Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 CERITA WAYANG 2

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : 1, 2  Next
PengirimMessage
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 1:57 pm

Waktu pihak Astina mengetahui bahwa Gatotkaca tewas mereka bersorak bergembira. Sebaliknya pihak Pandawa berkabung. Hampir semua prajurit Pandawa menangis. Semangat tempur mereka hampir lumpuh.

Kemudian secara mendadak dan serentak seluruh Pandawa mengamuk. Prabu Puntadewa sendiri dan Arjuna mengamuk seperti orang mabuk. Ayah Gatotkaca ialah Bima juga mengamuk sambil tangannya sesekali mengusap air mata. Teringat-ingat kembali saat ia dan Gatotkaca kecil bercengkerama di Hutan amarta bersama isterinya Dewi Arimbi.

Puntadewa dan Arjuna juga berpikir tentang hal yang hampir sama, penderitaan mereka di hutan Amarta sempat terhibur dengan kehadiran Gatotkaca kecil, sehingga mereka sudah menganggap Gatotkaca seperti anaknya sendiri.

Gada Bima diputar-putar dengan sangat bertenaga dengan tenaga kemarahan dan kesedihan hatinya, banyak sekali korban di pihak Kurawa bahkan korban tewas dikalangan raja-raja yang berpihak pada Kurawa, adipati serta satria-satria yang berperang di pihak Kurawa.

Pendeta Durna memerintahkan kepada Kurawa agar memperbaiki gelar perang. Satu malam suntuk peperangan berlangsung dengan dahsyatnya dan menguras tenaga, dan baru berhenti ketika mereka sama sama kabur karena kelelahan dan mengantuk.


Dewi Arimbi bakar diri

Tiba-tiba munculah di medan perang yang masih banyak prajurit membereskan senjata yang masih bisa digunakan, Dewi Arimbi istri Bima, ibu dari Gatotkaca. Ia menyatakan ingin mati bakar diri bersama jenasah putranya di medan perang. Arimbi meminta ijin dan berpamitan kepada suaminya Bima, Bima memeluk istrinya dan tak mampu melarang karena dia tahu begitu cintanya Isterinya kepada anaknya Gatotkaca. Setelah itu Dewi Arimbi berpamitan juga dengan Dewi Kunti dan Pendawa lainnya. Begitu mengharukan peristiwa itu.

Setelah semua pandawa merelakan kepergiannya ia mendekati jenasah puteranya, sesampai disitu dia berbaring dan minta segera dibakar bersama puteranya. Bima tak mampu menyaksikan pemandangan itu dan tertunduk sambil berdoa kepada Dewa agar Jiwa mereka diperbolehkan bersemayam dalam damai di Suralaya.


Pendeta Durna menjadi Senapati Kurawa

Keesokan harinya perang dimulai lagi dan kedua belah pihak telah mempersiapkan gelar perang masing-masing. Genderang perang sudah ditabuh dan gelar perang telah dibentuk. Yang menjadi senapati Astina adalah Pendeta Durna. Adapun yang menjadi senapati di pihak Pandawa adalah Raden Drustajumena, putra dari Prabu Drupada, adik Srikandi dan Drupadi, Adik Ipar Puntadewa dan Arjuna. Kedua pihak pasukan telah diperintahkan untuk bergerak untuk maju.

Para prajurit Pendawa diperintahkan oleh Drustajumena agar menyerang Pendeta Durna selaku pimpinan perangnya sehingga apabila mereka berhasil maka Kurawa akan kehilangan semangat dan pada akhirnya akan dapat dengan mudah dikalahkan.

Drustajumena berpikir bahwa Pendeta Durna hanyalah guru yang melatih olah kanuragan dan olah senjata dari Pendawa dan Kurawa pada saat kecil, dan belum tentu sakti. Akan tetapi pikiran itu segera pupus saat dilihatnya Pendeta Durna yang dikeroyok oleh pasukan Pendawa dan dihujani oleh banyak anak panah ternyata tidak terluka sama sekali. "tubuhnya pasti kebal" Pikir Drustajumena.

Esti Aswatama mati

Prabu Kresna yang melihat dari jauh usaha prajurit Pendawa sia-sia untuk mengalahkan Pendeta Durna memanggil Bima untuk mendekat. Tidak jauh dari situ ada seorang raja dari Malawapati dipihak Kurawa yang sedang berperang naik gajah yang bernama Aswatama. Prabu Kresna membisikan perintah kepada Bima agar Bima membunuh gajah Raja itu dan apabila telah berhasil Bima harus berteriak dengan lantang "Aswatama mati! "

Bima yang tidak tahu apa maksud dari Prabu Kresna mengapa dia harus membunuh gajah itu, namun karena Bima percaya bahwa Prabu Kresna adalah pemimpin yang sangat bijaksana, rela menjalankan perintah itu dengan sempurna. Dengan gadanya Rujak Polo dihantamnya Gajah itu, kemudian dihantamnya juga Raja Malawapati yang terjatuh dari Gajah itu, keduanya tewas seketika.

Bima segera berteriak " Aswatama mati!! ". Teriakan itu begitu nyaringnya sehingga semua prajurit mendengar dan berteriak-teriak satu dengan lainnya "Aswatama mati" sambung menyambung, persis ketika Gatotkaca tewas teriakan seperti itu terdengar begitu lantang di pihak Kurawa.

Pendeta Durna yang sedang menghadapi pengeroyoknya mendengar teriakan salah seorang prajurit Pendawa "Aswatama mati!" Sangat terkejut dan menangis. Dewa..! Anaknya yang semata wayang telah mati! Anak yang dibesarkanya sendiri tanpa ibu itu kini telah mati!

Durna mencoba mendekati Bima dan Arjuna dan menanyakan apakah benar anaknya Aswatama telah mati? . Bima dan Arjuna hanya terdiam dan mengangguk.
Pada saat itu Bima baru menyadari ide cemerlang dari Prabu Kresna.

Karena masih kurang percaya pada berita yang didengarnya Pendeta Durna datang ke Prabu Puntadewa, dia tahu bahwa Prabu Puntadewa adalah orang yang tidak pernah berbohong dan tidak akan mau berbohong selama hidupnya, jawabanya pasti dapat dipercaya.

Namun pada saat Bima bergerak akan membunuh Prabu Malawapati dan Gajah Aswatama, Prabu Kresna telah menjelaskan rencananya dan meminta kepada Puntadewa agar berdusta kepada Pendeta Durna pada saat ia bertanya nanti.

Ternyata Prabu Puntadewa menolak untuk berbohong karena selama hidupnya dia tidak pernah berdusta. Akhirnya Prabu Kresna meminta kepada Prabu Puntadewa agar tidak berbohong nanti menjawab dengan kalimat "Esti Aswatama mati" yang artinnya 'Gajah Aswatama mati'. Kemudian Prabu Kresna bersemadi untuk memohon kepada Dewa agar rencananya berhasil.

Pendeta Durna yang terlihat bersedih itu mendatangi Prabu Puntadewa dan bertanya dengan sedihnya apakah benar Aswatama telah mati?. Kemudian Prabu Puntadewa menjawab dengan perlahan "Esti Aswatama mati". Pendeta Durna yang percaya Puntadewa tidak pernah berbohong mendengar jawaban itu bagai disambar petir karena Puntadewa mengatakan "Mesti, Aswatama mati". Pendeta Durna yang sangat sedih jatuh tersungkur pingsan di kereta perangnya. Para Dewa di angkasa bersorak sorai ramai dan mengatakan satu dengan yang lain bahwa Pendeta Durna telah mati.

Prabu Kresna yang melihat Pendeta Durna pingsan segera memberi tanda kepada Pendawa untuk menuntaskannya. Namun tidak satupun Pendawa yang bergerak melaksanakan perintah itu. Mereka masih menghormati Pendeta Durna sebagai guru mereka, sehingga tidak ada yang berani melakukannya.

Melihat Pandawa diam saja, Raden Drustajumena yang saat itu menjadi Senapati perang segera mengambil tindakan, tidak boleh kesempatan ini di sia-siakan. Dia melompat ke kereta perang Pendeta Durna kemudian dengan sekali tebas dipotongnya leher Pendeta Durna dan kepala Pendeta Durna dibuat mainan olehnya , ditendang tendang dan dilempar-lempar karena senangnya ia telah berhasil membunuh Pendeta Durna.

Raden Drustajumena benar-benar lupa bahwa Pendeta Durna atau Bambang Kumbayana adalah masih saudara dengan Ayahnya yaitu Prabu Drupada atau Sucitra. Para Pendawa tidak begitu senang dengan perlakuan Raden Drustajumena itu dan menegurnya. Raden Drustajumena yang ditegur itu merasa malu dan segera melemparkan Kepala Pendeta Durna ke pihak Kurawa.

Ternyata kepalanya jatuh tidak jauh dari Prabu Suyudana sedang duduk, ia sangat terkejut bukan kepalang, bagaimana mungkin guru Kurawa dan Pandawa yang sakti itu dapat dikalahkan??.
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 2:11 pm

PETRUK MENCARI JATI DIRI PART 1
Sudah berabad-abad Petruk menyaksikan perubahan jaman. Berjuta-juta tingkah-polah manusia dia saksikan. Ratusan generasi sudah dia lalui. Tetap saja dia tak bisa paham sepenuhnya bagaimana jalan fikiran makhluk yang bernama manusia.

Sebagai salah satu punakawan. Petruk sudah mengabdi kepada puluhan"ndoro" (tuan), sejak jaman Wisnu pertama kali menitis ke dunia. Hingga saat Wisnu menitis sebagai Arjuna Sasrabahu, menitis lagi sebagai Rama Wijaya, menitis lagi sebagai Sri Kresna.

Petruk hanya bisa tersenyum kadang tertawa geli, dan sesekali melancarkan nota protes akan kelakuan "ndoro-ndoro" (tuan-tuan)-nya yang sering kali tak bisa diterima nalar. Tapi ya memang hanya itu peran Petruk di mayapada ini. Dia tidak punya wewenang lebih dari itu. Meskipun sebenarnya kesaktian Petruk tidak akan mampu ditandingi oleh tuannya yang manapun juga.

Berbeda dengan Gareng yang meledak-ledak dalam menanggapi kegilaan mayapada, berbeda pula dengan Bagong yang sok cuek dan selalu mengabaikan tatakrama. Petruk berusaha lebih realistis dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Meskipun nyeri dadanya acapkali muncul saat melihat kejadian-kejadian hasil rekayasa ndoro-ndoro nya.

Siang itu Petruk sedang membelah kayu bakar, guna keperluan memasak isterinya. Sudah seminggu lebih pasokan elpiji murah dan minyak tanah tak sampai ke desanya.

Di desa Karang Kedempel jaman kontemporer seperti saat ini apapun bisa saja terjadi. Harga beras yang tiba-tiba melonjak melebihi harga anggur Amerika. Minyak goreng yang mendadak menguap di pasaran. Bahkan beberapa dekade yang lalu, orang-orang yang suka protes pun bisa saja mendadak lenyap tanpa bekas. Dan semua pasti akan ditanggapi oleh penguasa Karang Kedempel dengan mengeluarkan "press release"sebagai sebuah "dinamika pembangunan"

Kelangkaan bahan bakar di pasaran, melonjaknya harga sembako, mahalnya biaya pendidikan. Yang berujung pada melebarnya jurang perbedaan kaya-miskin. Adalah hal yang selalu saja terjadi dari jaman ke jaman. Keadaan masyarakat yang "gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto tur raharjo" hanyalah sebuah utopia. Yang sering dikatakan kyai-kyai di langgar-langgar dan surau negara yang "baldatun thoyyibatun wa robbun gofuur " hanyalah sekedar lips service semata.

Seperti yang sudah diduga oleh Petruk, Kang Gareng pasti memberikan reaksi dengan caranya sendiri. Hari ini adalah hari ketiga Gareng berorasi di depan Poskamling, sejak pagi hingga matahari hampir tenggelam. Berusaha menarik perhatian semua warga desa.

"Saudara-saudaraku, mengapa semua ini bisa terjadi?" dengan cengkok khas ala Kang Gareng. "Desa kita ini sedang mengalami degradasi moral dan dekadensi kepribadian. Kebijakan pamong desa kita tidak terarah dan miskin inovasi."

"Seharusnya kita mulai introspeksi, mengevaluasi situasi dan berani melakukan redifinisi. Sehingga kita bisa meberikan sebuah revitalisasi menuju suatu solusi definitif, guna mendapatkan outcome terbaik dari apa yang kita harapkan", bagaikan orang kesurupan Gareng berorasi tanpa henti. Tak perduli apakah orang-orang yang berkumpul mengerti apa yang diomongkannya.

Petruk tak habis pikir, dari mana Gareng mendapatkan perbendaharaan kata dan kalimat yang tak ubahnya anggota DPR. Padahal Gareng tidak pernah "makan" bangku sekolahan. Memang orang pintar tidak selalu terkenal dan orang terkenal tidak selalu pintar, tapi Petruk tahu persis bahwa Gareng tidak termasuk diantara keduanya.

Petruk sudah hafal betul dengan model paham kekuasaan di Karang Kedempel dari waktu ke waktu. Kalau mau, sebenarnya bisa saja Petruk mengamuk dan menghajar siapa saja yang dianggap bertanggung jawab atas kesemrawutan pemerintahan. Dengan kesaktiannya, apa yang tak bisa dilakukan Petruk, bahkan (dulu) pernah terjadi, Sri Kresna hampir saja musnah menjadi debu dihajar anak Kyai Semar ini.

Tapi Petruk sudah memutuskan untuk mengambil posisi sebagai punakawan yang resmi. Dia sudah bertekat tidak lagi mengambil tindakan konyol seperti yang dulu sering dia lakukan. Baginya, kemuliaan seseorang tidak terletak pada status sosial. Pengabdian tidak harus dengan menempati posisi tertentu.

Seperti yang terjadi pada episode "Petruk Dadi Ratu" contohnya, sebagai Prabu Kanthong Bolong, Petruk dia melabrak semua tatanan yang sudah terlanjur menjadi "main stream" model kekuasaan di mayapada. Dia menjungkirbalikkan anggapan umum, bahwa penguasa boleh bertindak semaunya, bahwa raja punya hak penuh untuk berlaku adil atapun tidak.
Karuan saja, Ulah Prabu Kanthong Bolong membuat resah raja-raja lain. Bahkan, kahyangan Junggring Saloka pun ikut-ikutan gelisah. Kawah Candradimuka mendidih perlambang adanya "ontran-ontran" yang membahayakan kekuasaan para dewa.

Maka secara aklamasi disepakati, skenario "mengeliminir" raja biang keresahan. Persekutuan raja dan dewa dibentuk, guna melenyapkan suara sumbang yang mengganggu alunan irama yang sudah terlanjur dianggap indah.

Hasilnya? Ibarat jauh panggang dari api.

Bukannya Kanthong Bolong yang mati. Tapi raja jadi-jadian Petruk ini malah mengamuk. Siapapun yang mendekat dihajarnya habis-habisan. Kresna dan Baladewa dibuat babak belur. Batara Guru sang penguasa kahyangan lari terbirit-birit.

Kesaktian dan semua ajian milik dewa-dewa dan raja-raja, seperti tak ada artinya menghadapi Kanthong Bolong. Tahta Jungring Saloka pun dikuasai raja murka ini.

Keadaan semakin semrawut. Sampai akhirnya Semar Bodronoyo turun tangan.

"Ngger, Petruk anakku!", Semar berujar pelan, suaranya serak dan berat seperti biasanya. "Jangan kau kira aku tidak mengenalimu, ngger!"

"Apa yang sudah kau lakukan, thole? Apa yang kau inginkan? Apakah kamu merasa hina menjadi kawulo alit? Apakah kamu merasa lebih mulia bila menjadi raja? "

"Sadarlah ngger, jadilah dirimu sendiri".

Kanthong Bolong yang gagah dan tampan, berubah seketika menjadi Petruk (yang semua orang tahu, dia sangat jelek). Berlutut dihadapan Semar. Dan Episode "Petruk Dadi Ratu" pun berakhir anti klimaks.

Petruk tersenyum mengingat peristiwa itu. "Ah... hanya Hyang Widi yang perlu tahu apa isi hatiku, selain Dia aku tak perduli"

Kembali dia mengayunkan "pecok"nya membelah kayu bakar. Sambil bersenandung tembang pangkur:
"Mingkar-mingkuring angkoro, akarono karanan mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinubo sinukarto...."
Memang tidak mudah jadi seorang Petruk...

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 2:12 pm

PETRUK MENCARI JATI DIRI PART 2
Meskipun selalu berusaha memahami keadaan sebagaimana apa adanya, Petruk tidak sepenuhnya bisa menerima jalan fikiran tuan-tuanya yang seringkali melanggar "paugeran" (aturan), bahkan tak jarang mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.

Bendoro-bendoronya yang selalu diasumsikan sebagai pihak yang benar, ternyata pada kenyataannya seringkali melakukan tindakan yang cenderung keji. Kenyataan yang mau tidak mau menimbulkan perang di batin Petruk, perang batin yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya.

"... midero sak jagat royo, kalingono wukir lan samudro, nora ilang memanise, dadi ati selawase..."

Sayup-sayup tendengar tembang mendayu-dayu, membuat Petruk menghentikan ayunan kapaknya. Dia teringat kejadian yang menyedihkan sekaligus memalukan, kisah tumpasnya Ekalaya

Awal peristiwa terjadi di suatu siang yang gerah di tepi hutan yang nampak sejuk. Petruk tak mampu menyembunyikan kegelisahan, dia menangkap gejala alam, sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan.

Semar memejamkan pura-pura tidur, Gareng sibuk menulis puisi tentang kegelisahan hati. sedangkan Bagong mondar mandir dengan wajah seperti arca tanpa ekspresi. Semua gelisah.

Mereka sedang menemani momongan sekaligus tuan mereka, Raden Arjuna yang juga bernama Janaka, Permadi atau Parto, satria lelananging jagat panengahing pandawa. Mereka sadar sepenuhnya bahwa masalah yang akan timbul bersumber pada momongan mereka ini.

Sangat jelas dimata batin Petruk, aura yang nampak dari pancaran wajah ndoronya ini. Aura yang memalukan, aura yang bersifat "rendah". Dan Petruk pun sudah sangat hafal dengan tabiat tuannya yang satu ini.

Kegelisahan para punakawan ini segera terjawab. Tiba-tiba dihadapan mereka mucul seorang kesatria tampan (meskipun tak serupawan Arjuna), berkacak pinggang dengan wajah marah. "Hai Arjuna, kalau kamu memang merasa laki-laki hadapi aku, Ekalaya"

Laki-laki ini adalah Bambang Ekalaya, raja kerajaan Nisada. Apa pasalnya sehingga lelaki gagah ini sedemikian murkanya?

Beberapa saat yang lalu saat matahari baru saja memancarkan sinarnya ke bumi, ditepi hutan ini, ada seorang wanita cantik yang sedang dikejar-kejar oleh segerombolan raksasa. Setelah terkejar wanita ini dekepung rapat. Raksasa-raksasa ini berhaha-hihi, bagai segerombolan kucing yang berebut seekor tikus.

Dewi Angraeni nama wanita cantik ini. Apa daya seorang wanita dihadapan segerombolan raksasa? Dia hanya bisa berteriak meminta tolong.

Teriakannya terdengar oleh Raden Arjuna. Bagi Arjuna yang sakti mandraguna, bukanlah hal yang sulit untuk bertindak. Dengan sekali sentakan, hilang sudah nyawa semua raksasa.

Arjuna memandang Anggraeni dengan tatapan mata aneh, tatapan mata yang muncul karena bangkitnya dorongan yang bersifat rendah. Senyum Arjuna juga senyum kurang ajar. Anggraeni bukannya tidak merasakan hal ini.

Sang dewi mengucapkan terimakasih atas pertolongan yang diterimanya.

Tapi ternyata ucapan terimakasih saja, tidak cukup bagi Raja Madukara ini. Den Bagus Casanova Raden Janaka, playboy kelas internasional yang jumlah isterinya sudah tak terbilang ini menginginkan yang lebih dari itu!!! Dia menginginkan dilayani bercinta sebagai imbalan jasanya!!! Duh Gusti...

"Saya sudah bersuami, Raden", tampik Anggraeni

"Apa masalahnya kalau kamu sudah bersuami? aku bisa membunuh suamimu", jawab Arjuna enteng. "Dan lagi pula apakah suamimu setampan aku? Apakah dia sekaya aku? Aku ini Raja agung"

Anggraeni juga tahu Arjuna gagah perkasa tampan tiada banding, dia juga tidak memungkiri sesungguhnya dia juga tertarik. Namun bagi Anggraeni, cinta terlalu agung untuk diperjualbelikan. Dia bercinta karena memang mencintai. Baginya tidak ada cinta bagi laki-laki macam Arjuna. Anggraeni adalah pribadi yang bahagia dengan bersetia kepada cintanya.

Dia menolak keras!!!

Sebelumnya, Arjuna tak pernah menerima penolakan dari wanita. Ratusan wanita dan dewi-dewi dari kahyangan pun berebut untuk jatuh dalam pelukan Don Juan titisan Batara Indra ini.

Penolakan ini semakin menyulut birahi Arjuna. Kobaran nafsu membuat buta hatinya. Dia hendak memaksakan kehendaknya. Anggraeni terancam menjadi korban perkosaan. Apalah daya Anggraeni berhadapan dengan kesaktian Arjuna? Dia berlari.... sampailah ke tepi jurang!!! Dead end!!! Jalan buntu!!!

Dalam putus asa nya, Anggraeni melompat ke jurang. Luncuran tubuhnya ke jurang yang sangat dalam membuatnya pingsan. Untunglah seseorang menyambar tubuhnya sebelum terbentur dasar jurang, orang itu adalah Dewi Ipri, ibunya sendiri.

Dewi Anggraeni adalah isteri Bambang Ekalaya yang sedang berhadapan dengan Arjuna. Dia menuntut pertanggungjawaban atas perlakuan yang diterima isterinya.

Sangat wajar kalau Ekalaya jadi berang. Jangankan seorang raja, Petruk pun akan mengangkat pecoknya kalau isterinya diganggu orang.

Tantangan Ekalaya dilayani oleh Arjuna. Duel berlangsung singkat. Hanya satu jurus, Arjuna terkapar tak bernyawa!!!

Bagaimana bisa jagoan andalan Pandawa yang sakti mandraguna, murid terkasih Pendeta Durna, kalah oleh seorang yang tidak terkenal?

Sepuluh tahun sebelumnya, Ekalaya pernah datang menghadap Durna untuk diterima sebagai murid. Durna menolak, karena Ekalaya hanyalah raja sebuah kerajaan kecil. Durna hanya menerima murid dari kalangan kerajaan-kerajaan besar dan elit macam Astina, Nisada tidak masuk itungannya.

Penolakan Durna tidak membuat Ekalaya patah semangat. Dia menyepi dan mendirikan sebuah tenda di sebuah tempat rahasia. Di dalam tenda itu dia mengukir sebongkah kayu menjadi patung Durna. Setiap hendak mengasah ilmu kanuragan, dia selalu bersemedi di depan patung Durna, memohon bimbingan dari "guru"nya. Dia bukan sekedar murid yang hanya "menerima" tapi dia adalah murid yang "mencari", murid yang "mencari" akan selalu lebih hebat daripada seorang murid yang hanya "menerima". Oleh karena itu Ekalaya jauh lebih sakti ketimbang Arjuna.

Ekalaya menginjak dada Arjuna dan berkata "Kalau ada yang tidak menerimakan kematian keparat ini, silahkan datang padaku". Dan kemudia dia berlalu.

Wajah Petruk pucat pasi, tidak tahu harus berbuat apa. Dia faham betul siapa yang bersalah. Gareng meratap dan bersiap dengan bait-bait sajak duka nya. Bagong menangis menjerit-jerit.

Menangis memang adalah salah satu tugas punakawan, mereka menangis bukan karena menangisi kepergian tuannya. Mereka menangis menyesali alasan kematian Arjuna. Mereka malu mengetahui kelakuan tidak bermartabat tuannya.

Semar tetap mendengkur. Petruk tahu persis bahwa bapaknya itu hanya pura-pura tidur...

Gareng sudah mulai dengan sajaknya, "Bumi akan berduka, langit akan menangis bertahun-tahun, mengiringi kepergian Raden Arjuna. Seluruh rakyat akan berkabung dan meratapi pemakaman raja yang agung..."

"Tidak ada pemakaman dan tidak ada perkabungan!!!", tiba-tiba saja Sri Kresna sudah berdiri dihadapan Gareng dan membentak.

"Gimana toh Ndoro Kresna ini, apa jasad Den Rejuno dibiarkan dimakan anjing hutan, kok nggak dimakamkan, pripun toh, nganeh-anehi?" Bagong nimbrung.

"Arjuna belum waktunya mati, " Kresna berujar.

"Oooo... jadi Yamadipati si Dewa Maut salah administrasi ya?" Bagong memang tidak sopan.

"Perang Baratayudha memerlukan keberadaan Arjuna. Adik iparku ini harus hidup lagi" Kresna semakin tegas, sembari mengeluarkan pusaka Kembang Wijayakusuma untuk menghidupkan lagi Raden Arjuna

"Biyuh... orang mau mati kok nggak boleh. Apa hanya gara-gara Baratayudha trus Den Rejuno harus hidup terus? Lha kok enak" Bagong makin tak terkendali, "Lha apa para dewa di kahyangan sudah terlanjur mengeluarkan biaya yang besar untuk skenario perang Baratayudha? Sehingga perang nggak boleh batal?"

"Kamu bisa diam atau tidak???" Kresna membentak, wajah Bagong tetap datar dan dingin seperti dinding candi.

"Apa yang terjadi Kanda Prabu?" Yudistira datang dan bertanya, diikuti oleh Bima, Nakula dan Sadewa. Lengkaplah Pandawa!!!

"Ah... Dimas Yudistira sudah datang, aku akan menghidupkan lagi Dimas Permadi yang baru saja dibunuh oleh penjahat Ekalaya, lalu..."

"Yang penjahat bukan Ekalaya!!!" Petruk memotong kalimat Kresna yang belum selesai.

"Jaga mulutmu Petruk!!!"

"Justeru karena saya menjaga mulut, maka saya bicara yang sebenarnya!!!"

Dengkuran Semar yang mendadak makin keras menghentikan perdebatan Kresna-Petruk.

Suasana jadi kaku. Yudistira nampak bersedih. Bima menggeretakkan gigi tanpa mengeluarkan satu kata pun. Bima adalah orang yang jujur, dia marah bukan karena Arjuna terbunuh, tapi dia sangat malu mengetahui alasan mengapa adiknya menemui ajal.

Kresna menghampiri jasad Arjuna. Sekali usap hiduplah kembali Raden Arjuna!!!

"Terimakasih Kakang Kresna, sekarang saya akan pergi menuntut balas", kalimat pertama yang keluar dari mulut Arjuna membuat Petruk mendadak mual hebat.

Kresna tersenyum, "Seribu Arjuna tak akan mampu menandingi kesaktian satu orang Ekalaya, Dimas harus faham hal ini"

"Kalau begitu biarkan saya mati menebus malu, saya, Arjuna, tidak mau hidup satu atap langit dengan Ekalaya"

"Baiklah kalau begitu, biarkan saya yang akan menyelesaikan masalah kecil ini. Dimas Yudistira, ajak adik-adikmu pulang ke Amarta. Gareng, Petruk, Bagong ikut aku. Eee lhadalah... Kakang Semar lha kok malah tidur terus?"

"Hemmm....., Anakmas Prabu tahu persis apa yang saya lakan lakukan kalau saya tidak tidur, oaahmmmm" Semar menjawab pertanyaan Kresna, dan tidur lagi.

Petruk tahu persis bahwa Kresna adalah rajanya ahli tipu muslihat, dia berusaha menerka apa yang akan dilakukan titisan Wisnu ini.

Dan Petruk juga gemas melihat bapaknya tidak berkomentar apa-apa. Sambil menahan gejolak hati dia mengikuti langkah kedua saudaranya, dia bisa merasakan akan ada kejadian yang lebih memalukan.

Ternyata Kresna mengendap bagaikan maling, masuk kedalam tenda rahasia Ekalaya, kemudian bersembunyi dibelakang patung Resi Durna!!! Petruk semakin mual disertai dengan nyeri dada hebat melihat hal ini.

Ekalaya masuk ke dalam tenda beberapa saat kemudian. Dia berlutut didepan "guru"nya, semedi, menghaturkan terimakasih yang tak terhingga, karena atas restu gurunya, dia memiliki kesaktian melebihi Arjuna, murid terkasih Resi Durna, murid "guru"nya.

"Ekalaya! Apa yang telah kamu lakukan?" Patung Durna bersuara,"Kamu telah membunuh murid ku yang paling kusayangi!"

Ekalaya bersujud, "Maafkan saya Guru, saya membunuh Arjuna adalah sebuah kewajaran"

"Kalau begitu, adalah sebuah kewajaran juga kalau aku sekarang marah kepadamu"

"Baiklah Guru, jika demikian, ijinkan saya menerima kewajaran berikutnya. Kalau Guru menginginkan nyawaku, ambil saja, saya ikhlas"

"Tidak Ekalaya, aku tidak menghendaki nyawamu. Tapi serahkan cincin di jari manismu itu"

Ekalaya seratus persen sadar, bahwa cincin ampal gading yang melingkar di jari manisnya adalah akumulasi daya kesaktian yang didapatkan selama ini. Tanpa cincin itu dia bukan lagi Ekalaya yang sakti, dia akan menjadi manusia biasa.

Namun Ekalaya beranggapan bahwa kesaktiannya selama ini dia dapatkan berkat bimbingan Resi Durna. Dan karena itu Durna sangat berhak memintanya kembali. Dengan hati yang tulus ikhlas, Ekalaya sujud semakin dalam, melepaskan dan menyerahkan cicin itu.

Pada saat yang bersamaan, sebilah keris melayang dari belakang patung Durna, menembus dada kiri Ekalaya!!! Inilah saat yang kritis, detik-detik yang merupakan batas, batas yang kabur antara duka dan bahagia seorang anak manusia.

"Keparat kamu Durna...", Ekalaya tersungkur !!! Dia sangat kecewa atas keculasan Durna!!! Gurunya!!! Nyawanya meninggalkan raga dengan sejuta dendam.

Dari kejauhan, para punakawan ribut berteriak melihat kejadian ini.

Petruk terduduk lemas dengan tatapan kosong.

"Reng..., lihat itu... itu....!!! yang membunuh Ekalaya bukan Durna, tapi Kresna!!!" Bagong yang tak tahu tata krama memang seringkali memanggil orang tanpa embel-embel penghormatan

"Bagong menyun, Bagong druhun!!! Meskipun mataku tidak sebesar matamu, tapi aku, Gareng, Kakangmu ini tidak buta!!! Aku juga tahu kalau Prabu Kresna pelakunya!!! Aduh Gusti kang Moho Widhi, mengapa kau biarkan semua ini terjadi"

Semar mendengkur semakin keras. Ketiga anaknya hanya ribut tak berani melakukan apa-apa, karena bapakanya juga tak melakukan apa-apa, mereka hanya menunggu reaksi Semar.

Petruk semakin tidak mengerti sikap bapaknya yang membiarkan semua ini terjadi. Apa sulitnya bagi Semar untuk menghalangi keculasan Kresna?

Kesaktian Semar tak tertandingi oleh siapapun juga. Seluruh dewa-dewa dikahyangan maju bersama ditambah dengan seribu Kresna pun tak akan mampu menandingi kesaktian Sang Hyang Ismoyo ini. Tapi ternyata Semar tak kunjung melakukan sesuatu.

Hati Petruk terguncang!!! Jiwanya terluka!!! Tanpa disadari, dia berjalan meninggalkan kakak dan adiknya yang masih ribut, meninggalkan bapaknya yang tetap tidur, meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu tragedi kehidupan.

Perasaan Petruk semakin teriris mengetahui Dewi Anggraeni yang bersedih dan berkabung sepanjang hidupnya. Dia ingin menghibur tapi tidak punya keberanian, dia malu bertatapan mata. Malu karena tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya memandang Dewi anggraeni dari kejauhan, setiap hari, setiap saat, hingga penghujung hayat Sang Dewi.

Duh... Gusti Kang Murbeng Dumadi yang kuinginkan hanyalah cintaMu

Petruk menghela nafas panjang, mengenang semua peristiwa itu. Kemudian dia kembali mengayunkan kapaknya membelah kayu bakar. Sambil mengalunkan tembang asmorondhono, tembang kerinduan.

"...naliko niro ing dalu, atiku lam-lamen siro wong ayu, nganti mati ora bakal lali, lha kae lintange mlaku"

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 2:13 pm

PETRUK MENCARI JATI DIRI PART 3
Memang benar bahwa Semar bukan bapak kandung Petruk. Juga benar bahwa Jelmaan Sang Hyang Ismoyo ini yang menyeret Petruk ke Mayapada. Tapi tak ada sedikitpun perasaan menyalahkan bapaknya atas semua kejadian yang telah terjadi padanya. Tak ada secuil pun fikiran bahwa dirinya di fitakompli oleh Kiai Semar Bodronoyo.

Petruk tak pernah menyesali ujudnya yang tidak proporsional, jauh dari postur ideal seorang manusia. Hidung kelewat panjang, lengan yang menjulur kebawah melampaui lutut, badan kurus tapi perutnya buncit, wajah tirus mulut lebar hampir menyentuh telinga. Padahal dulunya, sebelum menjadi Petruk, dia ini bernama Prabu Mercukilan, raja jin yang tampan dan gagah perkasa. Kesaktian Prabu Mercukilan tidak ada yang menyangsikan.

Suatu saat Prabu Mercukilan memasuki kahyangan Junggring Saloko, minta salah seorang dewi kahyangan bernama Utari untuk dijadikan isteri. Permintaannya ditolak, raja jin ini mengamuk mengobrak-abrik kerajaan dewa-dewa tersebut. Tak ada satu dewa pun yang mampu mengimbangi kesaktian raja yang kasmaran ini. Batara Guru Sang Hyang Otipati si Maha Dewa pun tak luput dibuat babak belur.

Keributan di kahyangan ini akhirnya dapat diredam setelah Kiai Semar bersedia turun tangan. Meskipun tidak mudah, akhirnya Prabu Mercukilan dapat ditaklukkan Kiai Semar setelah menjalani pertempuran seabad lamanya. Pertempuran yang tak urung menyisakan cacat fisik menetap pada diri raja jin biang onar, hilang sudah wajah tampan, tubuh gagah perkasa. Berubah menjadi wujud Petruk yang sekarang ini. Selanjutnya Petruk diangkat anak oleh Semar menjadi adik Gareng yang sejatinya juga raja taklukan kiai Semar.

Tak ada setitikpun perasaan dendam di hati Petruk terhadap bapaknya ini. Yang ada justeru rasa hormat yang teramat dalam. Tapi meskipun sudah berabad-abad dia mengikuti langkah bapaknya, sungguh tidak mudah untuk memahami semua keputusan yang diambil oleh Ki Lurah Semar Bodronoyo ini. Bahkan acap kali menyisakan rasa gemas di hati Petruk. Pengalaman menyaksikan terbunuhnya Ekalaya, adalah satu dari ribuan kejadian yang mau tidak mau memaksa Petruk berfikir keras untuk menemukan alasan apa yang mendasari sikap bapaknya.

Sikap Bagong, adiknya, yang terkesan cuek dan selalu mengabaikan sopan santun. Serta sikap Kang Gareng yang ekspresif sehingga terkesan mendramatisir masalah. Keduanya merupakan hal yang juga selalu menimbulkan sedikit kekhawatiaran di hati Petruk.

Mudah-mudahan Kang Gareng belum cukup dianggap sekaliber dengan Ekalaya, sehingga harus dilenyapkan. Meskipun tindakan melenyapkan Gareng bukan pekerjaan mudah, kesaktian anak sulung Semar ini tak bisa ditandingi oleh dewa dan ksatria manapun juga. Yang dikhawatirkan Petruk adalah tipu daya, muslihat, kelicikan atau keculasan yang sering kali terbukti bisa mengalahkan kesaktian yang mahambara sekalipun.

Masih segar di ingatannya, kejadian terbunuhnya Supala, yang juga menyisakan penasaran dihati Petruk. Supala adalah Patih Kerajaan Magada, bukan raja, tidak punya pengaruh apa-apa. Juga tidak sesakti Ekalaya. Toh mati juga digilas oleh Sri Kresna.

Apakah perlu Sri Kresna pamer kesaktian? Apakah perlu memberangus seseorang yang tidak berpengaruh? Apakah kritikan selalu dianggap sebagai ancaman? Apakah perbedaan harus ditiadakan?

Dan yang lebih membuat bingung: mengapa Kiai Semar membiarkan ketidakadilan terjadi? Semar adalah Mbah Biangnya kesaktian, apa sulitnya menghalangi kesewenang-wenangan?

Peristiwa bermula di negeri Indraprastha yang dirajai oleh Prabu Puntadewa atau Yudisthira si Darah putih bermaksud mengadakan samrat, semacam perjanjian persekutuan politik dan ekonomi dengan beberapa negara tetangga. Kerajaan Hindustan, Pracicu, Mandaraka, Malawa, Sindu dan yang lainnya menerima itikad baik usul persahabatan itu.

Pada saat upacara Rajasuya, yakni penobatan persekutuan itu, kurang jelas bagaimana proses mekanisme lobinya, Sri Kresna diangkat sebagai ketua sidang.

Apakah semua sepakat demikian? Ternyata tidak, ada kaum separatis, sempalan.

Ada sebuah instrumen musik yang berjalan dan berbunyi tidak sesuai dengan kerangka aransemen telah dirancang susah payah oleh Kresna.

Orang tolol dari mana yang berani-beraninya menabrak tatanan baku? Siapa yang mengajari dia bertindak bodoh untuk menjebol aturan, keluar dari pakem?

Ya itu tadi. Supala namanya. Patih Kerajaan Magada. Apakah ia seorang idealis? Seorang independen? Seorang pemegang teguh ideologi yang bersedia membelah gunung dan merobek langit untuk memperjuangkannya? Ataukah hanya sekedar satria yang menghargai kemerdekaan berpendapat lebih mahal dari nyawanya sendiri?

Benar bahwa Prabu Jarasanda Raja Magada junjungannya, baru saja diremukkan kepalanya oleh Bima, saat berlangsungnya penaklukan Indraprastha atas Magada. Penaklukan. Perhatikan baik-baik: Penakluklan!

Tentu saja Supala adalah orang yang paling memiliki hak sejarah untuk bertanya di forum yang mengangkat Prabu Kresna: "Hai titisan Wisnu yang merasa dirimu paling bijaksana!Ini Samrat atau kolonialisasi? Persekutuan ataukah penaklukan? Ini kesepakatan atau titah?"

Forum menjadi senyap saat Supala tiba-tiba mengangkat tangan dan mengeluarkan protes keras, langsung menohok kepada Sri Kresna. " Semua ini hanyalah sandiwara! Semua ini hanya bersumber pada muslihat Paduka Yang Mulia Bathara Kresna, saat ini kita dihimpun untuk melakukan upacara palsu seolah-olah kita sedang merundingkan persahabatan. Saya akan mencabut kata-kata saya, kalau sidang ini tidak dipimpin oleh Kresna!"

Sidang samrat gempar. Semua raja dan utusan yang hadir tahu persis apa yang selanjutnya akan terjadi. Sang Kresna mengankat leher dan mendongkakkan kepala.

"Apa maksudmu, Supala?" terdengar suara Kresna datar, mengerikan semua hadirin.

"Saya mengajukan keberatan atas dasar dua hal," jawab Supala

"Kamu merasa dendam atas kematian rajamu?"

"Itu adalah hal terakhir. Tapi yang penting adalah, pertama, kita yang ada di sini semua tahu betapa saktu Paduka Kresna. Tak seorangpun dalam pertemuan ini sanggup mengalahkan Paduka. Hali ini bisa menjadi sumber bias dalam perundiangan samrat ini. Perundingan ini seharusnya tak ada hubungannya dengan kesaktian. Kesaktian hanya bertempat tinggal di peperangan. Perundingan adalah tempat bertemunya semangat kerja sama dan itikad untuk saling membantu, serta kesediaan untuk saling memelihara kesejahteraan. Kalau kesaktian dianggap sebagai ukuran, maka perundingan hanya mungkin dilakukan oleh pihak-pihak yang kesaktiannya berimbang"

"Teruskan," sahut Kresna.

Semua yang hadir merasa aneh Kresna tidak membantah argumentasi Supala. seharusnya ia bisa mengemukakan bahwa yang memimpin sidang bukan kesaktian, tapi Sri Kresna.

Petruk yang melihat kejadian ini, meskipun dia tidak berhak mengeluarkan meskipun hanya sekedar satu suku kata dari mulutnya, langsung merasa gelisah. Dia sangat mengerti, betapa mengerikannya paham kekuasaan Bathara Kresna.

Saat dia hendak bertanya kepada bapaknya, dia sudah mendapati Kiai Semar mendengkur di bawah pohon beringin di luar ruang perundingan. Petruk tahu bapaknya hanya pura-pura tidur.

"Aku usul agar sidang ini dipimpin oleh orang yang paling rendah tingkat kesaktiannya," lanjut Supala.

Forum mendengung. "Aku yakin tak seorangpun mau maju untuk menjadi pimpinan yang direndahkan," kata Kresna.

"Paduka jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan sendiri. Ini pertemuan runding, bukan pertemuan titah!"

"Baiklah teruskan," nampak sekali Kresna menahan diri.

"Hal yang kedua," lanjut Supala, "Nalar perundingan Samrat ini akan absurd jika diketuai oleh seorang yang bisa seenaknya mengatasnamakan kehendak Dewa-Dewa. Pendapatnya akan dipaksakan atas nama dewa, atas nama kerja sama, tapi dalam penafsiran sepihak. Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa Paduka tidak memiliki keabsahan mengaku atau dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu. Tapi konsep semacam itu selalu cenderung mengurangi daya nalar kita atas persoalan-persoalan serta menurunkan kesehatan proses perundingan!"

Forum Samrat menjadi benar-benar mencekam. Semua yang hadir berdegup kencang jantungnya dan hampir tak bernafas.

"Sudah, Supala?" suara Kresna bergetar.

"Sudah, Paduka!" jawab Supala

Petruk yang sudah sangat hafal pola pikir titisan Wisnu, tahu persis apa yang selanjutnya akan terjadi.

"Aku hargai semua pendapatmu tanpa harus kusebut bahwa kamu adalah anak kemarin sore yang berakal ngawur dan berilmu dangkal," suara Kresna memeacha kesunyian, "Di Mayapada ini setiap manusia boleh mengemukanan apa saja, tapi harus mengerti dalam situasi apa dan bagaimana ia kemukakan pendapatnya. Siapa saja boleh mengkritik, tapi harus dengan garis ketenteraman Mayapada. Semua boleh ngomong apa saja, tapi tidak dengan melanggar keselarasan, kesatuan dan persatuan. Adapun yang kamu lakukan Supala."---Waktu bagaikan berhenti oleh kalimat Kresna--- "Adalah penghinaan atasku didepan umum! Masalahnya sekarang ini bukanlah soal perbedaan pendapat, melainkan tindakan pidana penghinaan. Bukan sekedar penghinaan Satria kepada sesepuhnya, tapi juga penghinaan seorang lelaki kepada lelaki yang lain."

Daun-daun gugur dari tangkainya. Mendung tiba-tiba merapat dan angin menyisih menjauh.

Sri Kresna bermaksud menyelesaikan persoalan itu secara lelaki. Ia meloncat ke pintu gedung Samrat, keluar ke halaman, "Keluarlah, Supala! Hadapi aku secara jantan."

Seluruh hadirin beranjak dan keluar gedung dalam kesenyapan. Suasana menjadi beku. Tidak akan terjadi duel. Tak kan ada perkelahian. Ini adalah pembantaian. Supala hanyalah seseorang, sedangkan Kresna adalah segala-galanya.

Petruk bingung, hanya bisa mengurut dada. Ingin bertanya ke bapaknya, tapi Kiai Semar ngorok semakin keras. Gareng dan Bagong entah pergi kemana. Petruk hanya mencoba untuk bersikap rasional dan proporsional, mengesampingkan segala perasaan dan opininya.

Sesungguhnya ini sangat memalukan. Tidak satu sel pun dari tubuh Kresna yang perlu ber-tiwikrama untuk sanggup menumpas Patih Supala. Bahkan gerak kegagahan yang ditampilkan oleh Raja Dwarawati pelindung Pandawa itu tak menghasilkan apapun kecuali mengerdilkan derajad Sri Kresna Sendiri. Ini adalah opini Petruk.

Demikianlah, Kresna hanya perlu menjentikkan jari kelingking, musnahlah kehidupan Supala!

Namun toh Kresna merasa perlu mendemonstrasikan keperkasaannya di depan Raja-Raja yang hadir. Sesudah ribuan anak panah Supala hangus menjadi debu sebelum mencapai tubuh Kresna, Titisan Wisnu yang maha bijaksana itu memuntir kepala Supala!

Seluruh hadirin terdiam. Suasana teramat kaku. tapi itu tak berlangsung lama. Saat terdengar salah seorang bertepuk tangan, maka semua yang hadir pun riuh bertepuk tangan.

Kegembiraan muncul dengan anehnya. Mereka seolah-olah, tahu bersungguh-sungguh, mensukuri mampusnya seorang yang mengancam keselarasan.

Persoalannya gamblang. Itu semua bukan hanya sekedar pertunjukan tentang paham kekuasaan. Tapi juga pameran perikebinatangan. Atau semacam gangguan kejiwaan amat serius yang terjadi pada manusia yang karib bergaul dengan kekuasaan.

Wajah Petruk pucat pasi, badan serta kaki dan tangannya menjadi dingin tak ubahnya sebongkah es. Tak ada lagi keinginan bertanya kepada bapaknya. Hatinya teriris-iris untuk kesekian ribu kalinya.

"... Duh Gusti, apakah Engkau akan mengangkat sebagai utusanMu, makhluk yang justeru gemar melakukan kerusakan di muka bumi, makhluk yang gemar menumpahkan darah diantara sesamanya? Padahal.."

Petruk melamunkan semua peristiwa itu sambil menghabiskan rokok siongnya yang tinggal segelintir dan bersandar pada tumpukan kayu bakar yang baru selesai di belah-belahnya. Lamunannya buyar karena teriakan Gareng "Truk!!!... Semar hilang! Semar Hilang"

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 2:14 pm

PETRUK MENCARI JATI DIRI PART 5
"Kamu ini kenapa sih Gar? Nggak jelas kamu bicara apa," suara Bagong makin terdengar aneh karena berbicara sambil mengunyah gumpalan gumpalan singkong

"Dasar anak nggak tahu adat, silahkan kamu panggil aku dengan sebutan Reng, atau Gar, atau Gareng, atau apa saja, tapi memanggil Romo dengan dengan lansung menyebut Semar tanpa embel-embel, sangat tidak sopan, tahu?" kemarahan Gareng semakin menjadi

"Gareng ini ngawur, nama Semar kok dibilang nggak sopan.Untung aja Semar nggak ada di sini. Ck ck ck bathuk mu panas barangkali Reng, Truk carikan dhadap serep untuk obat demam Gareng." Senyum Petruk semakin lebar mendengar jawaban Bagong yang terdengar asal-asalan.

Lain dengan Gareng, dia semakin umup, semakin mendidih, "Tobat, tobat Gusti. Hei yang tidak sopan itu caramu memanggil Romo. Tidak boleh njangkar begitu, segala sesuatu itu ada adab sopan santunnya, ada tata caranya, tidak boleh telanjang begitu"

"Apa? Aku telanjang di hadapan Semar? Lha kok enak dia bisa lihat auratku."

"Duh, Jagat Dewa Bathara..." Gareng kesulitan menemukan kosa kata untuk menjawab kalimat makhluk yang terlahir dari bayangan Ki Semar Bodronoyo ini, dia merasa akan lebih mudah kalau diminta berdialog dengan dinosaurus yang dihidupkan kembali.

"Meskipun Semar itu goblok, tapi tidak segoblok Gareng ini. Aku setuju dengan pendapat Semar yang tadi dibicarakan Gareng," suara sengau Bagong seperti suara dari balik kubur,"Aku setuju kalau Semar bilang bahwa semua penduduk Karang Kedempel ini bisa menjadi pemimpin tidak hanya di Karang Kedempel tetapi di dunia. Referensi dan dasarnya sangat jelas, nggak percaya? Coba dengar ya."

"Kita tilik saja terlebih dahulu dari dunia musik. Soal cengkok. Memang aku ini tidak bisa menyanyi, tapi yang namanya anak-anak Karang Kedempel Idol itu dahsyat karena mampu ber­cengkok apa saja. Cengkok Negro-nya Whitney Houston tidak bisa dinyanyikan oleh penyanyi bule, tetapi Bertha yang orang Karang Kedempel bisa melagukan semua cengkok, ya Arab ya Negro. Orang Karang kedempel bisa semua cengkok. Orang Arab hanya bisa cengkok Arab. Orang kulit putih cuma bercengkok kulit putih yang lurus-lurus dan kaku-kaku. Orang Negro bisa mengeluarkan suara yang melilit-lilit tetapi derajat dan sudutnya berbeda dengan Jawa dan Arab. Orang Arab tidak akan bisa membawakan lagu Negro dan begitu sebaliknya. Tetapi, orang Karang Kedempel bisa melantunkan lagu-lagu Arab, Negro, Barat, Cina dan lain-lain. Blues oke, Rock juga oke. Dangdut apalagi."

"Suatu hari mudah-mudahan ada festival musik intemasional di mana setiap grup harus membawakan satu lagu Jawa, satu lagu Sunda, satu lagu jazz, satu lagu Arab klasik, satu lagu Arab modem, dan satu lagu Afrika Utara, dan aku kira orang Karang Kedempel yang bakal menang. Sebab orang Karang Kedempel bisa menyanyikan lagu apa saja. Jumlah qari di Karang Kedempel mungkin seratus kali lipat dari jumlah qari di negara ­negara Arab. Jadi kalau kita mau mencari orang Karang Kedempel yang mumpuni membawakan lagu-lagu Arab sampai yang paling canggih sekalipun itu bertebaran di mana-mana, tetapi kalau mencari orang Arab yang sanggup menyanyi Jawa itu sulitnya setengah mati."

"Itulah sebabnya orang Karang Kedempel berbakat menjadi pemimpin dunia. Kalau dalam bahasa sepakbola, bangsa Karang Kedempel berpotensi menjadi kapten kesebelasan dunia. Kapten adalah pemain yang memiliki determinasi dan penguasaan terhadap seluruh sisi lapangan dan pemain. Ia bisa berdiri pada posisi manapun. Sekiranya kiper terkena kartu merah, si kapten bisa menggantikannya. Bila back-nya cedera, dia bisa menggantikan perannya. Kalau gelandangnya kurang oke, dia bisa menopang peran si gelandang. Begitu pula jika ada masalah dengan ketajaman striker, kapten bisa mengambil peran ujung tombak itu. ltulah kapten yang sebenamya. Maka bangsa yang paling berbakat untuk menempati segala posisi adalah bangsa Karang Kedempel. Orang-orang Karang Kedempel memiliki potensi dan kecakapan berkelas dunia."

Gareng seperti tersihir mendengar kalimat kalimat Bagong. Petruk memutuskan duduk mendekat, mengabaikan bau penguk adiknya yang mandinya belum tentu setahun sekali.

"Dari sudut gen, gen bangsa Karang Kedempel adalah campuran dari semua gen yang ada di muka bumi. Misalnya, kamu inggat nggak mantan Pak Kades kita yang pernah mengaku memiliki gen dan darah Cina, Arab, Persi, dan Ajisaka. Ajisaka itu bukan orang Jawa melainkan Asoka yang tak lain adalah India. Jadi orang Karang Kedempel tidak sepenuhnya keturunan Homo Sapiens sebagaimana orang Arab, Amerika, atau Latin. la adalah campuran dari Homo Sapiens dan sisi-sisa Homo Erectus. Sehingga, antropologi, sosiologi, dan psikologi orang Karang Kedempel sangat berbeda dari mereka yang keturunan homo sapiens. Maka, gen warga Karang Kedempel adalah gen campuran dan karena itu berpotensi menjadi manusia kaliber dunia. Orang-orang seluruh dunia tidak paham siapa sesungguhnya warga Karang Kedempel itu. Mereka akan kaget bahwa temyata warga kita tidak bisa dikalahkan. Orang miskin saja masih bisa sombong dan dengan penuh percaya diri akan bilang -Lho, sudah miskin kok ndak boleh sombong. Rugi dua kali dong!- Orang tidak punya saja masih bisa nraktir. ltu hanya terjadi di Karang Kedempel. Seratus bangkai motor diserahkan kepada orang Karang Kedempel dan dalam waktu satu minggu semua motor itu berfungsi kembali atau menjadi sesuatu yang baru."

"Bukan cuma itu. Orang Karang Kedempel memiliki term atau konsep wibawa. Wibawa itu tidak ada di tempat­ tempat lain di seluruh dunia. Malaysia pun sudah mulai kehilangan wibawa. Coba temukan orang Malaysia yang punya wibawa! Datanglah ke sana dan kamu berdiri tegap tangan bersedekap sambil memandang tajam ke orang-orang, pasti tidak ada orang yang berani balik memandang kamu. Coba kalau kamu lakukan di sini, misalnya di pasar TanahAbang, ooo.. ya kujamin jadi pertengkaran. Aku punya teman-teman Chinese dari Jakarta atau Surabaya. Kalau mereka pergi ke Hong Kong, mereka sangat unggul dibanding orang Cina asli. Mereka methenteng teriak-teriak ala Jakarta, Siapa lu! atau ala Surabaya dengan suara keras, Yo opo, rek! Mereka unggul secara kewibawaan karena sudah terlatih di Indonesia. Sebab di Cina asli sana orangnya baik-baik, tertib, lugu, tetapi di sini siapa yang menjamin hidupmu. Kanu harus liar di sini. Dirampok atau tidak, kamu mesti bertanggungjawab sendiri karena tidak ada perlindungan."

"Maka tidak ada pilihan lain bahwa di Karang Kedempel ini kamu harus menjadi pendekar. Kondisi inilah yang menumbuhkan sesuatu yang dalam bahasa dan konsep Jawa disebut awu. Awu itu bukan aura. Aura baru sebatas indikatif terhadap awu. Kalau krentek itu dhoq dalam bahasa Arabnya. Krentek adalah titik akurasi dari daya intuisi terhadap suatu hal. Awu tidak sama dengan aura dan krentek. Awu itu sernacam kekuatan elektromagnetik dari dalam jiwamu yang memancar kepada orang lain. Awu itu kekuatan batin yang keluarnya sedikit fisik sedikit nonfisik tapi dia bisa menguasai orang lain. Dan ini tidak ada di mana­ mana di seluruh dunia. Hanya orang Karang Kedempel yang kenal wibawa atau awu."

"Di luar negeri dikenal istilah kharisma, tetapi itu tidak bisa melawan dimensi wibawa dan awu. Maka di Jawa, orang yang tidak bisa dikalahkan atau dilawan disebut ngawu-ngawu. Ini serius lho Reng, Truk dan hanya kamu kamu ini yang punya wibawa di seluruh dunia. Biarpun profesor di London atau di manapun, mereka pintar tapi tidak punya wibawa. Pintar secara akademis, tetapi ndlahom. Lain halnya dengan orang Karang Kedempel: tidak punya pekerjaaan dan tidak pemah sekolah tapi kereng (galak) setengah mampus. Tidak punya uang tetapi berani kawin, seperti Gareng ini, rokoknya Dji Sam Soe lagi! Nah, sayangnya, justru karena kita punya wibawa maka kita malas melakukan apa saja. Muncullah bonek-bonek. Bonek tidak hanya di Surabaya melainkan di seluruh Karang Kedempel. Semua orang ber-bondo nekat. Apakah bukan bonek jika orang berani-beraninya menjadi Kades, padahal tidak punya kemampuan untuk mengatasi masalah. Kalau bonek di Surabaya ngamuk, tentu aku tidak setuju kriminalitasnya, tetapi mari kita pelajari kenapa sampai timbul bonek seperti itu. Harus kita temukan apa keistimewaan dan keburukan bonek. Sebagai potensi, bonek tidak bisa dilawan dan karena itulah Surabaya digelari sebagai kota pahlawan. Masak berani perang, jika bukan bonek. Kalau dibaca secara positif, sesungguhnya bonek adalah bahasa Jawanya tawakkal. Padahal kita tahu bahwa tawakkal, beserta jihad dan syahid, adalah tiga senjata yang sangat ditakuti di mana-mana."

"Sesungguhnya pemerintah Karang Kedempel ini adalah pemerintah yang paling enak, sebab masyarakatnya adalah masyarakat yang paling mandiri. Bencana begitu rupa dahsyatnya bisa dihadapi dengan tenang dan serba bersyukur. Sementara Badai Katerina yang melanda California membuat orang-orang di sana panik dan marah-marah kepada pemerintah Amerika. Mereka mendemo pemerintahnya yang tidak antisipatif dan tidak becus mengurusi masalah bencana alam itu. Badai di New Orleans yang tidak ada sekukunya Tsunami di Aceh menyebabkan terjadinya dehumanisasi total dan pemerintahnya dimarahin habis-habisan. Di Karang Kedempel mana ada rakyat sampai seperti itu? Harga BBM dinaikkan, bergejolak sejenak, setelah itu rakyat tenang-tenang saja, jalan­ jalan tetap macet penuh mobil seolah kenaikan harga BBM tidak mempengaruhi konsumsi bensin mereka. Pemerintah silih berganti dan naik turun, tetapi rakyat tetap stabil."

"Orang­ orang di luar negeri serba serius dan mentelheng. Aku pernah ke Arab lho Truk, Reng, dan berteriak di keramaian mengucapkan salam, Asslamualaikum.... Tidak seorang pun menjawab. Ketemu polisi di sana dan saya tanya di mana makam Siti Khadijah, jawabnya cuma Wallahu a'lam......! Gila nggak sih? Orang-orang Karang Kedempel sangat mudah tersenyum, ceria, tidak tegang, dan punya banyak cara untuk menertawakan keadaan, dan itu di satu sisi sangat menyehatkan jiwa mereka."

"Semua sifat dan potensi orang Karang Kedempel bisa sangat positif dalam menyongsong masa depan. Lebih-lebih ketika saat ini kita sedang memasuki tahap lingsir wengi alias kegelapan total di berbagai bidang. Musibah di darat, udara, dan lautan bertubi-tubi menampar bangsa Karang Kedempel. Belum lagi krisis internasional yang sudah mengintai, di antaranya krisis biji-bijian, padi, kedelai dan lain-lain, pada skala internasional, sehingga akan terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan tingkat konsumsi yang pasti berdampak pada munculnya gejolak dan konflik vertikal maupun horisontal."

Kalimat-kalimat Bagong mengalir lacar, membuat kedua kakaknya tak sempat untuk berkedip sekalipun

"Potensi bangsa Karang Kedempel sangat besar untuk bisa tampil dalam panggung kepemimpinan dunia, asal saja kita mau dan serius. Formulasinya bisa dicari. Pada tingkat nasional, Jakarta sudah melakukan eksperimentasinya dan hampir gagal. Sehingga, misalnya, harus ada pemecahan ibukota. Ibukota ekonomi tetap di Jakarta, tetapi ibukota politik kita pindah entah ke Bandung atau Surabaya. Pemisahan ini dimaksudkan untuk mengurangi KKN dan menormalkan restrukturisasi dan deregulasi atas apa yang selama ini menciptakan madharat bagi rakyat. Tetapi tawaran ini lebih luas dan berskala internasional. Bukan curna soal kepemimpinan politik nasional atau pada level kabinet melainkan menyangkut krisis internasional, menyangkut konstelasi internasional."

"Kita juga harus mulai menggali dan mengeksplorasi kekuatan lokal serta melengkapinya dengan ilmu. Maka kegiatan yang kita lakukan di berbagai tempat adalah majelis ilmu. Orang Karang Kedempel budayanya kuat, imannya kuat, tawakkalnya kuat, namun ilmunya kurang serius, tetapi bukan berarti bodoh. Ilmu yang serius bisa berarti mau mempelajari bahwa sesungguhnya bangsa Karang Kedempel itu hebat dan saking hebatnya sampai-sampai menjadi malaikat pun pintar dan jadi setan pun juga jagoan. Sehingga yang namanya Karang Kedempel itu kontraversial. Di lain pihak kelihatannya miskin dan dilanda krisis, tetapi aku tidak bisa menemukan tingkat kemewahan hidup melebihi orang-orang Karang Kedempel ini. Ilmu yang serius bisa juga berarti menyadari bahwa hanya bangsa yang besar yang diberi ujian beruntun dan mau mengolah kejadian­kejadian itu menjadi kekuatan untuk bersiap menyambut masa depan: menjadi kapten kesebelasan dunia. Menjadi pemimpin jagad raya"

"Mengerti tidak kalian ini? Truk..., Reng..." Gareng mengakhiri khotbahnya. "Oooo dasar orang gila! Lha wong diajak ngomong malah melongo, ya sudah aku pergi..." Dan Bagong pun berlalu

Petruk dan Gareng tidak bisa memberikan reaksi apa-apa. Seharusnya mereka tidak perlu heran dan kaget atas apa yang baru saja mereka dengar, yang keluar dari mulut Bagong. Mereka juga sadar bahawa sesakti apapun mereka, Bagong hanya perlu menjentikkan telunjuknya untuk membuat mereka terpental hingga ke seberang Galaxy

Mereka hanya pangling akan bentuk utuh dari Bagong yang sesungguhnya. Bagong terlahir dari bayangan Semar, tentu saja kebijaksanaan Semar juga menurun ke dalam jiwa Bagong. Dan kalau selama ini Bagong kelihatan liar dan bertingkah laku serta bicara sesukanya, hal itu dikarenakan peran yang harus dijalani Bagong memang harus seperti itu.

Petruk seratus persen sadar bahwa yang baru saja diucapkan Bagong melalui pidatonya yang panjang lebar hanyalah sebuah satire. Sebuah sindiran bagi warga Karang Kedempel untuk berfikir dan berindak lebih produktif dan konstruktif.

Gareng pucat, jiwanya terguncang. Dia seakan tertampar dan diingatkan bahwa sopan santun yang palsu seringkali membuat manusia menjadi tumpul nalar dan batinnya. Dan dia pun ngeloyor pergi meninggalan rumah Petruk tanpa pamit, dan tanpa memperdulikan guyuran hujan yang mulai deras.

Sepergi Bagong dan Gareng, Petruk baru tersadar dan segera tersenyum lebar melihat bahwa dua bakul yang sebelum nya penuh berisi singkong rebus telah tandas. Pastinya sudah pindah ke dalam perut si Bagong.

Tiba-tiba Petruk dikagetkan suara isterinya yang keluar dari bilik sambil menenteng payung,"Kang, saya mau antri elpiji dulu ya. Katanya di kelurahan ada pembagian elpiji gratis."


Terakhir diubah oleh zelda tanggal Wed Jan 06, 2010 2:16 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 2:15 pm

PETRUK MENCARI JATI DIRI PART 4
Truk, Bapak hilang, Bapak hilang!!!" suara cempreng yang sangat dikenal Petruk, suara Gareng. Yang tergopoh-gopoh datang dengan nafas terengah. "Romo Semar hilang, Romo Semar hilang!!!"

Petruk tersenyum-senyum saja sambil menikmati hisapan terakhir rokok siongnya. Kemudian berdiri dan mengikat kayu bakar yang telah dibelahnya

"Hei... Romo Semar hilang! Romo Semar hilang! RomoSemar hilang!" Gareng mengulang lagi dengan nada lebih sengit. "Apa sih yang dimaui si tua udel bodong itu? Pakai acara ngilang segala. Apa dia memang nggak tahu atau pura-pura nggak tahu kalau desa kita ini masih membutuhkan keberadaannya? Desa kita yang semakin rusak ini membutuhkan keprigelannya!"

Tapi Petruk memang selalu lebih cool dalam menanggapi permasalahan. Dia hanya tersenyum sambil melirik kakaknya. Kemudian malah masuk ke dalam rumah.

"Dasar Petruk Kanthong Bolong! Kamu ini memang nggak punya telinga! Nggak punya perasaan! Nggak punya keprihatinan! Romo Semar hilang! Bapak kita hilang! Dengar nggak sih kamu ini?" Atas nama segala kejengkelan, kalimat Gareng jadi berbelok memaki adiknya.

Namun ketika sesaat kemudian Petruk keluar membawa sebakul singkong rebus, Gareng mengembalikan kata-kata ke jalur awal, "Bapak itu manja dan jual mahal. Sudah tua bangka masih pakai acara ngambeg segala. Desa kita ini membutuhkan kepiawaian RomoSemar. Kalau dia menghilang begini, seluruh penduduk desa menjadi yatim piatu sejarah. Bahkan bukan hanya penduduk Karang Kedempel saja, tapi seluruh alam semesta akan meratap. Menagisi nasibnya. Apakah dia jengkel kepada Pak Kades, sehingga tidak mau lagi jadi Punakawan?"

Gareng mengambil sinkong, sekaligus dua biji, menggigit dan mengunyahnya sambil meneruskan pidatonya, "Apakah Bapak menganggap Pak Kades demikian tak pantasnya uantuk ditemani karena sudah sedemikian tak tahu diri. Salahnya orang-orang juga sih, memanggil Bapak dengan sebutan Ki Lurah Semar. Pak Lurah yang asli jadi jengkel, sehingga sebutan Lurah diganti menjadi Kades!"

Sampai disini Petruk sadar keadaan, dia langsung mengambil singkong rebus sekaligus tiga biji. Kalau keadaan tetap seperti ini, dia nggak bakalan kebagian singkong. Karena Petruk sangat faham, sebentar lagi Kang Gareng akan melanjutkan pidato kenegaraannya yang tentu akan sangat panjang, serta diikuti dengan mengunyah semua singkong-singkong rebus itu sampai habis.

"Apakah Bapak sudah memuntahkan kembali bumi dari perutnya? Apakah dia sudah masuk kembali menyelusup ke dalam rahim Dewi Wirandi ibundanya? Ataukah Semar sudah pupus di cahaya mata Sang Hyang Tunggal ayahandanya yang memang sudah lama sekali dirindukannya?" Gareng meneruskan bait-bait sajaknya sambil memasukkan gumpalan-gumpalan singkong ke dalam mulutnya.

"Hidup Kang Gareng! Hidup Gareng! suiit.. suit" Petruk berteriak, bertepuk tangan, dan bersiul panjang.

Petruk merasa perlu memotong orasi Gareng. Karena kalau tidak, pidato Gareng akan jadi berkepanjangan. Bahkan mungkin samapai berhari-hari tanpa henti. Yang lebih dikhawatirkan oleh Petruk adalah bahwa hilangnya Semar hanyalah refleksi khayalan kakaknya yang berhidung extra large ini

Sekali lagi Petruk dibuat terheran-heran. Bagaimana mungkin di sebuah dusun seperti Karang Kedempel ini ada orang seperti Gareng, yang mempunyai wawasan mengagumkan melebihi punggawa-punggawa desa. Bahkan pengetahuan Gareng lebih hebat ketimbang kemampuan Pak Kades sendiri. Padahal Gareng ini tidak pernah makan bangku sekolahan

"Berapa sih cicilan utang yang harus Kang Gareng bayar hari ini? Debt colectornya sudah datang toh? " tanya Petruk.


Mata Gareng semakin juling, "Kurang ajar kamu Truk, apa kamu kira aku ini pura-pura gila?"

"Atau barangkali Kang Gareng habis berantem sama Mbakyu?" tanya Petruk lagi.

"Sialan kamu, apa kamu anggap aku main-main? Heh, dengar ya! Buka telingamu lebar..."

"Dari dulu telingaku ya sebesar ini mana mungkin dibuat jadi lebih lebar. Kang Gareng ini nganeh anehi lho," Petruk memotong, sebelum sumpah serapah kakaknya ini keluar. Dia ingin sedikit membuat kepala Gareng lebih dingin. Dan berhasil!

Nada suara Gareng merendah, "Truk, apa jadinya dusun kita ini kalau Bapak menghilang tanpa pesan seperti ini?"

"Kang, Bapak tidak pernah dan tidak akan pernah hilang. Bapak tidak akan kemana-kemana kok. Tapi memang dia ada dimana mana"

"Lho, kamu mau adu filsafat dengan aku?" nada suara Gareng meninggi lagi.

"Adu filsafat bagaimana toh Kang?"

"Lha itu tadi, bicaramu seperti ahli filsafat saja, mungkin kamu sudah mulai ketularan romo Semar, atau barangkali Bapak sudah merasuk dalam ragamu ya Truk..."

"Hus..., Kang Gareng ini lho ada-ada saja, tubuhku yang kurus ini apa ya muat dimasuki Bapak yang gedenya hampir sama dengan satu kontainer peti kemas itu," Petruk mencoba melumerkan ketegangan Gareng, tapi tidak berhasil.

"Kita harus segera menemukan Bapak, Truk. Romo Semar harus bertanggung jawab akan keadaan Dusun Kareng Kedempel saat ini. Ini semua juga gara-gara ajarannya."

"Ajaran Romo yang mana, Kang?"

"Romo Semar mengajarkan bahwa kita harus berjiwa besar dan rendah hati. Saking merasuknya ajaran ini ke dalam jiwa setiap penduduk Karang Kedempel, sampai-sampai mereka sulit membedakan mana kerendahan hati dan mana yang namanya kesombongan," Gareng duduk di atas lincak sembari menaikkan satu kakinya. Tak lupa sambil mengunyah singkong rebus.

Kali ini Petruk memutuskan untuk membiarkan saja Si Gareng yang mulai berancang-ancang berkhotbah. Bahasa tubuh kakaknya sudah sangat dikenal oleh Petruk.

"Semar bilang bahwa penduduk Karang Kedempel adalah bangsa bibit unggul, lebih dari itu: dalam konteks evolusi pemikiran, kebudayaan dan peradaban- kita adalah bangsa garda depan, avant garde nation, yang derap sejarahnya selalu berada beberapa langkah di depan bangsa-bangsa lain di muka bumi."

"Bapak juga bilang, bahwa pakar dunia di bidang ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik dan kebudayaan, sudah terbukti "terjebak" dalam mempersepsikan apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa kita. Penduduk seluruh dunia membayangkan Karang Kedempel adalah kampung-kampung kumuh, banyak orang terduduk di tepi jalan karena busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana sini, orang berbunuhan karena berbagai macam sebab. Negeri yang penuh duka dan kegelepan." Sekali tarikan nafas, dan Gareng melanjutkan orasinya.

"Padahal di muka buni ini mana ada orang yang bersuka ria melebihi warga Karang Kedempel. Tak ada orang bersuka ria melebihi orang Karang Kedempel. Tak ada masyarakat berpesta, tertawa-tawa, jagongan, kenduri, serta segala macam bentuk kehangatan hidup melebihi kebiasaan masyarakat kita. Tak ada anggaran biaya pakaian dinas pejabat melebihi yang ada di Karang Kedempel. Tak ada hamparan mobil-mobil mewah melebihi yang terdapat di dusun kita ini. Import sepeda motor apa saja dijamin laku, berapa juta pun yang kau datangkan kenegeri ini."

"Kata Romo Semar lagi, bahwa penduduk dunia menyangka kita sedang mengalami krisis, padahal berita tentang krisis dudun kita adalah suatu ungkapan kerendahan hati. Penduduk dunia sering tidak mengerti retorika budaya masyarakat kita. kalau kita bilang "silahkan mampir ke gubug saya" -mereka menyangka yang kita punya adalah gubug beneren, padahal rumah kita adalah Istana, yang Gubernur di Argentina dan Menteri di Mesir pun tak punya macam kita punya"

"Kalau kita bilang kalau dusun kita sedang krisis, itu adalah semacamp tawadlu' sosial, suatu sikap yang menghindarkan diri dari sikap sombong. Kalau pemerintah kita terus berhutang trilyunan dolar, itu strategi agar kita disangaka miskin. Itu taktik agar dunia meremehkan kita. Karena kita punya prinsip religius bahwa semakin kita direndahkan oleh manusia, smakin tinggi derajat kita dihadapan Allah. Semakin kita diperhinakan oleh manusia di muka bumi, semakin mulia posisi kita di langit."

"Dulu ketika Kades kita seorang yang buta, sejumlah orang di luar dusun mengejek kita: Apa dari 210 juta penduduk dusunmu tidak ada lagi seorang pun yang punya kemampuan menjadi Kades sehingga harus mengangkat seorang pimpinan pesantren yang buta? Ketika kemudian kita mempunya seorang Ibu Kades sebagai pemimpin dusun ini, mereka juga bertanya dengan sinis: Apa penduduk dusunmu itu 99% wanita sehingga tidak ada satu lelakipun yang mungkin menjadi Kades?"

"Aneh memang bahwa bangsa-bangsa di luar Karang Kedempel yang katanya lebih terpelajar dan lebih beradap ternyata hanya memiliki pemikiran linier dan tingkat kecerdasannya tidak bisa diandalkan. Mereka tidak punya fenomena budaya sanepo, misalnya. Juga tak punya pekewuh. Kita sebagai bangsa yang berkebudayaan tinggi dan berperadaban unggul - tidaklah akan pernah memilih suatu sikap sosial yang gemedhe atau adigang adigung adiguna. Kita tak akan pernah pamer keunggulan kepada bangsa lain, dan itulah justru tanda keunggulan budaya kita. Kita tidak akan mencari kepuasan hidup dengan melalui sikap ngendas-sendasi bangsa lain. Kita adalah bangsa yang memiliki kemuliaan batin karena sanggup memprakekkan budaya andap asor, budaya rendah hati."

"Jangankan soal Kepala Desa. Tim nasional sepakbola kita pun dirancang sedemikian rupa sehingga jangan sampai menangan atas kesebelasan bangsa bangsa lain. Sudah berpuluh tahun kita mempraktekkan filosofi ngalah kuwi dhuwur wekasanane, mengalah itu luhur derajatnya. Olah raga bulutangkis yang dulu dusun kita pernah membuktikan sebagai bangsa yang tidak bisa dikalahkan oleh tim dari bangsa manapun termasuk Cina yang berpenduduk 1,2 milyar. Sekarang kita menyesal kenapa mempermalukan Cina, sehingga bulutangkis kita sekarang kita bikin bagus, tapi sering mengalah..." Terengah-engah Gareng menyelesaikan kalimat-kalimatnya

"Coba bayangkan Truk, ajaran Romo Semar yang macam itu apa tidak terlalu tinggi untuk dicerna warga Karang Kedempel? Bukannya mereka jadi rendah hati, bahkan sebaliknya, mereka semakin sombong"


"Wah, jadi Kang Gareng menganggap tingat kecerdasan warga Karang Kedempel masih dibawah standart untuk bisa menyerap ilmu Romo Semar, begitu?"

"Lha wong Gareng itu memang goblog kok, sama goblognya dengan Semar, kamu jangan ikut-ikutan goblog Truk!!!" Tiba-tiba Gareng dan Petruk dikejutkan oleh suara parau, sengau dan kalimatnya sangat tidak sopan.

Suara dan gaya bahasa yang sudah sangat mereka kenal. Dan mereka segera sadar bahwa sudah ada sosok ketiga berada diantara mereka. Makhluk berbadan bulat tak berbentuk, seakan hanya onggokan daging. Bermata sebesar baskom, hidung pesek, mulut lebar sampai ke telinga. Siluetnya sekilas mirip Semar. Dia adalah Bagong, anak bungsu Semar.

Dan yang membuat Gareng dan Petruk lebih terkejut adalah singkong yang masih tersisa kira-kira sepuluh biji langsung habis sekali tenggak kedalam mulut Si Bagong.

Petruk hanya tersenyum, lain halnya dengan Gareng, "Kampret! Anak nggak kenal sopan santun! Manggil orang tua yang sopan! Panggil dengan sebutan Bapak atau Romo, jangan asal panggil Semar Semar! Romo Semar itu bapak kita, tahu nggak?"

"Lha wong namanya Semar kok minta dipanggil Romo, Semar ya Semar," Bagong memang selalu apa adanya.

"Duh Gusti nyuwun ngapuro, tunjukkanlah bagaimana caranya menyadarkan dan mengajarkan kebudayaan kepada seekor munyuk ini..." juling mata Gareng semakin menjadi-jadi.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:08 pm

BRAJADENTA -- BRAJAMUSTI
prabu duryodana dan para punggawa kurawa sedang bertemu di dampar agung negara hastina. mereka membicarakan krisis yang menimpa pringgondani. karena brajadenta ga mau menyerahkan kursi kepada prabo anom gatotkaca. duryodana melihat hal ini sebagai peluang. hal ini diamini olehr esi drona dan patih sengkuni. maka diutuslah patih sengkuni dan resi drona untuk bertamu ke brajadenta. maka berangkatlah utusan hastina menemui brajadenta.

dikediaman brajadenta para utusan hastina diterima. drona menceritakan bagaimana perang dengan ayah pandawa menewaskan prabu tremboko ayah dari brajadenta. kemudian ditambah cerita patih sengkuni tentang werkudoro yang membunuh kakak mereka tertua arimba. dan memanas manasi bahwa arimbi malah membelot menikah dengan werkudoro. karena dipanasi brajadenta tambah marah dan bersumpah merebut tahta pringgandani.

di pringgandani prabu anom gatotkaca menghadapi para pamanya. ada brajamusti dan kala bendana. prabu anom menanyakan kenapa brajadenta pamanya ga pernah sowan. karena dianggap aneh maka gatotkaca mengutus dua pamanya brajamusti dan kala bendana mengunjungi kediaman brajadenta. apalagi telah santer beredar kabar bahwa brajadenta akan mengkudeta gatotkaca dari kursi raja pringgondani.

berangkatlah dua utusan tadi ke kediaman brajadenta. mereka kaget melihat adanya rombongan dari kerajaan hastina sudah ada disana. mereka masuk lalu menyampaikan pesan kedatanganya adalah karena diutus gatotkaca. untuk melihat kabar brajadenta apakah sakit kenapa kok ga pernah sowan ke sitihinggil keraton pringgondani.

brajadenta marah besar dan mengatakan dengan lantang bahwa dia akan merebut kedaton dari tangan gatotkaca. brajamusti dan kala bendana berusaha mengingatkan brajadenta. bahwa dia sudah dipengaruhi oleh drona dan sengkuni. tapi brajadenta tak mau peduli dan menyuruh kedua adiknya itu kembali membawa surat tantangan. maka keluarlah brajamusti dan kala bendana dan diikuti oleh bala tentara hastina.

bala tentara hastina disuruh untuk membunuh kedua utusan tapi mereka dikalahkan dengan mudah oleh brajamusti. dan segera mereka kembali ke kedaton pringgondani. mereka mengatakan apa yang mereka dengar langsung dari brajadenta kepada prabu anom gatotkaca. gatotkaca menjadi resah dan merasa rikuh berhadapan dengan paman sendiri. sementara bala tentara brajadenta bersiap menuju ke istana pringgandani.

ketika pasukan brajadenta sampai terjadi pertempuran. brajadenta sakti luar biasa sehingga hampir semua mereka yang membela gatotkaca dikalahkan. sampai sampai gatotkaca sendiri maju dan dikalahkan oleh brajadenta. kemudian gatotkaca mundur dan ebrkeluh kesah kepada pamanya brajamusti. paman saya dikalahkan dan kerajaan direbut. bagaimana baiknya?. brajamusti berkata...masalah bisa beres jika tuan raja mengorbankan satu pilar kerajaan.

gatotkaca mengira pilar yg dimaksud adalah bener bener pilar bangunan keraton. maka dia mensetujui saja perkataan pamanya. tiba tiba brajamusti berkata bahwa brajadenta bisa mati asal bertarung sampai sama sama mati melawan dirinya. lalu brajamusti pamit dan melawan brajadenta. pertarungan sangat seru. keduanya seimbang. dan ahirnya sama sama mati tertusuk keris pusaka masing masing.

gatotkaca menangisi mayat kedua pamanya. lama lama mayat itu mengecil lalu masuk ke dalam tangan kanan dan kiri gatotkaca menjadi sebuah keilmuan. dan keilmuan itu dikenal dnegan keilmuan brajadenta dan brajamusti. sementara sisa pasukan pemberontak dan hastina dipukul mundur.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:09 pm

BIMA TULAK
Para Pandawa disertai Gatutkaca sedang membicarakan rencana pembukaan hutan Suwelagiri untuk dijadikan sawah. Prabu Darmakusuma minta agar masing-masing Pandawa membuat sawah sesuai dengan perintah dewa-dewa, dan agar pembuatan sawah itu dapat diselesaikan dalam waktu satu hari. Tentang luasnya agar disesuaikan dengan kekuatan masing-masing; paling sedikit membuat tempat untuk pembibitan padi.

Mereka semua berangkat ke hutan Suwelagiri. Prabu Darmakusuma mengambil tempat di tengah, dengan mempergunakan Aji Amral pembuatan sawah itu cukup dengan ditengok (diinguk) saja, sehingga setelah jadi dinamakan Sawah Sak Inguk.

Berganti Raden Werkodara maju akan membuat sawah, ia duduk lalu menerapkan Aji Jala Sengkara. Karena saktinya mantra itu hanya dengan menggerakan bahunya saja semua batu besar maupun pohon besar dapat disingkirkan dan jadilah sawah itu. Karenanya sawah Raden Werkodara dinamakan Sawah Sebahu.

Kemudian Raden Arjuna mengambil pinggir hutan. Ia duduk beralaskan daun-daunan, lalu merebahkan diri dan tiduran sambil berselimut (mujung). Dengan menerapkan Aji Sepi Angin ia mulai berdoa. Tidak lama kemudian sawah itu telah selesai, dan dinamakan Sawah Saejung.

Raden Nakula ketika melihat ketiga kakaknya telah selesai membuat sawah, ia dengan tergesa-gesa ingin mengikuti jejak kakaknya. Agar cepat selesai tanah itu diludahinya (idu), maka jadilah sawah itu, dan dinamakan Sawah Saidu.

Raden Sadewa demikian juga, karena terburu-buru ia hanya dapat menyiapkan tanah sedikit (saecrit). Setelah jadi dinamakan Sawah Saecrit.

Raja Amarta beserta adik-adiknya menjadi petani, mereka juga menyabit rimput, menyiapkan lahan, menyebar padi untuk bibit, dan lain-lain pekerjaan petani. Setelah benih padi tumbuh, maka bibit padi itu dipkul dibawa ke sawah masing-masing untuk ditanam. Mereka juga menyiangi rimput-rimput liar yang tumbuh. Selesai dengan pekerjaan itu mereka tinggal merawat dan menunggu buah padinya menjadi siap dipetik.

Tersebutlah di negara Nganjuk hama tanaman yang merupakan anak-anak Prabu Kalagumarang menghadap ayahandanya. Puthut Jayalapa, adik Prabu Kalagumarang melaporkan bahwa para hama tanaman ini telah beberapa hari menangis karena kelaparan. Mereka mendengar berita bahwa di Amarta banyak tanaman padi, karenanya mereka akan pergi ke sana mencari makan. Ia memintakan izin untuk berangkat ke sana.

Sebetulnya Parabu Kalagumarang merasa khawatir akan keselamatan para hama, karena mengetahui bagaimana saktinya para Pandawa. Namun ia juga tidak dapat melarang ; untuk menjaga keselamatan para hama ia memberi pusaka yang bernama Tumbak Kyai Ujung Langkir, khasiatnya bila hama yang mau mati akan hidup lagi bila pusaka itu diletakkan di atas hama yang mati.

Setelah mendapat restu, mereka lalu berangkat. Karena merupakan hama,perjalanan mereka cepat sekali dan tidak terlihat oleh manusia. Puthut Jayalapa hanya memperhatikannya dari jauh.

Setelah sampai di sawah dengan tanaman padinya yang subur, mereka tidak lagi dapat menahan diri . Semuanya menyrbu dan makan tanaman padi dengan perasaan gembira. Puthut Jayalapa hanya mengawasi dari jauh, percaya bahwa bila ada yang mengganggu para hama akan dapat dimusnahkan dengan pusaka tadi. Tanaman yang terkena hama tanpa ampun lagi menjadi rusak dan mati.

Pada suatu hari Raden Nakula memeriksa tanamannya ke sawah, terkejut sekali ketika melihat tanaman padinya banyak sekali yang mati. Ia segera menuju ke tempat kakak-kakaknya. Pada saat itu saudara-saudaranya sedang berkumpul, datanglah Raden Nakula memberitahu bahwa tanaman mereka mati semua. Mereka terkejut, karena beberapa hari yang lalu tanamannya masih terlihat subur. Mereka semua menuju ke sawah masing-masing.

Raden Arjuna memberitahu bahwa terdengar suara berisik di antara batang padi, sedangkan Prabu Darmakusuma membicarakan bagaimana caranya agar tanamannya menjadi sehat lagi. Raden Wrekodara mengetahui bahwa tanamannya disebu para hama. Ia berpendapat bahwa hama itu dapat dibasmi. Prabu Darmakusuma dan lainnya mengikuti bagaimana upaya Wrekodara dalam membasmi hama. Wrekodara meminta semuanya telanjang sambil membawa sesajian penolak hama berjalan mengelilingi sawah mereka.

Raden Wrekodara berjalan paling depan, diikuti oleh Prabu Darmakusuma yang membaca mantra serta membawa serat membawa Serat Klimasada dan di belakangnya adik-adiknya yang lain. Ketika mulai membaca mantra yang berbunyi sebagai berikut:
1.Mel Plecung
Semilah sundul gunung moncar uruping cahya, susurem damaring jagad, salallahu ngalahi wasalam, lumpurana, rampung.

2.Mel Gentur
Tunjungsari sarining ngukir, putra Pandhu Dewanata pretapane, dhasar bagus terusing ngati, pan leburing jagading ama iki, rampung.

3.Mel Tanggul
Semilah jambe-jambe thongun, ana baya mambang alun-alun, tapung kepruka marang ama, rampung.

4.Mel Tarung
Subana subani telenge kembang, sahadat kalima kekalih delinga, ngama bareng pesating nyawa iki, rampung.

5.Mel Gulung
Gulung-gulungan emel sida mati ora lunga mendhung ajur telujuring nyawa ama, salallahu, rampung.

6.Mel Sipat
Koluk jati rampung gunung, kang kotedha sira manyar gawa luwung gancang-gancang carita kabeh, salalaahu ngalahi wasalam, rampung.

Para hama terkejut karena terkena pengaruh tolak bala tadi. Mereka berlarian, dan ketika melihat phallus Bima mereka menjadi pingsan. Puthut Jayalapa yang melihat hal itu segera meletakan pusaka tadi di atas hama yang pingsan. Ada yang siuman, tetapi akan makan tanaman lagi sudah tidak berdaya. Berulang kali dikerjakannya tetapi hasilnya tidak memuaskan, oleh karenanya Puthut Jayalapa mengajak para hama itu pulang kembali ke Nganjuk. Semula para hama tadi menolak untuk pulang, tetapi dipaksa oleh Puthut Jayalapa.

Dengan selesainya mereka mengelilingi sawah, maka bersihlaj sawah tadi dari hama. Mreka lalu bernusana kembali. Beberapa hari kemudian mereka memeriksa tanaman mereka yang sudah mulai hidup subur dan mulai nerbunga. Mereka bebesar hati ketika padinya telah dapat dituai.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:13 pm

KRESNA DUTA
Setelah Sanjaya meninggalkan Upaplawya, Yudhistira berkata kepada Kresna, "Wasudewa, Sanjaya adalah bayangan Drestarastra. Dari ucapannya, aku mencoba menangkap apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Drestarastra. Ia mencoba mengajak kami berdamai, tanpa mengembalikan tanah kami. Sejengkalpun tidak. Ia menyatakan keinginan untuk berdamai, tetapi dengan syarat yang membuat posisi kami lemah karena mereka tak akan mengembalikan hak kami"

Kresna menanggapi, "Demi kebaikan kalian semua, Pandawa maupun Kurawa, sebaiknya aku pergi ke Hastinapura. Aku akan mencoba memintakan hak kalian tanpa peperangan".
Yudhistira segera menyahut, "Wahai Kresna, engkau tak perlu pergi ke Hastinapura. Aku khawatir akan keselamatanmu karena Kurawa yang licik akan nekat dan bisa berbuat apa saja".

Kresna menjawab," Dharmaputra, aku tahu Duryodhana memang jahat, tetapi kita tetap harus berusaha mencapai penyelesaian secara damai agar rakyat tidak menuduh kita tidak berusaha untuk menghindari peperangan. Cara apapun akan kita tempuh, demi perdamaian. Jangan khawatirkan keselamatanku. Jika Kurawa berani mengancam atau melukai aku yang datang sebagai duta perdamaian, aku akan remukkan mereka hingga menjadi abu".
Lalu Kresna melanjutkan, "Aku akan berusaha sebaik mungkin agar apa yang kau cita-citakan tercapai, yaitu penyelesaian tanpa perang. Memang kemungkinan itu sangat kecil dan situasi sekarang ini membuahkan firasat buruk. Tetapi kewajiban kita untuk selalu mengusahakan perdamaian".

Sebelum Kresna berangkat ke Hastinapura, yang diiringkan oleh Setyaki, sekali lagi Kresna mengajak Pandawa berunding. Dalam perundingan itu, sungguh terasa bahwa setiap orang di pihak Pandawa menghendaki perdamaian. Bahkan Bima, yang terkenal keras kepala, juga memilih perdamaian. Katanya, "Janganlah kita memusnahkan bangsa kita, juga keturunannya. Kalau bisa diusahakan, aku lebih memilih perdamaian".

Tetapi Drupadi tidak dapat melupakan penghinaan yang pernah dialaminya. Sambil mengusap rambutnya yang panjang ia berkata kepada Kresna dengan suara yang tersendat-sendat, "Madusudana, perhatikanlah rambutku ini, bekas penghinaan. Kehormatan apa yang harus dijunjung ? Tidak ada perdamaian tanpa kehormatan. Kalaupun Bima dan Arjuna tidak setuju jalan perang, ayahku, walaupun sudah tua, pasti akan pergi ke medan perang bersama anak-anakku. Mungkin ayahku juga tidak setuju, tetapi anak-anakku dan Abimanyu, anak Subadra, akan memimpin pertempuran melawan Kurawa. Demi pengabdianku kepada Dharmaputra, tigabelas tahun kulewatkan dengan memendam kebencianku pada Kurawa. Tetapi kini, aku sudah tidak tahan lagi".

Kresna menjawab, "Mungkin sekali anak-anak Drestarastra tidak akan peduli dengan usul perdamaian ini. Dalam perang, mereka akan berjatuhan dan musnah. Engkau akan menyaksikan kami pulang membawa kemenangan. Semua penghinaan yang pernah engkau terima, akan mereka bayar mahal. Sabarlah, saat itu akan segera tiba".
Setelah berkata demikian, berangkatlah Kresna ke Hastinapura.

Berita kedatangan Kresna telah sampai ke Hastinapura jauh sebelum dia dan pengiringnya melewati perbatasan. Drestarastra segera memerintahkan agar Hastinapura dihias dengan semarak dan upacara penyambutan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Kediaman Dursasana, yang paling indah dari semua kediaman Kurawa, disiapkan untuk tempat beristirahat Kresna dan pengiringnya.

Ketika Kresna dan pengiringnya tiba di Hastinapura, penduduk berdiri di pinggir jalan, mengelu-elukan kedatangannya. Mereka memadati jalan-jalan, menyebabkan kereta Kresna nyaris tak bisa bergerak. Pertama-tama Kresna pergi ke istana Drestarastra, kemudaian ke kediaman Widura. Dewi Kunti menemuinya di kediaman Widura. Ibu para ksatria Pandawa itu menangis ketika bertemu dengan Kresna. Ia sedih karena ingat akan penderitaan putra-putranya selama tigabelas tahun. Kresna menghibur Dewi Kunti dengan mengabarkan bahwa saat itu Pandawa dalam keadaan sehat dan sejahtera.

Dari kediaman Widura, Kresna pergi ke tempat tinggal Duryodhana untuk menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu mengharapkan penyelesaian yang wajar. Setelah menyampaikan pesannya kepada Duryodhana, Kresna minta diri untuk kembali ke kediaman Widura. Di sanalah ia memilih untuk tinggal selama menjalankan tugasnya di Hastinapura.

Kresna dan Widura lalu mengadakan pembicaraan. Widura menjelaskan kepada Kresna bahwa keangkuhan Duryodhana disebabkan oleh keyakinannya akan kesaktiannya sendiri. Selain itu Duryodhana juga merasa bahwa Bisma dan Drona akan tetap berada di pihaknya. Widura juga menyarankan agar Kresna sebaiknya tidak masuk ke ruang perundingan yang akan diselenggarakan oleh Duryodhana. Widura merasa khawatir kalau Duryodhana dan saudara-saudaranya telah merencanakan suatu perangkap untuk membunuh Kresna.

Tetapi Kresna berkata kepada Widura, "Apa yang engkau katakan tentang Duryodhana itu benar. Aku datang kemari dengan harapan bisa merundingkan penyelesaian secara damai. Jangan engkau khawatirkan keselamatanku".

Keesokan harinya, Duryodhana dan Sakuni datang menemui Kresna, mengatakan bahwa Drestarastra telah menunggu kedatangannya. Kresna segera pergi ke tempat perundingan bersama Setyaki dan Widura. Ketika Kresna memasuki ruangan, semua yang hadir di situ serentak berdiri dan memberinya salam hormat, dan dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan untuknya. Setelah upacara penyambutan selesai, tibalah giliran Kresna untuk berbicara.

Sambil memandang hormat kepada Drestarastra, Kresna menjelaskan maksud kedatangannya kepada semua orang yang hadir. Ia juga menjelaskan apa yang sebenarnya diinginkan oleh pihak Pandawa.

Akhirnya secara khusus Kresna berkata kepada Drestarastra, "Paduka Raja, hendaknya Tuanku jangan membawa kehancuran bagi rakyat. Tugasmu adalah untuk menuntun putra-putramu. Pandawa siap bertempur, tetapi mereka memilih perdamaian. Mereka ingin hidup rukun dan bahagia di bawah pimpinanmu. Perlakukan mereka sebagaimana putra-putramu sendiri. Berusahalah untuk mencari penyelesaian yang damai dan terhormat. Pasti dunia akan menghormati engkau. Renungkanlah hal ini, sesuatu dikatakan jelek apabila baik bagi dirimu sendiri dan sesuatu dikatakan baik apabila jelek bagi dirimu sendiri". Demikianlah Kresna berkata dengan sungguh-sungguh.

Drestarastra yang buta berkata, "Saudara-saudara dan sahabat-sahabatku, dalam hal ini aku tidak bersalah. Aku juga mengharapkan perdamaian, sama seperti yang dikatakan Kresna. Tetapi aku tidak berdaya. Putra-putraku tidak mau mendengarkan kata-kataku. Kresna, aku harap kau berhasil menasehati Duryodhana".

Kresna menoleh kepada Duryodhana dan berkata, "Engkau keturunan keluarga agung dan terhormat. Buanglah iri, dengki dan dendam di hatimu karena itu tidak sesuai dengan keagunganmu. Karena engkaulah, keturunan ini berada dalam bahaya kehancuran. Pandawa menghendaki Drestarastra menjadi raja dan engkau menjadi ahli warisnya. Berdamailah dengan mereka dan berikanlah separo kerajaan ini kepada mereka".

Bisma dan Drona pun berusaha menasehati Duryodhana agar mau mendengarkan kata-kata Kresna. Tetapi tampaknya hati Duryodhana sudah keras, tak bisa lagi dilembutkan. Drestarastra sekali lagi berkata kepada putra sulungnya itu, "Duryodhana, kalau engkau tidak mau mendengarkan kata-kata Kresna, bangsamu akan musnah".

Tetapi Duryodhana justru kehilangan kesabaran. Ia tidak dapat menahan kekesalannya lagi. Amarahnya meledak. Dia berdiri, lalu berkata dengan lantang, "Hai, Kresna. Engkau menyalahkan aku sebab engkau memihak Pandawa. Yang lain juga menyalahkan aku, tetapi aku yakin bukan aku yang harus dikutuk. Atas kehendak sendiri Pandawa telah mempertaruhkan kerajaan mereka. Mana bisa aku yang harus bertanggung jawab atas semua itu ? Setelah kalah dalam permainan, mereka harus masuk hutan, seperti kesepakatan kita semula".

"Sekarang, kesalahan apalagi yang mereka tuduhkan kepada kami ? Mengapa kami dituduh haus perang dan pembunuhan ? Aku tidak gentar menghadapi ancaman apapun. Ketika aku masih bocah, orang-orang yang lebih tua selalu menyalahkan dan menyakiti hati kami dengan selalu membenarkan, membela dan menyanjung Pandawa. Aku tidak tahu, mengapa mereka harus mendapat setengah dari kerajaan ini padahal sesungguhnya mereka sama sekali tidak berhak. Waktu itu aku diam saja. Tetapi, bukankah mereka telah mempertaruhkan kerajaannya dalam permainan dadu dan mereka kalah ? Sejengkalpun tak akan aku berikan wilayah kerajaanku kepada Pandawa!" kata Duryodhana tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Kresna tersenyum dan berkata,"Bukankah engkau telah mempersiapkan permainan itu dengan licik ? Bersama dengan Sakuni, kau telah memperdaya Pandawa. Permainan kau atur sedemikian rupa hingga Pandawa tak mungkin menang. Dengan keji, kau hina Drupadi di depan para raja dan tamu-tamu lainnya. Tanpa malu engkau tetap bersikeras bahwa engkau sama sekali tidak bersalah".

Dursasana menanggapi pembicaraan tersebut dengan mengatakan bahwa Bisma dan para tetua lainnya sudah termakan oleh kata-kata Kresna yang memojokkan Duryodhana. Ia lalu berdiri dan berkata dengan lantang, "Saudaraku, rupa-rupanya orang-orang dalam perundingan ini telah menyiapkan rencana jahat terhadap dirimu. Mereka hendak mengikat kaki dan tanganmu dengan tali tipu muslihat dan menyerahkan dirimu pada Pandawa. Ayo, kita pergi dari sini !".

Akhirnya, Duryodhana dan saudara-saudaranya segera pergi meninggalkan ruangan.
Sepeninggal anak-anaknya, Drestarastra tampak bersedih dan mengeluh, "Semua usaha kita gagal. Duryodhana memang kepala batu".

Setelah merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Kresna segera meninggalkan ruangan didampingi Setyaki dan Widura. Ia langsung menemui Dewi Kunti dan mengabarkan bahwa usahanya gagal. Dewi Kunti meminta agar Kresna menyampaikan restunya kepada putra-putranya.

"Sekarang saatnya menunjukkan untuk apa sebenarnya seorang ibu membesarkan putra-putranya hingga menjadi ksatria, yaitu untuk dikorbankan di medan perang. Semoga engkau dapat menuntun mereka dalam pertempuran" kata Dewi Kunti kepada Kresna.

Segera setelah itu, Kresna cepat-cepat naik ke keretanya dan melecut kudanya agar berlari kencang menuju Upaplawya.

Ya, jalan damai sudah diusahakan, tetapi nampaknya peperangan tak dapat dihindarkan.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:15 pm

KEBAHAGIAAN SADEWA
Sepeninggal Sudamala Hyang Batara Guru dan Dewi Uma berpamitan dengan Ni Kalika yang menangis sedih karena harus berpisah dengan tuannya.. Dewi Uma menghibur Ni Kalika dan menjelaskan bahwa hal itu tidak akan berlangsung lama. Hutan Setra Gandamayu yang telah berubah menjadi taman bunga yang sangat indah itu kini harus dijaga oleh Ni Kalika.

Sudamala yang kini telah menjadi sakti itu merasakan bahwa perjalanannya ke arah timur laut tidak terasa berat. Seringkali Sudamala merasa terheran-heran sendiri dengan kemampuannya yang berlipat-lipat..kini ia dapat melangkah dengan sangat ringan.. lari dengan lebih cepat dan tidak lelah… kalu dipikir ia sudah tidak makan hampir seminggu sejak ia digantung oleh Ra Nini. Mengingat hal itu perut Sudamala tiba-tiba menjadi lapar. Sudamala segera mencari-cari apa yang dapat dimakan di hutan seperti ini.

Dilihatnya keatas dan ke bawah..dan akhirnya ditemukannya buah semangka dan segerombol rambutan. Meloncatlah ia keatas untuk memetik buah itu diambilnya secukupnya dan kemudian dipetiknya pula buah semangkai yang seperti tergeletak di tanah itu.

Untuk sesaat Sudamala beristirahat dibawah pohon yang rindang dan mulai memakan buah-buah yang dipetiknya itu. Karena enaknya makan setelah berhari-hari tidak makan dan minum.. Sudamala merasa kini perutnya telah penuh.. Dia masih ingin beristirahat barang sejenak… dan tiupan angin semilir itu begitu membuainya sehingga ia tertidur.

Setelah beberapa saat tertidur Sudamala terbangun oleh teriakan anak-anak desa yang sedang bermain di pinggir hutan itu… berteriak-teriak gembira, dan kadang bersiul menirukan suara burung. Sadewa memperhatikan mereka yang sepertinya belum menyadari kehadirannya di hutan itu.

Sesaat kemudian Sudamala memanggil salah satu dari mereka.

” Adinda …kemarilah .!“ Mendengar ada suara orang ‘asing’ ketiga anak itu ketakutan dan bersiap hendak lari. Melihat mereka hendak lari.. Sadewa segera memanggil mereka lagi sambil menampakan dirinya dan kali ini dengan tersenyum berkata lagi kepada mereka “ Ayolah Adinda kemari, jangan takut, aku punya banyak buah rambutan, ini ambilah manis sekali rasanya”

Anak pertama yang melihat Sadewa melihat dan memastikan bahwa Sadewa adalah benar-benar orang kemudian dengan langkah ragu-ragu ia berjalan mendekati Sadewa. Setelah anak itu cukup dekat Sadewa mengambil beberapa ikat rambutan dan mengulurkan kepada anak itu. Melihat temannya berani dan tidak terjadi apa-apa kedua anak yang lain datang pula mendekat.

Beberapa waktu kemudian mereka berempat telah berbicara dengan akrab dan sambil tertawa-tawa dan sambil makan buah yang telah dipetik Sudamala . Sudamala memanfaatkan hal itu untuk bertanya-tanya tentang pertapaan Pringalas. Kedua anak itu berceloteh tentang pertapaan Pringalas yang terletak sangat jauh dikaki gunung, Resi Tambapetra yang menghuni pertapaan itu, serta penghuni-penghuni pertapaan yang lain.. mereka juga bersedia menunjukkan jalannya apabila Sadewa menginginkannya.

Setelah puas beristirahat dan bercanda dengan anak anak itu Sadewa berdiri dan mengatakan kepada mereka hendak melanjutkan perjalanannya ke Pringalas. Salah satu anak itu menjelaskan kepada Sadewa bahwa perjalanan kesana akan lama sekali sebaiknya hari ini ia menginap saja di desa tempat ia tinggal. Sadewa berpikir ada benarnya juga. Mungkin tidur yang cukup malam ini, mandi dan membersihkan tubuh akan sangat menyenangkan. Dengan gembira Sadewa menjawab “ Baiklah aku akan menginap malam ini di desa kalian, siapakah kira-kira penduduk yang bersedia aku tumpangi malam ini? “

”Kakak sebaiknya tidur dirumahku saja… rumahku sangat luas.. kamarnya banyak… nanti aku tinggal mengatakan kepada romo kalau ada tamu… pasti beliau tidak akan berkeberatan memberi tumpangan kepada orang yang ingin menginap.”

Demikian kata salah satu anak yang badannya gemuk, dan hidungnya selalu berkeringat.

"Hmmm tawaran yang menarik, baiklah Wito aku akan menginap malam ini dirumahmu... kenalkan aku dengan ayahandamu dan aku akan meminta ijin untuk dapat menginap malam ini dirumahmu." Begitu Sudamala menjawab kepada anak yang bernama Wito itu.

Kini Sadewa atau Sudamala telah berjalan bersama ketiga anak tanggung itu menuju ke arah desa. Sudamala memberi salam kepada setiap orang dewasa yang ditemuinya berbasa-basi sebentar dan melanjutkan perjalanan melalui sawah, kali, jalan tembus dan akhirnya sampailah mereka di rumah Wito yang terletak agak jauh dari kumpulan rumah penduduk yang lain.

Sudamala memperkenalkan diri kepada orang tua Wito dan disambut dengan ramah oleh orangtua laki-laki dan perempuan dari Wito. Sadewa bisa bermalam disitu, membersihkan badan, beristirahat dan mengisi perut dengan hidangan ala kadarnya yang disediakan oleh tuan rumah. Walaupun makanan itu sederhana hanya nasi putih dan ikan asin, namun terasa enak sekali bagi Sadewa yang telah seminggu tidak makan.. rasanya seperti mengulang kisah pada saat ia dan saudaranya Nakula kelaparan setelah keluar dari gua bawah tanah..dan menerima bawaan makanan dari kakang-kakang mereka Bima dan Arjuna. Apalagi ketika tuan rumah menyediakan wedang dan gula jawa. Sungguh nikmat sekali dihirup dan digigit gula jawa itu di daerah dengan hawa pegunungan yang sejuk.

Singkat cerita Sudamala telah sampai ke daerah pertapaan Pringalas yang memang terletak dekat sekali dengan gunung, daerah itu merupakan satu-satunya tanah datar yang ada disitu, yang lain adalah tanah miring perbukitan. Sehingga mudahlah bagi Sudamala menemukannya.

Kedatangan Sudamala disambut oleh seorang tua yang membukakan pintu setelah mendengar salam dari Sudamala. Orang tua itu adalah Ki Putut, salah satu abdi di pertapaan itu.

"Selamat datang Raden, baru sekali ini hamba melihat Raden mengunjungi pertapaan ini. Ada keperluan apakah gerangan, maka Raden berkenan datang kemari..? " Sambut Ki Putut dengan penuh hormat.

"Ki katakanlah kepada Resi Tambapetra, bahwa Sadewa dari Indraprasta ingin bertemu" . Sahut si Sudamala

"Oo ooooh jadi Aden adalah putera bungsu Pandawa Lima yang terkenal itu.. ooohh ...Pantas Raden sangat gagah dan tampan, bagaikan bidadara; silahkan duduk dan tunggulah sebentar, Raden. Hamba akan segera panggilkan sang Resi "

Berkata demikian Ki Putut tergopoh-gopoh berlari masuk kedalam. Pertapaan itu ternyata cukup luas, besar dan nyaman.... Sesaat kemudian ia telah tampak keluar lagi, kali ini menuntun seorang yang tua yang berpakaian sebagai seorang resi.

Sadewa berkata dalam hati.. hmmm jadi inilah sang Resi Tambapetra itu...

Sadewa segera ikut menuntun sang Resi untuk duduk setelah mereka berdekatan.
Sang Resi duduk dengan sangat hati-hati. Ki Putut mengulang kalimat yang tadi diucapkan tidak teratur saat didalam kepada Resi dengan kalimat yang lebih teratur.

"Resi kita kedatangan tamu seorang Satria, bernama Sadewa dari Negeri Indraprasta,... Satria ini tidak lain adalah Putera Pandawa yang paling bungsu." berkata Ki Putut menjelaskan kepada Resi. Sambil Ki Putut berkata begitu Sang Resi mengangguk dan membungkuk memberi hormat saat ia duduk kepada Sadewa yang segera dibalas dengan bungkukan yang sama oleh Sadewa.

"Selamat Datang, Ksatria dari Indraprasta...Hamba sungguh merasa mendapat kehormatan yang sangat besar, atas kunjungan Raden dari Indraprasta" Sambut Resi Indraprasta.

"Terima kasih yang sebesar-besarnya atas ucapan selamat datang dan penghormatan yang diberikan oleh Ki Resi.." Sahut Sadewa.

"Ampun anaknda Satria kalau boleh hamba tahu... apakah sebenarnya maksud kedatangan Ananda Raden datang kemari?..." Tanya sang Resi Tambapetra.

Pada saat Sang Resi Tambapetra sedang bercakap-cakap itu sebenarnya ada sepasang mata yang indah sedang mengawasi dari balik tirai rumah pertapaan itu. mata itu adalah milik Ni Perdapa salah seorang putri Resi Tambapetra yang cantik. Sebenarnya sejak salam Sadewa terdengar ia sudah ingin membukakan pintu.. namun karena ia seorang gadis mungkin tidak pantas untuk membukakan makanya ia memanggil Ki Putut untuk membukakan pintu. Dan pada saat pintu itu terbuka terpesonalah ia dengan pemandangan yang belum pernah dilihatnya seumur hidupnya. Baru kali ini ia melihat ada seorang Perjaka yang tampan.. seorang Ksatria lagi... dan yang lebih-lebih adalah ia anak Pandawa yang sudah terkenal di daerahnya... ia hanya pernah mendengar tentang pandawa dari teman-temannya di desa dekat pertapaan itu namun untuk membayangkan bagaimana ketampanan para ksatria Pandawa itu ia tidak pernah bisa. Dan sekarang seorang Ksatria tampan anak Pandawa !! bekunjung ke rumahnya !!!! dan ia adalah si Sadewa... dan itu berarti dialah Ksatria Pandawa yang belum beristri... Membayangkan itu Ni Perdapa serasa melayang ... ahh ini semua adalah apa yang diidamkan oleh semua gadis di desanya... dikunjungi oleh satria tampan...yang kelihatannya baik dan sopan.... Maka semakin terpesonalah Ni Perdapa dengan semua yang ada pada Sadewa.. dan tidak disadarinya kini jantungnya berdebar lebih cepat dan kencang.

Oleh karenanya ia terkejut setengah mati ketika kakaknya Ni Soka menggamit punggungnya dari belakang sehingga tidak sadar ia menjerit "Aaak" sebuah jeritan yang kaget dan tertahan..

Untuk sementara terjadi keheningan ketika jeritan Ni Soka terdengar oleh ketiga orang yang sedang bercakap di ruang depan. Sadewa sendiri mendengar jeritan itu jantungnya berdebar juga ... apakah mungkin itu salah seorang anak Resi Tambapetra yang menurut Dewi Uma sangat cantik itu? Secantik apakah dia?..apakah sama dengan yang aku bayangkan...apakah secantik Mbakyu Drupadi atau mbakyu Srikandi?

"Aden..." Resi Tambapetra berkata setelah menurutnya lama sekali tidak terdengar jawaban.

"A a... maafkan aku Resi, tujuanku datang kesini sebenarnya adalah sesuai dengan petunjuk dari Hyang Betari Dewi Uma .." Berkata Sadewa tergagap..

"Dewi Uma? " ... Resi Tambapetra bertanya ..tidak mengerti petunjuk apa yang membawa anak muda ini datang kesini.

"Hmm baiklah Resi akan aku ceritakan kisah kejadiannya hingga aku sampai ketempat ini..." Demikian Sadewa menimpali...kemudian berceritalah Sadewa dengan lancar mulai dari Kepergian ibunya... hingga ia berhasil menyembuhkan Ra Nini dan kemudian menceritakan petunjuk yang ia terima dari Dewi Uma. Namun Sadewa tidak menceritakan bagian petunjuk Dewi Uma yang menyuruhnya mengawini anak Resi Tambapetra.

Mendengar penuturan itu.. wajah Resi menjadi berubah dan tampak berseri-seri.. memang sudah lama sekali kedua matanya ini membuatnya menderita..apalagi tidak hanya penglihatannya yang hilang namun juga rasa sakit yang ditimbulkannya kadang mengganggu kekhusukan Tapa yang dijalaninya.

...Apabila benar apa yang diucapkan oleh putera Pandawa yang bungsu ini, aku tentu akan sangat bahagia... apakah ia akan tertarik dengan puteri-puteriku untuk diambil isteri.. mereka juga sudah memasuki usia dewasa..Ya jika aku bisa melihat lagi aku akan merestui Ni Soka atau Ni Perdapa menikah dengan Satria ini...

"Wahai Raden, hamba telah siap menerima apapun yang hendak Raden lakukan atas diri hamba ini ... ya hamba mohon bantulah hamba melepaskan diri dari derita dan malapetaka yang telah menimpa diri hamba ini.."

"Aden tidak usah terburu-buru...masih banyak waktu... sebaiknya aden beristirahat saja dulu.... Ki Putut tolong engkau sediakan sebuah kamar yang bersih untuk tamu agung kita ini..." Berkata Resi Tambapetra.

"Ya.. Ya... resi akan segera aku siapkan... " Ki Putut beranjak dari duduknya dan segera berjalan masuk ke dalam.

Sampai di dalam dilihatnya Ni Soka dan Ni Perdapa sedang berdiri saling mendorong untuk mengintip pada tamu muda ayahandanya.. Ki Putut hanya tersenyum melihat pemandangan itu....

"Ki biar aku bantu untuk membereskan kamar..." Berkata Ni Perdapa cepat kepada Ki Putut..." Kamar yang mana Ki yang akan di siapkan? ..."

"Sebaiknya kamar yang tidak terlalu di dalam.. " Mungkin kamar depan ini bisa kita siapkan.." Ni Perdapa langsung berlari kebelakang mengambil alat-alat rumah tangga untuk membersihkan kamar yang dimaksud oleh Ki Putut.

Sementara itu Ni Soka tidak kalah juga memanfaatkan kesempatan langka itu segera ia lari ke dapur dan merebus air... dan mengumpulkan beberapa makanan di atas sebuah piring untuk dihidangkan ke hadapan tamu tampan mereka.

Ni Soka telah selesai lebih dahulu dengan hidangannya dan berjalan kedepan dengan sangat hati-hati..dia berhenti sejenak .. ditaruhnya nampan berisi makanan kecil dan minuman itu dan dirapikannyan rambutnya sambil tersenyum kepada kepada dirinya sendiri.. dia melangkah ke depan dengan perlahan-lahan.. dan muncul ke ruangan depan tempat Resi Tambapetra dan Sadewa sedang bercakap-cakap.. tidak begitu dapat diikuti apa yang sedang diperbincangkan mereka..namun ia menangkap samar-samar nama Dewi Kunti dan dua raksasa sakti disebut sebut oleh Satria tampan itu...

Ni Soka membungkuk dan meletakkan satu persatu makanan dan minuman itu ditengah-tengah ayahandanya dan Satria itu... Dalam kebuataannya Resi Tambapetra tahu bahwa salah satu anaknya sedang menghidangkan sesuatu... tapi anaknya yang mana Ni Soka atau Ni Perdapa... oleh karenanya ia berdiam diri sejenak.. agar yakin siapa yang sedang dihadapanya itu..

Setelah Ni Soka selesai meletakkan semua hidangan... Ni Soka berkata ... Silakan diminum Aden... katanya dengan kepala mengarah ke Sadewa namun kepalanya tertunduk... Sadewa membalas dengan senyuman yang bagi Ni Soka terlihat sangat menawan... ahh rasanya aku tidak sanggup berdiri....

"Perkenalkan ini anakku yang sulung Ni Soka... Ananda Raden ..." Ni Soka terkejut dan teringat kembali bahwa ia masih hidup di dunia....Ni Soka menganggukkan kepalanya dan Satria tampan itu menjawab... " Perkenalkan Ni ..saya Sadewa Putera Pandawa .."

Ni Soka tertunduk malu dan tersenyum dan tidak menjawab...

"Masih ada satu lagi puteriku Aden...." Berkata Resi Tambapetra... " Soka.. kau panggilah adikmu kemari..." Berkata Resi Tambapetra kepada Ni Soka

"Baik Rama..." Berkata demikian Ni Soka mundur kebelakang dan berbalik menuju kamar yang sedang dipersiapkan oleh Ki Putut dan Perdapa adiknya..

"Perdapa ! Rama memanggilmu kedepan... ayo.. letakkan dulu sapu dan penebah itu... ayo cepat... apakah kau tidak ingin berkenalan dengan tamu kita "

"Iya iya...mbakyu... sebentar..." Ni Perdapa segera membereskan baju dan rambutnya ..kemudian berdua mereka datang ke depan menemui ayah dan Satria itu..

"Rama apakah rama memanggilku..." Kata Ni Perdapa kepada ayahnya...

"Hmm ya...perkenalkan ini tamu agung kita dari Indraprasta ..namanya Raden Sadewa" berkata Resi Tambapetra...

Sadewa yang sejak kemunculan Ni Soka sudah mengagumi dan mengakui kecantikan anak Resi Tambapetra itu.. kini lebih kagum lagi dengan kecantikan adiknya Ni Soka yaitu Ni Perdapa...Ah cantik sekali ia.. terlihat butir-butir kecil keringat di dahinya.. ah mungkin tadi dia sedang sibuk di belakang... anak gadis yang rajin... hemmmm

"Nak Sadewa perkenalkan...!" Resi Tambapetra tidak mengetahui apa yang terjadi mengapa kalimatnya lama tak terjawab .. apakah mereka saling memberi salam ataukah ...ah.. itu adalah semua perasaan yang dimiliki oleh orang muda.

"Ya.. ya Resi " Berkata demikian Sadewa membungkuk dan memberi salam hormat sambil tersenyum kepada Ni Perdapa.. Ni Perdapa hanya membalas membungkuk.. hatinya berdebar-debar tidak karuan.. memang tampan sekali dia...tidak kuat rasanya aku berada disini terus...

"Rama kau minta ijin ke belakang mau meneruskan pekerjaanku yang tertinggal.." Ni Perdapa segera meminta diri untuk ke belakang..

"Ya.. anakku pergilah kebelakan dan bantulah Pamanmu Ki Putut .."

"Aku juga rama.." Ni Soka berkata tidak mau kalah..

"Ya..." Resi Tambapetra berkata pendek, berusaha memahami situasi yang sedang terjadi dihadapannya itu...

Kedua kakak beradik itu berdiri dan membungkuk sekali lagi kepada Sadewa.....dengan membawa ingatan senyum Sadewa yang menawan itu mereka undur ke belakang.

"Silahkan Aden dinikmati .. apa adanya... maklumlah di kampung..." Berkata Resi Tambapetra memecahkan suasana yang tiba-tiba sunyi..

"Ya Ki terima kasih ..."

Selanjutnya tamu dan tuan rumah itu telah terlibat pada suatu pembicaraan yang panjang dan menarik...masing-masing menceritakan kisahnya..

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:18 pm

MEMBUKA HUTAN AMARTA
Tadinya selama di Wirata Puntadewa berganti nama Tanda Wijakangka, Bratasena berganti nama Jagalabilawa, Permadi berganti nama Kandiwratnala, Pintern atau Nakula berganti nama Dama, Sedangkan Tangsen atau Sadewa berganti nama Grati. Tetapi setelah para Pandawa berjasa membinasakan Rajamala, Rupakenca dan Kencakarupa, mereka kembali menggunakan nama semula dan mereka diberi ganjaran berupa hutan rimba yang masih sangat lebat bernama Amarta.

Pandawa berencana untuk membuka Hutan itu dan akan menjadikannya sebuah tempat tinggal, namun sebelum itu Bratasena menjemput ibunya Dewi Kunti ke Gunung Retawu.
Selang berapa lama, Bratasena datang bersama ibu Pandawa Dewi Kunti.

Sejak saat itu mereka mulai mengembara di hutan Amarta yang kini menjadi daerah mereka sebagai hadiah atas apa yang telah mereka perbuat atas kepahlawanan mereka di negeri Wirata.

Pandawa bersama ibunya mulai mengembara dan hidup di tengah hutan dengan menderita lapar dan sengsara. Kerap kali mereka terancam oleh bahaya. Tetapi berkat kekuatan, ketabahan dan keberanian yang mereka miliki maka segala bahaya itu dapat dilalui, terutama si Bratasena yang seolah menjadi pelindung bagi mereka semua. Jika ada angin besar, ibunya di panggul sementara si pinten dan tangsen berpegangan pada kedua kakinya. Jika Ibu dan saudara-saudara nya tidur maka si Bratasena yang berjaga-jaga mengawal mereka dari serangan binatang buas.
Bratasena sangat cinta kepada saudara-saudaranya dan sangat hormat kepada ibunya.

Prabu Matsawapati sendiri tidak melepaskan Pandawa membuka hutan itu sendirian, tetapi selang beberapa pekan setelah mereka memulai perjalanan di hutan amarta, dikirimnya Patih Nirbata dan para pangeran kerajaan Raden Seta, Raden Utara dan Raden Wratsangka, serta beberapa prajurit Wirata untuk membantu mereka membuka Hutan.

Pada waktu sedang bersemadi di sanggar pamujan, prabu Matswapati mendapat "wangsit" dari dewa bahwa Hutan amarata atau Wana Amarta atau Wanamarta atau sering juga disebut Cintakapura, kadang ada juga yang menyebut daerah itu Batanakawarsa kelak akan menjadi negeri yang besar bernama negeri Amarta. Dan bahkan para Pandawa yang masih terhitung cucu dari sang Prabu itu kelak akan menurunkan raja-raja di tanah Jawa.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:24 pm

ARJUNA SOSROBAHU -1
Terlahir dengan nama Arjunawijaya, putra tunggal Prabu Kartawijaya ini, setelah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja negara Maespati dikenal dengan Prabu Harjunasasrabahu. Gelar ini diberikan karena ketika ia bertiwikrama, wujudnya berubah menjadi brahala sewu - raksasa sebesar bukit, berkepala, seratus, bertangan seribu yang keseluruh tangannya memegang berbagai macam senjata sakti.

Tiwikrama menjadi brahala-sewu dilakukan oleh Prabu Arjuna Wijaya tatkala berperang melawan Bambang Sumantri, duta kepercayaannya dalam meminang putri Magada. Dewi Citrawati. Bambang Sumantri yang dengan kesaktiannya telah berhasil mengalahkan lebih dan seribu raja dari berbagai negara yang ingin memperebutkan Dewi Citrawati, hanya bersedia menyerahkan Dewi Citrawati apabila Prabu Arjuna Wijaya berhasil mengalahkan dirinya. Ini sesuai dengan tekad Bambang Sumantri sejak meninggalkan pertapaan Ardisekar, di mana ia hanya akan mengabdi pada raja yang akan mengalahkan kesaktiannya.

Arjuna Wijaya adalah satria titisan Bhatara Wisnu. merupakan raja besar yang disembah oleh sesama raja. Ia sakti mandraguna dan pilih tanding. Meskipun demikian, ia termasuk raja yang cinta damai, selalu berusaha menyelesaikan setiap persengketaan dengan musyawarah. Karena itulah wibawanya memancar keseluruh negeri dan negara-negara taklukannya. Selain gagah
perkasa, Prabu Arjuna Wijaya merupakan satria yang sangat tampan. Sepintas lalu, wajahnya mirip Bhatara Kamajaya . Cahaya yang keluar dart mukanya mengalahkan cahaya bintang, bahkan kadang-kadang seperti cahaya matahari di pagi atau senja hari. Merah merona penuh pencaran keemasan.

Ketika ia mendapat wangsit dari Bhatara Narada, kalau Dewi Citrawati, putri negeri Magada yang kini dalam pinangan raja raja lebih dari seribu negara merupakan titisan Bhatari Sri Widowati, hatinya menjadi gelisah. Mungkinkah, untuk mendapatkan Dewi Citrawati dan menyelamatkan negara Magada, ia harus berperang dan menumpas sekian banyak raja serta membunuh ribuan
prajurit tak berdosa ?. Seorang diri ia mampu melakukan hal itu. Tetapi tindakan itu bertentangan dengan hati nuraninya yang cinta damai Sementara menempuh perdamaian di negara Magada suatu hal yang sulit dilaksanakan, karena lebih dari seribu raja dari berbagai negara juga sangat menginginkan Dewi Citrawati sebagai istrinya.

Dari sekian banyak raja yang menginginkan Dewi Citrawati, Prabu Darmawisesa dari negeri Widarba, merupakan raja yang sangat berpengaruh dan ditakuti. Kini bersama lebih dari tujuh puluh lima raja sekutunya lengkap dengan ribuan prajuritnya, telah mengepung negara Magada dari berbagai penjuru. Tujuannya jelas. Bila lamarannya terhadap Dewi Citrawati ditolak, Prabu Darmawisesa akan merebutnya dengan kekerasan.

Tatkala Prabu Arjuna Wijaya dalam kebimbangan untuk menentukan sikap, datanglah Bambang Sumantri menghadap untuk mengabdikan diri di negara Maespati. Melihat kesungguhan hati dan kemantapan tekad Sumantri. Prabu Arjuna Wijaya menerima pengabdian Sumantri dengan satu persyaratan, Sumantri harus berhasil menjadi utusan pribadinya dan duta resmi Negara Maespati melamar dan memboyong Dewi Citrawati ke negara Maespati.

Persyaratan tersebut diterima oleh Bambang Sumantri. Dengan kesaktiannya. Sumantri akhirnya dapat menaklukan Prabu Darmawisesa dan sekalian para raja lainnya. memenuhi persyaratan pernikahan Dewi Citrawati berupa Putri Domas (800 orang), dan memboyong Dewi Citrawati dan Magada ke Maespati.

Namun sebelum memasuki kota negara Maespati, Bambang Sumantri mengajukan persyaratan kepada Prabu Arjuna Wijaya agar menjemput sendiri Dewi Citrawati di perbatasan kota dengan cara seorang satria, berhasil mengalahkan Sumantri dalam satu peperangan.

"Mohon Sri Paduka jangan salah mengerti akan sikap hamba, menduga yang tidak-tidak, terutama mengenai diri dan itikad hamba. Sedikitpun tak terbersit di hati hamba suatu niat atau keinginan untuk memperistri Tuan Puteri Dewi Citrawati, karena hamba sudah berprasetya sejak dulu untuk hidup sebagai satria pinandhita tidak akan menikah seumur hidupnya. Karena
itulah hamba tidak rela menyerahkan putri ulama seperti Dewi Citrawati secara begitu saja kepada Paduka, layaknya seorang raja taklukkan menyerahkan seorang putri sebagai upeti. hamba ingin Dewi Citrawati direbut dengan peperangan dasyat seorang raja. Hamba berharap peperangan ini akan meningkatkan pamor dan kewibawaan Paduka, bukan saja kepada Dewi Citrawati dan sekalian para putri yang berjumlah 800 orang, tetapi juga terhadap para raja dari lebih seribu negara yang kini berada di luar kota Maespati. Merekalah yang akan menjadi saksi sejarah keperkasaan dan kebesaran Paduka. Karena itulah hamba berharap perang tanding diantara kita harus berlangsung dahsyat dan hebat."

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:25 pm

ARJUNA SOSROBAHU -2
Demikian isi surat Sumantri kepada Prabu Arjuna Wijaya, yang ditanggapi Prabu Arjuna Wijaya dengan kelapangan dada. Apa yang diinginkan Sumantri menjadi kenyataan. Perang maha dahsyat dan mengerikan terjadi antara Prabu Arjuna Wijaya melawan Sumantri di lapangan maha luas yang terbentang diantara pegunungan Salva dan Malawa, di luar kota negara Maespati. Para brahmana dan pujangga melukiskan, peperangan antara Prabu Arjuna Wijaya melawan Bambang Sumantri merupakan perang maha dahsyat dan maha mengerikan selama alam raya gumelar. Suasana perang ini lebih hebat dan lebih dahsyat daripada perangnya Kumbakarna melawan Prabu Sugriwa yang dibantu Hanoman dan jutaan laskar kera, atau perangnya Prabu Rama Wijaya melawan Prabu Rahwana dalam perang Alengka.Perang itu juga lebih dahsyat dan lebih mencekam dari pada perang tanding antara Arjuna melawan Adipati Karna atau perangnya Resi Bhisma melawan Resi Seta, atau perangnya Bima melawan Prabu Duryudana dalarn perang Bharatayudha, bahkan lebih dahsyat dari keseluruhan perang Bharatayudha itu sendiri.

Perang tanding antara Prabu Arjuna Wijaya melawan Bambang Sumantri juga terasa agung dan indah. Mereka tampil dengan pakaian kebesaran seorang senapati prajurit yang serba sama baik warna maupun bentuknya. Mereka juga menyandang gendewa perang lengkap dengan anak-anak panah saktinya. Bentuknya sama satu dengan lainnya, hanya warna tali selempang gandewa yang berbeda. Selempang gandewa Prabu Arjuna Wijaya berwarna merah, sedangkan selempang gandewa Bambang Sumantri berwarna kuning gading.

Mereka juga sama-sama menaiki kereta perang kadewatan yang masing-masing ditarik oleh empat ekor kuda. Prabu Arjuna Wijaya menaiki kereta perang milik Dewa Wisnu yang sengaja didatangkan dari Kahyangan Untarasegara, ditarik empat ekor kuda berbulu hitam dan putih. Sedangkan Bambang Sumantri menaiki kereta perang milik Prabu Citragada, yang ditarik empat ekor kuda berbulu merah dengan belang putih pada keempat kakinya. Kereta ini dahulu merupakan kereta perang kadewatan milik Bhatara Indra yang diberikan kepada Prabu Citradarma,
raja negara Magada.

Tak ayal lagi, kedua kereta perang itu memiliki bentuk, kemewahan dan keagungan yang hampir sama. Perbedaannya hanya terletak pada pariji perang yang tertancap berkibar di bagian buritan kereta. Panji perang Prabu Arjuna Wijaya berwarna kuning emas dengan lambang burung garuda yang siap menerkam lawan, sedangkan panji perang Bambang Sumantri berwarna putih
dengan lambang ular naga tegak berdiri dengan mulut terbuka dan lidah bercabang menjulur ke luar siap mematuk lawan. Keagungan semakin nampak manakala kedua kereta perang mereka telah saling berhadapan. Mereka tak ubahnya Bhatara Asmara dan Bhatara Candra yang sedang saling berhadapan.

Kebesaran dan kedahsyatan perang tanding antara Prabu Arjuna Wijaya melawan Bambang Sumantri, selain karena arena peperangan yang demikian luas, jumlah serta mereka yang menyaksikan, juga kehebatan pameran kesaktian dan tata gelar perang yang mereka peragakan. Perang tanding itu berlangsung di sebuah padang tandus yang sangat luas, yang membentang antara pegunungan Salva dan Malawa. Disaksikan oleh Dewi Citrawati, wanita titis Bhatari Sri Widowati beserta 800 wanita pengiringnya (putri domas), ribuan dayang, lebih dari seribu raja dan permaisurinya, lengkap dengan para patihnya dan hulubalang kerajaan, ribuan rakyat Maespati, jutaan prajurit dari lebih seribu negara dan juga disaksikan oleh ratusan dewa dan hapsari dipimpin langsung oleh Bhatara Narada dan Bhatara Indra yang sengaja turun dari Kahyangan Jonggring Saloka dan Kahyangan Ekacakra.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:26 pm

ARJUNA SOSROBAHU -3
Berbagai tata gelar perang juga diperagakan dalam perang tanding ini. Dari tata perkelahian tangan kosong, gelar perang keris, tombak dan trisula, juga tata gelar perang kereta disertai ketrampilan menguasai kuda dan kereta, serta kemahiran memainkan anak panah. Kelak mereka baru menyadari, bahwa apa yang diperagakan oleh Prabu Arjuna Wijaya dan Bambang
Sumantri, sesungguhnya merupakan pelajaran tata gelar dan teknik peperangan maha tinggi yang hanya bisa diperagakan oleh Dewa Wisnu dan Dewa Surapati, yang tidak akan terulang lagi selama jagad raya gumelar.

Berbagai ilmu kesaktian dan senjata sakti diperagakan dan gumelar dalam perang tanding ini. Ketika senjata sakti panah Dadali milik Sumantri lepas dari busurnya dan begitu melesat di udara pecah menjadi ribuan anak panah dengan pamor berujud bara api menyala merah, Prabu Arjuna Wijaya segera melepaskan senjata sakti panah Tritusta. Begitu lepas dari busurnya, panah
tersebut pecah menjadi ribuan anak panah yang pamornya memancarkan cahaya keputihan.

Ribuan anak panah dari kedua belah pihak itu saling bertempur dahsyat di udara, tak ubahnya orang yang sedang berperang. Saling tangkis, saling menyambar dan saling mengejar serta saling menyerang. Benturan keras kedua senjata itu menimbulkan desis suara yang melengking, memekakkan telinga.

Melihat pertempuran ribuan anak panah yang tiada akhir itu, Prabu Arjuna Wijaya segera melepaskan panah angin, yang begitu melesat di udara menimbulkan angin besar yang menyapu habis sernua anak panah tersebut. Menghadapi kenyataan itu, Sumantri segera melepaskan panah Bojanggapasa, yang begitu melesat ke udara memecah menjadi jutaan ular naga yang memenuhi arena pertempuran. Untuk mengetahui keampuhan pusaka lawan, Prabu Arjuna Wijaya segera melepas panah sakti Paksijaladra. Seketika di udara muncul jutaan burung garuda, terbang menukik menyambar ular-ular naga ciptaan Sumantri.

Akhir dari perang tanding tersebut, memberi pengaruh sangat besar bagi Prabu Arjunasasrabahu. Kini yakinlah semua orang, bahwa ia seorang raja penjelmaan Dewa Wisnu. la dikenal sebagai raja maha sakti dan kewibawaannya memancar ke seantero jagad raya. Para raja yang sejak semula sudah tunduk dan bersekutu dengan kerajaan Maespati, kini semakin menghormatinya.
Sementara para raja yang dahulunya ragu untuk tunduk dan bersatu, kini dengan sukarela menyatakan bernaung dibawah panji kebesaran negara Maespati.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:27 pm

ARJUNA SOSROBAHU -4
Di bawah pemerintahan Prabu Arjunasasrabahu dengan patihnya Suwanda, Maespati berkembang menjadi negara adikuasa yang rnenguasai hampir dua-pertiga jagad raya Meski demikian, Prabu Arjunawijaya tetap memerintah dengan sikap yang adil dan arif bijaksana. Prabu Arjunasasrabahu dikenal sebagai raja yang cinta damai dan selalu berusaha menyelesaikan perselisihan dengan negara tetangga secara musyawarah. Dialah raja yang melaksanakan prinsip dan semboyan perdamaian ; Sugih tanpo bondo, ngruruk tanpo bolo, Menang tanpo angasorake. (kaya tanpa harta benda, menyerang tanpa prajurit, menang tanpa merasa mengalahkan).

Prabu Arjunasasrabahu adalah Maharaja terbesar yang pernah ada di jagad raya. la tidak hanya memerintah hampir duapertiga luas jagad raya dan membawahi lebih dari dua ribu raja dari berbagai negara, tetapi ia juga seorang raja yang hidup dengan seorang permaisuri, Dewi Citrawati, dan lebih dari 800 orang selir. Karena itu tak mengherankan apabila sebagian besar penghuni istana Maespati adalah wanita-wanita cantik, sehingga keadaan taman keputrian istana Maespati tak ubahnya kahyangan Ekacakra, tempat para bidadari.

Prabu Arjunasasrabahu adalah raja yang sangat mencintai dan memanjakan istri-istrinya, terutama permaisuri Dewi Citrawati. Apa saja yang menjadi keinginan Dewi Citrawati selalu berusaha untuk dipenuhinya.

Suatu ketika Dewi Citrawati menyampaikan satu keinginan yang rasanya mustahil dapat terpenuhi oleh manusia lumrah di Marcapada. Bahkan Dewapun belum tentu kuasa untuk memenuhi keinginannya tersebut. Dewi Citrawati ingin mandi bersama 800 orang selirnya di sebuah sungai atau danau. Keinginan yang aneh inipun berusaha di penuhi oleh Prabu Arjunasasrabahu.

Dengan disertai Patih Suwanda, dan dikawal beberapa ratus orang prajurit, Prabu Arjunasasrabahu membawa Dewi Citrawati dan 800 orang selirnya lengkap dengan para dayangnya masing-masing meninggalkan istana Maespati pergi kesebuah dataran rendah antara pegunungan Salva dan Malawa, dimana ditengahnya mengalir sebuah sungai.

"Dinda Patih Suwanda, aku akan bertiwikrama tidur melintang membendung aliran sungai agar tercipta danau buatan untuk tempat mandi dan bercengkrama dinda Dewi Citrawati dan para selir. Selama aku tidur bertiwikrama, keselamatan dinda Citrawati dan para garwa ampil, sepenuhnya aku serahkan pada dinda Patih Suwanda." kata Prabu Arjunasasrabahu kepada patih Suwanda.

Prabu Arjunasasrabahu kemudian bertiwikrama, tidur melintang membendung aliran sungai. Dengan tubuh sebesar bukit dengan panjang hampir mencapai 500 meter, dalam waktu tidak terlalu lama, lembah antara pegunungan Salva dan Malawa berubah menjadi sebuah danau buatan yang sangat luas. Dengan suka cita Dewi Citrawati terjun kedalam air, diikuti oleh para selir dan para dayang. Mereka berenang kesana-kemari, bercanda, bersuka cita penuh kegembiraan dan gelak tawa. Hampir semua prajurit yang menyaksikan hal itu, menelan air hur dan tubuh prungsang menahan hawa nafsu menyaksikan seribu lebih wanita cantik bertubuh seksi dalam keadaan polos tumplek uyel (menyatu saling bergerak tak karuan) di dalam air yang jernih, dengan berbagai tingkah polah yang lucu-lucu dan aneh-aneh. Hanya Patih Suwanda yang bersikap tenang dan dapat mengendalikan dirinya.

Luapan air sungai yang terbendung semakin lama semakin meninggi, meluas melebar menggenangi perbukitan dan daerah sekitarnya. Mengalir deras ke daratan yang lebih rendah, laksana air bah melanda persawahan dan perbukitan. Kejadian ini sama sekali tak disadari oleh Prabu Arjunasasrabahu, karena ia dalam keadaan tidur berTiwikrama.

Sementara itu diantara kedua betis raksasa jelmaan Prabu Arjunasasrabahu muncul daerah kering. Di tempat itulah dibuat pesanggrahan mewah semacam istana sebagai tempat tinggal Dewi Citrawati dan para selir berikut dayang-dayangnya. Adapun Patih Suwanda, beberapa para raja dan prajurit Maespati membuat pesanggrahan di luar betis yang melintang itu. Banyak sekali ikan-ikan yang menggelepar di tanah kering atau kubangan sisa-sisa air. Hal mi sangat menggembirakan para putri domas dan para dayang, yang saling berebut menangkap ikan sambil bercanda. Macam-macam ulah para putri domas itu. Ada yang menaruh ikannya pada kain kembennya dengan cara dibungkus, tapi ada pula yang dengan seenaknya diselipkan di lengkang dadanya.
Manakala ikan-ikan itu bergerak-gerak, ia akan tertawa geli penuh suka cita.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:28 pm

ARJUNA SOSROBAHU -5
Tak terduga luapan air bengawan yang berbalik arah ke arah hulu, melanda lembah dan perbukitan, melanda pula daerah perbukitan Janakya di wilayah negara Sakya, dimana Rahwana, raja Alengka beserta para hulubalangnya sedang membangun pesanggrahan. Dalam sekejap, bangunan pesanggrahan Rahwana ludes dilanda air bah. Rahwana dan para hulubalangnya yang bisa
terbang, segera terbang menyelamatkan diri ke puncak gunung, diikuti oleh para raksasa pengikutnya berlari-lari cepat mendaki bukit yang lebih tinggi. Namun banyak pula diantara para raksasa yang tidak sempat menyelamatkan diri, mati hanyut dilanda air bah.

Kejadian tersebut menimbulkan kemarahan Rahwana. la segera menyuruh Detya Kala Marica, abdi kepercayaarmya yang ahli dalam telik sandi untuk melakukan penyelidikan. Dalam waktu singkat Kala Marica telah kembali menghadap Rahwana, melaporkan hasil penyelidikannya. Dilaporkan oleh Detya Kala Marica, bahwa yang menyebabkan meluapnya aliran sungai dan
menghancurkan pesanggrahan adalah akibat ulah Prabu Arjunasasrabahu, raja negara Maespati, yang tidur melintang di muara sungai. "Beliau sedang melakukan Tiwikrama. Tubuhnya berubah menjadi raksasa sebesar dan setinggi seratus bukit. Itulah mengapa air sungai terbendung dan berbalik arah melanda perbukitan." kata Kala Marica. "Hemmm.. siapa itu Arjunasasrabahu, paman ?" tanya Rahwana.

"... Prabu Arjunasasrabahu adalah raja negara Maespati yang terkenal sakti mandraguna dan pilih tanding. Beliau bertiwikrama membendung aliran sungai untuk menyenangkan permaisurinya dan para putri domas serta selir-selir yang jumlahnya ribuan orang. Para selir Prabu Arjunasasrabahu bukanlah wanita sembarangan, tetapi wanita-wanita cantik putri para raja taklukan yang secara sukarela tunduk pada kekuasaan negara Maespati. Namun dan kesernua para putri itu, yang paling cantik adalah permaisuri Dewi Citrawati. Beliau adalah putri Magada yang pernah menjadi rebutan ribuan raja karena diyakini sebagai penjelmaan Bhatari Sriwidawati."

"Hemmm, sangat kebetulan! Kalau begitu aku akan rebut Dewi Citrawati dari tangan Arjunasasrabahu!" kata Rahwana lantang. la kemudian memerintahkan Aditya Mintragna, Karadusana dan Trimurda untuk menyiapkan pasukan perang, menggempur negara Maespati. Dengan sikap hati-hati Patih Prahasta berusaha menasehati dan mengingatkan Prabu Rahwana akan akibat buruk dari peperangan tersebut. Diingatkan pula oleh Patih Prahasta, akan kesaktian dan keperwiraan Prabu Arjunasasrabahu dan patih Suwanda yang sulit tertandingi oleh lawan siapapun, termasuk Prabu Rahwana sendiri. Namun Rahwana tetap kukuh dengan kamauannya.

"Di jagad raya ini tidak ada seorangpun titah yang dapat mengalahkan Rahwana. Inilah janji Dewa Syiwa kepadaku!" kata Rahwana lantang. Peperangan tak dapat dihindarkan dan berlangsung dengan seru antara pasukan Alengka sebagai penyerang dan pasukan Maespati yang berusaha mempertahankan kehormatan dan kedaulatan negaranya. Korbanpun berjatuhan, bergelimpangan. Ribuan raksasa dipihak Alengka dan ribuan prajurit di pihak Maespati. Ketika banyak para senopati perang Alengka mati dalam peperangan dan pasukan terdesak mundur, Rahwana akhirnya maju perang sendiri menghadapi para senopati perang Maespati.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:29 pm

ARJUNA SOSROBAHU -6
Rahwana bertiwikrama , merubah wujud menjadi raksasa sebesar bukit, berkepala sepuluh dan bertangan dua puluh yang masing-masing tanganya memegang berbagai jenis senjata. Sepak terjang Rahwana sangat menakutkan. Dalam sekejap ratusan prajurit Maespati menemui ajaInya. Untuk menghadapi amukan dan sepak terjang Rahwana, beberapa raja yang menjadi senopati
perang Maespati, seperti Prabu Wisabajra, Prabut Kalinggapati, Prabu Soda, Prabu Candraketu dan Patih Handaka Sumekar, mencoba menghadangnya. Namun bagaimanapun saktinya mereka, mereka bukantah tandingan Rahwana. Para raja itu akhirnya gugur ditangan Rahwana. Menyaksikan hal itu, akhirnya Patih Suwanda maju sendiri memimpin pasukan Maespati. Dengan
tata gelar perang "Garuda Nglayang" pasukan Maespati bergerak cepat, memukul mundur dan memporak porandakan pasukan Alengka. Sepak terjang Patih Suwanda sangat trengginas. Tak satupun para Senopati perang Alengka, baik Tumenggung Mintragna, Karadusana, Trimurda, juga patih Prahasta yang mampu menandingi kesaktian Patih Suwanda. Mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Beberapa putra Rahwana antara lain Kuntalamea, Trigarda, Indrayaksa dan Yaksadewa yang nekad berperang mati-matian melawan Patih Suwanda, akhirnya
mati juga di medan perang.

Mengetahui beberapa orang putranya tewas dalam peperangan dan tak satupun para senapati perangnya yang dapat menandingi kesaktian dan keperkasaan Patih Suwanda, akhirnya Rahwana maju sendiri ke medan laga. Perang tanding pun berlangsung dengan seru Berkali-kali Patih Suwanda berhasil memenggal putus kepala Rahwana Namun Rahwana selalu dapat hidup kembali dari kematian. Hal ini berkat Ajian Rawarontek, ajaran dan pemberian Prabu Danaraja (Prabu Danapati atau Prabu Bisawarna), raja negara Lokapala yang masih kakak Rahwana satu ayah, sama-sama putra resi Wisrawa.

Merasa kewalahan menghadapi patih Suwanda, Rahwana berTiwikrama . Tubuhnya berubah menjadi raksasa sebesar bukit, berkepala sepuluh dan bertangan duapuluh. Perubahan wujud ini sama seakali tidak menakutkan Patih Suwanda. Tiwikrama yang dilakukan Rahwana tidaklah sehebat dan semenakutkan Tiwikrama yang dilakukan Prabu Arjunasasrabahu. Dengan cepat
Patih Suwanda melepaskan senjata Cakra, yang begitu melesat langsung menebas putus kesepuluh kepala Rahwana. Kesepuluh kepala itu jatuh bergelimpangan di tanah, namun dalam sekejap menyatu kembali pada badannya.

Patih Suwanda mulai kehilangan akal dan kesabaran menghadapi kesaktian Rahwana. Sementara itu di Sorgamaya, arwah Sukasrana, adik Patih Suwanda, masih bergentayangan melihat pertempuran tersebut. la, berkesimpulan, inilah saat yang tepat untuk membalas dendam pada kakaknya, dan memenuhi janjinya unluk bersama-sama arwah kakaknya, Sumantri (Patih Suwanda) pergi ke Sorgaloka. Dengan cepat arwah Sukasrana menyatu hidup dalam taring Rahwana. Perang tanding pun kembali berlangsung antara Patih Suwanda melawan Rahwana. Patih Suwanda telah berketetapan hati hendak mencincang habis kepala Rahwana agar tidak bisa hidup kembali. Karena itu tatkala kepala Rahwana lepas dari lehernya terbabat senjata cakra, Patih Suwanda segera memungut kepala Rahwana. Tak terduga, saat ia memegang rambut kepala Rahwana, tanpa disadari tubuh Rahwana menyatu kembali berkat daya kesaktian Aji Rawarontek. Begitu kepalanya menggeliat dan membuka mata, berkat pengaruh arwah Sukasrana, tangan Rahwana langsung mengangkat tubuh Patih Suwanda dan menggigit lehernya hingga putus. Saat itu juga Patih Suwanda menernui ajalnya. Arwahnya berdampingan dengan arwah Sukasrana terbang menuju ke sorgaloka. Mengetahui Patih Suwanda gugur dalarn pertempuran, beberapa orang prajurit Maespati lari ke pesanggrahan Prabu Arjunasasrabahu memberitahukan kejadian tersebut. Prabu Arjunasasrabahu yang mendengar laporan tewasnya patih Suwanda oleh Prabu Rahwana, segera bangun dari tidurnya dan mengakhiri Tiwikramanya. la meminta para raja-raja pengikutnya untuk segera mengumpulkan sisa-sisa laskar Maespati yang bercerai berai, dan dia
sendiri yang akan memimpin pasukan Maespati menghadapi Rahwana. Di tengah perjalanan, Prabu Arjunasasrabahu diternui olch Bhatara Narada dan Bhatara Mahadewa yang sengaja menghadang langkah Prabu Arjunasasrabahu atas perintah Bhatara Guru.

"Cucu Ulun, Arjunasasrabahu. Mengemban perintah Hyang Jagad Pratingkah, Ulun menghadang lakumu yang akan menggelar perang menghadapi Rahwana. Titah Hyang Jagad Pratingkah, Ulun harus membatalkan perang melawan Rahwana. Berilah kesempatan Rahwana untuk hidup lebih lama. Ulun tahu, Rahwana titah maha sakti yang sepak terjangnya direstui Hyang Siwa dan Durga. Tapi, Rahwana tetap bukan tandinganmu !" kata Bhatara Narada kepada Prabu Arjunasasrabahu.

"Bukan maksud hamba untuk menentang perintah Hyang Jagad Pratingkah. Pukulun Kanekaputra tahu, Rahwana telah membunuh adik hamba, Patih Suwanda. Karena itu Rahwana harus dihukum kata Prabu Arjunasasrabahu.

'Ulun tahu akan kecintaanmu terhadap Patih Suwanda, dan dendam ulun pada Rahwana. Tapi saat ini Rahwana belum saatnya mati. Takdir dewata, ia memang harus mati melalui tanganmu, tapi bukan pada penitisanmu yang sekarang, melainkan pada penitisanmu yang akan datang." kata Bhatara Narada.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:29 pm

ARJUNA SOSROBAHU -7
"Hamba berjanji, hamba tidak akan membunuh Rahwana. Hamba hanya akan menghukumnya, memberi pelajaran agar dapat mengkontrol tindak angkara murkanya. Karena itu perkenankanlah hamba melanjutkan perjalanan, menggelar perang menghadapi Rahwana dan laskar Alengka !" kata Prabu Arjunasasrabahu.

"Kalau itu yang menjadi tujuan ulun, ulun mengiringi langkahmu. Tapi ingat, Ulun harus menetapi janji untuk tidak membunuh Rahwana !" kata Bhatara Narada setelah merasa gagal membujuk Prabu Arjunasasrabahu untuk membatalkan perang.

Perang sampyuh tak bisa dihindarkan lagi antara prajurit Maespati melawan laskar raksasa negara Alengka. Dengan tata gelar perang "Garuda Nglayang" sebagaimana yang diterapkan oleh Patih Suwanda, pasukan Maespati di bawah pimpinan Prabu Arjunasasrabahu berhasil memukul mundur dan memporak porandakan laskar raksasa Alengka. Tak terbilang jumlahnya, mungkin ribuan laskar Alengka mati di medan peperangan. Mengetahui pasukannya lumpuh bercerai berahi, akhirnya Rahwana sendiri yang maju perang menghadapi Prabu Arjunasasrabahu. Nasehat Patih Prahasta agar Rahwana menank mundur sernua pasukan dan menyatakan kalah, ditolak mentah-mentah oleh Rahwana. Rahwana merasa yakin, dengan aji Rawarontek yang dapat
menolongnya luput dari kematian, ia akan dapat mengalahkan dan membunuh Prabu Arjunasasrabahu, sebagai mana ia mengalahkan dan membunuh Patih Suwanda.

Rahwana mengamuk, membabi-buta. Setlap sabetan pedangnya selalu memakan korban nyawa prajurit Maespati. la terus mendesak maju berusaha mendekati kereta Prabu Arjunasasrabahu. Hati Rahwana tercekat kagum manakala ia melihat, betapa agungnya Prabu Arjunasasrabahu berdiri gagah di atas kereta perangnya. Cahaya semacam pelangi melingkari tubuh Raja Maespati itu, yang menandakan ia raja kekasih dewata, penitisan Bhatara Wisnu.

Rahwana ingin menunjukkan kesaktiannya. Sambil membaca mantera sakti, ia melepaskan senajuta Branaspati yang begitu melesat di udara dari pamornya langsung menyemburkan gumpalan-gumpalan api sebesat gelugu (batang kelapa/nyiur) dan sangat panas tiada terkira, membakar hangus prajurit Maespati.

Melihat hal itu, Prabu Arjunasasrabahu bertidak cepat. Sambil membaca mantera sakti, ia melepaskan seniata Bayusayuta, yang begitu melesat di udara dari pamornya menyembur angin besar dan kencang yang mengandung hawa dingin. Dengan suara mendesis, angin itu mematikan dan meniup habis gumpalan-gumpalan api Rahwana.

Merasa kalah sakti dalam olah senjata, Rahwana kemudian bertriwikrama. Tubuhnya menjadi sebesar bukit, berkepala sepuluh dan bertangan seratus yang masing-masing tangannya memegang berbagai macam senjata tajam. Rahwana terbang hendak menerkam dan membinasakan lawannya. Menghadapi serangan Rahwana yang demikian ganas dan mengerikan, Prabu

Arjunasasrabahu segera melepaskan panah Trisula, yang begitu melesat di udara pecah menjadi ratusan anak panah, yang dengan cepat memangkas putus kesepuluh kepala Rahwana, keseratus tangan dan kakinya. Potongan-potongan kepala , tangan, kaki dan gembung Rahwana jatuh berserakan di atas tanah. Namun berkat daya kesaktian Aji Rawarontek, begitu menyentuh tanah potongan-potongan tubuh itu secepatnya bergerak menyatu, dan Rahwana pun hidup kembali.

Masih dalam keadaan bertriwikrama, Rahwana terbang ke udara, sambil berlindung di balik gumpalan mega, ia mengeluarkan kesaktiannya. Dari keseluruh anggota tubuhnya, termasuk lubang hidung dan telinga - (dalam keadaan triwikrama, tangan Rahwana berjumlah seratus dan berkepala sepuluh) - keluar ribuan macam senjata seperti gada, limpung, pedang, tombak dan anak pariah, yang meluncur cepat menyerang prajurit Maespati. Bersarnaan itu pula, Rahwana mengeluarkan ajian "Gunturgeni', dimana ketika ia berteriak dari mulutnya keluar ribuan kilat menyambar dengan daya hangus yang luar biasa.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:30 pm

ARJUNA SOSROBAHU -7
Menyaksikan hal itu, Prabu Arjunasasrabahu tetap tenang. la segera melepaskan senjata Trisula, yang begitu melesat di udara memecah menjadi ratusan naga sebesar bukit yang langsung menelan habis semua senjata ciptaan Rahwana. Bersarnaan dengan itu pula, Prabu Arjunasasrabahu melepaskan senjata Candrasa yang melesat tepat menghantam hancur tubuh Rahwana. Dalam keadaan berkeping-keping serpihan Rahwana jatuh ke tanah. Peristiwa pun terulang kembali. Berkat daya kesaktian aji Rawarontek, begitu menyentuh tanah potongan-potongan tubuh Rahwana bergerak saling menyatu, dan Rahwana pun hidup kembali.

Menghadapi kejadian yanh terus berulang, hilang kesabaran Prabu Arjunasasrabahu. la segera bertriwikrama. Dalam sekejap tubuhnya berubah meniadi brahalasewu- Raksasa hampir sebesar gunung, berkepala seratus dan bertangan seribu, di mana masing-masing tangannya memegang berbagai jenis senjata. Melihat tubuh raksasa yang demikian besar dengan bentuk yang
sangat menakutkan, Rahwana mengigil ketakutan. Cepat ia terbang melarikan diri dan berlindung di balik gumpalan awan, sambil berterjak minta tolong.

Teriakan Rahwana yang dilambari ajian Guntur sewu itu terdengar oleh Bhatari Durga yang bertahta di Kahyangan Setragandamayit. Bhatari Durga segera keluar dari istananya dan secepat kilat menuju ke arah Rahwana. Begitu mengetahui Rahwana dalam kesulitan menghadapi raksasa penjelmaan Prabu Arjunasasrabahu, Bhatari Durga segera menciptakan awan hitam untuk melindungi tubuh Rahwana. Hal ini ia lakukan karena ia merasa bertanggung jawab menjaga keselamatan Rahwana, yang secara tidak langsung adalah putranya sendiri dengan Bhatara Syiwa (=Bhatara Guru). Prabu Arjunasasrabahu yang mengetahui ulah Bhatari Durga melindungi Rahwana segera melepaskan pariah "Prahara" yang begitu melesat di udara dari pamornya menyembur badai awan panas. Awan hitam seketika tersibak hilang. berubah menjadi rintikan hujan. Dalam suasana alam yang terang benderang nampak dengan jelas tubuh Bhatari Durga yang berada di sebelah Rahwana.

Prabu Arjunasasrabahu siap melepaskan panah Trisula, Namun sebelum panah Trisula dilepaskan, Bhatari Durga yang mengetahui daya keampuhan pusaka itu, secepat kilat lari kembali ke Setragandamayit sambil berteriak minta ampun. Prabu Arjunasasrabahu yang tidak mau kehilangan sasaran, mengarahkan pariah Trisula ke tubuh Rahwana. Begitu terkena hantaman pusaka
tersebut, tubuh Rahwana hancur menjadi beberapa bagian, berterbangan di udara dan akhirnya jatuh berserakan di tanah.

Aji Rawarontek kembali menolong Rahwana dari kematian. Namun saat tubuhnya menyatu kembali, Prabu Arjunasasrabahu segera bertindak cepat, menangkap tubuh Rahwana. Bersamaan dengan itu, Bhatara Narada dan Bhatara Mahadewa datang menegur Prabu Arjunasasrabahu.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:32 pm

ARJUNA SOSROBAHU -8
"Cucu Ulun, Prabu Arjunasasrabahu. Hentikan triwikramamu. Bukankah Ulun telah berjanji tidak akan membunuh Rahwana," kata Bhatara Narada. Mendapat teguran Bhatara Narada, Prabu Arjunasasrabahu menyudahi triwikramanya, kembali kewujud aslinya. "Hamba tidak akan membunuh Rahwana, tetapi hamba punya kewajiban untuk menyiksa dan menghajarnya sebagai
pelajaran tata kesusilaan bagi aditya ambek angkara murka ini!" jawab Prabu Arjunasasrabahu.

"Syukurlah kalau ulun tetap memenuhi apa yang telah ulun janjikan kepada dewata!" kata Bhatara Narada yang segera meninggalkan Prabu Arjunasasrabahu diikuti kemudian oleh Bhatara Mahadewa.

Sepeninggal Bhatara Narada dan Bhatara Mahadewa, Prabu Arjunasasrabahu segera mengikat tubuh Rahwana dengan rantai. Kemudian, tubuh yang sudah tak berdaya itu diikat pada belakang kereta perang Prabu Arjunasasrabahu dan ditarik mengelilingi alun-alun negeri Maespati sampai beberapa kali putaran, baru ditarik menyusuri jalan-jalan di kota negara Maespati.

Berkat daya kesaktian ajian Rawarontek, Rahwana memang tidak bisa mati. Tapi !a bisa mengalami penderitaan, dan penderitaan yang tengah ia alami sekarang ini merupakan penderitaan yang maha berat yang arus ia alami baik secara lahir dan batin. Dalam keadaan terseret, tubuh Rahwana bukan saja harus berbenturan dengan batu lubang jalanan dan roda kereta, tetapi ia juga harus menanggung penghinaan yang luar biasa besarnya, dimana dalam keadaan sebagai pecundang dan pesakitan, tubuhnya yang terseret kereta itu harus menjadi tontonan ribuan rakyat Maespati. Tidak itu saja.

Rakyat Maespati yang membencinya ikut menambah derita lahir batinnya. Mereka melempari tubulnya dengan batu, kayu, telur busuk dan juga kotoran hewan. Bila berkesempatan sebagian rakyat Maespati meludahi mukanya.

Setelah semua lorong-lorong jalan ibu negara Maespati dilalui, Prabu Arjunasasrabahu mengarahkan keretanya menuju ke pesanggrahan dimana Dewi Citrawati dan para selir beserta para dayang berkemah. Prabu Arjunasasrabahu ingin menunjukan kepada istrinya, wujud raksasa Rahwana yang telah membunuh Patih Suwanda.

Apa yang dialami Prabu Rahwana diketahui pula oleh Detya Kala Marica. Raksasa cerdik dan licik ini merasa iba atas penderitaan yang dialami rajanya, juga rasa sakit hati rajanya diperlakukan sedemikian hina. Marica ingin membalas dendam, membuat sakit hati Prabu Arjunasasrabahu. Ketika tubuh Rahwana masih terseret-seret di sepanjang jalanan ibu negara
Maespati. Marica mendahului pergi ke pesanggrahan Dewi Citrawati. Dengan merubah wujudnya menjadi seorang punggawa istana, Marica berhasil menemui Dewi Citrawati. Dengan menghiba dan kata-kata pedih diciptakannya sebuah laporan palsu, bahwa Prabu Arjunasasrabahu beserta para raja pengikutnya telah tewas dalam peperangan melawan Rahwana. Disampaikan
pula pesan Prabu Arjunasasrabahu, mengingat Rahwana raja yang ambek angkara murka, maka apabila Prabu Arjunasasrabahu tewas dalam peperangan, maka Dewi Citrawati, sernua para selir berikut dayangdayang harus melakukan bela pati.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:34 pm

ARJUNA SOSROBAHU -9
Kata-kata Marica yang disertai mantra "kemayan" itu berhasil membutakan alam pikiran bawah sadar Dewi Citrawati, yang dengan mudahnya menerima saja semua laporan Marica. Tanpa pikir panjang, demi bakti setianya pada suami, Dewi Citrawati segera menghunus patrem (keris kecil) dan melakukan bunuh diri. Tindakan Dewi Citrawati tersebut segera diikuti oleh para selir dan dayang. Terjadilah bunuh diri masal yang mencapai hampir empat ribu orang. Sehingga dalam sekejap, pesanggrahan yang dibangun dengan segala keindahan dan keelokannya itu dipenuhi oleh
mayat-mayat wanita cantik.

Namun masih ada seorang dayang yang belurn sempat melakukan bunuh diri. Hal ini karena saat ia akan menusukan patrem ke ulu hatinya, Marica yang merasa usahanya telah berhasil telah merubah wujudnya ke wujud aslinya. Dayang itu pingsan karena takut melihat wajah Marica yang mengerikan.

Betapa terkejut Prabu Arjunasasrabahu ketika ia memasuki pesanggrahan, dijumpainya Dewi Citrawati, para selir dan dayang-dayang sernuanya telah menjadi mayat, tumpang-tindih tak karuan. la tak tahu, apa yang telah terjadi sesungguhnya hingga istri dan sernua selir serta para dayang melakukan bunuh diri masal. Pada saat Prabu Arjunasasrabahu dalam kebingungan, dayang yang selamat telah siuman dan segera mendekati Prabu Arjunasasrabahu, melaporkan apa yang sesungguhnya telah terjadi. Bunuh diri masal itu terjadi karena Dewi Citrawati, para selir dan dayang melaksanakan pesan Prabu Arjunasasrabahu yang disampaikan oleh raksasa Alengka yang menyaru sebagai punggawa istana Maespati.

Seketika muntab kernarahan Prabu Arjunasasrabahu. la bermaksud untuk bertiwikrama, membunuh Rahwana dan menghancurkan alam seisinya sebagai protes atas ketidak adilan dewata yang telah membiarkan istrinya yang setia termakan bujukan Marica. Namun sebelurn niat itu dilaksanakan, telah muncul Bhatara Waruna. Dewa laut itu datang menyabarkan Prabu Arjunasasrabahu. Dikatakan kepada raja Maespati tersebut, bahwa apa yang menimpa Dewi Citrawati berikut para selir dan dayang merupakan cobaan dewata yang harus diterima dengan lapang dada. Kedatangannya menemui prabu Arjunasasrabahu adalah untuk menolong sang Prabu dari kesedihan. Dengan air sakti Tirta mulya" (=semacam air penghidupan "tirta amarta") ia
sanggup menghidupkan kembali orang yang telah mati, khususnya yang mati karena terluka.

Prabu Arjunasasrabahu menerima kebaikan hati Bhatara Waruna. Dengan percikan air sakti "Tirta mulya" Dewi Citrawati dapat dihidupkan kembali. Demikian pula para selir dan dayang-dayang yang jumlahnya hampir 4000 orang. Setelah itu Bhatara Waruna menjelaskan, bahwa yang membuat pengkhianatan dengan memberikan laporan palsu adalah Datya Kala Marica, hulubalang setia Rahwana, yang memang cerdik dan licik. Mengetahui hal itu, Prabu Arjunasasrabahu bertekad akan segera mencari dan membunuh Marica walau ia berlindung di balik Kahyangan sekalipun.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:35 pm

ARJUNA SOSROBAHU -10
Dewi Citrawati melarangnya. Janganlah kebencian beralih menjadi dendam. Toh berkat pertolongan Bhatara Waruna, ia dan semua selir dan dayang-dayang telah hidup kembali. Karena itu Dewi Citrawati meminta agar Prabu Arjunasasrabahu melupakan dendamnya terhadap Marica. Demi menghormati keinginan istrinya, Prabu Arjunasasrabahu berjanji akan melupakan dendamnya
terhadap Marica.

Sepeninggal Bhatara Waruna, datang menemui Prabu Arjunasasrabahu, Brahmana Pulasta yang sengaja turun dari pertapaan Nayaloka yang berada di kahyangan Madyapada. Brahmana raksasa yang tingkat ilmunya sudah mencapai kesempumaan itu adalah kakek buyut Rahwana dari garis ayah, Resi Wisrawa. Brahmana Pulasta adalah cucu Bhatara Sambodana yang berarti cicit Bhatara Sambu. la, berputra Resi Supadma, ayah Resi Wisrawa. Kedatangan Brahmana Pulasta menemui Prabu Arjunasasrabahu adalah untuk memintakan pengampunan bagi cucu buyutnya, Rahwana. Karena menurut ketentuan Dewata, belum saatnya Rahwana untuk menemui kematian. la memang harus mati oleh satria penjelmaan Dewa Wisnu, tetapi bukan pada penjelmaannya yang sekarang, tetapi pada penjeImaan Wisnu berikutnya.

"Rahwana memang makluk yang ambek angkara murka. memang pantas menderita dan mati untuk menebus dosa-dosanya. Tapi bukan sekarang. Itutah ketentuan dewata yang aku ketahui. Karena itulah aku memohon kemurahan hati Paduka untuk membebaskan Rahwana. Berilah ia kesempatan untuk hidup dan memperbaiki perilakunya. Apapun persyaratan yang Paduka minta, aku akan memenuhinya." kata Brahmana Pulasta, lembut menghiba.

"Aku juga tidak akan membunuh Rahwana sebagaimana janjiku pada Bhatara Narada. Apa yang aku lakukan sekedar memberi pelajaran pada Rahwana agar ia menyadari, bahwa di jagad raya ini masih banyak titah lain yang dapat mengalahkannya, walau tidak kuasa untuk membunuhnya. Kalau aku membebaskan Rahwana, jaminan apa yang bisa sang Bagawan berikan padaku?"
kata Prabu Arjunasasrabahu.

"Jaminanku, aku berjanji, Rahwana akan tunduk pada Paduka dan mau merubah sifat angkara murkanya. Aku yakin, Rahwana bersedia menyerahkan negara dan tahta Alengka kepada Paduka dan menjadikan Alengka sebagai negara bagian Maespati. Sebagai imbalan kemurahan hati Paduka membebaskan Rahwana, aku bersedia menghidupkan semua prajurit Maespati yang tewas dalam peperangan!" kata Brahmana Pulasta.

Menghargai permintaan brahmana sakti yang tingkat hidupnya sudah setara dewa itu, Prabu Arjunasasrabahu memenuhi apa yang menjadi keinginan Brahmana Pulasta. Rahwana segera dilepaskan dari ikatan rantai yang membelit sekujur tubuhnyaBegitu terbebas, Rahwana langsung duduk bersimpuh di hadapan Prabu Arjunasasrabahu. Sambil menyembah ia menyatakan fobat
dan berjanji tidak akan berbuat kejahatan lagi. Rahwana juga menyatakan tunduk pada Prabu Arjunasasrabahu dan rela menyerahkan tahta dan kerajaan Alengka dalam kekuasaan raja Maespati, dan bersedia menjadi raja taklukan.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:36 pm

ARJUNA SOSROBAHU -11
Prabu Arjunasasrabahu menerima pertobatan Rahwana. Namun ia tak menghendaki tahta dan negara Alengka. la hanya menasehati dan meminta Rahwana untuk memerintah dengan adit dan memanfaatkan kekayaan negara untuk kepentingan rakyatnya. Bukan untuk kepentingan diri sendiri dan keluarganya.

Brahmana Pulasta pun memenuhi janjinya. Dengan mantera saktinya ia berhasil menghidupkan kembali semua prajurit Maespati yang tewas dalam peperangan, terkecuali Patih Suwanda. Inilah yang membuat sedih Prabu Arjunasasrabahu. Ketika ia menanyakan hal itu kepada Brahmana Pulasta, sang brahmana menjelaskan bahwa kematian Patih Suwanda sudah mencapai kesempumaan sesuai takdir hidupnya. Ia menemui ajalnya sesuai dengan karmanya terhadap Sukasrana, adiknya.

"Kalau aku paksakan untuk menghidupkan kembali Rayi Paduka, Patih Suwanda, berarti aku nekad melanggar kehendak Sang Maha Pencipta. Aku juga telah melanggar niat luhur Sukasrana. Karena arwah manusia suci itu belum mau masuk ke sorgaloka tanpa bersama-sama arwah kakaknya, Sumantri -- nama kecil Patih Suwanda !" kata Brahmana Pulasta menegaskan.

Prabu Arjunasasrabahu akhimya dapat menerima penjelasan Brahmana Pulasta dan merelakan kematian Patih Suwanda. Sepeninggal Brahmana Pulasta dan Rahwana, Pancaka (api pembakaran mayat) segera disiapkan untuk menyempurnakan jasad Patih Suwanda. Selesai upacara pembakaran jenazah Patih Suwanda, mereka kembali ke ibunegeri Maespati.

Sejak peristiwa tersebut, negeri Maespati tumbuh menjadi negara adi daya dan adi kuasa. Kejayaannya merambah sampai lebih dan tiga perempat isi jagad raya. Prabu Arjunasasrabahu sendiri dikenal sebagai Raja yang Gung Binatara (Maha Besar dan Maha Berkuasa) * Hampir seluruh raja di jagad raya secara suka reta tunduk dan hormat kepadanya. Meskipun demikian, ia tetap bersikap bijaksana, arif dan hormat terhadap sesama titah marcapada.

Kebahagaian Prabu Arjunasasrabahu dilengkapi pula dengan kebahagiaan keluarganya. Dari pernikahannya dengan Dewi Citrawati, Prabu Arjunasasrabahu berputra Raden Ruryana. Oleh ayahnya sejak kecil Raden Ruryana dididik dalam berbagai ilmu, baik ilmu tata kenegaraan maupun ilmu jayakawijayan. Hal ini karena dialah satu-satunya pewaris tahta dan negara Maespati.

Merasa tak ada lagi lawan yang berarti, dan tak ada lagi gangguan yang mengancam negara Maespati dan negara-negara sekutunya, kehidupan selanjutnya dari Prabu Arjunasasrabahu lebih banyak digunakan bersenangsenang, memanjakan istri, para selir dan putra-putranya. Akibatnya, semakin asyik hidup dalam kesenangan, Prabu Arjunasasrabahu mulai melupakan tugas kewajiban menjaga kelestarian dan kesejahteraan jagad raya (memayu hayuning, bawono).

Akibat dari kelalaian Prabu Arjuansasrabahu tersebut, tanpa sepengetahuannya (tanpa ia sadari-pen), Dewa Wisnu loncat dari tubuhnya, menitis pada Ramaparasu, putra bungsu dari lima bersaudara putra Resi Jamadagni dan Dewi Renuka, raja negara Kanyakawaya yang hidup sebagai brahmana di pertapaan Daksinapata. Ramaparasu sedang melaksanakan sumpah dendamnya, ingin membunuh setiap satria yang dijumpainya. Sumpah itu terlontar sebagai akibat dari perbuatan Prabu Citrarata, yang telah menodai ibunya, Dewi Renuka, serta perbuatan
Raja Hehaya yang telah menghancurkan pertapaan Daksinapata dan membunuh Resi Jamadagni, ayahnya.
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:37 pm

ARJUNA SOSROBAHU -12
Beberapa tahun kemudian, Prabu Arjunasasrabahu dan Ramaparasu saling bertemu di sebuah hutan. Saat itu Prabu Arjunasasrabahu sedang melakukan perburuan di hutan. Seperti biasa, setiap melakukan perburuan, Prabu Arjunasasrabahu selalu mengajak serta Dewi Citrawati, semua para selir, para dayang dan para raja sekutunya. Ikut serta dalam rombongan tersebut ratusan
prajurit pengawal dan para kerabat kerajaan Maespati lainnya. Sehingga kegiatan perburuan tak ubahnya kegiatan wisata keluarga besar Kerajaan Maespati.

Perkemahan besar pun dibangun di tengah hutan sebagai tempat tinggal Dewi Citrawati, para selir dan dayang-dayang. Sementara Dewi Citrawati dan para selir dan dayang tinggal di perkemahan dalam kawalan para prajurit, Prabu Arjuansasrabahu disertai Prabu Kalinggapati, Prabu Soda, Prabu Candraketu dan beberapa hulubalang melakukan perburuan binatang ke
tengah hutan. Pada saat melakukan perburuan itulah Prabu Arjunasasrabahu di hadang oleh Ramaparasu. Ramaparasu sengaja menghadangnya setelah mendapat petunjuk dari seorang brahmana, bahwa raja yang sedang melakukan perburuan adalah Prabu Arjunasasrabahu, raja penjelmaan Dewa Wisnu dari negara Maespati.

Atas anugerah dewata sesuai doa dan permohonan ayahnya, Resi damadagni, Ramaparasu hanya akan mati oleh perantaraan titisan Dewa Wisnu. Karena itu setelah ia lama malang melintang membunuh para satria, dan merasa telah bosan hidup, ia berusaha mencari satria penjelmaan Dewa Wisnu, untuk memintanya mengantarkan kembali ke alam kelanggengan. Karena itu
ketika dalam pengembaraannya ia bertemu dengan seorang brahmana yang memberitahukan bahwa Dewa Wisnu menitis pada Prabu Arjunasasrabahu, Ramaparasu berusaha mencari Prabu Arjunasasrabahu sampai ke negara Maespati, dan akhimya menyusul ke hutan. Penghadangan yang dilakukan oleh Ramaparasu, sangat menggembirakan hati Prabu Arjunasasrabahu. Perawakan Ramaparasu yang tinggi besar, kekar dan menakutkan itu dengan dua pusaka, Kapak dan Bargawastra, menerbitkan suatu harapan besar di hati Arjunasasrabahu, bahwa
yang menghadangnya ini adalah penjelmaan Dewa Wisnu -- pada saat itu Prabu Arjunasasrabahu telah menyadari Dewa Wisnu telah meninggalkan dirinya. Karena itu ia pun ingin mati melalui perantaraan Dewa wisnu.

Ramaparasu menceritakan kisah hidup petualangannya, sejak meninggalkan pertapaan Daksinapata setelah perabukan jenasah ayahnya, Resi Jamadagni, hingga ia bertemu dengan Prabu Arjunasasrabahu. la merasa bimbang dan keraguan akan dharma yang telah dijalankan Resi Pulasta, kakek Rahwana selama ini. Karena itu tujuanya kini hanyalah mencari penjelmaan Dewa Wisnu, sebab hanya Dewa Wisnu yang dapat mengantarkannya ke Nirwana.

"Itulah Paduka yang hamba cari selama ini." kata Ramaparasu. "Mengapa tuan mengira hamba sebagai penjelmaan Dewa Wisnu?" tanya Prabu Arjunasasrabahu. "Tanda-tanda keagungan ada pada Paduka " jawab Ramaparasu. "Tuan juga seorang yang agung budi. Menurut pendapatku, Tuanlah satria brahmana berwatak dewa, karena tuan telah melaksanakan dharma dan
kebajikan dunia dan umat manusia. Siapa lagi yang sanggup berbuat demikian selain Dewa Wisnu?" kata Arjunasasrabahu.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:38 pm

ARJUNA SOSROBAHU -TAMAT
"Oh. sekiranya kata-kata Tuan benar, apa perlu hamba mencari Dewa Wisnu?" kata Ramaparasu.

"Jadi Tuan tetap mengira, akulah penjelmaan Dewa Wisnu?" tanya Prabu Arjunasasrabahu.

"Ya, sebab Paduka bias bertriwikrama!"

"Sekiranya aku mengatakan tidak, lalu apa yang akan Tuan lakukan?"

"Akan hamba paksa Paduka melepaskan senjata Cakra. Sebab hanya senjata Dewa Wisnu yang dapat menembus dada hamba!" jawab Ramaparasu tegas.

"Sekiranya senjataku tidak dapat menembus dada Tuan , lalu apa yang akan Tuan lakukan?" tanya Prabu Arjunasasrabahu.

"Paduka akan hamba bunuh dengan Bargawastra Paduka pasti tewas, sebab hanya Dewa Wisnu yang dapat menahan keampuhannya!" kata Ramaparasu penuh keyakinan.

Prabu Arjunasasrabahu tersenyum. Dalam hati ia berdoa, mudah-mudahan Bargawastra dapat menembus dadanya. Dan inilah yang ia cari selama ini.

Mereka kemudian sepakat untuk mengadu kesaktian. Mereka kini telah siap tempur. Karena masing-masing tak ada niat untuk menggelak hantaman senjata lawan, mereka berdiri hampir berhadap-hadapan. Ramaparasu menimang-nimang Bargawastra, sedangkan Prabu Arjunasasrabahu memegang senjata cakra yang berbahaya, Dengan teriakan panjang keduanya siap melepaskan senjata pemusnahnya masing-masing.

Prabu Arjunasasrabahu menahan senjata cakranya. Semenjak bersiaga, tiada niat sedikitpun untuk melepaskan senjata cakra, sebab takut akan menembus dada Ramaparasu. Sebaliknya Ramaparasu melempaskan senjata Bargawastra dengan sungguh-sungguh. Senjata ampuh itu menyibak udara menembus dada Prabu Arjunasasrabahu, yang segera rebah ke tanah dengan
bersembah. Bisiknya : "Oh, Dewata Agung! Hamba menghaturkan terimakasih yang tak terhingga. Sudah engkau tunjukan kepadaku kini, Dialah sesungguhnya penjelmaan Dewa Wisnu setelah aku!"

Walau bersimbah darah, wajah Arjunasasrabahu menunjukkan kepuasan batin yang dalam, karena akan mati dengan hati iklas dan puas. Ramaparasu yang menyaksikan kejadian itu sangat terkejut. Ia segera berlari dan memeluk tubuh Prabu Arjunasasrabahu.

"Hai, betapa mungkin .... ? Betapa mungkin?! Paduka berkhianat. Paduka sengaja tidak melepaskan senjata cakra!" kata Ramaparasu menggugat.

Sambil menahan rasa sakit, Prabu Arjunasasrabahu berujar : "Sudah kukatakan tadi, tiada senjata apapun di dunia ini yang dapat menembus dadaku kecuali senjata Dewa Wisnu yang dilepaskan oleh Dewa Wisnu sendiri. Jadi jelas sudah, Tuan memang penjelmaan Dewa Wisnu!"

Seketika terbit perasaan gusar dan kecewa pada Ramaparasu begitu mengetahui Prabu Arjunasasrabahu bukan penjelmaan Dewa Wisnu. Menganggap bahwa Prabu Arjunasasrabahu tidak ada artinya lagi baginya, tak ubahnya ribuan satria lain yang telah dibunuhnya, maka Ramaparasu berteriak lantang: "Jahanam! Bangsat! Kau telah menipuku. Kau memang layak untuk mati! " Setelah itu Ramaparasu pergi meninggalkan jasad Prabu Arjunasasrabahu.

Sepeninggal Ramaparasu, jasad Prabu Arjunasasrabahu diangkat oleh Prabu Kalinggapati dan Prabu Soda, dibawa ke pesanggrahan. Gelombang tangis dan hujan air mata seketika meledak dan terjadi di pesanggrahan, karena Dewi citrawati beserta sernua selir Prabu Arjunasasrabahu yang berjumlah 2000 orang, beserta para dayang yang jumlahnya hampir ernpat ribu orang
itu, nangis bersama-sama.

Persiapan pembakaran jenasah segera dilakukan oleh Prabu Kalinggapati, Prabu Soda dan para raja lainnya. Arena pembakaran dipersiapkan sedemikian luas. Ribuan ton kubik kayu dipersiapkan. Inilah arena dan upacara pembakaran mayat yang terbesar yang pernah ada di jagad raya. Karena bukan hanya jenasah Prabu Arjunasasrabahu yang akan dibakar, tetapi Dewi
Citrawati dan para selir akan ikut bela pati, terjun kedalam pancaka (api pembakaran jenasah).

Pudarnya nyala api pembakaran, bukan hanya sekedar akhir hidup dan kejayaan Prabu Arjunasasrabahu, tetapi juga awal pudarnya masa kejayaan negara Maespati. Sebab sepeninggal Prabu Arjunasasrabahu, satu persatu para raja dari negara-negara yang semula bergabung dengan Maespati, menyatakan diri memisahkan diri dan berdaulat sendiri.

Tak ayal lagi, setelah berakhirnya masa pemerintahan Prabu Ruryana, secara lambat tapi pasti, negeri Maespati lenyap dari percaturan dunia pewayangan. Ironis memang!.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:40 pm

CANDRABIRAWA 1
Bermula sejak jaman Arjuna Sasrabahu dari riwayat Sumantri / Patih Suwanda. Patih Suwanda sebenarnya adalah anak Resi Wisanggeni bernama Sumantri dan mempunyai seorang adik yang berbadan kontet dan bermuka seperti raksasa bernama Sukrasana. Resi Wisanggeni adalah kakak Resi Bhargawa yang melanglang buana mencari Ksatria untuk bertarung dengan dalih mencari kematian bagi dirinya sendiri -- pada akhirnya Resi Bhargawalah yang membunuh Arjuna Sasrabahu dan dikemudian hari gugur ditangan Rama. Sumantri menjelma menjadi seorang ksatria yang sakti gagah perkasa berkat ajaran Resi Wisanggeni, sementara Sukrasana biarpun berbentuk seperti raksasa mempunyai budi pekerti yang sangat luhur.

Suatu ketika, Sumantri dan Sukrasana sedang berjalan didalam hutan. Sukarsana yang bertubuh kecil merasa cape dan minta istirahat. Ketika beristirahat, Sukarsana tertidur pulas dan saat itu juga datanglah sebuah raksasa lapar yang ingin memakan Sumantri dan Sukarsana. Sumantri dengan sigap membopong adiknya yang tertidur lelap dan melarikan diri kedalam hutan. Setelah cukup jauh, Sukarsana dibaringkan di tempat yang aman sementara Sumantri berusaha menghadang raksasa tersebut. Walau bertarung sekuat tenaga, Sumantri tidak bisa mengalahkan raksasa tersebut. Sumantri hampir kehabisan tenaga ketika Betara Indra datang dan mempersembahkan panah Cakrabiswara kepadanya. Sumantri segera melepas panah itu kearah sang raksasa dan dalam sekejap raksasa tersebut mati. Setelah berhasil membunuh raksasa, Sumantri teringat pada adiknya dan segera mencari Sukarsana. Sumantri sangat terkejut melihat binatang2 buas di dalam hutan ternyata berkumpul disekililing Sukarsana demi menjaga keselamatannya. Sumantri bertanya kepada Sukarsana ajian apa yang dimiliki olehnya sehingga bisa menguasai binatang2 buas. Sukarsana menjawab bahwa ia tidak memiliki ajian apapun, hanya selama hidupnya dia tak pernah menganggu ataupun melukai binatang2 sekecil apapun. Kedua bersaudara kemudian pulang ke padepokan untuk menceritakan kejadian ini kepada Resi Wisanggeni. Oleh sang resi diceritakan bahwa orang yang memiliki Cakrabiswara merupakan kekasih Betara Wisnu, sementara yang dilindungi binatang2 liar artinya adalah orang yang berbudi luhur dan merupakan kekasih Betara Dharma.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:41 pm

CANDRABIRAWA 2
Tak lama setelah itu, Sumantri bertanya kepada Resi Wisanggeni mengenai kesaktian ilmunya. Sang resi berkata bahwa Sumantri telah menjadi ksatria yang gagah perkasa dan hanya beberapa orang yang bisa melawan kesaktiannya. Sumantri kemudian berkata bahwa ilmunya harus digunakan untuk melayani sesama umat manusia dan dia meminta ijin kepada Resi Wisanggeni untuk meninggalkan padepokannya. Dengan berat hati Resi Wisanggeni memberi ijin, tapi Sumantri diharuskan mengabdi kepada Raja Mayaspati/Maespati (*ngga yakin namanya*) - Prabu Arjuna Sasrabahu yang terkenal adil bijaksana. Karena kesian pada adiknya, Sumantri sengaja tidak mengajak Sukarsana karena takut dia akan dicemooh akibat bentuknya. Sumantripun berangkat menuju Mayaspati ketika Sukarsana sedang tidur.

Ketika bangun, Sukarsana bingung karena kakaknya telah menghilang. Sukarsana bertanya kepada Resi Wisanggeni kemana kakaknya menghilang. Ketika diberitahukan, Sukarsana tidak rela berpisah dengan kakaknya dan memutuskan untuk mencari kakaknya di Mayaspati. Dalam perjalanannya, Sukarsana merasa capai dan berisitrahat di sebuah pohon besar yang teduh. Tiba2 dia dikejutkan oleh suara besar dari dalam pohon itu. Suara itu berasal dari Candra Birawa yang sedang menunggu kedatangan kekasih Betara Dharma supaya dirinya bisa menitis kedalam tubuh Sukarsana. Sukarsana menjadi bingung dan bertanya mengenai asal usul Candra Birawa. Candra Birawa pun menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya diciptakan dari gabungan raksasa2 yang menyerang Swargaloka. Raksasa2 itu punah dikalahkan oleh para dewata tapi oleh Betara Guru dihidupkan kembali menjadi satu badan dan diberi nama Candra Birawa. Tapi Candra Birawa tidak boleh sembarangan berkeliaran di mayapada, dia diharuskan bersatu dengan kekasih/keturunan Betara Dharma karena di tangan orang yang salah, Candra Birawa sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kekacauan di mayapada. Setelah dijelaskan asal usulnya, Sukarasana masih sangsi untuk memperbolehkan Candra Birawa untuk masuk berdiam dalam tubuhnya. Candra Birawa kemudian menjelaskan bahwa jika tubuhnya menjadi satu, Sukarsana akan menjadi lebih sehat dan kuat, selain itu jika dalam kesulitan Sukarsana tinggal singkep memangil Candra Birawa dan dirinya akan segera muncul untuk membantu. Dalam pertarungan, Candra Birawa sangat sakti karena setiap tetes darahnya akan menjadi Candra Birawa baru. Sukarsana pun setuju dan memperbolehkan Candra Birawa untuk masuk ke dalam tubuhnya. Dalam hatinya, Sukarsana berpikir bahwa Candra Birawa ini lebih cocok jika diberikan kepada saudaranya Sumantri.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:41 pm

CANDRABIRAWA 3
Sementara itu, Sumantri telah mengabdi kepada Arjuna Sasrabahu dan berhasil merebut Dewi Citrawati. Sumantri juga sempat bertarung dengan Arjuna Sasrabahu dan yakin bahwa Arjuna Sasrabahu merupakan raja yang gagah sakti tanpa tandingan (Sumantri sempat seri melawan Arjuna Sasrabahu tapi langsung ketakutan begitu sang prabu menjadi marah dan bertiwikrama, ini merupakan bukti bahwa Arjuna Sasrabahu merupakan titisan Betara Wisnu). Dewi Citrawati kemudian mempunyai permintaan kepada Arjuna Sasrabahu, yaitu untuk memindahkan taman Sri Wedari dari swargaloka ke dalam Mayaspati. Tanpa berpikir panjang, Sumantri mengiakan permintaan Dewi Citrawati. Kemudian Sumantri ditinggal oleh Arjuna Sasrabahu dan Dewi Citrawati kedalam istana. Sumantri menjadi bingung, karena jangankan memindahkan taman Sri Wedari, letaknya saja dia tak tahu. Dalam keadaan linglung, Sumantri bertemu dengan adiknya Sukarsana yang sedang mencari dirinya. Sumantri bahagia melihat adiknya tapi kaget bahwa adiknya bisa sampai ke Mayaspati dengan selamat karena perjalannya jauh dan juga berbahaya. Oleh Sukarsana diceritakan mengenai Candra Birawa yang bersemayam di dalam dirinya. Sumantripun bahagia mendegar cerita adiknya tapi ketika teringat janjinya untuk memindahkan taman Sri Wedari dia kembali muram. Sukarsana sangat mengerti kakaknya, dalam sekejap dia tahu bahwa kakaknya sedang kepikiran sesuatu. Ketika ditanyakan, Sumantri menceritakan janjinya untuk memindahkan taman Sri Wedari. Sukarsana berpikir bahwa Candra Birawa bisa membantu abangnya untuk menyanggupi permintaan itu. Dengan singkep sebentar, Candra Birawa segera tampil dihadapan Sukarsana dan Sumantri. Sukarsana memberitahukan kesusahan kakaknya kepada Candra Birawa. Candra Birawa segera tahu bahwa yang meminta taman Sri Wedari pastilah titisan istri Betara Wisnu. Candra Birawa berkata bahwa dia bisa melakukan tugas tersebut tanpa masalah, Sukarsana dan Sumantripun diminta singkep menutup seluruh panca indra sementara Candra Birawa memindahkan taman tersebut. Dalam sekejap Candra Birawa menjadi ribuan dan taman Sri Wedari pun dipindahkan dari swargaloka ke Mayaspati.
Setelah berhasil, Sukarsana berniat untuk ikut dengan kakaknya mengabdi di Mayaspati. Sumantri kembali tidak tega dan menyuruh Sukarsana kembali ke padepokan. Tapi Sukarsana tetap bersikeras, Sumantripun mengeluarkan Cakrabiswara untuk menakut nakuti adiknya. Tanpa disangka2, Sukarsana tersandung dan tubuhnya tertusuk Cakrabiswara. Sebelum meninggal Sukarsana berkata pada kakaknya bahwa dia tidak sempat memberikan Candra Birawa kepada Sumantri dan memohon kepada dewata agar di kehidupan selanjutnya Sukarsana bisa kembali dekat dengan kakaknya.

Di kemudian hari, Sumantri menitis kepada Narasoma (Prabu Salya) sementara Sukarsana (+ Candra Birawa) menitis kepada Resi Bagaspati yang juga berbentuk seperti raksasa hanya tidak kontet.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:42 pm

CANDRABIRAWA 4
Resi Bagaspati mempunyai seorang putri bernama Dewi Pujawati, suatu ketika Narasoma sedang berburu dan ketika melihat Dewi Pujawati langsung terkesima oleh kecantikannya. Narasomapun mengikuti Dewi Pujawati untuk bertemu Resi Bagaspati. Ketika keduanya ditanya oleh Resi Bagaspati, mereka berkata bahwa telah mencintai satu sama lain. Narasoma dan Pujawati pun dinikahkan saat itu juga oleh Resi Bagaspati. Narasoma sangat sayang pada istrinya Pujawati, tetapi ketika ditanya seperti apa cintanya kepada Pujawati, Narasoma berkata bahwa cintanya seperti beras putih yang bersih. Kemudian Narasoma menambahkan bahwa sayang beras putih pun ada gabahnya. Pujawati sangat bingung oleh perkataan Narasoma dan dia bertanya kepada Resi Bagaspati. Sang resi yang bijaksana segera tahu bahwa yang dimaksud oleh Narasoma ialah dirinya, karena tidak mungkin seorang pangeran penerus tahta kerajaan mempunyai mertua seorang raksasa. Sang resi menenangkan Pujawati dan menyuruhnya untuk memanggil Narasoma. Ketika Narasoma menghadap Resi Bagaspati, dijelaskan bahwa dalam tubuh Resi Bagaspati bersemayam Candra Birawa sebuah mahkluk berbadan halus yang sangat sakti. Karena Narasoma kini bertanggung jawab akan keselamatan Pujawati, Resi Bagaspati akan memberikan Candra Birawa kepadanya. Mereka berdua kemudian bersemedi dan terlihat Candra Birawa pindah dari Resi Bagaspati ke tubuh Narasoma. Sang resi kemudian lanjut semedinya dengan menahan napas, tak lama kemudian tubuh Resi Bagaspati menghilang dari pandangan. Pujawati yang melihat kejadian ini menjadi kaget dan menangis. Sementara itu Narasoma mendegar suara sang resi yang menjelaskan bahwa dia sebenarnya adalah titisan Sukarsana yang ingin dekat pada kakanya Somantri yang menitis pada tubuh Narasoma. Resi Bagaspati bersemedi untuk mendapat anak perempuan yang bisa dijodohkan dengan dirinya dan juga supaya bisa mewariskan Candra Birawa tapi sayang pada akhirnya Narasomapun telah berbuat salah kepada Resi Bagaspati seperti Somantri bersalah kepada Sukarsana. Narasoma kemudian diwanti2 bahwa mulai saat itu dia harus berhati2 kepada titisan/kekasih betara Dharma yang berikutnya karena pada saat itu dia akan gugur. Narasoma kemudian perganti nama menjadi Prabu Salya setelah menjadi raja.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
zelda
KorLap
avatar

Lokasi : Pamulang
Reputation : 0
Join date : 02.05.09

PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   Wed Jan 06, 2010 3:42 pm

CANDRABIRAWA 5
Dalam perang Bharatayuda, Prabu Salya diangkat menjadi panglima perang Hastina sebagai pengganti Karna (urutannya: Bisma,Dorna,Karna,Salya).
Begitu melihat Prabu Salya turun ke medan danalaga, Sri Kresna segera mawas bahwa dia akan menjadi lawan yang berbahaya. Seluruh pasukan Pandawa diwanti2 supaya jangan gegabah melawan ksatria yang satu ini. Bimapun dengan sombongnya berkata bahwa Prabu Salya sudah tua dan kesaktiannya berkurang bisa dikalahkan oleh dirinya. Sri Kresna segera menceritakan kepada Bima dan Arjuna bahwa Prabu Salya memiliki Candra Birawa yang sangat berbahaya dan tidak boleh dianggap remeh.
Ketika perang dimulai, Bima segera menggasak tentara Kurawa. Prabu Salya sebagai panglima perang memajukan dirinya untuk mencegah Bima. Prabu Salya kewalahan melawan kekuatan Bima dan memutuskan untuk memanggil Candra Birawa. Bimapun bertarung dengan Candra Birawa tapi semakin lama Bima menjadi capai sementara Candra Birawa tetap mengganas. Arjuna yang melihat kakaknya dalam bahaya segera melepas panah. Sayangnya panah Arjuna melukai Candra Birawa, dan setiap tetes darahnya menjadi Candra Birawa baru. Bima semakin kewalahan melawan ratusan Candra Birawa, dan barisan pasukan Pendawa juga semakin hancur diobrak abrik.
Melihat kejadian ini Sri Kresna segera mendatangi Arjuna dan mencegahnya untuk memanah Candra Birawa. Kemudian Sri Kresna bergerak ke garis belakang untuk bertemu Yudistira. Sri Kresna berkata bahwa Yudistira harus maju ke medan perang untuk mengalahkan Prabu Salya demi kemenangan Pendawa karena hanya Yudistiralah yang bisa mengalahkannya sebagai titisan Betara Dharma. Yudistira yang dikusiri oleh Nakula segera memasuki medan perang dan bertemu langsung dengan Prabu Salya. Yudistira segera memohon ampun kepada Prabu Salya atas kelancangannya berani melawan Prabu Salya. Prabu Salya menjawab bahwa dalam medan perang tidak perlu merasa lancang karena ini merupakan tugas Yudistira sebagai raja untuk membela tentaranya. Yudistira pun menjawab bahwa seumur hidup dia tidak bisa melukai orang, dia rela mengorbankan dirinya asalkan Candra Birawa ditarik kembali kedalam tubuh Prabu Salya. Sayangnya Candra Birawa tidak bisa ditarik kembali sebelum tugasnya selesai yaitu memusnahkan tentara Pendawa. Yudistira dengan berat hati mengambil busur dan panah. Tapi Yudistira tidak berani mengarahkan panahnya kepada Prabu Salya, panahnya kemudian diarahkan ke bawah. Dengan ajaib, panah Yudistira yang menyentuh tanah langsung memantul dan mengenai Prabu Salya. Prabu Salyapun gugur, sesuai dengan yang dikatakan Resi Bagaspati.

_________________
:l0(())((:
Kembali Ke Atas Go down
http://pamulang-kita.com
Sponsored content




PostSubyek: Re: CERITA WAYANG 2   

Kembali Ke Atas Go down
 
CERITA WAYANG 2
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 2Pilih halaman : 1, 2  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: ALL ABOUT GUNUNGKIDUL :: Kesenian Daerah-
Navigasi: