Forum Komunitas Online Gunungkidul
 
IndeksJual BeliPortal FKOGKFAQPencarianPendaftaranAnggotaLogin


Share | 
 

 nyadran dusun logantung

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
sacho_eka
Pengawas
avatar

Lokasi : tangerang- banten
Reputation : 36
Join date : 03.11.08

PostSubyek: nyadran dusun logantung   Fri Apr 20, 2012 10:53 pm



Logantung merupakan nama Dukuh yang berada di Desa Sumberejo Kecamatan Semin Kabupaten GunungKidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nyadran dalam semacam kenduri yang biasa diadakan ditempat keramat biasanya dilakukan dengan berziarah atau ziarah kubur ke makam leluhur menjelang Bulan Ramadhan atau bulan-bulan lain yang dianggap sakral seperti Ruwah, Sura atau Sya’ban. Penentuan bulan ini biasanya menjadi satu kesepakatan oleh seluruh masyarakat di desa tertentu Nyadran merupakan tradisi yang sudah melekat pada masyarakat yang sudah tersebar di seluruh atau semua desa-desa di Jawa, khususnya daerah Solo, Yogyakarta, dan sekitarnya. Nyadran memiliki kesamaan dengan tradisi craddha yang pada zaman kerajaan Majapahit (1284) yaitu tradisi masyarakat yang berkaitan dengan leluhur yang suduh meninggal. Secara Etimologis craddha berasal dari bahasa Sansekerta ‘sraddha’ yang artinya keyakinan, percaya, dan kepercayaan. Masyarakat Jawa kuno meyakini bahwa leluhur yang sudah meninggal sebenarnya masih ada dan mempengaruhi kehidupan anak cucu atau keturunanya



Esensi Nyadran adalah memanjatkan do’a kepada Tuhan agar diberikan keselamatan dan kesejahteraan dalam suasana magis dan unik yang dikemas dalam sebuah ritual. Keselamatan itu ditemukan dalam sebuah harmoni yang sangat lazim disebut dengan ‘selametan’. Slametan yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh semua warga masyarakat khususnya masyarakat Jawa yang biasanya digambarkan oleh para Etnografer sebagai peserta Ritual, kegiatan-kegiatan yang dikaitkan dengan berbagai macam upacara tahunan memperingati ataupun mengenang arwah atau roh-roh penjaga. Keadaan slamet (selamat) ini dikatakan menggambarkan keadaan yang selain secara ideal tanpa insiden juga secara Religius Netral. Geertz berpendapat bahwa slametan merupakan suatu penegasan dan penguatan kembali tataran kultural umum dan kekuasaannya untuk menahan kekuatan serta kekacauan yang terjadi. Slametan dikemas dalam bentuk dramatis yang tidak berlebihan. Upacara itu ditunjukkan dengan nilai-nilai yang menghidupkan budaya petani Jawa tradisional, yaitu penyesuaian timbal balik kehendak-kehendak yang interdependen, peredaman ekspresi emosional dan pengaturan perilaku lahir secara berhati-hati.

Tradisi Nyadaran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Tuhan Yang Maha Esa atas segala ciptaanNya. Nyadran merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai Islam, sehingga tampak adanya lokalitas yang masih kental Islami. Nyadran adalah semacam kenduri yang biasanya juga diadakan di tempat-tempat yang dianggap dan dipercayai sebagai tempat keramat seperti di Sendang Logantung, Dukuh Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten GunungKidul. Nyadran di Sendang Logantung diselanggarakan setiap bulan Juli (bulan Ruwah dalam kalender Jawa) tepatnya Rabu Pahing. Pada hari dan tanggal tersebut hingga kini oleh warga masyarakat setempat sebagai hari yang sangat suci dan hari tersebut merupakan hari yang sangat istimewa. Hal ini dilakukan oleh masyarakat Dukuh Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten GunungKidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Nyadran yang dilakukan masyarakat Dukuh Logantung, Desa Sumberejo ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur, rasa terima kasih kepada para leluhur dan sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Nyadran telah membangunkan sebagaian besar warga Dukuh Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten GunungKidul dan Nyadran sendiri dapat menciptakan keakraban tersindiri. Nyadran diawali dengan ritual arak-arakan membawa tampah, sebuah alat yang biasa digunakan untuk memisahkan beras dengan padi setelah digiling, tampah-tampah tersebut berisi berbagai macam sesaji yang di antaranya.
a. Tumpeng
Nasi putih berbentuk kerucut (gunung) tanpa lauk pauk. Nasi ini melambangkan sebuah pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya permohonan dan apa-apa yang telah diinginkan dapat tercapai atau terkabul.
b. Nasi gurih/Wuduk
Nasi putih di beri santan, garam dan daun sehingga rasanya bisa gurih. Nasi ini juga disebut nasi Rasul, mengapa dikatakan nasi rasul karena nasi ini merupakan lambang permohonan keselamatan bagi penyelenggara maupun semua peserta upacara ritual Nyadran.
c. Ingkung
Ayam yang dimasak secara utuh diberi bumbu tidak pedas dan juga di beri santan. Ingkung melambangkan manusia ketika masih bayi belum mempunyai kesalahan atau banyak orang yang mengatakan masih suci. Ingkung juga melambangkan kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
d. Bunga/Kembang
Bunga yang dipakai maupun yang digunakan untuk acara Nyadran terdiri dari bunga mawar, bunga melati, dan bunga kenaga. Bunga ini melambangkan kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

e. Pisang Raja
Pisang raja yang digunakan untuk acara ritual Nyadran ini harus benar-benar pisang raja yang bagus dan berkualitas maksudnya pisang raja itu harus utuh dan harus sudah berwarna kuning. Pisang raja ini mempunyai arti/melambangkan sesuatu harapan agar kelak di kemudian hari warga masyarakat desa yang mengikuti upacara Nyadran hidupnya selalu bahagia seperti seorang raja.
f. Kemenyan
Kemenyan merupakan sarana permohonan pada waktu orang mengucapkan doa pada saat ritual Nyadran dimulai. Kemenyan yang dibakar akan menimbulkan asap berbau harum.
g. Jajan Pasar
Sesaji yang terdiri dari bermacam-macam makanan yang kesemuanya itu dibeli dari pasar yang biasanya disebut jajan pasar. Jajan pasar bermakna suatu harapan agar warga masyarakat desa memperoleh/mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga hidupnya akan tentram atas segala limpahan dan anugrah sang Pencipta.
h. Ketan
Berasal dari kata Khotan yang artinya kesalahan yang dibuat dari bahan dasar beras ketan dan santan.
i. Kolak
Berasal dari kata Qala yang artinya mengucapkan.

j. Apem
Berasal dari kata Aquwam yang berarti ampun.
Ketan, kolak, dan apem ini merupakan satu rangkaian yang bila diartikan secara keseluruhan adalah jika merasa salah cepat-cepatlah mengucapkan mohon ampun.
Arakan dan Nyadran yang dilakukan warga Dukuh Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten GunungKidul berakhir di Sendang Logantung. Di Sendang Logantung semua warga masyarakat yang membawa sesaji harus meletakkan sesaji yang telah mereka persiapkan di area Sendang Logantung (tempat yang telah ditentukan/tetapkan). Arak-arakan dipimpin oleh Kepala Desa, Kepala Dukuh, Ketua Panitia penyelenggara Nyadran dan orang-orang yang dituakan dengan membawa sesaji masing-masing dan diikuti oleh seluruh masyarakat Dukuh Logantung, Desa Sumberejo.
Sebagaian besar warga Dukuh Logantung, Desa Sumberejo dalam kehidupan sehari-hari menjalankan syari’at agama Islam, namun mereka semua tetap merangkul tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak lama dari jaman dahulu hingga sekarang. Warga Dukuh Logantung tidak akan pernah meninggalkan upacara tradisi Nyadran meskipun upacara tradisi Nyadran dilakukan setiap tahunnya secara terus menerus. Sebagian besar warga masyarakat Dukuh Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten GunungKidul sangat percaya dan yakin akan adanya perubahan bagi diri mereka masing-masing setelah mengikuti upacara tradisi Nyadran bahkan semua warga sekaligus orang yang datang dari kota lainpun sangat berantusias sekali untuk menyaksikan prosesi jalannya upacara ritual Nyadran di Sendang Logantung sampai akhir acara Nyadran (sampai selesai upacara Nyadran). Ritual Nyadran ini berakhir dengan pembacaan doa oleh petugas yang telah ditunjuk panitia untuk memimpin jalannya doa dan berbagai sambutan dari perangkat desa. Setelah itu dilanjutkan dengan pentas seni/kesenian seperti:
a. Jaranan
Kesenian jaranan merupakan kesenian yang diwariskan secara turun-temurun oleh sesepuh Dukuh Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten GunungKidul pada umumnya. Jaranan adalah salah satu kesenian yang pertama kali pentas di acara Nyadran di Sendang Logantung. Para pemain jaranan kebanyakan adalah orang yang sudah tua, tetapi kaum muda dan anak-anak pun juga ikut serta dalam pementasan jaranan untuk memeriahkan acara Nyadran. Orang-orang yang bermain dalam kesenian jaranan ini adalah orang-orang asli yang lahir dan menetap di Dukuh Logantung, Desa Sumberejo. Panitia memberikan durasi waktu untuk pementasan jaranan kurang lebih sekitar 30 menit.
b. Reog


Dahulu sebagian besar warga Dukuh Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten GunungKidul merupakan para pemain reog. Kesenian reog ada dan berkembang pada saat Dukuh Logantung, Desa Sumberejo mempunyai cukup banyak penduduk. Kesenian reog diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Warga Dukuh Logantung, Desa Sumberejo sangat senang serta menekuni kesenian reog, karena reog merupakan kesenian adat. Biasanya tiap-tiap desa pun juga bisa bermain atau memainkan kesenian reog. Dalam prosesi ritual acara Nyadran kesenian reog tampil setelah kesenian jaranan selesai. Para pemain reog juga berasal dari Dukuh Logantung setempat, para pemain reog di Sendang Logantung biasanya didominasi para orang tua. Panitia memberikan durasi untuk pementasan reog kurang lebih sekitar 45 menit.
c. Pentas musik anak-anak
Anak-anak di Dukuh Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten GunungKidul sangat antusias sekali mengikuti jalannya upacara ritual Nyadran di Sendang Logantung, mereka semua juga berpartisipasi dalam acara Nyadran. Dibuktikan dengan adanya pentas musik anak-anak. Anak-anak bebas berkreasi dan berekspresi di atas panggung serta menyanyikan lagu dengan bandnya masing-masing. Jadi tidak hanya golongan tua saja yang berpartisipasi dalam upacara ritual Nyadran ini golongan muda termasuk anak-anak pun berpartisipasi dalam upacara Nyadran, karena mereka kelak sebagai generasi penerus golongan tua/sesepuh-sesepuh Dukuh Logantung dan sekitarnya. Panitia memberikan durasi waktu untuk melaksanakan pentas musik anak-anak kurang lebih 45 menit.
d. Pentas Musik Dangdut dan Campur Sari
Seiring dengan berkembangnya jaman dunia musik di tanah air sudah tak terhitung lagi. Segala jenis musik di negara kita saling bermunculan salah satunya adalah musik dangdut dan campur sari. Musik ini mempunyai daya tarik tersendiri, sehingga banyak sekali orang yang menyukai musik ini. Contohnya masyarakat Dukuh Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten GunungKidul mereka menyewa musik dangdut dan campur sari untuk memeriahkan upacara ritual Nyadran di Sendang Logantung. Tidak hanya golongan muda saja yang menyukai musik dangdut dan campur sari, golongan tua pun juga sangat antusias untuk menyaksikan secara langsung pentas musik dangdut dan campur sari. Masyarakat Dukuh Logantung sangat menikmati musik itu karena pentas musik tersebut merupakan puncak acara upacara ritual Nyadran di Sendang Logantung sebelum pergelaran Wayang yang dilaksanakan pada malam harinya. Untuk pentas musik dangdut dan campur sari panitia tidak memberikan durasi waktu.
e. Pentas wayang

Pertunjukan wayang merupakan satu unsur kebudayaan Indonesia yang mengandung nilai-nilai seni, moral, pendidikan, pesan-pesan pembangunan nasional, nilai-nilai pengetahuan yang tinggi serta benar-benar sangat berharga untuk dipelajari sedalam-dalamnya. Pertunjukan wayang secara tradisional merupakan intisari kebudayaan masyarakat Jawa yang diwariskan secara turun-temurun, dan secara lisan diakui bahwa inti tujuan hidup manusia dapat dilihat pada cerita, serta karakter pada tokoh wayang Maka dari itu, pertunjukan wayang apabila diteliti secara kritis, lepas dari chauvinisme yang berlebihan, akan sangat bermanfaat bagi kehidupan bangsa Indonesia, yang dalam kiprah pembangunannya sedang mencari nilai-nilai yang dipergunakan terhadap pembangunan watak bangsa. Karena dalam pertunjukan wayang ada teater timur (tradisional/nusantara), di dalamnya ditawarkan sesuatu yang lebih khas dari apa yang ditawarkan oleh teater barat. Sesuatu tersebut adalah konsep yang holistik tentang manusia, hidup dan tentang bagaimana seharusnya hidup
Wayang dapat hidup dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa, salah satu diantaranya bahwa orang Jawa dibentuk dan membentuk wayang. Hal tersebut menunjukan bahwa wayang merupakan bagian dari budaya Jawa, terbukti dalam rumah ada bagian yang bernama pringgitan ‘rumah bagian depan yang menghubungkan bagian belakang’ dan tempat tersebut untuk ringgitan ‘pertunjukan wayang’ (ringgit). Sehingga wayang sejak dahulu hingga sekarang selalu mengalami perubahan dan perkembangan, baik mengenai bentuk, isi, jenis/macam, garap ‘sajian’, maupun tujuan pementasannya. Bagi masyarakat pendukung wayang (golongan tua/para sesepuh), pertunjukan wayang itu mengandung konsepsi yang digunakan sebagai salah satu pedoman sikap dan perbuatan dari kelompok masyarakat tertentu. Konsepsi-konsepsi tersebut tersusun menjadi sistem nilai budaya yang tersirat dalam pagelaran wayang. Dalam pertunjukkan wayang menggambarkan aneka ragam sikap hidup manusia seperti yang dirasakan oleh orang Jawa, meskipun keanekaragaman itu diatur dengan jelas dikhotomi-dikhotomi yang nyata. Misalnya, ada pemisah yang fundamental anatara kiri dan kanan, baik buruk dan lain sebagainya, yang pada dasarnya timbul dari adanya dualitas yang nyata dalam alam semesta. Semua itu saling melengkapi satu dengan yang .
Pada acara prosesi ritual Nyadran di Sendang Logantung, Dukuh Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten GunungKidul puncak acara yang ditunggu oleh masyarakat Desa Sumberejo dan khususnya masyarakat Dukuh Logantung adalah pagelaran wayang. Pagelaran wayang dilaksanakan pada malam harinya setelah acara dalam ritual Nyadran telah selesai. Acara wayang dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2008 (Rabu Pahing malam Kamis Pon) di tempat Bapak Kepala Dukuh yaitu bapak Riyadi. Pementasan wayang memang dilaksanakan setiap tahunnya secara terus menerus karena semua masyarakat Dukuh Logantung, Desa Sumberejo meyakini bahwa pagelaran wayang dalam ritual Nyadran merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan setiap tahunnya. Mengapa demikian, karena dahulu Kyai Panjang Mas sangat menyukai kesenian dan salah satunya adalah kesenian wayang, bahkan dengan ketentuan dan kegigiahannya beliau juga menyebarkan kesenian wayang tersebut dari desa satu ke desa lainnya, karena itu masyarakat Dukuh Logantung dan panitia tidak berani untuk tidak mengadakan pagelaran wayang, karena dahulu setempat ada seorang warga setempat yang berpendapat dan mempunyai pikiran bila pementasan wayang tidak perlu diadakan karena dengan adanya pagelaran wayang akan memakan banyak biaya (pemborosan). Tidak lama kemudian warga dukuh yang berpendapat seperti itu sewaktu dalam perjalanan pulang ke rumah dia mendapat suatu musibah yaitu salah satu kakinya tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Dengan kejadian itu masyarakat sekitar tidak ingin mengambil resiko, maka masyarakat Dukuh Logantung setiap tahunnya dalam acara ritual Nyadran selalu mengadakan pagelaran wayang. Panitia memberikan durasi waktu untuk penentasan wayang yang dilaksanakan di rumah Bapak Kepala Dukuh kurang lebih dari pukul 21.00 hingga selesai
Kembali Ke Atas Go down
http://kiossticker.com
sacho_eka
Pengawas
avatar

Lokasi : tangerang- banten
Reputation : 36
Join date : 03.11.08

PostSubyek: Re: nyadran dusun logantung   Fri Apr 20, 2012 10:54 pm

dari www.logantung.blogspot.com (copast only)
Kembali Ke Atas Go down
http://kiossticker.com
penaltev
KorLap
avatar

Lokasi : Indonesia
Reputation : 3
Join date : 08.05.12

PostSubyek: Re: nyadran dusun logantung   Wed May 09, 2012 6:49 am

W masih ada nyadran di sana....
Kembali Ke Atas Go down
http://www.fxopen.com
Sponsored content




PostSubyek: Re: nyadran dusun logantung   

Kembali Ke Atas Go down
 
nyadran dusun logantung
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FKOGK :: ALL ABOUT GUNUNGKIDUL :: Kekayaan Daerah-
Navigasi: