelap gulita, hingga akhirnya kami sampai pada sungai bawah tanah tersebut.

Dengan penerangan lampu senter, kami dapat melihat air yang bening, debit yang cukup baik, dan diperkirakan lebih dari 4 meter kubik per detik air mengalir pada musim penghujan di kawasan tersebut. Pada musim kemarau, debit air sungai turun mencapai 1 meter kubik per detik.

Setelah kunjungan itu, Nestmann bersedia melayani tantangan saya tadi. Tapi saya segera mengatakan, jika ingin membantu, tentulah bantuan itu bersifat hibah, bukan utang luar negeri. Netsmann kemudiaa pulang ke negaranya. Tiga bulan berselang, ia kembali ke Indonesia dengan membawa kabar baik.

Pemerintah Jerman, melalui Kementerian Pendidikan dan Riset Jerman (Bundes Minister fuer Bildung und Forschung —BMBF), setuju membiayai studi kelayakan. BMBF juga akan membiayai tahap selanjutnya jika proyek PLTA itu memang layak dibangun. Sinyal positif ini segera saya teruskan ke berbagai pihak, instansi terkait, baik yang berada di Provinsi DI Yogyakarta maupun tingkat pusat. Kami berkoordinasi tentang kemungkinan pengembangan dan teknologi apa yang dapat disumbangkan Indonesia dalam proyek kerja sama ini.

Teknologi Pemompaan Air Sebelum dan Sesudah
Selama ini, Pemerintah DI Yogyakarta memang telah mengoperasikan pemompaan air sungai bawah tanah untuk pasokan listrik dengan menggunakan listrik dari PLN. Tentu saja, penggunaan daya listrik merupakan beban tersendiri. Ketika itu, air yang dipompa dapat mencapai sekitar 80 liter air per detik. lapi, daya listrik yang dibutuhkan mencapai 220 kVA. Karena itulah, harga ekonomisnya jadi sulit tercapai. Namun, proyek pemompaan air ini tetap dilaksanakan karena lebih mementingkan aspek sosial dan kebutuhan air bersih masyarakat.

Dalam proyek Bribin II yang akan diresmikan, ada sejumlah teknologi baru yang ditawarkan, yakni dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi. Air sungai pada hakikatnya akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Sungai bawah tanah yang ada pada ujung bawah Gua Bribin mempunyai lebar tidak kurang dari 7 meter. Apabila dilihat penampang vertikalnya hingga sampai pada permukaan tanah di atas gua, maka yang terlihat seolah-olah ada suatu "pipa besar" yang menurun.

Jika rongga tersebut ditutup, air akan naik. Pada penutup tersebut diberi lubang keluar air agar bisa berguna untuk memutar turbin. Di satu sisi, poros turbin air tersebut dihubungkan dengan pompa air, di sisi yang lain dihubungkan dengan generator listrik. Jika debit airnya cukup, maka dari perputaran turbin air tersebut air sungai bawah tanah akan dipompa ke permukaan. Proses ini sekaligus menghasilkan listrik lebih dari 240 kVA. Daya listrik yang dihasilkan itu kemudian digunakan kembali untuk memompa air. Dengan demikian, diperhitungkan tidak kurang dari 200 liter air per detik dapat dihasilkan tanpa harus terbebani ongkos energinya.

Teknis Pelaksanaan
Untuk membangun proyek ini, berbagai ahli diturunkan. Mulai ahli bidang tanah kapur, hidrologi, teknik sipil, teknik nuklir, geologi, hingga masalah lingkungan. Berbagai lembaga keilmuan dan riset pun ikut campur, seperti Batan, Kantor Negara Riset dan Teknologi, serta Departemen Pekerjaan Umum, termasuk sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung.

Pemerintah Jerman tak ketinggalan. Selain menerjunkan para pakarnya dari Universitas Karlsruhe, turut pula berkiprah beberapa industri. Misalnya, Herrenknecht, perusahaan yang bergerak di bidang pengeboran. Teknologi pengeboran ke arah vertikal untuk pertama kalinya dilakukan dan dikembangkan oleh perusahaan tersebut.

Tugas pertama adalah menemukan lokasi "bendungan" yang tepat di bawah tanah. Kami menggunakan teknologi perunut yang menggunakan zat radioaktif dari berbagai arah percabangan sungai bawah tanah di kawasan Bribin. Kemudian, arah aliran sungai dapat dicari dengan menggunakan teknik laser. Pada sekitar 700 meter dari Gua Bribin, kami mendapatkan lokasi yang cocok untuk calon bendungan.

Setelah lokasi bendungan diketahui, koordinat tersebut dicari pada permukaan atas perbukitan, guna memastikan lokasi pengeboran. Lubang yang dibormencapai diameter 2,4 meter guna menurunkan berbagai material untuk pembangunan bendungan, sekaligus untuk keperluan instalasi sistem pembangkitan energi dan pompa-pompa airnya.

Untuk memastikan betul-tidaknya arah sungai tersebut, maka dilakukan pengeboran awal dengan diameter mata bor 7 inci. Pengeboran berhasil menembus dinding atas sungai pada 31 Januari 2003. Antara titik perhitungan dan titik bor meleset sekitar 1,5 meter. Perbaikan perhitungan dilakukan kembali. Kemudian, pengeboran uji yang kedua pada lokasi calon bendungan dilakukan lagi dan berhasil menembus langit-langit di atas sungai pada 17 Mei 2004, meleset sekitar 20 sentimeter dari perhitungan. Dengan telah dibuktikannya lokasi bendungan pada arah vertikal tersebut, yang mempunyai tinggi 102 meter, maka dilakukan pengeboran berdiameter 2,4 meter oleh pihak Jerman.

Proyek ini sempat terganggu akibat terjadinya gempa bumi dahsyat di wilayah Bantul, Yogyakarta, pada 2006. Ternyata, akibat gempa, pada arah hilir, setelah lokasi bendungan, terdapat batu besar dari dinding gua yang menggelinding dan mengganggu aliran air. Dengan perhitungan yang dilakukan dengan sangat teliti, batu tersebut diledakkan dan aliran air sungai menjadi pulih kembali.

Bendungan pada lokasi tersebut telah selesai dilakukan oleh PT WiKa, sebagai tanggung jawab dan peran Departemen Pekerjaan Umum. Instalasi pipa, turbin, dan generator listrik tengah dikerjakan sesuai dengan tahapan-tahapan skenario konstruksi. Pada saat uji salah satu pompa air pada triwulan 1 tahun 2009, air berhasil naik ke permukaan. Dari sistem ini, air yang dapat dipompa ke atas hanya sekitar 15%, sisanya terus mengalir jauh menuju Pantai Baron dan akhirnya bercampur dengan air laut di Samudra Indonesia. Bendungan dan dinding sungai terus diamati.

Tahap selanjutnya, sesuai dengan pesan dari Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X, ketergantungan pada teknologi Jerman harus dihindari sehingga dapat segera bebas dari biaya operasional dan perawatannya. Semua ini tentu demi kesejahteraan rakyat sendiri.
Sumber:
Dr. As Natio Lasman, Mantan Koordinator Tim Teknis Proyek Bribin II, kini menjabat sebagai Kepala Bapeten (Majalah Gatra, 10 Juli 2009 / humasristek)

_________________
urip mung mampir ngombe lan mung wang sinawang.

Menjadi tua pelan tapi pasti, namun menjadi dewasa belum tentu.

http://syifauwongmantren.multiply.com => nembe sinau
Kembali Ke Atas Go down
http://syifauwongmantren.multiply.com
kandar
Presidium
avatar

Lokasi : jakarta asli Kemiri, Tanjung sari
Reputation : 25
Join date : 23.08.08

PostSubyek: Re: Pemanfaatan Air Bawah Tanah di Bribin   Tue Oct 06, 2009 4:31 pm

iki yo info terkait.......> tapi sampai saat ini belum ada updated berita terutama dari GK sendiri.. mohon diupdated sudah jalan apa cuma jalan ditempat..

suwun,
kandar

Mikro Hidro di Bawah Pegunungan Kapur
Kamis, 13 Agustus 2009 | 10:40 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - MUSIM kemarau seperti sekarang adalah saat yang sulit bagi Suyadi. Setiap hari ia mesti menempuh jarak satu kilometer, melintasi bukit-bukit kapur, menuju telaga yang mengering dan airnya keruh. Setiap kali pergi, ia membawa jeriken berukuran 20 liter.

Suyadi, warga Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, di selatan Kabupaten Gunung Kidul, tak punya pilihan lain. Air adalah kebutuhan vital setiap saat. Ironisnya, justru sumber kehidupan itu tak mudah didapat di desanya. “Karena wilayah kami jauh dari sumber air, harga jadi mahal,” katanya. Perusahaan Daerah Air Minum menjual satu tangki berkapasitas 5.000 liter seharga Rp 250 ribu. Padahal, air sebanyak itu hanya cukup memenuhi kebutuhan lima anggota keluarganya selama dua minggu.

Kesulitan air memang ritual tahunan bagi penduduk di kawasan selatan Gunung Kidul, Yogyakarta. Pada musim kemarau sepanjang Juli hingga Oktober--manakala persediaan air yang ditampung selama musim hujan habis-- kekeringan merambat jauh ke utara, meliputi 16 dari 18 kecamatan di kabupaten berpenduduk 650 ribu jiwa itu. Profil daratan yang separuhnya, sekitar 700 ribu kilometer persegi, merupakan pegunungan kapur (karst) membuat warga harus menggali lebih dari 50 meter untuk memperoleh air. Di kedalaman itulah terdapat jaringan sungai bawah tanah yang airnya melimpah-ruah.

Air sungai itulah yang akan dipompa ke permukaan tanah dan digelontorkan ke 38 ribu keluarga, mulai bulan depan, setelah proyek Bribin II di Kecamatan Semanu mulai dioperasikan. Bribin II adalah pembangkit listrik bertenaga air (mikro hidro). Listrik yang dihasilkan dipakai untuk mengangkat air dari bawah tanah ke permukaan. Jadi Bribin II adalah pembangkit listrik sekaligus pompa air.

Bribin II dibangun lantaran proyek pendahulunya, Bribin I, dianggap tak efisien. Bribin I memakai setrum dari PLN atau solar sebagai penggerak pompa. Akibatnya, biaya produksi dan perawatannya tinggi. Sebagai gambaran, Bribin I hanya mampu menyedot 80 liter per detik, dari total debit sungai 750 liter per detik. Masa kerjanya pun terbatas. Pompa Bribin I, juga pompa-pompa lainnya, hanya beroperasi satu hingga empat jam per hari. “Karena biaya listrik dan solar yang tinggi, jadi tidak efesien,” kata As Natio Lasman, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir yang ikut merancang Bribin II.

Menurut As Natio, operasi pompa Bribin I menghabiskan 2.800 liter solar per empat jam. Dengan harga solar Rp 5.000 per liter, uang yang dikeluarkan Rp 14 juta. Jika generator pembangkit rusak, solar diganti dengan pasokan listrik PLN. “Abonemennya Rp 32 juta per bulan,” kata As Natio.

Akibatnya, harga air yang dijual ke masyarakat pun melambung, Rp 100 ribu per satu mobil tangki. Harga ini meningkat hingga dua setengah kali lipat pada puncak musim kemarau. Padahal, sebagai perbandingan, harga air PDAM di Yogyakarta Rp 1.500 per meter kubik. Artinya, satu tangki air hanya Rp 7.500.

Inilah yang membuat As Natio merancang proyek Bribin II. Teknologi pembangkit listrik mikro hidro dipilih karena sumbernya melimpah-ruah. Di bawah permukaan karst Gunung Kidul terdapat tujuh sungai: Bribin, Ngobaran, Seropan, Baron, Grubug, Toto, dan Sumurup. Dari tujuh sungai bawah tanah itu, baru empat yang sudah dimanfaatkan, yaitu Seropan, Bribin, Ngobaran, dan Baron. Semua sungai itu rata-rata mempunyai debit air 2.000 liter per detik. "Saya ingin membuat kolam renang, untuk mengubah image Gunung Kidul yang kering,” kata As Natio.

Gagasan itu disampaikan ke pakar hidrologi dan teknik sipil asal Jerman, Franz Nestmann, pada Februari 2000. “Waktu itu kami bertemu di acara pertemuan alumni Jerman di Yogyakarta,” katanya. Nestmann rupanya tertarik. Ia bahkan mengupayakan dana dari kementerian pendidikan dan riset di negerinya. Ia berhasil. Proyek Bribin II pun dimulai, yang melibatkan, antara lain, Universitas Karlsruhe (kampusnya Nestmann), Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Badan Tenaga Nuklir Nasional, dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pembangunan proyek diawali dengan pencarian lokasi "bendungan" yang tepat di bawah tanah. Tim ahli dari berbagai lembaga itu menggunakan teknologi perunut yang menggunakan zat radioaktif dari berbagai arah percabangan sungai bawah tanah. Sekitar 700 meter dari Gua Bribin, tim mendapatkan lokasi yang cocok. Selanjutnya koordinat lokasi tersebut dicari di permukaan tanah untuk memastikan lokasi pengeboran. Lubang yang dibor bergaris tengah 2,4 meter, untuk menurunkan material pembangunan bendungan sekaligus untuk keperluan instalasi sistem pembangkit energi dan pompa-pompa airnya.

Pengeboran awal untuk menguji ketepatan perhitungan lokasi dilakukan dengan diameter mata bor tujuh inci, menembus dinding atas sungai. Pengeboran ini meleset 1,5 meter. Perbaikan perhitungan pun dilakukan kembali. Kemudian, pengeboran uji yang kedua pada lokasi bendungan dilakukan lagi dan berhasil menembus langit-langit di atas sungai. Kali ini meleset 20 sentimeter dari perhitungan. Setelah lokasi bendungan pada arah vertikal tersebut--tingginya 104 meter--diketahui, maka dilakukan pengeboran dengan lubang berdiameter 2,4 meter oleh tim ahli dari Jerman.
Menurut wakil Universitas Karlsruhe Jerman untuk Bribin II, Sholihin, pembangunan fisik proyek itu baru dimulai lima tahun lalu. Sempat terhenti akibat gempa pada 2006, lalu kembali dilanjutkan dua tahun kemudian.

Rupanya, lindu itu juga membuat sebuah batu besar menutup aliran air di hilir, setelah lokasi bendungan, kata As Natio. Batu tersebut harus diledakkan agar air sungai kembali mengalir lancar. “Pengeboman itu harus dilakukan hati-hati supaya tidak ikut meledakkan dinding sungai dan membuat aliran baru,” katanya. Jika dinding sungai rusak, pembuatan bendungan bawah tanah terancam batal.

Di dalam rongga sungai, dibuat bendungan setinggi 15 meter untuk menahan air. Pada dinding tanggul terpasang lima pipa bergaris tengah 70 sentimeter yang menjadi saluran air untuk menggerakkan turbin penghasil tenaga untuk mengoperasikan pompa air.
Di bagian bawah bendungan, ada dua pipa berdiameter 90 sentimeter dan 60 sentimeter. Pipa tersebut berfungsi sebagai pengontrol ketinggian air. Supaya air tak melebihi tinggi tanggul bendungan, katup pipa akan membuka secara otomatis.

Sebaliknya, jika air kurang dari ketinggian 15 meter, katup akan menutup dengan sendirinya. Pipa kontrol air itu sangat diperlukan karena, jika permukaannya sedang tinggi, dikhawatirkan air akan mencari jalan lain atau membuat gua sendiri. Agar air tak membuat rongga baru, dinding gua harus disemprot dengan beton, dan tiang penyangga dipasang.

Ketika Tempo memasuki sungai di bawah tanah sedalam 104 meter tersebut, pekan lalu, lima turbin tenaga mikro hidro yang didatangkan dari Jerman sudah terpasang dan siap beroperasi. “Semua pompa tidak menggunakan daya listrik dari luar. Tenaga listrik didapat dari turbin yang digerakkan oleh air,” kata Sholihin.

Pengawas Proyek dari Dinas Pekerjaan Umum Gunung Kidul, Zuari Nancik, mengatakan kelak operasionalisasi Bribin II akan ditangani oleh PDAM daerah itu. Berarti, mulai bulan depan Suyadi tak perlu lagi menyusuri pegunungan kapur sepanjang satu kilometer untuk 20 liter air.

Adek Media, Muh. Syaifullah (Yogyakarta)

_________________
urip mung mampir ngombe lan mung wang sinawang.

Menjadi tua pelan tapi pasti, namun menjadi dewasa belum tentu.

http://syifauwongmantren.multiply.com => nembe sinau
Kembali Ke Atas Go down
http://syifauwongmantren.multiply.com
sukar
KorLap
avatar

Lokasi : tanggerang
Reputation : 1
Join date : 27.06.08

PostSubyek: Re: Pemanfaatan Air Bawah Tanah di Bribin   Tue Oct 06, 2009 6:43 pm

mudah mudahan benar apa yang dicita citakan oleh masrakat gunungkidul khususnya pegunungan yang selama ini susah air ini adalah jawabanya,dan semoga dapat mengangkat taraf hidup masarakat yang memanfaatkan aliran air ini,sehingga benar apa yang menjadi julukan kita gunungkidul gemah ripah loh jinawi ayem tentrem toto raharjo.
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Pemanfaatan Air Bawah Tanah di Bribin   

Kembali Ke Atas Go down
 
Pemanfaatan Air Bawah Tanah di Bribin
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: ALL ABOUT GUNUNGKIDUL :: Kekayaan Daerah-
Navigasi: